Pak Rendra membaca semua dokumen yang kuberikan padanya, tangannya terus bergerak membalikkan kertas - kertas tersebut. Di lihat dari wajahnya, pak Rendra terlihat senang membaca riwayat pendidikan dan prestasi yang Aluna dapatkan sejak Aluna masih bersekolah hingga kuliah.
Kebanyakan semua prestasi yang Aluna dapatkan, dengan mengikuti lomba matematika, fisika, kimia. Memang benar apa yang telah Karina katakan sebelumnya pada Rendra, Aluna ini sangat cocok dengan kriteria yang dicari oleh Rendra, Aluna sangat berbakat.
"Baiklah, aku sudah membaca semua riwayatmu, benar kata Karina bicarakan kalau kau itu sangat berbakat dan aku tertarik denganmu."
"Terimakasih, Pak." Aku merasa senang saat pak Rendra mengatakan itu padaku. Aku benar - benar harus berterima kasih juga pada Karina yang telah membantu ku.
"Kalau begitu mulai hari ini kamu sudah bisa bekerja."
Aluna terkejut mendengarnya, " Hari ini juga pak?"
"Iya hari ini, sekarang juga. Kenapa, kamu keberatan?"
"Engga kok pak saya engga keberatan."
"Baguslah kalau gitu,"
Pak Rendra menekan sebuah tombol yang berada di atas meja, kemudian muncul sosok perempuan yang mengetuk pintu dan masuk keruangan.
"Iya, pak?"
"Dimas antar dia ke ruangannya."
"Baik pak."
Pria yang bernama Dimas itu mengangguk kemudian menyuruh Aluna mengikutinya.
"Silakan."
Aluna mengikuti Dimas dari belakang sambil melihat - melihat setiap sudut gedung. Semenjak di masuk ke dalam gedung ini, Aluna sama sekali tidak memperhatikan setiap detailnya. Semua ini gara - gara ketampanan Rendra yang membuat Aluna tidak fokus. Aluna saja baru sadar kalau sekarang dia berada di lantai 25.
Dia baru menyadarinya saat melihat keluar kaca yang transparan, saat dia melihat kebawah, tubuhnya langsung merinding. Padahal ini bukan lantai paling tinggi tapi kepalanya sudah merasa pusing.
"Kau tidak apa - apa?" tanya Dhimas pada Aluna.
"aku baik - baik saja." jawab Aluna.
"Oh iya aku belum memperkenalkan diriku secara pribadi... Namaku Dhimas Prasetyo, saya adalah COO disini atau bisa dibilang direktur."
Dimas memperkenalkan dirinya pada Aluna, melihat caranya dia bicara terlihat kalau dia direktur yang sangat ramah terhadap karyawannya.
"Kalau kau, Siapa namamu?" jelas Dimas.
"Namaku Aluna." jawabku dengan sopan.
"Aluna, nama yang bagus. Mohon kerja samanya ya Aluna." Dimas tersenyum ke arah ku, aku pun membalas senyuman nya.
Setelah cukup lama kita berjalan, tidak jauh dari kantor milik pak Rendra. Aluna sampai di meja miliknya bekerja. Tidak lupa Dimas memperkenalkan Aluna kepada para pegawai yang ada di ruangan ini.
"Baiklah, Aluna. Aku pergi dahulu, jika kamu butuh bantuan kau bisa datang ke kantorku."
Aku hanya menganggukkan kepalaku setelah mendengar penjelasannya kemudian Dimas berjalan keluar meninggalkan Aluna sendiri di ruangan ini.
Sekarang tinggal Aluna sendiri yang ada disana, duduk termenung di mejanya. Entah apa sekarang yang harus Aluna lakukan.
Aluna melirik ke kanan dan ke kiri melihat ke sekitar, semuanya tampak sibuk dengan pekerjaannya masing - masing. Aluna yang berniat ingin menyapa mereka mengurungkan niatnya itu, akhirnya Aluna memutuskan untuk menyalakan monitor komputer nya barangkali ada sesuatu yang bisa di kerjakan.
Beberapa menit kemudian intercom di meja milik Aluna berbunyi dengan cepat Aluna mengangkatnya.
"Hal-"
"Aluna cepat datang ke ruangan saya, sekarang."
Belum selesai Aluna menyelesaikan ucapannya, pak Rendra memotong dan menyuruh Aluna untuk segera menemuinya di ruangannya.
"Baik, pak." Setelah itu telepon terputus, Aluna segera membawa barangnya dan bergegas ke ruangan pak Rendra. Dia sangat senang karena mendapatkan pekerjaan, padahal dia sudah takut karena sedari tadi tidak melakukan apa - apa.
Aku mengingat ingat jalan ke ruangan pa Rendra yang baru saja aku lewati, untung saja Pak Dimas menjelaskannya dengan baik hingga aku bisa mengingat dan sampai tepat waktu di ruangan pak Rendra.
Aku merapihkan seragam dan rok ku yang sedikit berantakan kemudian mengetuk pintu.
"Masuk."
Terdengar suara pak Rendra menyuruh Aluna untuk masuk. Segera Aluna masuk menemui pak Rendra.
"Permisi pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Hari ini kita ada meeting bertemu klien, jadi kamu sekarang kamu bersiap - siap dan ikut saya."
"Baik, pak." Tanpa bertanya Aluna segera mengiyakan dan mengikuti pak Rendra yang sudah duluan berjalan keluar.
Setelah sampai di parkiran mobil di basement, tiba - tiba pak Rendra berhenti membuat kepala ku menabrak punggungnya hingga terjatuh ke tanah,
"Aduh, sakit." Aluna meringis kesakitan.
"Kau tidak apa - apa?" Rendra menanyakan kondisi Aluna lalu mengulurkan tangannya untuk membantunya untuk berdiri.
Saat tangan Aluna bersentuhan dengan tangan Rendra, tubuhnya merasakan hal yang aneh itu lagi. Mata mereka saling bertemu membuat jantung Aluna berdegup lebih kencang.
"Lun, Luna ?" Suara pak Rendra menyadarkan Aluna dari lamunan.
"Kau tidak apa - apa? kenapa kau diam saja?." Tanya pak Rendra.
"Aku gapapa kok, pak." jawab Aluna saat sudah tersadar dari lamunannya. Kemudian Aluna berdiri dengan dibantu oleh Rendra. Setelah itu Aluna membersihkan roknya yang kotor karena terjatuh barusan.
"Kau yakin tidak apa - apa? barusan kau berteriak kesakitan, lalu kau tidak menjawab omonganku membuatku khawatir."
Mendengar pak Rendra yang khawatir membuat detak jantung Aluna mulai berdegup kencang lagi, sepertinya setelah ini Aluna harus pergi ke dokter untuk memeriksa jantungnya.
"Aku tidak apa - apa, pak." jawab Aluna walau sebenernya sedikit sakit tapi Aluna harus menahannya, Aluna tidak tega melihat wajah pa Rendra yang khawatir terhadap Aluna.
"Baiklah kalau begitu."
"Bapak tadi kenapa tiba - tiba berhenti?" tanya Aluna.
"Oh iya saya kelupaan, Jas saya ketinggalan di kantor, bisa tolong kamu ambilkan jas itu untukku?" siapapun tahu ini adalah sebuah pertanyaan, tapi bagi Aluna ini terdengar seperti perintah.
"Baik pak saya ambilkan."
"Saya tunggu di mobil saya ya."
Setelah pak Rendra berkata seperti itu, dia pergi meninggalkan Aluna sendirian.
Lupakan soalnya dirinya yang merasa kasihan pada Si Rendra itu. Dia saja tidak peduli dengan Aluna, sudah tahu dia baru saja terjatuh karena ulahnya, kemudian menyuruhnya mengambil jaket nya yang tertinggal di kantornya.
Aluna merasa jengkel sendiri, memikirkannya saja membuat kesal. Mengingat mukanya yang khawatir terhadap Aluna ternyata itu semua bohong .
Dia cuman berpura - pura agar dia bisa menyuruh Aluna mengambil jaket miliknya yang tertinggal.
Segera Aluna berjalan dengan cepat, dia takut meeting ini terlambat karena ulahnya, walaupun ini bukan seratus persen ulahku.
Aluna yang awalnya memuji gedung besar ini merasa menyesal, dia sekarang harus berjalan jauh untuk sampai ke kantor pak Rendra yang berada di lantai 25.
Sampai di kantor Rendra Aluna mengambil milik pak Rendra yang tergantung , segera dia bergegas keluar dari kantor untuk kembali ke parkiran.