Suara bariton yang dikenali oleh Kiran mencengangkan wanita tomboy yang sedang mengetuk pintu rumah sahabatnya itu. Tubuh Kiran bergeming kalau mendengar suara bariton seseorang yang kini telah berada di belakang Kiran. Kenapa dosen killer ini ada di sini? Apa dosen killer ini mengikuti Kiran? Banyak tanya yang berada dalam benak Kiran tentang kehadiran seseorang yang telah dapat ditebak oleh Kiran, si dosen killer Pak Dave.
“Kamu sedang apa di sini?” tanya Pak Dave yang kini telah berdiri di samping Kanaya
Tubuh Kiran masih bergeming di tempat tanpa mengalihkan pandangan dari pintu kayu yang kini berada di hadapan Kiran. Pikiran Kiran masih Dave buana dengan kehadiran Pak Daren di rumah sahabat Kiran saat ini.
“Kiran.. Kalau ada orang sedang bertanya itu dijawab. Jangan hanya diam saja Kiran. Apa kamu lupa jika saya ini calon suami kamu..” Pak Dave tidak dapat menahan emosinya saat Kiran tidak menanggapi apa yang ditanyakan oleh Pak Dave kepada Kiran.
Jeder..
Apa yang diucapkan oleh Pak Dave mencengangkan Kiran sehingga Kiran seketika membalikan tubuh menghadap ke arah Pak Dave. Mata Kiran terbelalak saat melihat Alma sahabat baik Kiran berada di antara mereka saat ini. Tatapan mata Kiran tertuju kepada Pak Dave dan Alma secara bergantian dengan menautkan kedua alis. Melihat kedua alis Kiran yang saking bertaut, Pak Dave tersenyum tipis tanpa bisa dilihat oleh Kiran.
“Kiran adik sepupu saya..” Pak Dave menjawab rasa penasaran dalam diri Kiran.
Jeder..
Kiran kembali tercengang dengan apa yang diucapkan oleh Pak Dave. Kiran menatap ke arah Pak Dave dan Alma dengan tatapan penuh intimidasi.
“A-Adik sepupu?” ucap Kiran seakan sedang bertanya kepada Pak Dave dan Alma.
“Iya Kiran. Apa ada yang salah dengan ucapan saya, Ki?” balas Pak Dave.
Kiran mengacuhkan ucapan pak Dave lalu melangkahkan kaki menuju ke sahabat baiknya semenjak SMP itu. Tatapan miring diberikan kepada Alma oleh Kiran. Melihat tatapan tidak biasa yang diberikan oleh Kiran, Alma menundukan kepala sembari memilih jemari tangan.
“Apa yang ingin kamu jelaskan ke aku, Al?” ucap Kiran dengan nada tinggi.
Alma tersentak mendengar Kiran yang berkata dengan nada tinggi. Alma tahu Kiran tidak akan berkata dengan nada tinggi jika tidak dilanda emosi atau amarah. Alma mengangkat kepala memberanikan diri untuk menatap ke arah Kiran yangp sedang tampak emosi di hadapannya.
“Kiran.. Aku—” Alma menghentikan ucapan saat Kiran mengangkat telapak tangan menandakan jika Alma harus menghentikan apa yang akan diucapkan oleh Alma.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Kiran memilih pergi meninggalkan mereka dengan kekecewaan yang sangat kentara di wajah Kiran. Bagaimana tidak kecewa, sahabat yang telah dianggap sebagai sahabat baik oleh Kiran ternyata membohongi dirinya. Alma tidak pernah bercerita jika memiliki hubungan darah atau saudara dengan si dosen killer itu. Bahkan Kiran selalu menceritakan segala keluh kesah tentang si dosen killer itu yang ternyata kakak sepupu Alma. Kenyataan yang diluar logika Kiran saat ini.
Langkah kaki lebar Pak Dave berhasil mengejar Kiran yang telah berdiri di samping motor kesayangannya. Kunci motor yang telah terpasang itu diambil dengan paksa oleh Pak Dave sehingga Kiran mendengus kesal dengan apa yang dilakukan oleh Pak Dave. Tatapan menghunus tajam diberikan oleh Kiran kepada Pak Dave yang kini telah berdiri di depan Kiran.
“Kembalikan kunci sepeda motor saya Pak Dave yang terhormat,” seru Kiran dengan nada tinggi.
“Saya tidak akan memberikan kunci motor ini kepada kamu sebelum kamu mendengarkan penjelasan dari saya dan Alma, Kiran,” balas Pak Dave dengan tegas dan tatapan yang menusuk.
Kiran berdecih dengan ucapan Pak Dave. “Baiklah. Silahkan ambil kunci motor itu. Saya bisa kembali ke rumah dengan transportasi lain atau jalan kaki!”
Kiran melangkahkan kaki meninggalkan Pak Daren. Namun langkah Kiran terhenti kalau sebuah telapak tangan besar mencengkeram lengan Kiran dengan kuat. Kiran bergeming di tempat berdirinya saat ini. Air muka Kanaya seketika berubah merah dengan apa yang dilakukan oleh Pak Dave.
“Ikut saya atau akan saya gendong kamu di sini!” titah Pak Dave tanpa penolakan.
Kiran masih bergeming di tempatnya berdiri. Pak Dave menghela nafas berat dengan sikap Kiran yang selalu menguji kesabaran Pak Dave baik di kampus maupun di luar kampus seperti saat ini. Jika bukan cinta mungkin Pak Dave tidak akan pernah peduli dengan Kiran.
Cinta?
Ya. Pak Dave telah mengakui dan menyadari perasaan yang dimiliki kepada Kiran semenjak pertemuan pertama mereka di pesta ulang tahun Alma. Namun Kiran tidak menyadari itu karena Pak Dave dan Kiran belum pernah bertegur sapa. Pak Dave hanya melihat Kiran dari jarak jauh tanpa memiliki keberanian untuk menghampiri atau berkenalan dengan Kanaya. Penampilan Kiran yang apa adanya mampu merobohkan dinding yang telah dibangun dengan kokoh oleh dosen killer itu untuk kaum hawa dan menghilangkan rasa trauma di dalam diri si dosen killer itu. Bayangan Kiran tidak pernah lepas dari benak Pak Dave. Bahkan nama Kanaya dengan perlahan masuk ke dalam relung hari laki-laki dingin yang antipati terhadap makhluk yang bernama kaum hawa itu.
Melihat Kiran yang masih bergeming di tempat berdirinya saat ini. Pak Dave menggendong Kiran tanpa berbicara sepatah kata pun kepada Kiran. Pekikan keras terdengar dari Kiran saat menyadari Pak Dave kini sedang menggendong tubuh Kiran ala bridal style. Namun Pak Dave mengacuhkan pekikan kerasa Kiran dan terus melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah Alma dengan tatapan lurus ke depan. Kiran mendengus kesalahan dengan apa yang dilakukan oleh Pak Dave. Serba salah. Kiran tidak tahu apa yang harus dilakukan saat berada dalam gendongan Pak Dave saat ini.
“Pegangan biar tidak jatuh,” perintah Pak Dave dengan tegas.
Kiran kembali mendengus kesal dengan apa yang diucapkan oleh Pak Dave. Tidak ingin banyak berdebat, Kiran memilih mengalah dengan mengalungkan tangan di leher Pak Dave. Senyum tipis terukir di kedua sudut bibir Pak Dave kalau merasakan ada yang menyentuh leher dengan menggunakan kedua tangannya. Kiran menyembunyikan wajah di d**a bidang Pak Dave yang terasa nyaman.
Ya. Tidak dipungkiri oleh Kiran jika berada dalam gendongan Pak Dave saat ini terasa sangat nyaman. Apalagi setelah Kiran menyembunyikan wajah di d**a bidang Pak Dave dengan aroma maskulin yang menguar di indera penciumannya. Aroma maskulin Pak Dave terasa menenangkan bagi Kiran. Ah.. Tidak. Kiran tidak boleh terpikat okeh pesona si dosen killer ini. Dosen killer ini musuh bebuyutan bagi Kiran. Buang jauh-jauh pikiran baik tentang dosen killer ini Kiran. Itulah yang saat ini berada dalam benak Kiran. Perang batin.