Bab 13

1274 Kata
Seminggu telah berlalu setelah Bima dan Denisa resmi menjadi sepasang kekasih. Mereka berdua tampak menikmati kebahagiaan setiap harinya. Bahkan sampai membuat mahasiswi yang mengidolakan Bima menjadi iri pada Denisa. Selama ini, mereka tidak bisa sedekat itu dengan Bima. Tapi, Denisa berhasil menarik perhatian pria itu dengan sangat mudah. Beberapa dari mereka juga sempat menghampiri Denisa karena merasa kesal. Seperti pagi ini, Denisa harus berhadapan dengan tiga orang mahasiswi yang sangat menyukai Bima. Mereka meminta Denisa untuk menjauhi Bima karena mereka tidak suka. Tapi, Denisa hanya menanggapi dengan santai, tidak terpancing emosi sedikitpun. "Eh, Denisa! Kamu tuh gak cocok sama Kak Bima! Kak Bima itu cocoknya sama cewek berkelas kayak aku," ucap salah satu mahasiswi yang memiliki tubuh tinggi semampai itu. Denisa menampilkan sebuah senyuman termanisnya. "Aku tahu kok, kamu orang berkelas. Tapi sayang, Kak Bima gak tertarik sama kamu. Dia lebih tertarik sama aku. Ya aku harus gimana dong?" "Ih, nih anak ngeselin ya lama-lama!" Denisa hanya menaikkan kedua bahunya ke atas dan melenggang pergi begitu saja dari hadapan mahasiswi itu. Ia berjalan menuju ruang kelasnya dengan santai, meskipun beberapa pasang mata tampak memberikan tatapan sinis untuknya. Denisa tidak peduli dengan mereka karena Bima sudah memintanya untuk tidak menanggapi orang-orang yang tidak menyukai hubungan mereka. Sementara di tempat lain, Bima baru saja keluar dari ruangan dosen pembimbingnya. Ia menemui Jojo dan Kevin yang sudah menunggunya sejak tadi di taman. Tapi di pertengahan jalan, Bima tak sengaja berpapasan dengan salah satu mahasiswi bernama Angella Syifani. Wanita yang biasa disapa Angel itupun menyapa Bima dengan sangat ramah. Sudah seminggu ini Bima dan Angel tidak saling bertegur-sapa karena Bima tidak ingin membuat kesalahpahaman diantara dirinya dan Denisa. "Bim, apa kabar?" tanya Angel. "Baik," jawab Bima singkat. "Alhamdulillah. Oh iya, gimana skripsi kamu? Lancar, kan?" Angel terus mencoba untuk meredakan kecanggungan diantara mereka. "Alhamdulillah, lancar." Bima tetap pada pendiriannya. Sikapnya terasa begitu dingin, tidak sehangat dulu. Bahkan Angel juga merasakan hal itu. Padahal sebelumnya, hubungan antara mereka baik-baik saja. Tidak ada masalah sama sekali karena mereka memang berada di fakultas yang sama. Dulu, Angel juga selalu sharing pelajaran dengan Bima. Tapi berbeda untuk saat ini. "Ehm, aku mau tanya sesuatu sama kamu, Bim. Boleh?" "Tanya aja," jawab Bima sambil fokus menatap beberapa lembar skripsinya. Angel berdeham sejenak sambil menghela napas panjang. "Maaf sebelumnya kalau aku lancang. Akhir-akhir ini, kamu sedikit berubah, Bim. Kamu beda sama yang dulu. Kalau boleh tahu, kamu kenapa ya?" "Ini penting gak ya buat dibahas?" Bima justru bertanya balik pada Angel. "Kalau gak penting, biar aku pergi sekarang. Soalnya masih banyak urusan." Angel lantas terkejut mendengar ucapan Bima. Pria itu bahkan pergi begitu saja meninggalkannya tanpa rasa bersalah. Angel semakin tidak habis pikir dengan tingkah Bima yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Ia hanya bisa menatap punggung Bima yang semakin menjauh darinya. Setelah itu, Angel kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan dosen. Sesampainya Bima di taman, ia langsung duduk di samping Kevin. Bima menunjukkan wajah kesalnya pada kedua sahabat baiknya itu. Jojo dan Kevin saling bertatapan karena bingung dengan tingkah Bima hari ini. "Lo kenapa, Bim? Muka kok kusam terus dari tadi," celetuk Kevin. "Iya nih. Dari tadi bete mulu bawaannya," jawab Bima. Jojo mengernyit. "Bete kenapa sih? Kan kamu udah jadian sama Denisa. Kenapa masih bete? Emang ada masalah?" "Ck! Masalahnya bukan sama Denisa, tapi sama orang-orang kampus. Kenapa sih mereka heboh banget aku jadian sama Denisa? Pakai ngatur-ngatur segala lagi. Apalagi si Angel tuh. Sok nilai aku bedalah dari yang dulu. Beginilah. Begitulah. Bikin kesel." Kevin menghela napas panjang. "Ya elah, Bim. Gak usah dipikirin. Ini kan hidup lo, bukan hidup mereka. Ngapain juga lo pikirin omongan mereka? Bikin pusing aja. Gue waktu jadian sama Vera juga gitu. Banyak yang julid. Tapi gue bawa santai aja." "Tapi yang dibilang Angel sih ada benernya, Bim," sahut Jojo yang pendapatnya berbeda dengan Kevin. "Ayas juga ngerasa gitu sih sama kamu. Semenjak jadian sama Denisa, kamu tuh jarang banget pergi sama Ayas. Terus kemana-mana sama si Denisa mulu. Ayas jadi gak ada temennya. Si Kevin juga sama kayak kamu." "Makanya lo cari cewek juga, biar gak sendirian," kata Kevin. Jojo mendengus. "Ini Ayas lagi usaha, Vin." Bima hanya bisa menggelengkan kepala lalu melihat berkas skripsinya. Hanya ada sedikit revisi saja. Kemungkinan besok ia akan menyiapkannya. "Bim, si Chandra gimana? Masih gangguin lo gak?" tanya Kevin. Bima menggeleng. "Sampai sekarang sih belum ada gangguin. Ya mudah-mudahan gak ada gangguan dari dia. Aku capek berurusan sama dia. Entar Neneknya ikut campur lagi." "Iya juga sih. Gue heran deh sama keluarga mereka. Sifatnya sama semua," ujar Kevin. "Tapi sifatnya Kak Endry gak gitu deh. Menurut Ayas, dia tuh sayang banget sama kamu, Bim. Dia lebih peduli sama kamu daripada sama Chandra. Padahal si Chandra itu kan adik kandungnya." Kevin mengangguk setuju. "Bener kata lo, Jo. Gue juga mikirnya gitu sih. Sifat Kak Endry malah cenderung beda sama keluarganya. Jauh banget bedanya. Padahal Kak Endry kan dokter ternama tuh. Jam terbangnya aja udah luar biasa. Masih muda. Baik lagi." "Iya bener tuh. Bim, mending kamu tinggal bareng aja deh sama Kak Endry. Biar si Chandra gak gangguin hidup kamu terus," kata Jojo. "Enggak, Jo." Bima tetap menolak hal itu, meskipun Endry bersikap baik padanya. Ia tidak ingin merepotkan keluarga tirinya itu. Akan ada malapetaka besar jika ia kembali ke rumah yang penuh dengan kisah sedihnya. "Kenapa lo nolak sih, Bim? Kan enak kalau tinggal bareng sama Kak Endry. Udah pasti lo itu gak capek kerja, terus gak pusing mikirin bayar kosan. Mau kemana-mana juga gampang. Kak Endry pasti ngasih lo fasilitas mobil atau sepeda motor," ucap Kevin. Bima tetap menggeleng. "Enggak, Vin. Aku gak mau nerima bantuan apapun dari mereka. Cukup Ibu aja yang dicaci-maki sama mereka, karena udah ngerebut Ayah dari Ibu kandung mereka. Aku juga gak mau dituduh manfaatin mereka karena hartanya Ayah. Aku gak mau." "Hhh! Iya juga sih. Mulut Nenek tirinya Bima tajam banget. Kayak pisau," cibir Jojo. "Jo, ralat. Dia bukan Nenek aku," ucap Bima kesal. "Udah deh, gak usah bahas mereka. Bikin makin bete. Mending bahas yang lain aja." Kevin dan Jojo hanya terkekeh melihat tanggapan Bima. Memang Bima sangat sensitif jika membahas masa-lalu kelamnya bersama keluarga mendiang Bisma. Tidak akan ada habisnya. Itu sebabnya, Bima benci membahas masalah itu. *** Sekitar pukul dua siang, Denisa baru saja keluar dari kelasnya sambil memijat pelipisnya. Kepalanya mendadak pusing sekali. Denisa berjalan sedikit sempoyongan di sepanjang lorong kampus. Siang ini, berjanji akan menemui Bima di kantin untuk makan siang bersama. Tapi rasanya, ia tidak sanggup untuk berjalan lebih jauh lagi. Denisa pun merasakan sesuatu sedang mengalir dari hidungnya. Ia mengusap hidungnya yang sudah mulai mengeluarkan darah. Dengan panik, Denisa mengambil tisu dari dalam tasnya dan bergegas membersihkan bekas darah di hidungnya. Denisa mencoba berjalan menuju kamar mandi karena darah yang keluar semakin banyak. Setelah sampai di kamar mandi, Denisa segera menghubungi Vera untuk menemuinya. Ia sudah tidak tahan lagi. Seluruh tubuhnya mulai lemas dan akhirnya ia terduduk di kamar mandi sambil terus menghapus darah di hidungnya. Vera yang kebetulan tidak berada jauh dari kamar mandi tersebut pun bergegas masuk untuk menolong Denisa. Ia menghubungi Kevin dan meminta Kevin untuk tidak mengatakan apapun pada Bima. Sembari menunggu Kevin datang, Vera berusaha menguatkan Denisa. Wajah Denisa sudah sangat pucat. Denisa menggenggam tangan Vera. "Ver, kalau umur aku udah gak panjang lagi, kamu mau bantuin aku gak?" "Hush! Kamu gak boleh ngomong gitu, Sa. Kamu pasti sembuh kok. Sabar ya. Bentar lagi Kevin datang," ucap Vera panik. Tak lama, Kevin pun muncul dari balik pintu dan bergegas menggendong Denisa. Untung saja Kevin membawa mobil hari ini. Jadi, ia bisa membawa Denisa ke rumah sakit bersama Vera. Mereka bertiga pun berangkat menuju rumah sakit tanpa diketahui oleh Bima dan Jojo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN