"Kau sepertinya tertarik dengan Haura," celetuk ibu, yang membuat Yongtae tersedak.
"Ibu ini bicara apa?" jawab Yongtae.
"Eyy, Ibu itu paling tahu bagaimana anak Ibu,"
Yongtae menghela napas. "Dia sudah bersuami."
"Yah, memang sangat disayangkan ya? Padahal dia sepertinya istri dan ibu yang baik,"
Yongtae hanya bergumam sebagai jawaban, sembari memasukan sup ayam jagungnya ke dalam mulut.
"Jadinya kapan kau mau menikah?" tanya ibu.
"Tidak tahu..."
"Kau ini sadar tidak sih? Ayah dan ibu itu sudah tua. Bagaimana kalau kami sudah meninggal, sebelum melihatmu menikah? Kami juga mau punya cucu darimu," tutur ibu.
"Bu, aku tidak mau menikah dengan alasan seperti itu. Pernikahan itu kan hal besar. Dari pernikahan keluarga baru tercipta, generasi baru akan lahir. Kalau aku dan pasanganku belum benar-benar siap seratus persen untuk menghadapi tantangan kehidupan baru dan menanggung tanggung jawab yang besar, keluargaku bisa hancur nantinya. Aku juga mau, aku dan pasanganku bahagia dulu nanti sebelum punya anak. Jadi meskipun sudah menikah, aku tidak mau langsung punya anak. Aku takut membebani anakku nanti. Aku juga harus mempelajari psikologi anak, cara mendidik anak yang tepat, dan lain-lain,"
"Bukannya aku tidak mau mewujudkan keinginan ayah dan ibu, tapi ini juga demi masa depanku dan cucu kalian. Jadi suami itu... akan... sangat berat sekali."
Ibu mengibaskan tangannya di depan wajah Yongtae.
"Kau sudah berkali-kali bicara seperti itu, sampai Ibu hafal. Bilang saja, sampai saat ini belum ada yang mau denganku bu... kau sudah membicarakan hal itu bahkan dari sebelum usiamu tiga puluh tahun. Lalu mau kapan siapnya hah?! Kau tidak akan siap, kalau tidak juga mempersiapkan diri!"
Yongtae hanya bisa menundukkan kepalanya, saat ibu mengomelinya.
Johnny yang melihatnya menutup mulut untuk menahan tawa.
"Kau tahu? Ibu sangat terpukul waktu orang tua Ibu meninggal. Kau tahu nenek kakekmu meninggal bahkan sebelum Ibu menikah, karena tidak punya siapa-siapa lagi, tidak ada orang yang sedekat orang tua Ibu dengan Ibu, akhirnya Ibu sampai depresi, tidak ada yang mendampingi Ibu. Memang ada saudara dan teman, tapi rasanya tetap berbeda. Ibu juga takut kalau kau akan kau begitu. Kalau kau sudah menikah, dan ayah, ibu sudah tidak ada. Kau tidak akan terlalu terpukul, karena sudah ada orang lain yang mendampingimu," ujar ibu.
"Ibu jangan bicara begitu, hah, membuatku tertekan saja. Aku pasti akan menikah, ayah dan ibu juga akan panjang umur. Doakan saja, jangan bicara yang tidak-tidak."
•••
Haura yang sedang menggoreng kentang, tersentak saat tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Haura, ada yang mencarimu," kata seseorang yang tadi memanggilnya dari depan. Dan saat ini, ia sedang menghampiri Haura di dapur.
"Siapa?" tanya Haura.
"Namanya Jung Jeffrey,"
Deg. Mata Haura seketika melebar, dengan jantungnya yang langsung berdetak tidak karuan, disertai darahnya yang berdesir.
"A-aku akan segera ke sana." Ucap Haura, sembari meniriskan kentang yang tadi ia goreng.
Ia kemudian melepas apronnya, dan bergegas keluar dari dapur.
Seorang pria berjas hitam langsung menghampirinya, sebelum Haura yang lebih dulu sampai ke meja tempatnya duduk.
"Ada toilet di sini?" tanya pria itu.
"Kenapa harus di toilet? Bicara saja di sini,"
"Oh, ya, tidak usah di toilet, sepertinya ada di hotel di dekat sini, ayo ke sana."
Jeffrey, pria berjas hitam itu, meraih tangan Haura, dan menariknya paksa untuk keluar dari restoran cepat saji itu.
Namun Haura berusaha menahan dirinya agar tidak terseret, dan menarik-narik tangannya dari cengkeraman Jeffrey.
"Aku tidak mau!" seru Haura.
"Kau berani membantahku?!" sahut Jeffrey. Tidak peduli dengan banyak pasang mata yang saat ini tengah memperhatikan mereka, emosi Jeffrey sudah meledak-ledak saat ini.
Haura akhirnya tidak mampu melawan lagi karena tenaga Jeffrey yang jauh lebih besar darinya.
Ia ditarik paksa untuk keluar dari restoran dan mabuk ke mobil.
•••
Bruk! Jeffrey mendorong tubuh Haura memasuki kamar hotel yang sudah dipesannya. Haura hanya bisa menangis, sembari berusaha melindungi dirinya ketika Jeffrey bersiap memukulnya.
"Kau diantar dengan siapa tadi pagi hah?" bentak Jeffrey sembari menarik paksa kedua tangan Haura yang menutupi wajah serta kepalanya.
"Hanya teman..." balas Haura terisak.
"Teman? Teman laki-laki maksudmu?"
"Apa salahnya?" pekik Haura memberanikan diri untuk melawan.
Satu tamparan pun mendarat di pipinya.
"Masih tanya apa salahnya?!"
"Tentu saja! Apa salahnya?! Kau selalu memukulku, tapi marah kalau aku dekat dengan pria lain! Aku benar-benar tersiksa menikah denganmu!"
"Kau tidak sadar apa yang membuatku memperlakukanmu seperti ini hah?!"
"Apa?! Karena aku tidak bisa punya anak?! Karena itu kau jadi berhak memukulku, mengekang pergaulanku, menyiksaku-," d**a Haura terasa sesak, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Aku mau cerai," gumam Haura dengan kepala tertunduk.
Rahang Jeffrey semakin mengeras. "Apa kau bilang?"
"Aku mau cerai, aku tidak sanggup lagi..." balas Haura.
"Ini pasti karena pria itukan?"
"Tidak! Itu karena dirimu! Setelah kau berhalusinasi kalau Jia masih hidup, kau jadi begini padaku. Lebih baik kita cerai saja, dan kau cari Jia sana, kalau dia memang masih hidup!" seolah tidak takut mati, Haura mengeluarkan apa yang selama ini terpendam di hati dan benaknya.
Jeffrey mendorong Haura ke kasur, menghempaskan tubuhnya dengan kasar di sana. Dan melepas sabuknya, untuk ia gunakan sebagai alat pemukul.
Haura meringkuk sembari melindungi kepala dan wajahnya. Air mata mengalir deras dari matanya.
Satu, dua pukulan mendarat di tubuhnya. Hingga pukulan ke delapan, Haura sudah tidak kuat. Tubuhnya terasa sangat sakit, perih dan panas. Ia bangkit duduk dengan sisa tenaga yang ia miliki, lalu mendorong Jeffrey dan menendang perutnya.
"Aku mau cerai..." kata Haura lirih. "Aku mau cerai."
Jeffrey mematung, sembari memegangi perutnya yang terasa sedikit nyeri. Ia menatap Haura yang penampilannya sudah tidak karuan. Seragamnya bahkan robek-robek karena pukulan sabuknya.
Jeffrey kemudian berjalan mendekati Haura, yang langsung bergerak mundur.
"Haura jangan..." gumam Jeffrey.
"Apa yang jangan? Kalau kau memang mau membunuhku, bunuh aku sekarang juga! Jangan membunuhku pelan-pelan seperti ini. Kau bukan psikopat kan? Atau kau memang mau melihatku mati pelan-pelan?"
Jeffrey menggelengkan kepalanya. Ia merentangkan sedikit kedua tangannya, hendak merengkuh Haura ke dalam pelukannya. Namun Haura sudah lebih dulu berjongkok dan menutup kedua telinga serta kepalanya. Ia berpikir Jeffrey hendak memukulnya lagi.
"Kalau bukan karena aku bodoh, mencintaimu. Aku sudah meninggalkanmu sejak lama!" tangis Haura, sembari menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.