Seorang anak laki-laki, berusia 10 tahun, terlihat sedang membuang mainan-mainannya. Anak itu merasa bosan karena disaat libur sekolah, ia tidak diajak liburan seperti teman-temannya. Semula, ia duduk di lantai, lalu beranjak naik ke atas sofa, tepat di samping Ibunya. Wajahnya terus ditekuk dengan kedua tangan terlipat di atas perut. Sang Ibu yang bernama Maira Aretha mengelus rambut sang anak sambil tersenyum.
"Kamu kenapa, Bima?" tanya Maira pada anak kecil bernama Bima itu.
"Aku mau liburan, Bu. Kayak temen-temen sekolah. Ayah sama Ibu gak mau ngajak aku ke puncak?" rengek Bima.
Maira terdiam. Pandangannya langsung tertuju pada suaminya yang bernama Bisma Heryawan. Pria itu baru saja keluar dari kamar dan ikut bergabung bersama anak dan istrinya.
"Mas, Bima ngajakin ke puncak. Kamu bisa gak?" tanya Maira. "Soalnya kan kamu baru pulang dari luar kota. Takutnya capek."
Bisma menatap Bima. Ada sedikit keraguan di hatinya untuk pergi. Entah kenapa ada firasat aneh di hatinya. "Ehm, kita perginya besok aja ya. Hari ini Mas capek banget, Maira."
"Tuh. Ayah capek, Bima. Besok aja ya," bujuk Maira pada Bima.
"Enggak mau besok! Aku maunya sekarang!"
Bima dengan segala keegoisannya tetap ingin pergi hari itu juga. Ia sangat bosan di rumah terus seharian. Bima ingin suasana baru. Beberapa temannya sudah pergi ke puncak, sementara Bima belum pernah. Ia juga ingin merasakan dinginnya Puncak Bogor.
"Bima, Ayah janji, besok kita pergi ke puncak. Kalau hari ini, Ayah lagi gak enak badan. Capek. Kamu ngertiin Ayah ya," ujar Bisma pada putranya itu.
"Enggak! Aku mau sekarang!"
Bima yang kesal karena permintaannya tidak dituruti pun memilih berlari ke kamar sambil membanting pintu tersebut dengan keras. Hingga membuat Bisma dan Maira terkejut. Bima sendiri menangis di kamar karena tidak berhasil mengajak orang tuanya untuk pergi berlibur. Sementara Bisma dan Maira bingung melihat tingkah Bima.
"Gimana ini, Maira?" tanya Bisma.
"Aku juga gak tahu, Mas."
"Kalau dipaksain sekarang, aku gak sanggup. Capek banget. Firasat aku juga gak enak hari ini," ujar Bisma ragu.
"Aku juga sama, Mas. Punya firasat gak enak. Makanya aku tanya sama Mas dulu tadi. Tapi kalau gak dituruti, gak mau makan dia sampai besok. Nanti sakit lagi jadinya."
Bisma menghela napas panjang, lalu berdiri, diikuti oleh Maira. "Ya udah, kita berangkat hari ini. Kasihan juga dia kalau gak diajak liburan."
"Kamu gak apa-apa, Mas? Kalau gak bisa jangan dipaksain. Kita bisa ajak dia ke taman di dekat sini aja," ujar Maira memberi saran.
Bisma tersenyum. "Gak apa-apa. Sesekali kita ajak dia pergi jauh. Biar bisa cerita sama temen-temen sekolahnya. Kita udah kebiasaan bawa dia ke taman di dekat sini. Nanti dia malah makin bosan. Jadi mending kita bawa pergi jauh aja."
"Tapi, aku kok ragu ya, Mas. Gak enak banget perasaan aku," ucap Maira sambil merasakan jantungnya yang berdetak tidak stabil.
"Bismillah aja, Sayang. Mudah-mudahan gak ada apa-apa."
Maira pun akhirnya mengangguk. "Ya udah, biar aku siapin semua barangnya ya. Kamu tunggu aja di sini. Sekalian istirahat."
"Iya."
Maira masuk ke kamar, sementara Bisma membaringkan tubuhnya di atas sofa. Jujur saja, Bisma memang sudah sangat lelah. Ia baru saja mengurus pekerjaan di luar kota, kini harus membawa Bima ke Puncak Bogor untuk berlibur. Rasanya tubuh Bisma menolak untuk melakukan perjalanan kembali.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Maira keluar bersama Bima yang sudah memasang wajah sumringah sambil menyandang tas ranselnya di punggung. Sementara Maira mendorong satu koper besar di tangan kanannya. Mereka menghampiri Bisma yang sudah bangkit dari sofa kemudian tersenyum manis pada Bima.
"Kamu siap?" tanya Bisma.
"Siap, Ayah!" seru Bima.
"Oke. Ayo berangkat!"
Bisma menggandeng tangan Bima, sementara Maira mengikuti dari belakang. Tak lupa Maira mengunci pintu sebelum pergi.
Di sepanjang perjalanan, Bima terus saja bernyanyi dengan riang. Bisma sengaja mengambil jalur Tol Salatiga menuju Puncak Bogor. Perjalanan akan memakan waktu sekitar sepuluh sampai sebelas jam lamanya.
Di sepuluh menit pertama, semuanya tampak biasa-biasa saja. Bisma, Maira dan Bima saling bercanda satu sama lain. Sesekali mereka bersenandung saat sebuah lagu diputar oleh salah satu stasiun radio. Mereka bertiga tampak begitu bahagia. Sampai akhirnya, lima menit kemudian, Bisma terdiam dan Maria pun ikut terdiam.
Bisma tiba-tiba saja memberikan sebuah nasehat pada Bima. "Bima, kamu jadi anak yang kuat ya. Kamu harus jadi anak sukses walaupun tanpa Ayah di samping kamu. Ayah yakin, kamu bisa jadi anak yang baik dan bertanggungjawab. Dan satu yang harus kamu tahu, Ayah sayang sama kamu."
Bima yang tidak mengerti hanya menganggukkan kepala saja. Setelah Bisma selesai bicara, Maira turut menambahkan nasehatnya.
"Kamu harus sayang sama saudara-saudara kamu ya, Nak. Jangan nakal. Biar kamu tetap disayang. Ibu juga sayang sama kamu. Kamu ngerti kan, Nak?"
"Ngerti, Bu," jawab Bima.
Dan hanya berselang dua menit, Bisma mendengar suara klakson truk dari arah depan. Bisma mulai kebingungan, lalu membanting setir untuk menghindari truk tersebut. Tapi sayangnya, mobil sedan hitam itu menabrak pembatas jalan tol, lalu terpental di jalur yang berlawanan arah. Mobil itu terseret hingga 300 meter jauhnya oleh truk besar lain yang berlawanan arah.
Seketika, mobil mengeluarkan asap dan Bima masih sempat berteriak minta tolong karena dirinya terjepit di bagian jok belakang mobil. Sementara ayah dan ibunya yang berada di depan sudah diam membisu dengan darah yang mengalir deras di bagian kepala, hidung dan mulut.
"Tolong!" teriak Bima sambil menangis dan menahan rasa sakit. "Tolong!"
Tampak beberapa pengendara mobil berhenti untuk menghubungi petugas. Mereka masih berusaha mengeluarkan Bima. Suara Bima mulai melemah dan akhirnya ia pun tidak sadarkan diri. Beberapa petugas pun sudah mulai berdatangan untuk mengeluarkan Bima dari dalam mobil tersebut. Ambulans juga sudah disiapkan di sana untuk membawa Bima ke rumah sakit nantinya.
Evakuasi yang dilakukan cukup lama, mengingat kondisi mobil sudah sangat remuk, terutama di bagian depan. Dan tepat saat Bima berhasil dikeluarkan dari dalam mobil, percikan api terlihat dan langsung membakar seluruh mobil sedan hitam itu beserta Bisma dan Maira yang belum sempat dikeluarkan. Seketika semua orang panik dan berlari menjauhi mobil tersebut.
Untungnya, petugas pemadam kebakaran datang dengan cepat dan berusaha memadamkan mobil. Dalam kecelakaan itu, Bima masih diberi mukjizat oleh Tuhan. Dan ia pun sudah dibawa ke rumah sakit terdekat menggunakan ambulans.
***
"Ibu!"
Bima terbangun dari tidurnya sekitar pukul tiga dini hari. Keringat sudah membasahi kening dan lehernya. Bima mencoba mengatur deru napasnya sambil menutup wajahnya. Jojo yang mendengar teriakan Bima pun segera masuk ke dalam kamar temannya itu.
"Bim, kenapa?" tanya Jojo panik.
Bima masih diam. Jojo langsung memberikan air minum untuk Bima. Setelah Bima menengguknya hingga setengah, ia pun mulai merasa tenang. Bima bersandar di tempat tidur sambil menghembuskan napas panjang.
"Kamu kenapa, Bim? Mimpi buruk?" Jojo bertanya lagi.
Bima mengangguk. "Aku mimpi kecelakaan itu lagi, Jo."
"Ya ampun. Kamu masih ngerasa salah ya soal kematian orang tua kamu?"
"Iya, Jo. Coba aja waktu itu aku gak maksa buat liburan, mungkin mereka masih hidup sampai sekarang. Aku beneran nyesel, Jo," lirih Bima sambil tertunduk.
Jojo memegang pundak Bima. Ia tahu bagaimana perasaan sakit yang Bima rasakan selama ini. Belum lagi ia tidak diterima dengan baik oleh Neneknya. Jojo tidak bisa berbuat banyak.
"Kamu yang sabar ya, Bim. Saran Ayas, jangan larut dalam kesalahan. Kamu gak akan maju kalau kayak gini terus. Lupain masa-masa kelam itu. Kamu gak salah. Emang udah takdirnya orang tua kamu buat pergi dari dunia ini," ujar Jojo menasehati.
"Makasih ya, Jo," ucap Bima.
Jojo mengangguk. "Ya udah. Mending kamu tahajud dulu. Biar tenang. Abis itu tidur lagi."
"Iya."
Jojo pun beranjak keluar dari kamar Bima dan kembali masuk ke kamarnya sendiri. Bima bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu, ia membentangkan sajadah dan mulai melakukan sholat tahajud agar hatinya sedikit lebih tenang.