Suara air mengucur terdengar dari kamar mandi. Jeffrey yang sebelumnya hendak masuk ke dalam kamar mandi, mengurungkan niatnya. Haura pasti saat ini sedang membasuh tubuhnya yang penuh luka akibat pembuatannya.
Jeffrey menjauh dari kamar mandi, lalu duduk di pinggir ranjang. Ia menundukkan kepalanya sembari mencengkeram kepalanya.
Menyesal, sejujurnya ia selalu menyesal setelah melakukan kekerasan pada Haura. Meskipun dalam keadaan mabuk, Jeffrey selalu ingat. Namun ia tidak bisa berhenti, selalu saja di bawah alam sadarnya ia akan melakukan hal itu lagi dan lagi, kalau Haura berbuat sesuatu yang menyinggungnya. Terutama kalau menyinggung soal mendiang istrinya.
Cklek. Jeffrey mengangkat kepalanya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia menatap Haura yang baru saja keluar dari kamar mandi dalam balutan bathrobe.
"Kau mau mandi?" tanya Haura sembari tersenyum, seolah Jeffrey tidak melakukan apapun padanya sebelumnya.
"Iya..." balas Jeffrey sembari bangkit berdiri dari kasur.
Ia berjalan melalui Haura begitu saja, padahal itu sangat bertolak belakang dengan perasaannya yang ingin menghampiri Haura dan menanyai kondisinya. Namun tetap saja, ia tidak bisa menuruti apa kata hatinya.
Haura menatap sendu punggung Jeffrey yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia mendudukkan dirinya di depan meja rias, dan menatap luka-luka di wajahnya yang sudah hampir sembuh.
Untunglah, Jeffrey tidak memukulnya di wajah. Jadi dia bisa menutupi wajahnya dengan makeup, tanpa perlu takut infeksi atau kesakitan saat mengaplikasikan makeup.
•••
Yongtae terbangun karena mendengar suara deringan telfon serta bunyi jam weker yang bersahut-sahutan. Dengan susah payah ia mencoba membuka matanya, dan mengambil kedua benda berisik itu dari meja nakas.
Pertama, matikan jam weker, lalu angkat telfon.
"Halo!" ucap Yongtae yang lebih seperti bentakan begitu telfon ia angkat.
"Wah, sudah berani bentak Ibu ya anak ini? Mau Ibu kutuk jadi apa hah? Jadi batu atau perahu?"
"Akh, Ibu maaff! Aku baru bangun. Semalam aku kelelahan, jadi tidur larut,"
"Ck, kan Ibu sudah bilang jangan tidur larut,"
"Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal bu..." dusta Yongtae. Jelas-jelas semalam ia hanya chattingan denga Haura, sampai menjelang subuh.
"Cepat jemput Ibu di halte. Ibu sepertinya nyasar deh. Ibu lupa pakai bis apa kalau mau ke rumahmu."
"Ah, Ibu ke sini? Harusnya 'kan bilang dong, biar aku jemput dari stasiun. Akhirnya nyasar lagi,"
"Ibu 'kan tidak mau merepotkanmu,"
"Ya sudah sekarang beritahu Ibu sedang ada di halte apa, aku akan segera ke sana, jemput Ibu."
Setelah ibunya menyebutkan nama haltenya. Yongtae pun bergegas ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan gosok gigi.
Syukurlah sekarang hari sabtu, dia tidak wajib datang ke kantor. Meskipun yang disayangkan dia mungkin tidak bisa ke kafe Johnny hari ini dan bertemu Haura, karena ibunya datang mengunjunginya.
Selesai cuci muka dan gosok gigi, Yongtae mengambil kacamatanya dan membersihkannya secara asal menggunakan ujung kaos putihnya. Rambutnya ia biarkan acak-acakan, sebelah celana trainingnya juga ia biarkan naik sebetisnya. Ia pun mengambil kunci mobil, dan bergegas pergi.
Tidak lupa bawa dompet. Karena ibunya pasti mau mampir keberbagai tempat dan membeli sesuatu.
•••
"Oh, jadi setelah mengantar anak sekolah, kau pergi kerja?" Haura menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan seorang wanita paruh baya yang sedari tadi ngobrol dengannya, begitu ia tiba di halte untuk ke tempat kerjanya.
"Pasti anakmu lucu sekali ya? Berapa usianya?"
"Haha, iya, mirip ayahnya. Sudah enam tahun, tapi sikapnya lebih dewasa dari pada anak seumurannya, mungkin karena dia sudah ditinggal ibunya dari kecil,"
"Hah?!" wanita paruh baya itu seketika terkejut mendengar penuturan Haura.
Haura nyengir. "Dia sebenarnya anak tiri saya. Saya menikahi ayahnya saat usianya sudah empat tahun, tapi saya sudah mulai sering merawatnya dari usianya dua tahun,"
"Oh, begitu. Dia kehilangan ibunya dari kapan?"
"Dari umurnya enam bulan,"
"Ya ampun, sedih sekali..."
"Tapi untungnya dia anak yang tegar,"
"Ah, aku yakin itu. Kau sendiri hebat, mau dan bisa mengurus anak orang lain."
"Haha, tidak. Aku memang sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri,"
"Lalu kau sendiri punya anak kandung?"
"Ah, aku..." Haura menggantungkan kalimatnya sejenak. Dan belum sempat ia jawab, seseorang sudah terlebih dulu memanggil wanita paruh baya itu.
"Ibu!"
Wanita paruh baya itu langsung menoleh ke sumber suara. Matanya melebar dan raut wajahnya menjadi sumringah, saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Huwaa, anakku!" serunya sembari bangkit berdiri, dan menghampiri pria berambut acak-acakan, menggunakan kaos putih oblong, serta celana training yang panjangnya tidak simetris.
Haura terkejut melihatnya. Ia langsung berdiri dan mematung.
Pria itu sendiri tampak ikut terkejut saat melihat Haura.
"Ah, Haura!" seru pria itu, yang membuat kesadaran Haura kembali.
"Yongtae? Ya ampun, dia ibumu?" ujar Haura.
Yongtae, pria berkaos putih itu tersenyum sembari berusaha melepaskan pelukan ibunya. Bukannya ia tidak senang dipeluk ibunya, tapi ini di tempat umum, terlebih di depan Haura.
"Ibu malu..." bisik Yongtae.
"Ah, memangnya kenapa sih? Ibu kan rindu sekali denganmu," balas ibu.
"Ya tapi malu bu, ini kan di tempat umum." kata Yongtae.
Haura tertawa melihatnya. Meskipun bisik-bisik, tetap saja terdengar. Tapi untungnya, ibu Yongtae akhirnya melepas pelukannya dari Yongtae.
"Ngomong-ngomong kalian sudah saling mengenal?" tanya ibu.
"Iya, kami juga baru berkenalan kemarin sih," balas Haura.
"Sayang sekali ya kau sudah bersuami, anakku ini masih bujang, huhu,"
"Ck, ah Ibu. Meskipun dia belum nikah, juga belum tentu dia mau denganku," sahut Yongtae.
"Ah, memangnya siapa sih yang akan menolakmu? Justru kau yang sering menolak orang," kata ibu sembari mencubit pipi Yongtae.
Haura hanya tertawa menanggapinya.
"Oh iya, bisku sudah datang. Aku permisi dulu ya?" celetuk Haura.
"Loh, kau mau kemana?" tanya Yongtae.
"Aku mau kerja," balas Haura.
"Aku antar saja, sekalian aku mau ke kafe temanku, sarapan dengan ibu di sana. Tempat kerjamu dekat dengan kafe temanku kan?"
"Ah, tidak usah, nanti merepotkan,"
"Hei, mana mungkin merepotkan? Ayolah. Tidak apa-apakan bu?"
"Tentu saja tidak apa-apa! Ayo Haura, biar Yongtae antar. Jok mobilnya sering dingin karena tidak pernah ada yang menumpang."
"Ahh, ibu lagi-lagi..." gumam Yongtae.
•••
Haura duduk di sebelah kursi kemudi, yang ditempati Yongtae. Sementara ibu tiduran di jok tengah karena punggungnya sakit.
Suasana mendadak canggung di antara keduanya, saat ibu Yongtae mulai tidur.
"Bagaimana tidurmu semalam? Maaf ya, aku mengajakmu chat sampai subuh," Yongtae akhirnya buka suara, setelah sekian lama diam.
"Baik. Aku sebenarnya juga, hampir tidak pernah tidur tepat waktu. Malah tadi malam, tidurku jauh lebih baik dari biasanya," balas Haura.
"Oh benarkah? Senang mendengarnya. Lalu kau bisa bangun pagi?"
"Tentu, aku harus menyiapkan sarapan untuk suami dan anakku,"
"Ahh, begitu. Pasti melelahkan,"
"Yah sejujurnya iya. Tapi kadang suamiku yang membuatkan sarapan, kalau aku kesiangan, haha," kata Haura, dengan tawa yang dipaksakan.
Ia tidak bohong tentang itu, tapi Jeffrey setelah itu biasanya akan marah dan membentaknya. Bahkan bisa menjambak rambutnya, kalau ia sulit dibangunkan.
"Suamimu bisa masak?" tanya Yongtae.
"Iya, bisa."
"Kalian pasti sering masak bersama,"
"Yah, begitulah, haha..."
'Itu dulu, awal-awal menikah,' batin Haura.
"Aku juga pandai memasak. Meskipun aku laki-laki, aku pandai mengerjakan pekerjaan rumah juga. Kalau aku sudah punya istri, aku akan membantunya,"
"Itu hebat, istrimu akan sangat terbantu. Semoga kau cepat punya calonnya,"
"Aamiin!" seru Yongtae sembari tersenyum lebar.
•••
Jeffrey merogoh ponselnya yang berada di saku celananya karena terus berdering. Ia berdecak kesal, melihat siapa si penelepon.
"Halo," ucapnya dingin, begitu telfonnya ia angkat.
"Masih di kantor?"
"Hei, ini masih jam berapa? Tentu saja aku masih di kantor,"
"Ck, oke, tidak usah emosi begitu dong. Aku hanya mau bilang, aku melihat istrimu diantar kerja oleh seorang pria. Kau tahu dia punya teman pria?"
Rahang Jeffrey seketika mengeras mendengarnya, tanpa sadar ia malah mengabaikan si penelepon.
"Hei, haloo..."
Jeffrey seketika tersadar dari lamunannya.
"Ah iya, mungkin itu temannya," gumam Jeffrey.
"Sebenarnya aku hanya mau bilang. Bisa tidak lupakan Jia? Kau bisa saja menyesal, kalau Haura akhirnya memilih meninggalkanmu,"
"Ck, apa-apaan? Kenapa tiba-tiba jadi Jia?"
"Haura bisa saja berpindah ke lain hati, kalau kau terus menyakitinya. Sadarlah,"
"Aku tutup telfonnya." Tanpa menunggu jawaban, Jeffrey langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Sial," decak Jeffrey kesal, sembari memegangi keningnya. Tubuhnya seketika terasa panas karena marah.
"Beraninya dia..."