"APA?!" Aluna terkejut kaget mendengar apa yang barusan saat resepsionis itu katakan.
Aluna yang tadi semangat kembali lesu, resepsionis itu bilang kepada dirinya kalau lowongan pekerjaan sudah berakhir kemarin.
Pikiran Luna makin kacau, dia sudah datang jauh - jauh tapi ini yang dia dapatkan? mending kalau berakhir dia sudah di wawancara dan tidak lolos seleksi mungkin Aluna lebih menerima kenyataannya, tapi jangankan di terima atau di tolak, di wawancara pun belum.
Aluna menghela nafas panjang, mengedurkan sedikit kancing kemejanya supaya dia bisa sedikit bernafas.
Aluna kembali menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan kembali.
"Permisi, mbak ini beneran udah selesai?" tanya Aluna sekali lagi.
"Iya sudah selesai kemrin kak, perusahaan udah memilih sekretaris dan pekerja baru."
Entah kenapa Aluna merasa kesal pada Karina, pasalnya dia memberitahu Aluna lowongan ini tanpa melihat tanggalnya, ya itu juga tidak sepenuhnya salah Karina, Aluna seharusnya mengecek kembali tapi karena terlalu gembira dia sampai lupa untuk mengeceknya.
Mau bagaimana pun juga Karina sudah baik telah membantu Aluna untuk mencari pekerjaan yang baru, tidak sepantasnya Aluna berpikiran seperti itu.
"Gaada cara lain gitu mbak biar saya bisa ketemu sama CEO nya biar saya bisa di interview?" Aluna bertanya kepada resepsionis, masih berusaha agar dia bisa di interview.
"Maaf , Mbak. Kami tidak bisa membantu, Pak Rendrasedang tidak bisa diganggu."
Pak Rendra atau Rendra Adi Bramasta adalah pemilik atau CEO perusahan ternama. Kata Karina, dia adalah orang yang sangat terkenal akan ketampanan, dan juga dia orang baik hati dan dermawan, seringkali dia menjadi donatur untuk sebuah panti asuhan dan membangun sekolah untuk orang yang berkebutuhan.
Mendengarnya saja sangat hebat, jujur saja aku sama sekali belum pernah melihatnya secara langsung aku jarang sekali melihat tv ataupun berita di hp. Tak ada waktu untuk itu.
"Ayolah, mbak. Tolong saya sekali ini saja. Please temuin saya sama pak Rendra."
Aku terus meminta agar kepada resepsionis mempertemukan aku dengan beliau. Namun resepsionis itu mengatakan kalau pak Rendra sudah tidak bisa diganggu hari ini.
"Maaf pak Rendra hari ini sedang ada rapat bersama dengan sekretaris barunya." ucapnya.
Sesaat kami sedang berbicara seseorang muncul dan memanggil namaku membuatku menoleh ke sumber suara. Tampak terlihat pemuda berkacamata menggunakan kemeja putih dipadu dengan blazer abu abu berjalan ke arah Aluna. Wajahnya tampan dan bersih tanpa ada satupun noda membuatnya dirinya terlihat maskulin.
Aku terkesima melihat orang itu, baru kali ini aku melihat pemuda yang sangat tampan dan berkharisma, aura orang ini sangat bersinar. Biasanya aku ketika aku melihat pria tampan aku hanya melihatnya sebentar, bagiku mereka hanya tampan. Namun pria yang sekarang berada di depan ku saat ini sangat sangat berbeda dengan pria yang sering kutemui itu.
Dia adalah Rendra Adi Bramasta, pemilik perusahan COVER corp, pria yang saat ini ada di depanku.
Aku tersadar dari lamunanku saat pria itu memanggil namaku.
"Kau Aluna?"
"Eh?" Aku yang masih syok dan malah mengucapkan hal bodoh.
"Apa kau wanita yang bernama Aluna?" tanya Rendra lagi.
"Iya benar, pak."
"Aku dengar dari Karina kalau ada wanita bernama Aluna yang ingin melamar pekerjaan, dan katanya kriterianya sangat cocok dengan diriku." ucap Rendra.
Saat mendengarnya aku jadi merasa bersalah dengan Karina karena sebelumnya aku telah menyalahkannya, tak kusangka ternyata dia sangat baik ku sampai menghubungi Rendra demi diriku. Aku harus berterima kasih saat pulang nanti.
Rendra melihat Aluna dari ujung kepala sampai kaki, tak ada satupun kekurangan yang ada di Aluna. Semuanya terlihat cantik di mata Rendra.
"Kalau begitu ikut saya ke ruangan, sangat ingin mengenalmu lebih jauh." kata Rendra.
"Tapi pak, bapak sudah mempunyai saya, sekretaris pak Rendra masa bapak nyari sekretaris lagi?" Seorang wanita yang diketahui sebagai sekretaris baru Rendra terlihat tidak suka saat melihat Rendra ingin merekrut sekretaris baru lagi, seolah olah dia takut posisinya akan digantikan.
Rendra menoleh kepadanya, "Aku memang menerima mu di pekerjaan ini, tapi sebagai sekretaris perusahaan ini, bukan sebagai sekretaris pribadiku."
Sekretaris ini tidak berkata - berkata wajahnya terlihat kesal pasti dalam hatinya ngedumel tentang Aluna.
Setelah itu Rendra berjalan menuju lift, aku mengikutinya dari belakang, entah mengapa jantung ku berasa deg degan saat berada dekatnya. Aku tidak tahu perasaan macam apa ini, biasanya aku selalu bersikap tenang saat ingin interview.
Aku, Pak Rendra dan Sekretarisnya, kami bertiga berada di dalam yang mulai bergerak naik ke atas. Tak ada satupun dari kami yang berbicara, sangat sunyi. Perasaan ku tidak nyaman, aku tahu kalau sedari tadi wanita itu melirik ku, memandangi ku dengan tatapan tidak suka.
Bagaimana pun kita bersaing di sini, siapa yang paling hebat dia yang menang.
Ting!
Pintu lift pun terbuka lebar dengan sendirinya, kami bertiga bergegas keluar menuju ruangan pak Rendra.
Setelah masuk di ruangan pak Rendra, aku disuruh untuk duduk terlebih dahulu.
"Jessica kenapa kamu ada disini?" Pak Rendra bertanya kepada sekretarisnya yang bernama Jessica.
"Saya kan sekretaris bapak." jawabnya.
"Saya sudah bilang ke kamu tadi, kalau kamu itu bukan sekretaris pribadi saya, dan ini bukan ruanganmu, jadi cepat keluar dan kembali ke ruanganmu!" kata pak Rendra dengan nada pelan tapi tegas.
Aku salut dengan sikap pak Rendra yang tetap tenang menegur karyawannya dengan lembut dan tak emosi. Berbeda dengan bos ku yang dulu, dia selalu memarahi karyawannya dan membentaknya dengan kata kasar hingga membuat perasaan siapapun yang dibentak akan sakit hati jika mendengarnya, ya walaupun pak Rendra juga sama tapi dia dengan nada yang lembut.
"Baik, pak."
Dengan wajah yang murung Jessika keluar dari ruangan. Hanya menyisakan kami berdua di ruangan ini.
Entah mengapa aku merasa canggung saat dekat bersama pak Rendra. Wajahnya yang putih bersinar membuat darah ku seperti mengalir lebih cepat hingga memompa jantungku berdetak tak beraturan.
Perasaan aneh ini belum pernah aku rasakan sebelumnya, apa mungkin ini yang dinamakan menyukai lawan jenis, selama ini aku belum pernah berpacaran dengan seorang pria, jangankan berpacaran, menyukai seseorang yang kusukai pun tidak ada.
Bagiku menyukai seseorang yang tidak pasti hanya membuang buang waktu, lebih baik aku mencintai pelajaran matematika, fisika, kimia yang bisa membuatku menjadi orang yang pintar.
Dan saat aku besar nanti aku akan menjadi seorang yang sukses dan mencari uang yang banyak. Yah, memang pikiranku selama ini hanya uang. Mungkin saja detak jantungku ini berdetak sangat kencang karena aku akan diterima bekerja di perusahaan ini, itu bukan karena aku menyukai pria ini. Ya, mungkin karena itu.