Bab 8

1273 Kata
Siang ini, Bima mengajak Denisa untuk makan siang bersama. Tak hanya mereka berdua saja. Jojo, Kevin dan Vera juga ikut makan siang bersama mereka. Seperti biasa, Kevin dan Vera selalu memamerkan keromantisan mereka di depan orang lain, termasuk kedua sahabatnya. Sementara Jojo tampak kesal dengan mereka, karena kali ini ia hanya sendiri, tidak ada pasangan. Sesekali ia mendengus dan menguatkan dentingan sendoknya untuk mendapatkan perhatian. Untungnya Bima tidak egois. Ia tetap mengajak Jojo untuk mengobrol, walaupun ada Denisa di samping kirinya. Jojo juga senang karena Bima lebih peka daripada Kevin. "Jo, gimana sama gebetan kamu? Kenapa gak jelas gitu hubungan kalian?" tanya Bima. Jojo menghela napas. "Yah, mau gimana lagi, Bim. Ayas juga gak tahu alasan dia apa. Setiap ditanya, pasti langsung ganti topik pembicaraan. Makanya gak ada kepastian." "Emang Kak Jojo naksir sama siapa? Junior atau sama-sama senior?" Kini Denisa yang memberi pertanyaan pada Jojo. "Kalau junior kayak aku, mungkin aku kenal sama gebetan Kakak." "Ya termasuk junior juga sih. Namanya Feni. Kamu kenal gak?" Denisa mengernyit. "Feni yang ada di fakultas ekonomi?" "Nah, iya!" seru Jojo. "Kamu kenal?" tanya Bima. Denisa mengangguk. "Aku kenal, Kak. Setahu aku, dia tuh udah punya pacar di fakultas seni rupa. Namanya Kak Abdi." "Abdi?" Kevin menyahut. "Kayaknya gue kenal sama tuh orang deh. Yang gue tahu, dia tuh angkuh banget. Banyak yang gak suka sama dia." "Iya bener, Kak. Kak Abdi emang dikenal angkuh. Ya yang pasti karena lukisannya pernah masuk pameran, Kak. Makanya dia bisa seangkuh itu," ujar Denisa membenarkan. Jojo terkejut mendengar fakta mengenai gebetannya yang bernama Feni itu. Pantas saja wanita itu tidak pernah membalas ungkapan cinta Jojo. Ternyata selama ini Feni sudah berpacaran dengan Abdi. Bagaimana bisa Jojo melewatkan berita tentang Feni? "Jo, maaf nih ya. Saran gue, mending lo cari aja cewek lain deh. Masih banyak cewek yang lebih cantik dari si Feni itu. Gue juga kaget banget denger berita ini," kata Kevin. Bima mengangguk setuju. "Setuju. Kamu udah ditipu sama dia, Jo. Dia cuma ngasih harapan palsu aja. Buat apa kamu kejar-kejar terus." "Kayaknya si Feni lagi gak akur tuh sama Kak Abdi. Makanya dia manfaatin Kak Jojo sebagai pelarian aja," sahut Vera yang sejak tadi hanya diam sambil menikmati makanan pesanannya. Denisa tersenyum sambil menatap kearah Jojo. "Kak Jojo, cewek gak cuma satu loh. Masih banyak cewek yang mungkin bisa nerima Kakak. Itu anak-anak seni rupa banyak loh yang cantik-cantik. Gak minat, Kak?" "Jomblo gak?" tanya Jojo ragu. "Kalau temen satu kelas aku sih rata-rata jomblo, Kak," jawab Denisa. "Termasuk kamu, kan?" Goda Jojo sambil menaik-turunkan alisnya. Bima yang kesal langsung menjitak kepala Jojo, hingga membuat Jojo meringis kesakitan sambil menunjukkan deretan giginya pada Bima. Bima mendengus kesal sambil memberikan tatapan sinis untuk teman kurang ajarnya itu. "Masih aja ya godain Denisa lo," cibir Kevin, lalu tertawa terbahak-bahak. "Namanya juga usaha, Vin." Kevin mendecak. "Cari yang lain aja. Jangan sama Denisa. Dia tuh gebetannya si Bima." Bima langsung tersedak saat Kevin berbicara seperti itu di depan Denisa. Ia memberikan tatapan tajam pada Kevin, sehingga Kevin hanya terkekeh melihat reaksi Bima. Denisa justru memberikan tatapan seakan mengintimidasi Bima untuk menjelaskan maksud dari ucapan Kevin tadi. Bima yang mendapat tatapan seperti itu pun mulai salah tingkah sambil mengusap tengkuk lehernya. "Ehm, gak usah didengar itu omongan Kevin." "Kalau beneran juga gak apa-apa loh, Kak," sahut Vera. "Mumpung dia lagi jomblo. Gara-gara dekat sama Kakak, banyak tuh cowok yang ditolak sama Denisa." Kini, giliran Denisa yang salah tingkah. "Ih, jangan ngomong sembarangan kamu, Ver." "Ciye yang salting!" seru Jojo yang akhirnya ikut menggoda Bima dan Denisa. "Udah, jadian aja. Lagian kalian kan sama-sama jomblo. Kalau suka, utarain aja." Lagi, Bima menjitak kepala Jojo, sampai membuat Jojo cemberut. Kemudian, Bima menatap Denisa lagi. "Gak usah ditanggapi ya, Denisa. Mereka nih emang suka iseng." "Gak apa-apa, Kak," ujar Denisa sambil tersipu malu. "Kalau aku emang beneran suka sama Kakak, ditolak gak?" Jantung Bima berdetak kencang. Ia mulai diam membisu, sementara yang lainnya sudah bersorak menggoda mereka. Untuk pertama kalinya, Bima tertegun saat seorang wanita menyatakan perasaannya secara langsung. Biasanya ia akan menolak dan melenggang pergi begitu saja, terlepas dari patah hati yang pernah ia alami sebelumnya. Tapi kali ini, Bima justru tak bisa pergi sekalipun hatinya menginginkan itu. Jojo yang melihat reaksi Bima segera menyenggol siku temannya itu. Bima tersentak dan langsung menatap Jojo. "Ditembak tuh. Jawab dong," ujar Jojo. "Tahu nih. Malah bengong aja," sahut Kevin sedikit kesal. "Mumpung udah lampu hijau tuh. Sikat aja." "Sikat, sikat. Kamu kira dia gigi pakai disikat segala," cibir Jojo. Kevin mendengus, sementara Jojo, Denisa dan Vera tertawa terbahak-bahak. Sampai mereka menjadi pusat perhatian di kantin tersebut. Kebetulan banyak mahasiswa dan mahasiswi di sana hari ini. "Kak Bima," panggil Denisa yang menyadari Bima hanya termenung, tidak ikut tertawa. Bima tersentak. "Eh, iya?" "Kalau belum siap jawab, gak apa-apa kok. Aku gak maksain Kakak buat jawab," ujar Denisa. "Jangan dipikirin lagi ya." Saat Bima hendak bicara, Jojo langsung menimpali, "Halah! Paling entar di kos galau, terus nanyain Ayas. Gimana nih, Jo? Aku bingung." Ucapan Jojo yang meledek dirinya membuat Bima kesal dan hanya bisa mendengus sambil memalingkan wajah ke arah lain. Dan saat pandangan Bima tertuju pada parkiran, ia terkejut melihat seseorang yang sangat tidak asing baginya. Seorang pria dengan setelan yang biasa namun tetap terlihat keren. Barang-barang yang digunakan juga bukan barang murah. "Ngapain dia ke sini?" gumam Bima. "Siapa, Bim?" tanya Jojo. "Eh." Bima langsung menatap Jojo. "Bukan siapa-siapa kok." Jojo pun tampak tidak peduli dan menghabiskan minumannya. Hingga beberapa detik kemudian, mereka semua dikejutkan oleh kedatangan Chandra di kantin tersebut dan tampak menghampiri meja mereka. "Eh, Bim, itu kan...." Kalimat Kevin menggantung karena Bima memberikan sebuah isyarat melalui tatapannya. Sampai Kevin mengurungkan niatnya untuk berbicara terlalu jauh. Bima yang menyadari kehadiran Chandra di dekatnya pun langsung berdiri. "Mau ngapain kamu ke sini?" "Bukan urusan kamu," jawab Chandra sambil memberi tatapan sinis pada Bima. Ia bahkan menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Emang kelihatan kampungannya ya. Gak cocok jadi orang kaya. Mau dibawa ke salon juga tetap kampungan." Bima mengepalkan kedua tangannya, hingga membuat Jojo berdiri dan berusaha menenangkan Bima. Ia pun berbisik, "Bim, jangan kepancing emosi. Santai aja. Anggap aja orang gak waras." Akhirnya Bima menuruti saran Jojo. Perlahan, ia mulai meredamkan emosinya demi menjaga harga diri di depan Denisa. Bima tidak mau membuat keributan yang mengakibatkan Denisa takut padanya. Chandra yang memang tidak peduli pun langsung menatap Denisa. Wanita itu juga sudah berdiri di dekat Chandra. "Kamu gak lupa janji kita semalam, kan?" "Enggak kok. Aku masih ingat," jawab Denisa. "Tapi aku gak suka kamu hina Kak Bima kayak gitu. Dia lebih tua dari kita loh. Kamu gak boleh kayak gitu." Chandra menyeringai. "Biarin aja. Dia tuh emang pantas dihina. Aku selalu ngomong apa adanya. Coba deh kamu lihat gayanya. Kampungan, kan?" "Chandra!" tegur Denisa dengan suara yang tegas. "Kalau kamu gak mau minta maaf, janji yang semalam aku batalin. Lagian aku belum jawab iya atau gak." Pria itu langsung kelabakan dan akhirnya memutuskan untuk meminta maaf, meskipun hatinya tidak ikhlas. Bahkan tanpa berjabat tangan. "Maaf." "Udah biasa kok," jawab Bima dengan santai. "Aku emang kampungan, tapi otak aku gak kampungan kayak kamu. Permisi." Bima pamit dan pergi begitu saja meninggalkan mereka semua. Kevin, Vera dan Jojo ikut mengejar Bima, sementara Denisa ditahan oleh Chandra. "Kamu mau kemana?" tanya Chandra. "Ck! Lepasin aku, Chan. Aku mau nyusulin Kak Bima," ucap Denisa sambil memberontak karena tangannya terus saja dipegang oleh Chandra. "Gak bisa dong. Aku kan udah turutin kemauan kamu. Sekarang giliran kamu yang turutin kemauan aku." Denisa hanya bisa menghela napas panjang. Ia tidak habis pikir, sikap keras kepala Chandra memang tidak pernah berubah. Sifat seperti ini yang tidak disukai oleh Denisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN