Kiran duduk manis di samping mama Naya saat ini. Papa Dean yang masih berbincang dengan si dosen killer membahas tingkah Kiran sehingga Kiran merasa jenuh saat ini. Kenapa juga papa menceritakan semua tentang dirinya kepada si dosen killer ini? Ah.. Semakin lama rasa benci dalam diri Kiran kepada si dosen killer itu semakin dalam. Bahkan jika bisa Kiran ingin membatalkan rencana pernikahannya dengan si dosen killer itu. Namun itu mustahil bagi Kiran saat ini mengingat apa yang telah diputuskan oleh sang papa itu tidak dapat diganggu gugat apa pun alasannya.
“Jadi hari ini Kiran kembali membuat masalah dengan salah satu dosen di kampus? Terus Kiran melarikan diri saat Pak Dave meminta kepada Kiran untuk menemui di ruangan pak dave siang tadi?” ucap papa dean yang terhenyak dengan apa yang diceritakan oleh si dosen killer itu
Jeder..
Kepala Kiran seperti ditimpuk dengan bola sehingga terasa sakit setelah papa Dean menatap Kiran dengan tatapan mengintimidasi. Kiran menundukkan kepala tanpa berani membalas tatapan dari papa Dean. Hal itu tidak lepas dari tatapan Pak Dave yang kini duduk berseberangan dengan Kiran.
‘Mampus! Kenapa juga dosen killer nyebelin ini harus menceritakan kepada papa sih? Menyebalkan. Awas iya nanti tunggu pembalasan dari Kiran!’ batin Kiran dengan mengepalkan telapak tangan yang kini berada di atas pangkuan.
“Apa benar begitu Kiran? Apa yang dikatakan oleh Pak Dave itu benar?” tanya papa Dean yang telah kehabisan batas sabar menghadapi si sulung.
Kiran masih menundukkan kepala tanpa berani menatap ke arah sang papa. Emosi. Itulah yang kini dirasakan Kiran terhadap si dosen killer yang sedang menatap Kanaya tanpa merasa bersalah. Kiran mendongak saat suara lembut mama Naya masuk ke dalam gendang telinganya.
“Kiran.. Apa benar yang dikatakan oleh Pak Dave?” tanya mama Naya dengan nada lembut.
Anggukan kepala lemah Kiran menjawab pertanyaan papa Dean dan mama Naya. Helaan nafas berat lepas dari bibir papa Dean setelah mengetahui sikap Kiran yang belum berubah.
“Kiran.. Papa sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa agar kamu bisa jera Kiran. Papa berharap dengan menerima lamaran dari Dave, kamu dapat berubah menjadi lebih baik lagi setelah menjadi seorang istri nanti. Ingat.. Surga kamu ada di suami kamu jika kamu sudah menikah nanti. Mungkin ini salah satu hukuman dari Allah untuk papa yang dulu pernah menyakiti mama kamu,” sambung papa Dean
“Tapi Kiran tidak ingin menikah papa. Apalagi menikah dengan dia! Kanaya tidak mau papa!” balas Kiran dengan nada tinggi sembari menunjuk ke arah Pak Dave dengan menggunakan jari telunjuknya. Jangan lupakan tatapan tajam Kiran terhadap si dosen killer yang menusuk tajam seperti sebilah pedang itu.
“Papa tidak menerima penolakan dari kamu, Kiran! Suka atau tidak suka, kamu harus menikah dengan Pak Dave, Kiran,” tukas papa Dean.
Kiran bangkit dari tempat duduk kalau pergi meninggalkan papa Dean, mama Naya dan Pak Dave dengan berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Bahkan Kiran mengacuhkan teriakan papa Dean yang memanggil nama Kiran dengan sangat kerasa sehingga suara papa Dean menggelegar di rumah mereka.
Kiran memasukan pakaian di lemari ke dalam tas ransel yang baru saja diambil dari atas lemari pakaiannya. Tanpa berpikir jernih, Kiran yang masih didera oleh perasaan emosi memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah orang tuanya yang susah terasa tidak nyaman bagi seorang Kiran. Dengan meninggalkan fasilitas pemberian papa Dean dan Mama Naya, Kiran melangkahkan kaki keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga untuk keluar dari rumah ini.
Papa Dean, mama Naya dan Pak Dave menautkan kedua alis melihat Kiran turun dari lantai dua dengan membawa tas ransel di punggung yang biasa digunakan oleh Kanaya saat pergi berkemah bersama teman-teman Kanaya. Tanpa menoleh ke arah mereka yang masih duduk di ruang tamu, Kiran melangkahkan kaki menuju pintu utama sebelum langkah kaki Kiran terhenti oleh suara bariton papa Dean.
“Kamu mau kemana Kiran?” tanya Dean
“Kiran mau pergi dari rumah ini. Rumah ini sudah tidak terasa nyaman lagi bagi Kiran,” jawab Kiran tanpa mengalihkan tatapan ke arah Dean yang kini telah berdiri di samping Kiran dengan tatapan menusuk tajam ke arah Kiran.
Jeder..
Semua yang kini berada di ruang di ruang tamu tercengang dengan apa yang diucapkan oleh Kiran. Mama Naya menghampiri Kiran mencoba untuk berbicara dengan lembut kepada Kiran, anak sulungnya bersama papa Dean.
“Kiran.. Apa tidak kita bicara dengan baik terlebih dahulu tanpa kamu pergi meninggalkan rumah ini?” ucap mama Naya.
Gelengan kepala menjawab pertanyaan mama Naya kepada Kiran. Helaan nafas kasar terdengar dari bibir mama Naya dengan sikap Kiran saat ini. Sungguh. Mama Naya tidak ingin Kiran meninggalkan rumah ini. Tanpa mereka sadari, Pak Dave yang masih berada di antara mereka sedari tadi sibuk dengan ponsel yang berada di tangan Pak Dave. Entahlah.. Apa yang sedang dilakukan oleh si dosen killer itu saat ini. Bukannya menghalangi Kiran yang akan pergi meninggalkan rumah. Tapi Pak Dave sibuk bermain ponsel seorang diri di tempat duduknya saat ini.
“Kiran.. Mama mohon kamu pertimbangkan lagi keputusan kamu, sayang.. Mama tahu kamu sedang emosi saat ini,” pinta mama Naya.
Kiran terdiam tidak menjawab permintaan mama Naya. Kiran masih bergeming di tempat berdiri tanpa mengalihkan tatapan sedikit pun kepada papa Dean dan mama Naya yang kini telah berdiri di samping Kiran.
“Ada apa ini papa dan mama?”
Suara Kinar menginterupsi apa yang sedang terjadi di antara mereka saat ini. Linar berjalan menghampiri papa Dean, mama Naya dan Kiran yang sedang berdiri di dekat pintu utama rumah mereka. Tidak ada jawaban dari mereka sehingga kedua alis Kinar saling bertautan. Apalagi Kinar melihat sosok laki-laki yang akan menjadi kakak ipar dirinya minggu depan. Ransel yang masih tersampir di bahu sang kakak seketika dapat dipahami oleh Kinar yang masih belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi di antara mereka saat ini.
“Kakak mau kemana? Kenapa kakak membawa ransel besar ini? Apa kakak mau pergi meninggalkan rumah ini?” Kinar dengan sengaja menjeda ucapannya untuk melihat ekspresi sang kakak, “Apa kakak berpikir dengan pergi meninggalkan rumah ini dapat menyelesaikan masalah? Kinar tidak tahu masalah apa yang sedang terjadi dengan kalian saat ini. Tapi apa kakak pernah berpikir bagaimana perjuangan mama di masa lalu dan mempertahankan pernikahan dengan papa yang dijodohkan oleh kakek dan nenek?” ucap Kinar.
Kepala Kiran mendongak menatap ke arah sang adik kembar. Ya. Apa yang diucapkan oleh sang adik benar adanya. Kinar dan Kinar telah mengetahui bagaimana kisah hidup papa Dean dan mama Naya yang menikah karena perjodohan kedua orang tua mereka di masa lalu sikap Kiran saat ini sama seperti apa yang dilakukan oleh Dean. Menentang pernikahan itu dengan alasan tidak ada cinta. Namun seiring dengan berjalannya waktu papa Dean dapat menerima pernikahan bersama mama Naya yang berakhir dengan kebahagiaan yang tidak pernah dibayangkan oleh papa Dean selama ini.
“Assalamu’alaikum..”