3. Tak Biasa

1096 Kata
Asoka dan Aaron berjalan beriringan menuju mobil Aaron di parkiran fakultas. Sambil berjalan, Asoka masih menoleh ke kanan dan ke kiri. Tampaknya area di sekitar situ tak terlalu ramai sehingga tak ada yang memperhatikan mereka. Begitu tiba di parkiran, mereka langsung masuk ke dalam mobil Aaron. Aaron melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil menyalakan musik. Sepanjang perjalanan, mereka hanya saling diam seolah terlarut dalam alunan musik yang merdu. Asoka membuang pandangannya ke arah jendela, memperhatikan jalanan yang padat tetapi tak macet pada siang menjelang sore itu. "Duh, gue lapar, nih. Belum makan siang. Singgah ke kafe sebentar enggak apa-apa?" tanya Aaron. Seketika Aaron teringat bahwa sebelumnya ia berniat menyusul teman-temannya ke kantin fakultas. Namun akhirnya ia lupa karena mendengar suara minta tolong dari Asoka tadi. Aaron memegangi perutnya yang terasa melilit. Ia khawatir sakit mag yang diidapnya kambuh dan akan membahayakan kalau sampai ia dirawat di rumah sakit. "Ya, udah. Lo ke kafe aja. Gue turun di sini aja biar lanjut naik taksi online," jawab Asoka. "Jangan, dong," sahut Aaron. "Gue udah menawarkan untuk mengantar lo pulang, gue harus benar-benar mengantar lo sampai rumah. Mungkin lo juga perlu minuman segar biar enggak takut sama kejadian tadi lagi." Sejenak Asoka menimbang. Kenapa Aaron bersikap baik dan manis? Apakah cowok pupuler itu sedang berusaha merayunya? Asoka menggeleng. Sepertinya ia terlalu percaya diri. Sejauh yang Asoka tahu, Aaron memang banyak disukai oleh mahasiswi di kampus. Namun tak pernah terdengar berita bahwa Aaron memiliki pacar. "Eh, malah melamun. Mau, kan? Gue takut mag gue kambuh. Kalau kambuh, gue kadang bisa sampai masuk rumah sakit berhari-hari." Aaron meringis menahan sakit sambil berusaha tetap fokus menyetir. Mata Asoka membulat mendengar perkataan Aaron. Kalau sampai anak orang masuk rumah sakit gara-gara dia, bisa gawat. Akhirnya Asoka pun menuruti permintaan Aaron. Mereka singgah di sebuah kafe yang berada di tepi jalan besar. Lagi-lagi mereka lebih banyak diam selama makan bersama. Dalam diam, Aaron memandangi wajah Asoka. Ia pernah mendengar bahwa Asoka itu adalah gadis culun dan hanya memiliki satu orang teman. Nama Asoka sempat dikenal karena pernah mewakili universitas dalam lomba debat bahasa Inggris. Meski bukanlah mahasiswi dengan sederet prestasi akademik, Asoka memang diketahui memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni. Sebenarnya gadis itu manis. Terlihat imut dengan wajah bulat dan rambut sebahu. Namun penampilannya yang terkesan asal-asalan menghilangkan kesan manisnya. Belum lagi wajahnya yang dibiarkan polos begitu saja, tanpa tersentuh makeup sedikit pun. Jelas Asoka bukan selera Aaron yang menyukai gadis feminin. Aaron menggelengkan kepala untuk membuyarkan pikirannya tentang Asoka. Usai makan, ia menepati janjinya mengantar Asoka hingga ke rumah. "Thanks, Aaron. Lo udah menolong gue dan mengantar gue sampai rumah," ucap Asoka ketika kemudian sudah berada di depan rumahnya. Aaron mengangguk. "Gue balik, ya." Asoka mempersilakan dan tetap berdiri di sana melihat Aaron memasuki mobil hingga menghilang dari pandangan. Sengaja Asoka hanya berdiri di depan pagar rumahnya dan tak berbasa-basi mengajak Aaron masuk tadi. Ia hanya takut kalau saja mamanya ada di rumah dan Aaron jadi tahu bahwa ia adalah anak seorang bintang sinetron. Namun tentu saja seperti biasa, Dahlia belum ada di rumah. Biasanya sang mama akan pulang larut malam atau dini hari. Asoka pun segera masuk ke kamarnya dan bergegas mandi. Usai membersihkan diri, ia hanya merebahkan diri di ranjang sambil teringat lagi akan pertemuannya dengan Aaron tadi. Tanpa sadar bibirnya mengulum senyum. *** Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Asoka sudah bersiap berangkat ke kampus. Tak seperti biasanya, pagi itu Asoka memoles sedikit lip tint ke bibirnya. Ia menatap pensil alis pemberian mamanya di rak kosmetik. Asoka penasaran ingin mencoba benda itu, tetapi tak jadi karena ia tak pandai membentuk alis. Alih-alih jadi cantik, alisnya malah akan tampak mengerikan nanti. Lagi pula, kenapa dia tiba-tiba ingin berdandan? Asoka mengedikkan bahu. Ia meraih tasnya dan beranjak ke ruang makan. Di sana Bi Intan sudah menghidangkan sepiring sandwich untuknya. Asoka pun duduk dan mulai menyuap sarapannya pelan-pelan. "Mama udah berangkat, Bi?" "Udah, Non. Tadi pagi-pagi banget." Bi Intan memperhatikan wajah Asoka. "Eh, Non kok tumben pakai merah-merah di bibir?" "Enggak apa-apa kok, Bi," sahut Asoka tersipu sambil cepat-cepat mengunyah sandwich dan meneguk secangkir teh. Bi Intan tersenyum. "Cantik kalau dandan, loh, Non." "Aku berangkat, Bi." Asoka berusaha mengalihkan pembicaraan. Usai mengenakan sepatu, ia bergegas menuju taksi online yang sudah datang menjemputnya. Setibanya di kampus, seperti biasa Asoka menemui Erina di taman samping gedung fakultas. Namun pagi itu, batang hidung Erina belum terlihat. Asoka pun duduk sendirian di bangku taman. Diam-diam Asoka becermin menggunakan layar ponselnya. Ia melihat warna lip tint di bibirnya yang sudah agak menghilang karena sarapan tadi. Lalu ia merapikan rambutnya sedikit, melihat pipi kanan dan pipi kiri. Asoka tak sadar Erina yang baru saja datang memperhatikannya dari jarak beberapa meter. "Cieee! Ngaca, nih, yeee!" seru Erina tiba-tiba. Suara Erina yang kencang membuat Asoka hampir terlonjak. Matanya melotot menatap Erina yang terbahak lalu duduk di sampingnya. Cepat-cepat Asoka memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Sedangkan Erina yang masih tertawa kemudian merasa heran melihat keanehan temannya itu. "Lo kenapa, sih? Kayak tersipu, terus tadi sibuk becermin. Udah punya gebetan lo, ya?" tuduh Erina mengulum senyum. Asoka menggeleng cepat. "Enggak, kok." Erina memperhatikan wajah Asoka dengan saksama. "Lo pakai lip tint, ya?!" Meski hanya tipis, Erina bisa melihat warna lip tint di bibir Asoka. Bukan hal yang aneh untuk anak kuliah mengenakan makeup. Erina pun kerap berdandan setiap pergi ke kampus. Masalahnya ini Asoka! Gadis yang selalu tampil polos tanpa makeup sedikit pun, tiba-tiba memakai lip tint. Ada apakah gerangan? "Eh, lo jangan mikir macam-macam, ya. Gue enggak punya gebetan. Gue pengen pakai lip tint karena kemarin habis lihat video tutorial makeup," dalih Asoka. "Ya, deh. Gue percaya. Padahal kalau lo punya gebetan juga enggak apa-apa." Erina kembali terbahak. Asoka hanya mencibir, berusaha tak menanggapi celotehan Erina. Ia mengambil ponselnya lagi dan melihat catatan kuliahnya. Karena jam masuk masih lumayan lama, Erina menyalakan laptop sekadar untuk berselancar di dunia maya. Ia lalu melihat grup media sosial tak resmi fakultas mereka dan melihat ada postingan gosip terbaru. "Asoka, lihat, nih!" Erina menepuk bahu Asoka. Mau tak mau Asoka pun menoleh. "Si cowok populer bernama Aaron itu ketahuan jalan bareng cewek. Katanya si cewek anak fakultas sini juga. Tapi fotonya enggak jelas, cuma kelihatan dari belakang pas mereka masuk ke mobil Aaron," lanjut Erina. Mata Asoka membulat melihat gambar di layar laptop Erina. Itu dirinya dan Aaron kemarin saat pemuda itu mau mengantarnya pulang. Gawat! Kalau Erina tahu, bisa heboh dia. Asoka berusaha terlihat tak peduli dan pura-pura sibuk membaca catatan kuliah di ponselnya lagi. "Kok gue kayak pernah lihat baju ceweknya, ya," gumam Erina. Sejenak Erina terdiam, lantas tiba-tiba menoleh pada Asoka. "INI BUKANNYA ELO?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN