08

1020 Kata
"Hei, Yongtae, tenanglah," "Bagaimana mungkin aku bisa tenang?! Dia meremehkan usahaku!" Ibu tiba-tiba memukul kepala Yongtae. "Orang yang tidak mengenalmu, memang tidak akan pernah menghargai usahamu, nak. Yang mereka nilai, adalah apa yang mereka lihat saat ini. Perusahaanmu kan memang masih kecil, makanya dia dengan seenaknya meremehkanmu. Tapi biarkan sajalah," "Tapi bu..." "Tidak ada gunanya kau marah-marah, bujang," "Kenapa sih Ibu selalu memanggilku bujang?!" "Ya karena kau bukan duda," "Akh! Ibu!" "Mau pesan apa bu?" tanya Johnny, untuk menghentikan kegaduhan yang dilakukan Yongtae dan ibunya. Sumpah, Johnny sangat khawatir pelanggannya akan pergi karena mereka. "Kopi s**u, dan sup ayam jagung," balas ibu. "Sebenarnya menu itu hanya sedia di pagi hari," kata Johnny. "Jadi tidak ada perlakuan spesial untukku ya?" Johnny dan Yongtae terdiam sejenak, sembari menatap ibu Yongtae yang memasang ekspresi memelas. "Ibu bukan crush Johnny, dia sudah beristri, jadi ibu tidak akan dapat perlakuan spesial," tutur Yongtae. "Hoh, kau mau membuat Ibu patah hati? Kau tahukan Ibu jatuh cinta pada Johnny?" "Bu, tolong inget ayah," "Huhuhu, kau jahat!" "Aku tidak mau punya ayah tiri seperti Johnny!" Johnny menepuk keningnya. Yongtae dan ibunya terkadang memang... gila. "Haura ada di sini," ucap Johnny, yang akhirnya langsung membuat Yongtae dan ibunya bungkam. "Apa?" gumam Yongtae, dengan mata yang kemudian membola. "Iya, dia datang kemari, tapi aku suruh duduk di lantai atas, karena dia bilang sedang tidak ingin duduk di dekat jendela dan keramaian. Heni mungkin sedang menemaninya, kau bisa ke atas untuk menemuinya kalau mau," ujar Johnny. Selang beberapa menit setelah Johnny menyebut nama Heni. Wanita itu tak lama muncul dengan tergesa. "John, astaga! Kau pasti sadar dia datang dengan kondisi penuh luka dan memarkan? Aku malah baru menyadari setelah mengobrol beberapa saat dengannya. Dia tiba-tiba tadi menggigil dan memegangi perutnya, waktu aku periksa ada memar kemerahan di pinggangnya, cukup besar, aku khawatir. Suhu tubuhnya juga tidak normal!" celoteh Heni. "Kita harus bawa dia ke rumah sakit!" timpal Johnny. Yongtae tidak menanggapi, dan memilih segera bergegas ke lantai atas untuk menemui Haura. "Haura!" seru Yongtae. Ia melihat Haura terbaring di sofa, sembari meringkuk dan memegangi perutnya, atau lebih tepatnya pinggangnya. "Ya ampun, apa yang terjadi?" Yongtae berlutut di samping sofa, kemudian mengecek suhu tubuh Haura, dengan meletakan punggung tangan kanannya di kening Haura. "Badanmu panas sekali, banyak memar dan luka juga di wajahmu, bahkan mungkin tubuhmu. Kita harus ke rumah sakit," kata Yongtae. "Aku tidak mau ke rumah sakit..." ucap Haura lirih. "Aku tidak apa-apa, hanya perlu dikompres memarnya, nanti juga membaik." "Mana bisa? Bagaimana kalau ada luka dalam?" "Ini sudah biasa kok, aku hanya butuh dikompres. Aku tidak bisa keluar sekarang..." Yongtae menghela napas, dan akhirnya terpaksa menuruti permintaan Haura. ••• "Sebenarnya kenapa kau bisa begini?" tanya ibu Yongtae, yang hanya Haura dengan senyuman. Isyarat, bahwa ia tidak mau membicarakannya. Haura pun tidak mengerti dengan dirinya sendiri, padahal ada kesempatan baginya untuk menyelamatkan diri dari Jeffrey. Tapi bagaimana dengan Matthew nanti? Yang ia tahu, Jeffrey adalah kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab. Kalau mereka berpisah, siapa yang akan ia pilih? Pasti Jeffrey, orang tua kandungnya. Itu pikir Haura. Yongtae dan lainnya pun mengerti, dan akhirnya memilih tidak banyak tanya. "Sekarang sudah lebih baik?" tanya Heni. "Iya, sudah, terimakasih," ucap Haura. "Aku terlalu asik mengajaknya bicara, sampai tidak sadar banyak luka di wajahnya begini. Siapa sih yang melukaimu? Hah, laki-laki saja tidak boleh dilukai, apa lagi perempuan?" ujar Heni sembari mendesau. "Sudahlah, tidak apa." Balas Haura sembari tersenyum simpul. Ia tidak menyadari, Yongtae yang tengah menatapnya khawatir. "Kalau begitu aku kembali kerja dulu ya? Kalau butuh sesuatu jangan sungkan panggil aku," kata Johnny. "Oh iya Hen, tolong buatkan sup jagung ayam untuk nyonya Lee." Heni menganggukkan kepalanya, sementara Johnny bergegas kembali turun ke bawah. "Haura, kau mau makan?" tanya Heni. "Aku masih kenyang," balas Haura. "Kalau begitu istirahatlah, Ibu mau makan dulu ya?" timpal ibu Yongtae. Haura menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Yongtae, kau mau makan juga?" tanya ibu. "Nanti saja bu, aku mau menjaga Haura," balas Yongtae. "Ah, tidak perlu. Terimakasih, tapi kau makan saja, aku sudah banyak merepotkan," kata Haura. "Aku tidak lapar, jadi aku tidak akan makan," sahut Yongtae. "Ya sudah kalau begitu, ibu dan Heni tinggal dulu." Ucap ibu, yang Yongtae jawab dengan anggukan. Ibu dan Heni pun pergi ke lantai bawah. Makanan yang Heni tadi sudah siapkan untuk makan siangnya dengan Johnny juga terpaksa ia pindah ke bawah, agar Haura bisa istirahat. Haura sejujurnya merasa tidak enak dan bersalah. Ia sudah merepotkan orang-orang yang baru dikenalnya. Yongtae tak lama kemudian, mendudukan dirinya pada sofa lain, yang bersebelahan dengan sofa yang ditiduri Haura. "Aku bukannya mau menuduh, tapi apa suamimu yang melukaimu sampai seperti ini? Dia jelas kasar, dia bahkan tidak ragu memukul orang yang baru pertama kali ia temui," ujar Yongtae. "Apa kau masih kesal karena dia pukul?" tanya Haura. "Dibanding itu, aku akan lebih kesal dan marah, kalau dugaanku benar, dia yang melukaimu," balas Yongtae. Haura terdiam. Ia sudah bodoh karena memilih diam, tidak memberitahu orang-orang akan tingkah suaminya, dan ia tidak mau jadi lebih bodoh, dengan menyangkal tuduhan Yongtae, yang merupakan fakta. Apa lagi sampai malah membagus-baguskan Jeffrey untuk menutupinya. "Kalau memang dia, kau mau apa?" tanya Haura. "Ya tentu saja melaporkannya ke pihak berwajib!" "Dia punya anak, anaknya sangat mencintai dia. Kalau suamiku masuk penjara, bagaimana dengan anaknya? Meskipun tiri, aku tetaplah ibunya yang memikirkan perasaannya. Ditambah, tindakan itu akan percuma, karena Jeffrey orang yang berpengaruh," "Lalu apa masalahnya kalau dia orang berpengaruh, hukum harus tetap jalan! Dan soal anak... hah, aku tidak punya ide jujur saja," "Jeffrey bisa membalik fakta. Apapun bisa dilakukan dengan uang dan kuasa. Aku bukan siapa-siapa, bahkan aku tidak punya keluarga yang bisa melindungiku," Yongtae menghela napas, kemudian menatap Haura dengan serius. "Kalau begitu kau jadi adikku saja, aku akan melindungimu!" Salah satu alis Haura terangkat, ia kemudian tertawa. "Kau sedang main rumah-rumahan ya? Apa harus menjadi anggota keluarga dulu baru melindungi?" "Ah ya, kau benar. Tidak perlu begitu sebenarnya... aku tidak kepikiran," "Heum, sudahlah. Terimakasih atas niat baikmu, tapi aku sudah dewasa, aku bisa melindungi diriku sendiri," Yongtae berdecih. "Tidak salah tuh ucapanmu? Bisa melindungi diri sendiri kau bilang? Kalau bisa, kau tidak akan terluka sekarang."   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN