1. Kesibukan Asoka
Matahari sudah benderang, langit cerah membiru. Pagi itu seorang gadis remaja tengah mematut diri di depan cermin, bersiap hendak pergi ke kampus. Asoka memiringkan tubuhnya sejenak, lalu menghadap cermin lagi. Perlahan ia memegang kedua pipinya dan menatap pantulan wajahnya lekat-lekat.
Kenapa wajahnya tak secantik sang mama? Dahlia, mama Asoka adalah seorang pemain sinetron. Tak hanya piawai dalam berakting, Dahlia dikenal selalu tampil cantik dan elegan. Sementara Asoka sama sekali tak merasa kecantikan Dahlia menurun padanya. Asoka merasa wajahnya biasa saja.
Dahlia memiliki bentuk wajah oval dan tubuh yang semampai, sedangkan Asoka memiliki wajah bulat dan tubuh yang mungil. Ah, tampaknya Asoka jauh lebih mirip dengan papanya. Asoka mengedikkan bahu, berusaha tak peduli. Tubuhnya adalah anugerah dari Tuhan yang patut disyukuri. Asoka mengingatkan dirinya sendiri.
Puas becermin, Asoka menyambar tote bag miliknya dan bergegas keluar kamar. Tak disangka mamanya masih ada di rumah. Biasanya pagi-pagi sekali Dahlia sudah berada di lokasi syuting. Namun pagi itu Dahlia terlihat menunggu Asoka di ruang makan sambil menyiapkan sarapan.
"Mama belum berangkat syuting?" sapa Asoka.
"Eh, anak mama sudah siap berangkat kuliah. Sini sarapan dulu, Sayang." Dahlia tersenyum menatap anak semata wayangnya.
"Mama belum jawab pertanyaan aku." Asoka pura-pura cemberut sambil duduk di kursi.
"Oh, kebetulan mama syutingnya agak siangan hari ini. Sebentar lagi mama mandi, baru berangkat," jawab Dahlia sambil menyodorkan sepiring nasi goreng pada Asoka.
Mata Asoka berbinar melihat nasi goreng tersebut. Nasi goreng buatan mamanya sangat ia sukai. Jarang-jarang Dahlia ada di rumah dan menyiapkan sarapan untuk anaknya. Tak menunggu waktu lama, Asoka melahap nasi goreng itu hingga ia sedikit tersedak. Dahlia segera mengulurkan segelas air untuk putrinya.
"Pelan-pelan makannya, Asoka. Memangnya kamu sudah terlambat?" Dahlia mengernyit.
Asoka meneguk minumannya, lantas menggeleng. "Enggak terlambat, Ma. Tapi nasi goreng buatan Mama enak banget."
Senyum Dahlia mengembang mendengar jawaban Asoka. "Kamu senang kalau mama setiap pagi bikin sarapan buat kamu, ya?"
Asoka mengangguk. "Tapi jangan dipaksakan. Kalau Mama enggak sempat, enggak apa-apa. Kan ada Bi Intan yang masak sarapan."
"Terima kasih pengertiannya, Sayang. Maafkan mama enggak punya banyak waktu untuk kamu selama ini. Semuanya mama lakukan untuk kehidupan kita agar kita enggak kekurangan uang." Wajah Dahlia berubah sendu.
"Mama enggak perlu merasa bersalah, Ma. Aku justru berterima kasih pada Mama karena sudah bekerja keras untukku. Lagi pula aku sudah besar, sudah bisa mandiri. Mama hanya perlu jaga kesehatan." Asoka menggenggam tangan mamanya.
Dahlia membelai pipi Asoka lembut. Ia merasa beruntung memiliki anak yang penurut dan pengertian seperti Asoka. Sepeninggalan suaminya, Dahlia berusaha menggantikan peran mendiang suaminya itu sebagai pencari nafkah. Banyak lelaki yang menyukainya, tetapi kerap ia tolak karena masih memikirkan Asoka.
"Mama enggak mau nikah lagi?" tanya Asoka tiba-tiba, seolah bisa membaca pikiran Dahlia.
"Eh, memangnya kamu membolehkan?"
"Bolehlah. Mama berhak bahagia." Asoka terkekeh.
Dahlia menjawil hidung putrinya gemas. Dalam diam ia mengulum senyum. Ia merasa mendapat lampu hijau dari Asoka untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Tak bisa berbohong, ia pun membutuhkan sosok lelaki dalam hidupnya. Namun, ia belum mau menceritakan tentang pria yang sedang dekat dengannya pada Asoka.
"Asoka berangkat, ya, Ma." Asoka mengikat sepatunya.
"Ya, jangan lupa makan siang nanti di kampus."
Asoka mengangguk. "Oh, ya. Hari ini Mama syuting sinetron yang mana?"
"Sinetron yang judulnya 'Terjebak Asmara dengan Tukang Bubur Ayam'," jawab Dahlia tersenyum.
Kening Asoka berkerut. Judul sinetron mamanya yang mana lagi itu? Dahlia sedang syuting beberapa sinetron dan sudah membintangi puluhan judul sinetron. Asoka tak mengingatnya. Selain itu, ia sangat jarang menonton sinetron karena ia tak menyukai romansa seperti kebanyakan tema sinetron yang diperankan oleh Dahlia.
Asoka pun tak bertanya lagi. Setelah mencium kedua pipi mamanya, Asoka bergegas menaiki taksi online yang sudah dipesannya untuk menuju kampus. Dalam perjalanan ia membaca beberapa catatan kuliahnya. Hingga akhirnya taksi berhenti tepat di depan Kampus Semangat, julukan untuk Universitas Demi Bangsa.
Dengan langkah cepat, Asoka segera berjalan menuju gedung fakultasnya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Setibanya di sana, ia langsung menemui Erina yang sedang menunggunya. Erina adalah satu-satunya sahabat Asoka. Orang yang tulus bersahabat dengannya padahal Erina terkenal sebagai siswa berprestasi.
"Ih, lama banget lo datangnya, Asoka." Erina bersungut.
"Lama apanya? Jam kuliah pun belum dimulai." Asoka duduk di samping gadis itu.
"Gue mau lihat tugas Manajemen Krisis."
Asoka mengernyit. "Enggak salah, nih? Lo yang pintar, malah mau lihat tugas gue."
"Tugas gue udah selesai, cuma mau mencocokkan jawaban aja." Erina mengulurkan tangannya, menunggu lembar tugas milik Asoka.
Tanpa ragu, Asoka membuka tasnya dan menyerahkan selembar kertas berisi jawaban tugas mata kuliahnya. Asoka terkenal pelit akan jawaban oleh teman-temannya, kecuali Erina. Asoka mau berbagi dengan Erina tentu saja karena sahabatnya itu bukan mahasiswa malas yang hanya mengharapkan jawaban orang lain tanpa berusaha.
Dua mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi itu duduk di bangku taman di samping gedung fakultas. Mereka menunggu jam kuliah dimulai sambil membahas tugas. Tak lama mereka berjalan ke arah gedung fakultas dan memasuki kelas tempat mereka belajar. Enam SKS dari dua mata kuliah pun akhirnya terlewati.
Siang itu sehabis dari kantin, Asoka dan Erina berjalan ke arah toilet yang letaknya di belakang gedung fakultas atas permintaan Asoka. Sebenarnya ada banyak toilet di gedung itu, tetapi kebetulan mereka lewat sana. Asoka yang sudah tak tahan pun memutuskan untuk langsung memasuki toilet tersebut.
"Asoka, lo masih lama? Gue udah dijemput, nih." Erina bertanya pada Asoka yang masih berada di dalam toilet.
"Sebentar, Rin. Gue kayaknya datang bulan, gue mau cek dulu. Ya, udah. Enggak apa-apa kalau lo udah dijemput. Kalau menunggu gue, takutnya kelamaan," sahut Asoka dari dalam.
"Beneran enggak apa-apa?" Erina memastikan.
"Yeah, it's okay."
Erina pun setengah berlari meninggalkan wilayah kampus. Ibunya sudah menunggu di parkiran dan akan marah kalau terlalu lama menunggunya. Maka hanya tinggal Asoka seorang diri di area toilet yang sepi. Tak banyak yang memakai toilet tersebut kecuali yang dari kantin memilih jalan itu untuk menuju ke gedung fakultas atau sebaliknya.
Asoka menajamkan pendengaran. Ia merasa ada beberapa orang yang bicara pelan-pelan dari luar, tetapi ia berusaha mengabaikan. Baru saja ia selesai dengan kegiatannya dan ingin keluar dari toilet ketika ia merasa ada yang aneh. Asoka sudah membuka kunci dan memutar kenop pintu toilet berulang kali, namun pintu tak kunjung bisa terbuka.