09

1279 Kata
"Kau sepertinya sangat mencintai suamimu ya? Sampai rela diperlakukan seperti ini," kata Yongtae. "Ck, bukan seperti itu. Jangan mengambil kesimpulan sendiri, kau baru mengenalku dan juga suamiku. Iya, memang aku sangat mencintainya, tapi tidak mungkin aku mencintainya tanpa alasan. Maksudku... hah, bukan berarti aku mau membela yang salah, tapi dia tidak akan begini padaku, kalau bukan tanpa alasan. Aku juga tidak mungkin mencintainya, kalau dari awal dia memang kasar. Aku juga harus memikirkan anakku," ujar Haura. "Maaf, aku hanya merasa kau tidak pantas diperlakukan seperti ini," ucap Yongtae. "Mungkin... pantas?" gumam Haura, yang membuat Yongtae langsung menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Haha, kau mungkin jadi penasaran kenapa aku bilang begitu, maaf." "Yah, aku sebenarnya jadi penasaran, tapi aku tidak akan tanya, kecuali kau menceritakannya sendiri," ucap Yongtae. "Tapi kalau memang kau melakukan kesalahan, bukan kekerasan solusinya. Bukan berarti kau harus menyakiti dirimu sendiri," Haura terdiam, sembari menatap langit-langit. Yah, ia tahu, tapi entah kenapa masih bertahan. Pasti tidak hanya semata-mata karena Matthew. ••• "Ayah, kenapa ibu belum pulang juga?" tanya Matthew, sembari duduk di sebelah ayahnya, yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Karena hari ini hari minggu, Matthew ada di rumah. Dan saat Jeffrey dan Haura sedang pergi tadi, Matthew main ke rumah temannya. "Tadi ayah pergi dengan ibukan? Lalu kemana ibu sekarang?" "Ibu nanti juga pulang sebentar lagi, sekarang dia masih sibuk," balas Jeffrey setelah menghela napas. "Memangnya sibuk apa?" tanya Matthew. Jeffrey terdiam sejenak, dengan mata menatap kosong layar ponselnya. "Pokoknya sekarang kau diam saja, dan tunggu ibu pulang, oke?" Matthew menggembungkan pipinya. "Sebenarnya ada yang ingin aku katakan pada ayah, tapi ayah jangan marah, aku benar-benar hanya mau tanya," kata Matthew sembari menekuk kedua lututnya, dan memeluknya. "Mau tanya apa?" respon Jeffrey. "Luka-luka di wajah dan tubuh ibu, bukan hasil dari ibu jatuhkan? Mungkin ibu memang ceroboh, tapi ibu sudah dewasa, pasti punya perkiraan saat mau jatuh. Aku yang masih anak kecil juga, tidak sesering ibu jatuhnya. Lukanya juga tidak akan separah yang ibu miliki," ujar Matthew. Jeffrey tersenyum, sembari mengusap kepala Matthew. "Anak Ayah pintar ya? Bahasa yang kau gunakan juga bagus," ucap Jeffrey. Matthew menatap ayahnya kesal. "Ayah mau mengalihkan pembicaraanku ya?" Senyuman Jeffrey langsung menghilang, ia pun kemudian menjauhkan tangannya dari atas kepala Matthew. "Bukan begitu, hanya saja itu bukan urusanmu," kata Jeffrey. "Apa? Bukan urusanku? Jadi kalau ada orang yang terluka di depan kita, atau kita melihat seseorang yang dilukai, kita harus diam saja karena bukan urusan kita? Bukankah ayah mengajariku untuk peduli pada orang lain? Apa lagi ini ibu Yah! Orang lain saja harus kita tolong, apa lagi keluarga kita," "Tapi ibumu tidak apa-apa. Dia memang hanya punya kulit tipis yang mudah terluka." Matthew terdiam. Ia merasa tidak percaya, tapi tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk mencari tahu apakah yang dikatakan ayahnya benar atau tidak. "Hei, Mat, kalau ibu kandungmu ternyata masih hidup bagaimana? Kau akan memilih siapa di antara ibu tiri dan kandungmu?" tanya Jeffrey tiba-tiba, yang membuat Matthew terkejut mendengarnya. "Kenapa ayah tanya begitu? Ibu Jia kan jelas-jelas sudah tidak ada," "Bagaimana kalau masih ada? Kau tidak senang kalau ibu kandungmu masih ada?" Matthew terdiam sejenak, bingung harus jawab apa. Tapi pada akhirnya, jawaban yang keluar dari bibirnya, sukses membuat Jeffrey mematung. "Aku... memilih ibu Haura. Karena ibu yang sudah merawat dan membesarkan aku. Aku tahu, ibu Jia yang melahirkan aku, tapi kan dia tidak pernah merawatku. Bukan berarti aku jadi benci padanya... hanya saja..." kalimat Matthew terhenti, dia bingung sendiri kelanjutan dari perkataannya. Matthew hanya bicara sesuai dengan apa yang dia pikir dan rasakan. Meskipun terdengar cerdas, ia tetap punya batasan dalam menyampaikan isi kepalanya. "Lagi pula ibu Jia sudah tidak ada, aku tidak mau berkhayal sesuatu yang mustahil." ••• Haura mengecek memar yang ada di perutnya di kamar mandi. Ia meringis kecil saat menyentuh memar tersebut. Tidak pernah ada memar sebesar ini sebelumnya, bahkan terlihat cukup parah bengkaknya. Sepertinya ia memang harus cek ke rumah sakit. Memar ini kemungkinan disebabkan benturan yang cukup keras di jok mobil. Jeffrey mendorongnya terlalu keras. Haura menghela napas. Ia tidak tahu apa yang akan ia dapatkan nanti kalau pulang, ia takut, tapi pikirannya juga tidak bisa dari Matthew yang pasti sedang mempertanyakan keberadaannya. Selesai menyelesaikan urusannya di kamar mandi, Haura pun bergegas keluar. Ia kemudian menemukan Yongtae tengah berbaring di sofa yang sebelumnya ia tiduri. "Aku rasa aku mau pulang sekarang," ucap Haura, yang membuat Yongtae langsung beranjak duduk. "Perlu aku antar?" tanya Yongtae. "Tidak usah, aku sudah terlalu banyak merepotkan," balas Haura. "Benar nih tidak perlu diantar? Sejujurnya aku khawatir. Meskipun kau bilang sudah lebih baik... tapi... tetap saja aku takut terjadi apa-apa padamu," "Aku benar-benar bisa pulang sendiri kok. Aku juga tidak mau tambah masalah dengan suamiku," "Oke, ya sudah kalau begitu. Hati-hati. Ah, aku antar sampai depan, atau sampai taksinya datang. Kau mau naik taksi kan?" "Ck, kau ini kenapa repot-repot segala sih?" "Aku hanya khawatir." Ucap Yongtae sembari beranjak dari sofa. Alis Haura bertaut, ia menatap Yongtae dengan tatapan khawatir. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Apa Yongtae tidak terlalu berlebihan padanya? •••                                                                     Haura memutuskan pergi ke rumah sakit dari kafe Johnny untuk memeriksa kondisi tubuhnya. Dan benar saja, ada beberapa luka dalam, namun untungnya tidak terlalu parah. Setelah mendapat penanganan serta obat, Haura langsung diperbolehkan pulang. Ia sebenarnya takut untuk pulang, benar-benar takut. Kalau bukan karena Matthew, mungkin ia tidak akan pernah kembali. Haura mengambil napas dalam, kemudian menghembuskannya, sebelum menyentuh knop pintu dan memutarnya. Ragu-ragu ia mendorong pintu, dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke dalam rumah. Suara teriakan Matthew tiba-tiba terdengar, membuat Haura otomatis membuka pintu lebih lebar. "Ibuuu!" seru Matthew. Anak laki-laki itu berlari menghampirinya, dan seketika langsung memeluknya. "Huwaa, kenapa Ibu baru pulang? Aku sangat khawatir," ujar Matthew sembari melepas pelukannya, dan mendongak agar bisa menatap ibunya. Haura pun menekuk kedua lututnya, kemudian tersenyum sembari mengacak rambut Matthew. "Maaf ya Ibu lama, soalnya Ibu mencari ini," kata Haura, sembari mengeluarkan coklat dari dalam tasnya. "Matthew suka coklat merk ini kan? Karena rasanya enak, susah sekali mencarinya, di toko kebanyakan kosong." "Tapi kenapa ayah selalu bilang tidak tahu kalau aku tanya Ibu kemana," sungut Matthew. "Karena ayah memang tidak tahu Ibu kemana. Ya sudah, yang pentingkan sekarang Ibu sudah pulang, kau suka tidak coklatnya?" "Tentu saja suka, terimakasih buu... tapi bilang lain kali kalau mau kemana, aku kan juga disuruh seperti itu. Aku tahu Ibu sudah dewasa, tapi aku tetap khawatir..." Haura terkekeh, kemudian mencium pipi kanan Matthew. "Iya, nanti Ibu lain kali bilang kalau mau kemana." "Oh, kau sudah pulang?" Jeffrey tiba-tiba muncul, membuat Haura otomatis memeluk Matthew, dan menundukkan kepalanya, tidak berani menatap pria itu. "Ayah lihat! Ibu membelikan coklat kesukaanku!" seru Matthew, sembari memamerkan coklat pemberian Haura tadi. Jeffrey tersenyum. "Oh, jadi ibu tadi pergi untuk membelikanmu coklat ya?" tanya Jeffrey, yang Matthew balas dengan anggukan. "Ya sudah, biarkan ibu ganti baju dulu ya? Matthew nonton saja sambil makan coklatnya," kata Jeffrey, yang lagi-lagi Matthew balas dengan anggukan. Setelah Matthew pergi, Jeffrey mengulurkan sebelah tangannya pada Haura, yang masih duduk di lantai. "Kenapa masih duduk disitu? Ayo bangun, dinginkan?" ujar Jeffrey. Haura menelan ludahnya susah payah, dan tidak bergeming. Jeffrey tiba-tiba meraih bagian belakang rambut Haura, dan menariknya cukup kencang, membuat Haura memekik tertahan sembari memegangi tangan Jeffrey yang ada di rambutnya. "Kau mau aku kurung atau bagaimana?" tanya Jeffrey dengan nada rendah. "Aku ke rumah sakit karena tubuhku sakit sekali..." balas Haura. Jeffrey akhirnya melepas jambakannya dari rambut Haura. Sementara Haura langsung mengeluarkan map berisi hasil pemeriksaannya pada Jeffrey. Begitu Jeffrey menerimanya, Haura buru-buru berdiri dan pergi ke kamarnya dengan langkah secepat yang ia bisa. Jeffrey terdiam sembari menatap map putih tersebut. Ia kemudian beralih menatap tangannya, lagi-lagi ia tidak pernah bisa mengontrol tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN