Bab 6

1633 Kata
Bima dan Jojo pun tiba di kos-kosan mereka setelah puas makan mie ayam di warung favorit mereka. Jojo masuk ke kamarnya karena ingin segera berbaring di atas kasur. Sementara Bima masih duduk di sofa ruang tamu. Kos-kosan mereka sendiri terbilang cukup besar, karena memiliki dua kamar, ruang tamu, dapur dan tiga kamar mandi. Dua kamar mandi di dalam kamar tidur, satu lagi di dekat dapur. Mereka berdua saling patungan untuk membayar kos-kosan tersebut. Jojo selalu mendapatkan uang bulanan dari orang tuanya, sementara Bima mendapatkan penghasilan dari bekerja paruh waktu di salah satu kafe. Bima teringat, sore ini ia harus bekerja karena memang sudah jadwalnya. Sebenarnya, orang tua Jojo sendiri melarang Bima untuk bekerja, karena mereka sanggup membayar kos-kosan tersebut. Tapi Bima tidak ingin merepotkan orang lain, apalagi dalam masalah keuangan. Bima tidak bisa membalas budi jika terus-menerus dibantu seperti itu. Bahkan bantuan dari saudara tirinya saja ia tolak. Terdengar suara ponsel berdenting dari saku celana Bima. Pria itu langsung merogoh saku celananya untuk melihat siapa yang baru saja mengiriminya pesan. Bima membuka sandi ponselnya, kemudian melihat notifikasi dari Endryawan, kakak tirinya. "Bim, kamu pulang ya ke rumah. Tinggal sama Kakak. Kakak khawatir sama kamu." Begitulah bunyi pesan yang dikirimkan Endry pada Bima. Bima membiarkan pesan itu tanpa mau membalasnya. Ia tidak ingin kembali ke rumah yang penuh dengan duka di masa-lalunya. Di rumah itu, banyak kenangan manis dan pahit saat orang tuanya masih hidup. Kejadian tragis yang menimpa orang tuanya bahkan belum terlupakan sampai sekarang. Bima menghela napas panjang dan beranjak masuk ke dalam kamar. Mungkin tidur akan membantu dirinya melupakan semua masalah yang ada. Tidak ada yang tahu masa-lalu Bima seperti apa, kecuali Jojo dan Kevin. Memiliki sahabat baik seperti mereka berdua, membuat Bima merasa bersyukur. Tuhan masih menyayanginya. "Bim." Suara ketukan pintu membuat Bima menoleh. Baru saja ia hendak tidur. Dengan langkah gontai, Bima pun berjalan ke arah pintu dan membukanya. Wajah masam pun terlihat jelas. "Apa?" "Di luar ada tamu tuh. Nyariin kamu," kata Jojo. Bima mengernyit. "Siapa?" "Mukanya gak kelihatan jelas, soalnya dia pakai masker. Coba deh, kamu temuin aja. Siapa tahu mau ngasih rezeki nomplok." "Ck! Gak usah mimpi." Bima pun melangkah keluar, diikuti Jojo dari belakang. Ia terkejut melihat siapa yang datang. Padahal pria itu baru saja mengirimkan pesan pada Bima. "Boleh kita bicara berdua aja?" Pria itu bersuara. Bima langsung tersadar dan mengikuti arah pandang pria itu. Ia meminta Jojo untuk masuk ke kamar dan Jojo pun menurutinya. Padahal Jojo sangat ingin tahu siapa pria itu, karena tatapannya tidak asing bagi Jojo. "Mau apa Kakak datang ke sini? Tahu darimana kalau aku tinggal di sini?" Bima langsung mencecar pria itu dengan pertanyaan. Tatapannya jelas menunjukkan bahwa ia tidak suka dengan kedatangan pria itu. Pria yang biasa disapa Endry itupun langsung membuka masker yang menutupi mulutnya. "Bima, Kakak tahu kamu masih marah. Tapi tolong, jangan siksa Kakak kayak gini. Kamu itu tanggungjawab Kakak. Mau kamu dianggap orang asing sama Nenek, kamu tetap adiknya Kakak. Kita satu darah, walaupun beda Ibu. Tolong, balik ke rumah. Tinggal sama Kakak." "Enggak, Kak," tolak Bima. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di teras. "Aku gak mau balik ke rumah itu. Udah cukup penghinaan Nenek waktu itu, Kak. Aku punya perasaan. Aku gak tahu apa-apa tentang masa-lalu Ayah sama Ibu. Kalau boleh milih, lebih baik aku gak dilahirkan sama sekali." Endry mendekati Bima. "Bim, kamu gak boleh ngomong gitu. Kakak tahu kamu sakit hati, tapi kamu masih punya Kakak. Kakak tulus sayang sama kamu. Kamu anak baik." "Gak, Kak. Aku tetap gak bisa tinggal sama Kakak. Mendingan Kakak pulang aja, karena percuma ngebujuk aku juga. Aku tetap sama keputusan aku, Kak. Tolong hargai." Bima menutup pembicaraan diantara mereka, kemudian bergegas masuk ke dalam dan menutup pintu dengan keras. Endry hanya bisa menghela napas karena tidak berhasil membujuk adiknya. Selama ini, Endry tidak pernah menganggap Bima sebagai adik tirinya, karena mereka masih satu Ayah. Tapi Bima selalu menganggap dirinya sebagai orang asing di keluarga Endry, terutama setelah Nenek dari Endry mengatakan Bima sebagai anak yang tidak diinginkan. Endry tahu bagaimana sakitnya menjadi Bima. Dengan rasa kecewa yang mendalam, Endry pun meninggalkan kos-kosan Bima dan masuk ke mobilnya. Sementara di ruang tamu, Bima menangis sesenggukan setelah kedatangan Endry. Setelah sekian lama, pria itu kembali muncul dan membuka luka lama yang telah susah payah ia hilangkan dari ingatan. Jojo yang baru saja keluar, hendak mengambil minum pun turut mendengar suara tangis Bima. Ia bergegas ke ruang tamu dan duduk di samping Bima dengan wajah cemas. "Kamu kenapa, Bim? Ada masalah? Tadi tuh siapa?" tanya Jojo. Bima menghapus airmatanya. "Dia Kak Endry. Kamu pasti gak lupa, kan?" "Oh, pantesan kayak gak asing tatapannya. Terus, kenapa dia ke sini? Kamu kok malah nangis?" "Dia ngajak aku pulang. Gara-gara dia datang, aku jadi ingat masa-lalu aku. Padahal aku udah susah-payah ngelupainnya," lirih Bima. Jojo menatap iba ke arah Bima. Ia mengusap punggung Bima, berusaha untuk menenangkan. Jojo tidak bisa membayangkan bagaimana hidup sebagai Bima. "Kamu yang sabar, Bim. Ayas yakin, Allah gak akan biarin kamu terus-terusan sedih. Yang penting, kamu fokus kuliah, biar cepat dapat kerjaan enak. Kamu bisa buktiin ke Nenek kamu, kalau kamu juga bisa berhasil tanpa bantuan dari mereka." "Makasih ya, Jo," ucap Bima sambil menatap Jojo. "Aku gak tahu gimana cara balas budinya ke kamu sama Kevin. Selama ini, kalian yang selalu peduli sama aku. Kalian yang ngebantu aku." "Ayas sama Kevin ikhlas bantu kamu, Bim. Kita sahabatan udah lama. Wajar kalau kita saling bantu." Bima tersenyum dan kini hatinya mulai terasa lega. Kenangan masa-lalu itu perlahan mulai memudar kembali dari pikirannya. Apa yang dikatakan Jojo memang benar. Ia harus terus maju untuk membuktikan kesuksesannya pada Nenek tirinya itu. *** Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Saat ini, Bima berada di kafe tempatnya bekerja. Ia sudah berada di sana sejak pukul empat tadi. Bima terlihat sibuk mengantarkan beberapa pesanan pada pelanggan yang datang. Ada yang sekedar mengobrol sambil meminum kopi buatan barista di sana. Bima mendekati meja nomor tujuh yang berada di sudut, dekat dengan dinding kaca kafe tersebut. "Maaf, Mbak. Mau pesan apa?" "Mau pesan Kak Bima, bisa?" Bima mengernyit. Suara itu tidak asing di telinganya. Tapi sayang, Bima tidak bisa melihat wajah wanita itu, karena tertutupi oleh sebuah topi. Wanita itu juga menundukkan kepalanya. "Maaf, Mbak siapa ya?" tanya Bima. Wanita itu tersenyum, lalu membuka topi hitam yang menutupi wajahnya. Seketika senyum wanita itu mengembang sambil menatap Bima. Ia mengedipkan salah satu matanya untuk menggoda pria yang tampak tertegun melihatnya. "Aku, Denisa. Mau kenalan lagi?" Bima pun tertawa lalu duduk berhadapan dengan Denisa. "Kamu ngapain di sini?" "Mau lihat Kak Bima kerja," jawab Denisa hingga membuat Bima tersipu. "Kamu tahu darimana kalau aku kerja di sini?" tanya Bima. "Dari Kevin." "Bima, antar pesanan ini." Barista yang bekerja di sana memanggil Bima untuk mengantarkan pesanan ke meja lain. Dengan terpaksa, Bima pun meninggalkan Denisa untuk melanjutkan kewajibannya. Untungnya, Denisa sabar menunggu. Setelah melayani beberapa pesanan, akhirnya Bima bisa beristirahat sejenak untuk mengobrol dengan Denisa. Bima juga memesankan sesuatu untuk wanita cantik itu. "Oh iya, makasih banyak ya lukisannya. Kamu pintar banget ngelukis," ucap Bima sembari menampilkan senyuman manisnya. Denisa tersipu. "Gak pintar kok. Aku juga masih belajar. Kak Bima suka, kan?" "Suka banget. Jojo juga suka sama lukisan kamu. Keren," kata Bima. "Makasih pujiannya, Kak." Bima tersenyum. "Ehm, boleh tanya sesuatu gak?" "Boleh. Kakak mau tanya soal apa?" "Ehm, kamu udah punya pacar belum?" tanya Bima sedikit ragu. Denisa langsung menggeleng. "Enggak, Kak. Kenapa emangnya?" "Oh, gak apa-apa. Cuma tanya aja." "Kirain ada sesuatu," ujar Denisa sedikit kecewa mendengar jawaban Bima. "Kalau gitu, aku pulang dulu ya, Kak." Denisa berdiri, diikuti oleh Bima. Bima mengantarkan wanita itu sampai di depan halaman kafe. "Kamu pulang sama siapa?" tanya Bima. "Pulang sendiri, Kak." "Loh, aku kira kamu ke sini sama Vera. Mau aku antar pulang?" Bima menawarkan. Denisa menggeleng. "Gak usah, Kak. Kakak kan lagi kerja. Masa mau bolos cuma gara-gara aku. Nanti Kakak dimarahi sama Bos loh." "Ehm, kamu nunggu angkutan umum?" tanya Bima. "Enggak, Kak," jawab Denisa. "Aku udah pesan ojek online kok. Gak usah khawatir gitu, Kak. Aku baik-baik aja." Bima akhirnya menyerah. "Ya udah. Nanti kalau udah sampai rumah, kabari aku ya. Aku gak bisa lihat cewek pulang sendirian." "Oke. Aku pulang dulu ya, Kak," pamit Denisa. Bima pun membiarkan Denisa pergi menunggu ojek onlinenya di seberang jalan. Ia kembali masuk ke dalam kafe untuk melanjutkan tugasnya. Ojek online yang dipesan Denisa pun sudah sampai dan mengantarkan Denisa menuju gang rumah Vera. Setelah sampai di depan gang, Denisa pun turun dari sepeda motor dan membayar ongkosnya. Saat hendak berjalan memasuki gang, tiba-tiba namanya dipanggil oleh seseorang. Denisa menoleh dan terkejut melihat sosok pria yang ada di hadapannya saat ini. "Chandra?" gumam Denisa. Pria bernama lengkap Chandrawan itu tersenyum pada Denisa. "Hai. Apa kabar? Masih ingat aku, kan?" "Masih. Kamu ngapain di sini?" tanya Denisa yang masih tidak menyangka bisa bertemu dengan Chandra. "Aku ke sini mau ketemu kamu. Selama ini, aku nyariin kamu terus. Ternyata kamu ada di sini," kata Chandra. Denisa tersenyum sambil mengusap tengkuk lehernya. "Kamu sendirian di sini? Terus, tahu darimana aku tinggal di sini?" "Aku sendirian. Aku tahu dari temen-temen kita. Mereka ngasih tahu alamat kamu," jawab Chandra. "Oh, gitu. Ya udah, kamu mau mampir gak? Aku tinggal bareng sama Vera. Rumahnya gak jauh dari sini kok." Chandra melirik jam tangannya, lalu menggeleng. "Udah malam. Gak enak dilihat orang. Gimana kalau besok kita jumpa di kafe dekat sini? Aku yang traktir." "Ehm, boleh. Tapi abis kuliah ya. Soalnya besok ada kelas," ujar Denisa. "Oke. Kalau udah selesai, kamu bisa hubungi aku. Ini kartu nama aku." Chandra menyerahkan sebuah kartu nama berisi nomor teleponnya. "Aku pamit ya." Denisa mengangguk dan membiarkan Chandra pergi meninggalkannya. Pria yang pernah menjadi bagian di masa-lalunya kembali muncul. Denisa tidak menyangka akan bertemu dengan pria itu lagi, setelah sekian lama berlalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN