13

1358 Kata

Artemis memasuki rumah dengan wajah sumringah, sesekali jari-jarinya menyentuh dasar bibirnya. Mengenang rasa yang ditinggalkan oleh bibir Angkasa, awalnya memang hanya sebuah kecupan ringan. Namun, perlahan ciuman itu berubah menjadi intens. Bibir Angkasa menjelajahi bibir Artemis, seperti tidak ingin tertinggal permainan, Artemis pun membalasnya. Untuk sesaat Angkasa terlihat bagai seorang penyelamat untuk Artemis, menarik wanita itu keluar dari lubang kehidupanya yang sesak dan gelap. Ciuman itu tidak berakhir dengan hal-hal aneh, tapi percayalah ciuman itu berhasil membuat Artemis nampak bodoh dengan senyum lebar tiada henti. Senyum yang selalu lenyap setiap kali dia harus menjejakkan kaki ke rumah. Artemis menutup pintu rumah pelan-pelan, memang jarum jam masih mengarah di angka sebe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN