2. Gara-gara Terkunci

1020 Kata
"Yeahhh!" Suara teriakan gembira terdengar dari tim Aaron ketika mereka memenangkan pertandingan basket siang itu. Meski hanya latihan, Aaron tetap merasa senang karena hal itu menandakan bahwa staminanya stabil dan kemampuannya akan terus terasah. Apalagi bulan depan kampus mereka akan ikut kompetisi basket antar universitas. Lelah bermain, Aaron dan teman-temannya duduk di sekitar area lapangan basket. Aaron langsung meneguk air putih dalam botol minumannya. Ia tak ada jadwal mata kuliah lagi siang itu, tetap berada di kampus karena ingin bermain basket dan berkumpul bersama teman-temannya daripada kesepian di rumah. "Kantin, yuk, guys," ajak Eza, salah satu teman Aaron. "Kalian aja, deh. Gue mau balik." Aaron mengelap keringatnya. Eza berdecak. "Cepat banget, Ron. Masih siang begini." "Tahu, nih. Katanya lo bosan sendirian di rumah. Ini masih siang malah mau balik. Pasti mau pacaran lo, kan?" tuduh Wanda. Aaron terbahak. "Enggak, kok. Gue cuma pengen istirahat aja. Soalnya nanti malam gue mau ikut papi gue latihan futsal bareng teman-temannya." "Anak papiiii!" seru teman-temannya. Kembali Aaron terkekeh. "Ya, udah. Kita duluan, ya. Beneran istirahat lo di rumah, jangan pacaran," ledek Wanda lagi. "Siap!" Teman-temannya pun beranjak ke kantin, sedangkan Aaron mulai mengemasi barang-barangnya ke dalam ransel sebelum meninggalkan lapangan basket. Baru saja Aaron akan mencapai parkiran ketika perutnya terasa lapar. Sebenarnya ia sedang tak berselera makan, tetapi ia punya mag. Maka demi menghindari rasa sakit di lambungnya lebih lanjut, Aaron berputar arah. Ia bermaksud menyusul teman-temannya yang makan di kantin belakang kampus. Aaron memilih jalan samping yang tak terlalu sering dilewati oleh orang-orang karena hanya berupa rerumputan dan pepohonan meski jaraknya cukup dekat ke kantin. Saat berjalan, samar-samar Aaron seperti mendengar suara teriakan minta tolong. Ia menghentikan langkah dan suara samar itu terdengar lagi. Sejenak ia bergidik ketika menengadah dan melihat beberapa pohon besar di sekitar situ. Ia menggeleng mencoba mengabaikan, lalu melanjutkan langkah. "Tolong! Saya terkunci!" Suara itu terdengar lagi. Meski takut, Aaron berusaha menajamkan pendengarannya. Mana tahu memang benar-benar ada yang sedang memerlukan pertolongan, maka ia harus membantunya. Setelah mengamati sekeliling, Aaron yakin suara itu berasal dari kamar mandi belakang gedung fakultas. Ia bergidik lagi. Itu teriakan manusia atau bukan? Berusaha membuang ketakutannya, Aaron berjalan mendekati toilet. Suara tersebut semakin jelas, bisa ditebak bahwa itu suara perempuan. Masalahnya Aaron tak tahu dalam bentuk apa perempuan itu. Manusia kah? Makhluk jadi-jadian kah? Bulu tengkuknya merinding, tetapi kaki Aaron tetap bergerak maju. "Ada orang di dalam?" tanya Aaron ketika sudah berada di dekat toilet. "Ya, ada! Tolong saya. Saya terkunci!" Suara perempuan itu memohon. "Kamu manusia atau bukan?" Aaron memastikan. "Manusialah! Kamu kira saya jin?" Orang di dalam toilet tertawa. Aaron kembali bergidik. "Serius gue. Manusia atau bukan? Kalau bukan, enggak bakalan gue tolong." "Serius. Saya terkunci di sini. Entah siapa yang menguncinya tadi. Tolong saya." Suara perempuan itu memelas. "Oke. Tunggu di sini." "Ya, pasti gue tunggu di sini. Orang gue enggak bisa ke mana-mana karena terkunci!" Aaron menggaruk kepala. Benar juga. Kemudian Aaron berbalik ingin meminta kunci pada penjaga gedung fakultas. Namun baru saja ia memutar tubuh, tiba-tiba sudah ada sesosok berpakaian hitam di depannya. Kedua orang itu sama-sama terlonjak dan berteriak karena merasa terkejut. "Den Aaron? Kenapa teriak segala, sih? Bikin kaget saja," sungut Mang Ujang, si penjaga kampus yang ingin ditemui oleh Aaron tadi. "Lah, Mang Ujang juga teriak. Mana pakai hitam-hitam lagi!" Aaron menghela napas. "Pakai hitam mah memang ciri khas Mang Ujang." Lelaki paruh baya itu tertawa sebentar sebelum bertanya, "Den Aaron lagi apa di sini?" "Ini ada yang terkunci di dalam toilet. Saya baru saja mau menemui Mang Ujang, mau pinjam kunci buat menolong. Eh, Mang Ujang udah muncul," jelas Aaron. Mang Ujang mengangguk. "Oh, begitu. Untung saja Mang Ujang lagi patroli di sini. Memangnya siapa yang terkunci di dalam?" "Enggak tahu. Suaranya perempuan. Entah manusia, entah bukan." Aaron setengah berbisik agar orang yang berada di dalam toilet tak mendengar. Setelah meyakinkan diri bahwa yang berada di dalam toilet benar-benar manusia, Mang Ujang segera membuka pintu toilet dan mendapati seorang gadis mungil yang mengembuskan napas lega karena akhirnya ada yang menolong. Gadis itu segera berterima kasih pada Aaron dan Mang Ujang karena telah menolongnya. "Siapa yang mengunci pintu toiletnya, Neng?" Mang Ujang penasaran. "Enggak tahu, Mang," jawab gadis itu kemudian menceritakan kronologi kejadiannya saat terkunci tadi. Mang Ujang manggut-manggut mendengarkan pengakuan si gadis. "Pada nakal-nakal banget yang mengunci Neng Geulis ini. Udah jadi mahasiswa tapi kelakuan masih kayak bocah," gerutunya. "Itu udah termasuk bullying. Mendingan lo adukan aja ke pihak kampus biar mereka jera." Aaron menyilangkan lengan. "Enggak usah. Mungkin mereka hanya usil dan enggak niat bully," sahut si gadis. Tak lama, Mang Ujang berpamitan karena ia masih harus berpatroli. Maka hanya tinggal gadis itu berdua dengan Aaron saja di sana. Suasana terasa kaku untuk beberapa lama karena mereka tak saling bicara. Aaron merasa sudah pernah melihat gadis itu sebelumnya tetapi tak mengenalnya. "Nama lo siapa dan dari jurusan apa?" Aaron membuka obrolan. Gadis itu mengulurkan tangan. "Gue Asoka. Jurusan Ilmu Komunikasi." "Gue Aaron. Jurusan Hubungan Internasional." Aaron balas menyalami gadis itu. "Oh, gue tahu lo. Lo kan populer," komentar Asoka. Aaron hanya tersenyum. "Thanks, ya. Untung lo lewat sini tadi. Kalau enggak, mungkin gue bakalan terkunci sampai malam." Asoka bergidik membayangkan hal itu. "Never mind. Gue cuma menyangka lo tadi makhluk jadi-jadian." Aaron terbahak. Asoka menyipitkan mata. Ternyata cowok populer bernama Aaron itu penakut juga. Namun Asoka tak mengatakan apa-apa karena tak ingin menyinggung perasaan Aaron. Bagaimanapun dia sudah baik bersedia menolong Asoka. Sejenak Asoka memandangi wajah Aaron yang tampak lebih tampan jika dilihat dari dekat. Selama ini Asoka hanya mendengar tentang Aaron saja, tak pernah berinteraksi secara langsung sebelumnya. Jika orang-orang tahu bahwa Aaron telah menolongnya hari ini, pasti akan menjadi berita heboh. Banyak sekali mahasiswi yang menyukai Aaron, salah satunya adalah Erina. Asoka penasaran bagaimana reaksi sahabatnya itu jika ia menceritakannya nanti. Asoka berdehem. "Kalau begitu, gue pulang, ya." "Pulang bareng gue aja. Gue bawa mobil," tawar Aaron. Sejenak Asoka terdiam. Merasa bingung apakah ia akan menerima tawaran Aaron atau tidak. Bukan bermaksud jual mahal, hanya saja ia takut akan tercipta gosip di antara mereka jika terlihat pulang bersama. Asoka mengedarkan pandangannya sejenak dan memutuskan untuk tak peduli. Ia pun menerima tawaran Aaron.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN