Kabur

1033 Kata
Lempar lagi.. Tangkap lagi.. Lempar lagi.. Tangkap lagi.. Banting!!! Melepaskan rasa penat yang mendera dalam diri setelah tanggal pernikahan dengan dosen killer ditentukan, Kiran melampiaskan semua yang kini sedang dirasakan dengan bermain basket di lapangan basket yang berada di Fakultas kampus seorang diri. Tanpa disadari oleh Kiran, apa yang kini sedang dilakukan oleh Kiran di lapangan basket mendapat perhatian dari Pak Dave yang sedang melintas di sekitar lapangan basket setelah keluar dari kelas di mana Pak Dave mengajar hari ini. Luapan emosi Kiran dapat ditangkap dengan jelas oleh Dave. Bersandar pada salah satu dinding yang tidak jauh dari lapangan basket berada sembari memasukan salah satu tangan ke dalam saku celana yang kini dikenakan oleh Pak Dave. Lemparan demi lemparan bola basket ke dalam keranjang basket yang dilakukan okeh Kiran sarat dengan emosi kontak yang kini sedang dirasakan oleh Kiran. Ketenangan Kanaya terusik kala salah satu orang yang sangat tidak disukai oleh Kanaya datang mengganggu apa yang kini sedang dilakukan oleh Kiran. “Hai.. Gadis tomboy dan jomblo. Lawan aku. Kalau kamu bisa mengalahkan aku, mobil kesayangan akan aku berikan ke kamu. Kalau kamu kalah, kamu harus jadi pacar dan b***k aku selama satu bulan. Bagaimana? Deal?” ucap Carlos bad boy di Fakultas yang sama dengan Kiran namun berbeda jurusan dengan Kiran. Kiran menyeringai ke arah Carlos lalu meludah di depan Carlos dengan jijik. “Aku tidak akan pernah sudi menjadi pacar kamu walaupun hanya sedetik. Lebih baik aku jomblo seumur hidup dari pada aku harus menjadi pacar laki-laki yang tidak punya tujuan hidup seperti kamu!” balas Kiran Apa yang diucapkan oleh Kiran menohok hati Carlos. Wajah murka Carlos tampak kentara setelah mendengar ucapan Kiran. Tangan Carlos terangkat di udara hendak melayangkan tamparan kepada Kiran. Namun terhalang dengan kedatangan Chelsea menghampiri Kiran. “Kiran.. Kamu dicari Pak Andre di ruangannya sekarang,” ucap Chelsea Kiran menautkan kedua alis saat mendengar apa yang diucapkan oleh Chelsea. Pak Andre? Astaga.. Kiran melupakan jika hari ini ada mata kuliah Pak Andre sehingga Kanaya tidak masuk ke kelas Pak Andre. Kiran langsung melempar basket ke arah Carlos yang tersentak mendapat lemparan bola dari Kiran yang kini telah meninggalkan lapangan basket menuju ke ruangan Pak Andre. Pak Dave Kiran memperhatikan semua interaksi Kanaya dan Carlos tidak melerai karena melihat Chelsea yang berlari ke arah lapangan basket. Namun Pak Dave bergegas menyusul langkah kaki Kiran menuju ke ruang dosen dengan banyak tanya yang ada dalam benak Pak Dave saat ini. “Apa lagi alasan kamu tidak mengikuti mata kuliah saya hari ini Kiran!” suara keras dari Pak Andre menggema di ruangan dosen yang tampak sepi namun ada beberapa dosen di sana. Pak Dave menghentikan langkah saat mendengarkan suara keras dari Pak Andre yang sedangkan memarahi Kiran, calon istri Pak Dave. Sementara itu Kiran bersikap tenang walaupun sedang berhadapan dengan Pak Andre yang memarahinya. Kiran kebal dengan amarah dosen yang bagai makanan sehari-hari bagi gadis tomboy bernama Kiran itu. Gelengan kepala tidak percaya dari Pak Dave melihat sikap Kanaya saat ini tertangkap netra Pak Andre yang tanpa sengaja melihat keberadaan Pak Dave yang kini sedang berdiri di depan pintu masuk ruangan dosen. “Ah.. Ternyata ada Pak Dave di sini,” ucap Pak Andre Deg.. Detak jantung Kiran tidak normal ketika mendengar Pak Andre mengucapkan nama Pak Dave. Tubuh Kiran seketika membeku saat suara bariton yang dikenali sebagai dosen killer itu masuk ke dalam indera pendengaran Kiran. Sementara itu Pak Dave terkesiap saat mendengar Pak Andre memanggil dirinya. Dengan langkahnya yang tegas Pak Dave berjalan menuju ke arah Pak Andre dan Kiran. “Kebetulan ada Pak Dave di sini. Saya ingin minta pendapat Pak Dave hukuman apa yang pantas diberikan kepada Kiran yang sering tidak masuk ke kelas? Saya yakin di kelas Pak Dave juga Kanaya sering tidak masuk dan tidak mengumpulkan tugas kan Pak Dave? Disini Pak Dave kan sebagai Dekan,” imbuh Pak Andre. Jeder.. Apa yang diucapkan oleh Pak Andre mencengangkan Kiran yang kini sedang berdiri di antara dua dosennya itu. Dekan? Pak Dave Dekan di Fakultas tempat Kanaya menuntut ilmu? Ah.. Lebih tepatnya menghabiskan waktu bagi Kiran bukan kuliah. Walaupun Kiran mengutamakan ilmu. Namun jika dilihat dari rekam jejak selama Kiran kuliah sepertinya tidak akan ada yang dapat percaya jika Kiran akan benar-benar kuliah saat ini. Tatapan penuh tanda tanya ditujukan oleh Kiran ke arah Pak Dave yang bersikap tenang dan tidak terpengaruh dengan kehadiran Kiran saat ini. “Saya berpikir hukuman ini intern antara Pak Andre dengan Kiran. Di sini Kiran tidak masuk mata kuliah Pak Andre hari ini. Saya serahkan keputusan kepada Pak Andre. Setelah Pak Andre menyelesaikan masalah dengan Kiran, saya akan memberikan hukuman kepada Kanaya sebagai efek jera bagi mahasiswa yang selalu menjadi biang onar ini Pak Andre,” balas Pak Dave sembari menatap ke arah Kiran yang sedang menatap ke arah Pak Dave setelah mendengar ucapan biang onar yang keluar dari bibir Pak Dave, calon suami Kiran. “Baik Pak Dave. Jika itu menjadi keputusan Pak Dave,” imbuh Pak Andre. “Kiran.. Setelah ini saya menunggu kamu di ruangan. Permisi Pak Andre,” tukas Pak Dave lalu melangkahkan kaki keluar dari ruangan dosen menuju ke ruangannya. Kiran mendengus kesal dengan sikap Pak Dave yang tidak membela. Membela? Memang Kiran siapa sehingga Pak Dave harus membela dirinya? Kiran kan hanya calon istri Pak Dave. Belum sah menjadi istri Pak Dave. Bahkan belum tentu Kanaya akan menjadi istri Pak Dave kan reader? *** Terik sinar matahari siang ini tidak menjadi penghalang bagi Kiran untuk menembus jalanan ibu kota yang cukup padat dengan menggunakan sepeda motor kesayangannya. Setelah bertemu dengan Pak Andre dan menerima hukuman dari Pak Andre, Kiran memutuskan untuk meninggalkan kampus karena tidak ada mata kuliah lagi hari ini tanpa menemui Pak Dave seperti apa yang diminta oleh Pak Dave saat berada di ruangan dosen. Bodo amat.. Itulah yang kini berada di dalam benak Kanaya tentang Pak Dave. Kiran mengendari sepeda motor ke tempat sahabat baiknya yang tinggal tidak jauh dari rumah keluarga Kiran. Kiran mengetuk pintu rumah sahabatnya yang tampak sepi itu. Entah berapa kali Kiran mengetuk pintu rumah sahabatnya itu. Namun sang tuan rumah belum membukakan pintu untuk Kiran. Bahkan rumah sahabat Kiran itu tampak sepi dan tidak berpenghuni saat ini. “Ternyata kamu di sini..”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN