Saat ini, Jojo sedang berusaha mengajak Bima untuk berbicara, namun Bima terus menghindar dan diam seribu bahasa. Bahkan Kevin pun sampai terkena imbasnya. Hingga Kevin terus saja menyalahkan Jojo atas semua kejadian ini. Kevin terus saja menyudutkan Jojo, karena Kevin sendiri sudah mengingatkannya sejak awal. Bima memang jarang sekali marah. Tapi jika sudah marah, pria itu akan diam dan sulit untuk mengajaknya bicara.
Sementara Jojo merasa bahwa dirinya tidak salah dalam hal ini. Tujuannya hanya ingin menjahili Bima melalui Denisa. Bukan untuk merebut Denisa dari Bima. Menurut Jojo, wajar saja jika ia mendekati Denisa. Toh Bima dan Denisa belum memiliki hubungan yang serius. Selama Denisa belum terikat oleh Bima, pria manapun berhak mendekatinya.
"Lo sih! Kan udah gue bilangin," kata Kevin.
Jojo mendecak. "Alah! Baru gitu doang udah ngambek. Lagian mereka kan belum pacaran. Sah-sah aja dong kalau Ayas deketin si Denisa. Gak ada yang salah. Bimanya aja yang baperan."
"Wah! Gak waras lo ya. Gebetan temen sendiri lo tikung. Parah lo!" seru Kevin kesal. "Walaupun si Denisa belum jadi pacarnya Bima, setidaknya lo hargai perasaan Bima, temen lo sendiri. Lo satu rumah sama dia. Masa iya lo tega nyakitin hati dia. Gak sopan namanya."
"Ya mau gimana lagi? Dianya Ayas ajak ngomong malah diam aja. Jadi, yang gak sopan siapa dong? Ayas atau dia?"
Kevin menghela napas panjang sambil memijat dahinya. "Lo denger ya, Jo. Selagi lo gak ngerasa salah, Bima gak bakalan mau ngomong sama lo. Gue aja yang gak serumah sama dia bisa tahu gimana karakter dia. Nah elo, satu rumah, tapi gak pernah paham karakter dia."
"Ya jadi Ayas harus gimana?" tanya Jojo.
"Lo pikirlah sendiri. Masa lo gak ngerti maksud omongan gue. Digunain tuh otak buat mikir."
"Kok nyolot sih?" Jojo seakan tidak terima dengan ucapan Kevin yang terus menyudutkannya. "Yang bermasalah Ayas sama Bima. Kenapa kamu yang nyolot?"
"Ya jelas nyolotlah! Gara-gara lo, gue jadi kena imbasnya. Bukan cuma lo doang yang gak diajak ngomong sama dia. Gue juga."
"Loh, apa hubungannya sama Ayas?"
"Ah, terserah lo deh. Capek gue ngomongin orang yang kepala batu. Bikin ngenes," ujar Kevin sambil beranjak pergi untuk menemui kekasihnya yang sebentar lagi akan ke kantin kampus.
Sementara Jojo masih termenung di kursi taman. Bima juga sudah pergi sejak tadi dan hanya tinggal Jojo saja di sana. Pria itu menggaruk kepalanya karena merasa bingung harus berbuat apa. Memikirkan ucapan Kevin membuat kepalanya mendadak pusing.
Saat Jojo masih sibuk memikirkan Bima, Denisa tiba-tiba muncul di depan Jojo. Wanita itu menyapa Jojo dengan senyuman manis. Memang Jojo akui, Denisa itu memang sangat cantik. Tidak heran jika pria lain terpana oleh kecantikannya.
"Loh, Kak Jojo sendirian aja?" tanya Denisa yang kini sudah duduk di samping kiri Jojo.
Jojo mengangguk. "Iya. Kamu ngapain di sini? Udah selesai kelasnya?"
"Udah kok. Ini lagi istirahat," jawab Denisa sambil celingukan untuk mencari keberadaan seseorang. "Kak Bima mana? Kok tumben gak sama Kak Jojo?"
"Hhh! Lagi ngambek dia."
Denisa mengernyit. "Ngambek? Kenapa?"
"Ck! Dia marah waktu Ayas ngobrol sama kamu, Denisa. Gak suka dia kalau ada cowok lain yang deketin kamu. Makanya dia gak mau ngobrol sama Ayas," jawab Jojo dengan apa adanya.
Mendengar hal tersebut, jantung Denisa berdetak kencang. Napasnya tercekat. Seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Mungkinkah pertanyaan yang ada di pikirannya sudah terjawab?
"Denisa," panggil Jojo saat menyadari wanita itu melamun.
Denisa tersentak. "Eh, iya, Kak. Maaf aku ngelamun."
"Kaget ya dengar jawaban Ayas?" tanya Jojo.
"I-ya, Kak."
Jojo menghela napas panjang. "Sebenernya si Bima tuh suka sama kamu. Tapi dia belum mau ngomong. Ayas nyaranin buat pendekatan dulu aja. Takutnya dia patah hati."
"Ehm, apa sebelumnya dia udah pernah patah hati, Kak?" tanya Denisa penasaran.
"Iya. Dulu, waktu masih semester satu. Dia suka sama satu cewek. Mereka tuh kemana-mana selalu bareng. Karena ngerasa nyaman sama tuh cewek, si Bima ngomong suka deh ke cewek itu. Tapi sayangnya, si cewek udah punya cowok. Jadi, karena ngerasa gak enak udah ngasih harapan palsu ke Bima, tuh cewek pindah ke luar kota."
"Oh, gitu. Kirain Kak Bima gak pernah dekat sama cewek sebelumnya." Denisa mengangguk paham. "Tapi menurut Kakak, aku bakalan kayak gitu gak ke Kak Bima?"
Jojo menatap Denisa. Ia memperhatikan manik mata wanita itu dengan seksama. Kelihatan seperti wanita baik-baik yang memang pantas Bima miliki. Jojo pun tersenyum.
"Kayaknya gak mungkin kamu nyakitin Bima. Kalau Ayas lihat, kamu tuh cewek baik-baik," ujar Jojo dengan asumsinya. "Kamu udah pernah pacaran belum?"
Dengan polosnya, Denisa menggelengkan kepala. "Belum, Kak. Kalau suka sama cowok pernah, tapi cuma sebatas suka aja. Gak dekat juga."
"Cinta dalam hati?" terka Jojo.
"Iya, Kak," Denisa terkekeh malu. "Aku malu ngomong gini. Jangan bilang ke siapa-siapa ya, Kak. Aku takut dikatain gak normal, karena gak pernah pacaran."
Jojo menaikkan satu alisnya ke atas. "Emang ada yang pernah ngomong gitu ke kamu?"
"Ada, Kak. Dulu banget, waktu masih SMA. Banyak banget yang bilangin aku gak normal, Kak. Tapi aku diam aja sih. Males juga ngeladeninnya," jawab Denisa jujur.
"Jahat ya yang ngomong gitu. Gak punya hati apa itu orang? Seenak jidatnya aja ngomong kayak gitu."
Denisa terkekeh. "Gak apa-apa, Kak. Lagian aku juga udah lupain kok. Temen-temen yang sering ngomong gitu juga udah minta maaf sama aku, waktu acara perpisahan sekolah. Jadi, udah selesai masalahnya."
"Syukur deh kalau gitu."
"Oh iya, aku bisa minta tolong gak sama Kakak?" tanya Denisa.
Jojo mengernyit. "Minta tolong apa?"
Denisa menyerahkan sebuah amplop cokelat berukuran besar kepada Jojo. Entah apa isinya, yang jelas itu amanah untuk Jojo. "Tolong kasih ini ke Kak Bima. Bisa, kan?"
"Oh, bisa." Jojo menerimanya dengan senang hati. "Emang isinya apaan? Kepo Ayas."
Denisa tertawa. "Rahasia dong. Kan itu untuk Kak Bima. Bukan untuk Kak Jojo."
"Iya juga ya." Jojo menggaruk kepalanya sambil menyengir. "Ya udah, nanti Ayas kasih ke Bima. Tenang aja. Ayas amanah kok orangnya."
"Makasih banyak ya, Kak," ucap Denisa.
"Iya sama-sama."
"Ya udah, kalau gitu, aku ke kantin dulu ya. Mau nemuin Vera," pamit Denisa.
Jojo hanya mengangguk dan mempersilahkan Denisa untuk pergi menemui sepupunya di kantin. Sementara Jojo masih saja duduk di taman. Seakan malas untuk beranjak. Tatapannya tertuju pada amplop cokelat itu. Ia membolak-balik amplop tersebut dan di sana tertulis nama Denisa sebagai pemberi. Jojo hanya tersenyum simpul.
Saat hendak beranjak dari kursi taman, tiba-tiba jalannya dihadang oleh Bima. Pria itu menatap Jojo dengan tajam. Jojo yang ditatap seperti itupun berusaha bersikap biasa saja.
"Apa?" tanya Jojo.
"Ngapain kamu ngobrol sama Denisa? Kamu kan tahu aku lagi dekat sama dia," ucap Bima dengan nada datar.
Jojo menghela napas panjang. "Udah deh, Ayas gak mau ribut. Ayas minta maaf soal yang di perpustakaan tadi. Ayas emang sengaja ngobrol sama dia supaya kamu tuh sadar. Tapi yang barusan tadi, bukan Ayas sengaja, karena Denisa sendiri yang nyamperin. Dia nitipin ini ke Ayas. Katanya buat kamu."
Bima menatap amplop cokelat yang diberikan oleh Jojo. Ia menerimanya dan membukanya. Di dalamnya terdapat lukisan wajah Bima yang sangat indah sekali. Bahkan Jojo sampai tertegun melihat hasil karya dari Denisa.
"Wih! Bagus banget!" seru Jojo. "Ini Denisa yang lukis?"
Bima mengangguk. "Iya. Dia kan anak seni rupa. Lukisan dia emang keren-keren. Aku pernah lihat buku gambarnya dia."
"Wah, salut Ayas sama tuh anak. Tangannya ajaib banget. Beruntung kamu bisa dilukis sama dia, Bim. Sayangnya gebetan Ayas gak bisa ngelukis," ujar Jojo.
"Cari aja anak seni rupa. Tapi jangan Denisa. Aku hajar kamu."
Jojo terkekeh. "Jadi, udah gak marah lagi nih ceritanya? Biasanya lama kalau marah."
"Oh, jadi mau aku diamin sampai lama?"
"Eh, enggak gitu dong. Iya Ayas salah. Maaf ya," ucap Jojo tulus sambil mengulurkan tangannya ke arah Bima. "Baikan ya?"
Bima menatap Jojo dengan tatapan sengit, lalu tersenyum dan membalas jabatan tangan Jojo. "Iya, aku maafin."
"Btw, kamu udah dapat kan buku referensinya?" tanya Jojo.
"Udah sih. Cuma tadi lupa pinjamnya," jawab Bima. "Kenapa emangnya?"
"Kalau udah dapat, kita balik yuk. Bosan juga di sini. Gak ada kegiatan lain."
Bima mengangguk. "Ya udah, temenin ke perpustakaan dulu. Mau pinjam buku yang tadi. Abis itu kita pulang."
"Oke."
"Mau singgah makan mie ayam dulu gak?" tanya Bima sambil berjalan ke arah perpustakaan.
"Boleh juga tuh. Ayas laper nih."
"Ya udah. Abis ini kita ke warung mie ayam yang biasa ya," kata Bima.
"Oke!" seru Jojo.
Mereka berdua pun masuk ke dalam perpustakaan dan langsung mengambil buku yang sempat Bima baca tadi. Setelah meminjam buku tersebut, mereka berdua bergegas pergi menuju warung mie ayam langganan mereka berdua. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus mereka.