Tamu Tak Duundang

1052 Kata
Tatapan menghunus tajam Kiran diarahkan kepada Pak Dave setelah menurunkan Kiran di atas sofa yang berada di ruang tamu rumah Alma. Sementara Pak Dave yang mendapatkan tatapan menghunus tajam dari Kiran bersikap tenang seakan semua kini sedang baik-baik saja. “Jelaskan apa yang ingin kalian jelaskan ke saya sekarang juga! Terutama kamu, Alma!” ucap Kiran dengan nada tinggi. Jeder.. Alma kembali tercengang ketika Kiran berkata dengan nada tinggi untuk kedua kalinya. Bagaimana dengan Pak Dave? Si dosen killer itu menatap Kiran dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. “Ok. Tidak ada yang mau menjelaskan ke aku kan? Percuma juga aku ada di sini. Permisi..” Kanaya beranjak dari duduknya hendak melangkahkan kaki keluar dari rumah Alma. Namun langkah kaki Kiran terhenti saat suara bariton yang dikenalibya memanggil nama Kiran. “Kembali ke tempat duduk kamu, Kiran!” ucap Pak Dave. Kiran bergeming di tempat berdirinya tanpa membalikan tubuh ke arah dimana Pak Dave berada. Derap langkah kaki yang tegas terdengar di gendang telinga Kiran. Dengan langkah seribu Kiran memberanikan diri pergi meninggalkan Pak Dave dan Alma menuju ke arah motornya. Namun Kiran merasa sial saat melupakan jika kunci motor masih berada di tangan Pak Dave. Tanpa berpikir panjang lagi Kiran berlari menuju ke jalan raya mencari taksi untuk pergi dari rumah Alma. Huh.. Helaan nafas berat terdengar dari bibir Kiran saat telah berada di dalam taksi. Rasa lega menyelimuti diri Kiran saat telah berhasil jaug dari rumah Alma. Apalagi kabur dari Pak Dave. Luar biasa lega dan tenang perasaan dalam hati Kiran saat ini. Sementara itu, Pak Dave menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Kiran. Ya. Pak Dave mengetahui bagaimana sifat Kiran. Namun Pak Dave benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihat hari ini secara langsung. Kiran dapat melarikan diri dari dirinya. “Benar-benar wanita yang menarik dan unik. Aku terima tantangan dari kamu, Kiran calon istri aku,” gumam Pak Dave sembari menatap taksi yang ditumpangi oleh Kiran yang telah berlalu dari hadapan Pak Dave. Jalanan yang tidak padat mempercepat Kiran tiba di rumah. Kiran langsung menaiki anak tangga menuju ke dalam kamarnya. Merebahkan tubuh yang terasa lelah sore ini menjadi satu-satunya pilihan Kiran untuk melepaskan rasa yang campur aduk dalam hati Kiran. Amarah Kiran kembali naik saat mengingat Pak Dave yang menggendong dirinya ala bridal style. Apa yang dilakukan oleh Pak Dave ketika berada di rumah Alma menganggu kesehatan hati dan jantung Kiran. Namun Kiran tetap membentengi diri agar tidak terpesona dengan Pak Dave. *** “Kak.. Kiran marah sama Alma iya? Bagaimana ini kak? Kiran tidak pernah marah seperti ini sama Alma, kak Dave,” tanya Alma kepada Pak Dave setelah masuk ke dalam rumah Alma. “Kamu tenang saja Al. Kak Dave yang akan menjamin Kiran tidak akan marah kepada kamu,” balas Pak Dave. “Kak Dave janji iya.. Kiran sahabat terbaik Alma, kak. Alma tidak ingin masalah ini merusak hubungan persahabatan Kiran dan Alma, kak,” imbuh Alma “Iya Alma. Kak Daren janji. Kakak pulang dulu iya. Kakak tinggal mobil di sini dulu, nanti anak buah kakak yang akan mengambilnya mobil. Kakak ingin mengembalikan motor kesayangan calon istri kakak dulu,” tukas pak Dave mengusak rambut Alma lalu pergi meninggalkan rumah Alma dengan mengendarai motor kesayangan Kiran setelah berpamitan kepada Alma. Mata yang hampir terpejam itu kembali terbuka jalan mendengar suara yang berbunyi. Dengan rasa malas Kiran bangkit dari tempat tidur lalu melangkahkan kaki menuruni anak tetangga untuk membuka pintu. Rumah yang terasa sepi sehingga dengan sangat terpaksa Kiran membuka pintu itu sendiri. Bahkan Kiran merasa heran saat tidak ada satu pun asisten rumah tangga yang berada di rumah Kiran saat ini. Ceklek.. Pintu utama rumah Kiran dibuka dengan pelan oleh sang pemilik rumah dengan wajah yang tampak kusut akibat belum sempat mencuci muka itu. Beberapa kali Kiran mengusak kelopak mata untuk meyakinkan apa yang kini sedang ada di hadapan Kiran. Pak Dave.. Ya. Kiran membelalakkan mata kalau melihat Pak Dave kini berada di hadapan Kiran. Mungkin ini mimpi bagi Kiran yang belum sepenuhnya terlelap tidur. Namun Kiran mengaduh kesakitan saat menampar lulu kirinya dengan tabagn untuk menyakinkan jika apa yang kini sedang di hadapan Kiran itu salah dan halusinasi. Sementara itu, Pak Dave tertawa melihat tingkah konyol yang sedang dilakukan oleh Kiran saat ini. Bahkan Kiran yang sedang merasakan kesakitan akibat tamparan tangannya sendiri tampak menggemaskan bagi Pak Dave. “Ini bukan mimpi Kiran calon istriku,” ucap Pak Dave dengan sengaja menggoda Kiran yang masih tampak belum percaya akan kehadiran Pak Dave saat ini . “Untuk apa Pak Dave datang ke sini?” ketus Kiran dengan muka tidak bersahabat. Pak Dave terkekeh dengan ucapan ketus Kiran. “Jangan ketus begitu sama calon suami Kiran. Nanti kalau kamu tergila-gila sama saya, kamu akan bingung lho." Tanpa menjawab ucapan Pak Dave, Kiran yang melihat kunci motor kesayangan berada di saku kemeja Pak Dave dengan cepat mengambil kunci motornya. Pak Dave terperangah dengan apa yang dilakukan oleh Kiran. Sungguh. Wanita tomboy di hadapan Pak Dave saat ini menguji iman dan kesabaran seorang Pak Dave yang terkenal dengan julukan si dosen killer itu. “Kiran.. Kenapa Pak Dave tidak disuruh masuk ke dalam?” Deg.. Kiran tercengang mendengar suara lembut wanita yang sangat dicintainya itu. Mama Naya. Ya. Mama Naya dan papa Dean kini telah berada di samping Kiran dan Pak Dave yang masih bediri di depan pintu utama rumah mereka. Tanpa berbasa-basi papa Dean mengajak Pak Dave masuk ke dalam rumah diikuti oleh mama Naya. Sementara itu, Kiran mendengus kesal saat Pak Dave masuk ke dalam rumah sembari menjulurkan lidah ke arah Kiran. Dengan terpaksa Kiran mengikuti langkah kaki papa Dean, mama Naya dan Pak Dave masuk ke dalam ruang tamu. “Kiran.. Lain kali kamu harus sopan sama Pak Dave. Bagaimanapun Pak Dave ini calon suami kamu,” ucap mama Naya menasehati si sulung. Kiran memutar bola mata malas dengan apa yang diucapkan oleh mama Naya. Sopan dengan si dosen killer? Tidak. Rasanya Kiran tidak akan pernah bisa untuk bersikap sopan dengan dosen yang saat ini berada di hadapan Kiran. Calon suami? Entahlah. Ini bukan keinginan Kiran. Namun si dosen killer yang memaksa untuk menikahi Kiran. Diam. Itulah yang saat ini dipilih oleh Kiran sembari menatap Pak Dave dengan tatapan menghunus tajam penuh dengan kebencian dalam pendar netra gadis tomboy yang dapat mengambil hati seorang Pak Dave, si dosen killer.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN