Saat Aluna baru saja ingin menutup pintu kantor, tiba - tiba saja seseorang menarik tubuh Aluna ke toilet wanita.
"Aduh, sakit." Aluna meringis kesakitan memegangi tangannya.
Orang itu adalah Jesika Iskandar, yang juga sekretaris baru pak Rendra. Aluna tidak tahu mengapa Jessika menyeretnya kesini.
"Lu kenapa sih nyeret nyeret gue kesini." tanya Aluna.
Jesika menarik rambut Aluna membuat Aluna teriak kesakitan.
"Jujur saja pasti Lo godain pak Rendra kan biar bisa kerja disini. Dasar cewe murahan!." bentak Jesika pada Aluna.
Aluna yang tidak terima berusaha melepaskan tangan Jessika dari rambutnya namun tenaga Jessika lebih besar di banding Aluna. Aluna pun hanya pasrah meminta Jessika agar melepaskan.
"Maksud Lo apa sih Jes, lepasin rambut gue."
"Gausah pura - pura sok polos deh lu!"
"sumpah gua ga tahu maksud lu apa,"
Jesika semakin mengencangkan tarikannya.
"Emang dasar wanita licik, ini semua gara - gara loe gue dipermalukan, seharusnya gue yang jadi sekretaris pak Rendra bukan loe!"
"Gue ga tahu apa maksud Lo ngomong gitu, tapi gue bukan cewe rendahan yang kaya loe bilang barusan." Aluna menyangkal pernyataan Jessika, membuat Jessika menjadi - jadi.
Jessika mengambil ember yang berada di pojokan toilet kemudian menyiramnya ke Aluna.
BYUR!
Semua baju Aluna basah , rambutnya basah kuyup akibat guyuran air. Aluna mengusap air yang mengalir di wajahnya. Entah kenapa air ini sedikit bau, dan kotor.
"Rasain!"
Aluna hanya bisa terdiam, Aluna bikin tipe orang yang suka keributan. Selama ini selalu diam dan tak pernah mencampuri urusan orang lain.
Tapi tak tahu kenapa saat ini Jessika menjambak rambutnya dan menyirami Aluna dengan air kotor. Padahal Aluna tidak pernah mengusiknya , jangankan mengusiknya dia saja baru bertemu dan mengenal Jessika tadi pagi.
Terdengar suara langkah kaki dari luar dan memanggil nama Aluna.
"Luna, kau didalam?"
Ternyata suara itu adalah pak Dimas yang mencari Aluna
Jessika yang panik menyuruh Aluna untuk tetap diam.
"Jangan kasih tau pak Dimas kalau Lo masih mau kerja disini." ancam Jesika.
"Sekarang ganti baju Lo." jesika memberikan sebuah bau yang sepertinya sudah ia siapkan. Dari awal memang Jessika sudah merencanakan ini semua.
Dengan bodohnya Aluna mengangguk dan menerima baju tersebut. Kemudian pergi menuju bilik kamar mandi untuk mengganti baju.
Dimas yang sedari tadi di depan pintu kemudian berteriak kembali.
"Kalau ga ada jawaban dalam hitungan ke 5 saya akan masuk." ucap Dhimas.
Tentu saja bukan Dhimas yang masuk melainkan pegawai wanita yang disuruh oleh Dimas untuk mengecek.
Belum hitungan ke lima pintu sudah terbuka, tampak Aluna yang sudah berganti baju dan melihat rambutnya yang sudah basah kuyup.
"Loh Luna kok ganti baju?" tanya pak Dhimas kebingungan pasalnya yang dipake Aluna adalah kaos dan celana jeans. Padahal dia harus pergi meeting bersama pak Rendra hari ini juga.
"Iya, pak maaf, tadi saya terjatuh di kamar mandi." jawab Aluna berbohong.
"kok bisa terjatuh?" tanya Dimas lagi.
"Iya pak tadi ..." Aluna memikirkan alasan yang akan diberikan pada Dimas.
"Tadi Aluna buru - buru ke kamar mandi, Aluna gatau kalau lantai licin akhirnya dia terjatuh dan kebetulan ada ember disebelahnya makanya dia basah kuyup." Jesika yang baru saja keluar dari bilik menjelaskan kejadian Aluna terjatuh, tentu saja dia berbohong.
"loh ada Jessika juga disini? kamu ngapain disini Jess?"
"Saya... saya tadi kebetulan ada di dalam pak, tiba - tiba aja Aluna terjatuh akhirnya saya bantu dan meminjam kan Aluna baju, iya kan Aluna?" tanya Jesika pada Aluna. Aluna hanya bergidik ngeri, wanita ini sangatlah licik.
"Iya, pak bener, Jessika ngasih baju untuk saya, soalnya baju saya basah semua." Mau tak mau Aluna mengikuti permainan Jessika, Aluna tidak mau di hari pertama Aluna bekerja harus mendapatkan masalah, lebih baik dia diam saja. Jessika takkan mengganggunya jika dia diam saja. Toh, selama ini cara itu selalu berhasil untuk Aluna.
"Pak Dimas ada apa mencari saya?" Aluna bertanya pada Dimas.
"Saya disuruh Rendra untuk mencarimu karena kau terlalu lama, dia mengira kau terjadi sesuatu. Dia mengira kau akan nyasar." jelas Dimas.
Benar juga, sudah cukup lama Aluna tidak kembali. Pak Rendra pasti sudah bosan menunggu Aluna dan akan mengomeli Aluna yang terlambat membuat meeting jadi tertunda.
Cepat - cepat Aluna pamit untuk mengantar jas namun ternyata jas milik pak Rendra juga ikut basah terkena air.
"Yah basah."
" Tenang saja, soal jas pak Rendra kami punya cadangannya, dia seringkali meninggalkan jasnya. Seharusnya kau tidak usah repot - repot mengambilnya kesini, di bagasi mobil sudah terdapat jas milik pak Rendra yang sudah kami persiapkan kalau terjadi sesuatu."
Entah kenapa Aluna semakin kesal kepada bossnya itu, seharusnya dia mengatakan itu dari awal, kalau saja pak Rendra bilang Aluna tidak akan semua ini tidak akan terjadi.
"Tapi masalahnya sekarang baju dan penampilan kau berantakan, kau tidak bisa mendatangi meeting sekarang."
Benar dengan apa yang dikatakan oleh Dimas, penampilan Aluna yang sekarang sungguh kacau, sekarang dia menggunakan kaos putih dan celana jeans, tidak mungkin dia pergi meeting menggunakan baju seperti ini, yang ada gara - gara Aluna perusahaan ini akan di cap yang jelek.
Tiba - tiba Jessika maju dan menawarkan dirinya untuk menggantikan Aluna.
"Kalau gitu saya aja pak yang gantikan Aluna," ucap Jessika.
Aluna hanya terdiam memperhatikan wanita licik ini, dia sudah tahu kalau semua ini telah di rencanakan oleh Jessika. Jessika menyiram Aluna dengan air kotor agar dia bisa menggantikan posisi Aluna.
"Benar juga, lagian waktunya sudah mepet. Kalau gitu kamu segera temui pak Rendra sekarang, nanti saya akan katakan pada pak Rendra kalau Aluna tidak bisa ikut meeting." ucap Dimas.
Mendengar hal itu Jessika tersenyum penuh kemenangan.
"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi." Sebelum Jessika pergi meninggalkan mereka, dia tersenyum ke arah Aluna, seperti meledek Aluna dari kejauhan hingga akhirnya dia menghilang.
Kalau tau begini lebih baik dia katakan saja semua yang terjadi, tidak peduli dia harus di keluarkan atau tidak. Toh, sama saja.
"Kalau begitu kau bisa kembali ke ruangan mu, nanti aku akan kirimkan tugas yang seharusnya aku kirimkan ke Jessika, anggap saja kalian bertukar tugas." jelas Dimas.
Aluna mengangguk.
"Tapi pak bagaimana cara saya kembali ke kantor kalau baju saya seperti ini." tanya Aluna.
"Tenang saja, nanti saya yang jelaskan pada mereka."
Aluna bersyukur dia masih mempunyai direktur yang baik dan perhatian seperti Dimas ini, memang tidak salah kalau dia bisa diangkat menjadi direktur.
Dimas menyentuh bahuku dan mengatakan sesuatu "Masalah ini tidak usah di perbesarkan, kau tidak perlu memikirkannya." ucapnya.
Perasaan Aluna sedikit membaik, akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruangannya.