1 Kritis
Bab 1. Kritis
“Tolong aku, tolong aku.”
Suara wanita merintih kesakitan, nafas yang tersengal, dan wajah yang penuh luka hingga sulit dikenali atau bahkan hanya untuk dilihat kecantikannya. Tangannya berusaha menggapai kaki seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya mungkin hanya berjarak satu jengkal dan menyorotkan lampu ponsel ke wajahnya. Hujan gerimis semakin menanbah perih luka wanita yang tak lain adalah Andara Rusli.
“Nama?” tanya pria tersebut seperti sedang mempermainkan nyawa seseorang. Raut wajahnya sama sekali tidak terlihat takut, panik, atau cemas.
Pria yang memakai kaos dan celana panjang serba hitam itu justru tersenyum tipis. Entah apa arti dari senyuman itu tapi tidak normal pada situasi seperti ini.
“Dara, namaku Dara. Andara Rusli,” jawab Andara Rusli gadis berusia 27 tahun dengan kekayaan yang dikuasai seorang diri tanpa kerabat dan anggota keluarga lain. Hidup sebatang kara namun bergelimang harta.
Rintik hujan yang turun semakin menambah perih luka setelah Andara berjuang untuk menyelamatkan hidupnya, nekat membuka pintu mobil yang terbang melayang setelah menabrak pagar pembatas di tepi jurang. Andara tidak ingin mati konyol, dia tetap ingin mempertahankan hidupnya. Jika memang harus mati tidak dengan cara menyedihkan seperti ini.
“Tolong aku....” Andara merintih lagi.
“Oke, aku akan menolong tapi semua ini nggak geratis. Kamu harus membayarnya.” Ahan, pria tampan berwajah China itu lalu membopongnya dengan sangat mudah.
Tanpa penerangan, hanya bermodalkan mata saja Ahan mampu berjalan dalam kegelapan. Sebenarnya dia kesal karena di waktu tenangnya ada yang mengganggu. Tapi kecelakaan dan luka di wajah dan tubuh Andara ini jauh lebih menarik baginya untuk dirogoh lebih dalam lagi.
Ahan membawa Andara pergi ke kilinik pribadi milik sepupunya. Selama dalam perjalanan, Andara sudah pingsan, tapi Ahan tetap santai dan tenang, sesekali memeriksa nafas dan detak nadi. Tidak ada kepanikan yang terjadi sampai Andara ditangani.
“Bagaimana keadaannya Kevin?” tanya Ahan santai dengan menghisap rokoknya.
“Dia mengalami perdarahan dalam, jadi kita harus membawanya ke rumah sakit besar Han.”
“Oke, bilang saja dia kecelakaan motor, tunggal. Aku yang akan mengurus yang lainnya.” Ahan lalu berjalan santai dan kembali masuk melihat Andara yang tertidur dengan wajah yang dibalut perban penuh hanya menyisakan mata dan hidung. “Lucu, kayak mumi.”
Kevin hanya bisa menghela nafas jengah dengan sikap sepupunya. “Hhh... dasar orang gila.”
***
Di sisi lain, di dalam sebiaih mobil sedan hitam yang melaju kencang menuju ke sebuah rumah untuk menghilangkan jejak, membawa bungkusan makanan sebagai alibi keterangan, Runa dan Max gugup. Jantung mereka berpacu tidak seperti biasanya. Bahkan keringat dingin mulai mengisi penuh hingga ke tengkuk.
“Kamu yakin dia udah mati?” tanya Max pada Runa.
“Yakin, mana bisa hidup sih Sayang? Kamu nggak lihat tadi mobilnya meledak? Mana bisa keluar dalam keadaan yang sangat cepat begitu.” Runa duduk dengan gelisah. “Setelah ini apa yang akan kita lakukan? Kamu janji perlahan akan memberikan rumah ini padaku.”
Max tersenyum licik. “Soal rumah milik Dara Si Bodoh ini gampang. Soal surat menyurat itu sangat gampang. Asalkan ada uang, maka semuanya beres. Kamu tenang saja, nggak hanya rumah tapi aset yang lain juga. Tapi sabar, semua itu setelah kabar kematiannya tersiar.”
Sementara itu di rumah sakit, pertaruhan hidup dan mati sedang terjadi. Andara tengah berjuang melawan maut, perdarahan bagian dalam membuatnya menerima sayatan demi sayatan dari pisau bedah.
Ahan menunggu di luar dengan santai bahkan bisa bermain game, dan mengulum sebuah permen tangkai. “Akan ngebosenin banget kalau dia mati.”
Tiga jam berada di dalam ruang operasi hingga lampu yang semula menyala kemudian mati dan para perawat menggeladak pasien untuk berpindah ke ruang ICU, barulah Ahan bangkit dan melihat keadaan Andara.
“Bagaimana dia Dok?”
“Kami berhasil menyelamatkannya, Dia mengalami patah tulang rusuk, retak pada bagian tulang leher, tapi semangat hidupnya sangat kuat. Ini bagus, kami tinggal menunggu masa observasi di ruang ICU jika keadaan sudah membaik bisa dipindahkan ke ruang rawat.”
“Kelas VIP. Aku mau dia dipindahkan ke ruang VIP.” Ahan meminta tapi dengan nada santai.
“Suami yang sangat menyayangi istri,” ucap Dokter sebelum pergi.
Setelah Dokter pergi dan Ahan kembali duduk, Ahan menyilangkan kakinya dan juga bersendekap. “Suami yang sayang istri, dih! Ya kali aku nunggu dia sambil tidur di lantai. Kalau di ruang VIP kan ada ruangan lain dan juga kasur yang empuk. Soal dia mau sembuh atau labas aku sih bodo amat.”
***
Tiga hari berlalu, Andara sudah dipendahkan ke ruang VIP, tidak ada yang menjenguk selain Ahan yang menyebalkan yang menunggunya, bermain game sepanjang waktu dengan ponselnya di kamar sebelah. Ahan, seperti tidak sedang menuggu orang sakit, tapi dia seperti hanya berpindah tempat untuk bersantai tanpa ganguan tanpa pekerjaan. Ahan justru acuh setelah mendapati Andara hampir sembuh.
“Kak, aku nggak tahu siapa namamu, bisa tolong nyalakan TV? Aku ingin lihat berita,” kata Andara dari tempatnya berbaring masih dengan infus yang menancap, selang oksigen, dan juga kateter yang terpasang.
“Ahan, namaku Ahan. Kamu lihat TV mau lihat apa? Gosip selebritis? Nggak penting banget.” Ahan beranjak dan mematikan game-nya.
Anhan duduk di samping Andara dan membuka sebuah aplikasi video singkat miliknya. “Punya akun TT?”
“Iya ada.”
“Berapa followers?
“Satu juta.”
“Nama akun?”
“Anrusli,” jawab Andara lemah dan Ahan mulai mencari.
“Ini, ini pacarmu bukan? Dia mempublikasikan berita kecelakaanmu, katanya kamu sudah mati. RIP my beloved Anrusli, katanya. Hehehe, pacar kokk gini,” cemooh Ahan tanpa tahu luka apa yang tengah merundung Andara.
“Aku mau lihat,” pinta Andara yang tidak bisa menoleh dan terpaksa Ahan yang membungkuk mengarahkan ponsel ke wajah Andara dan seketika tangis Andara pecah.
Bukannya ikut sedih, Ahan malah tertawa dan berkata. “Lucu banget sih kamu Dara.”
Tangis Andara semakin pecah, air mata semakin bercucuran, dan isak tangisnya membuat nafasnya sesak. Rasa sakit di tubuhunya tak sebanding dari rasa sakit hati setelah melihat unggahan Maxim dan Runa. Kini Andara mengerti memberikan kesempatan kedua pada pangkhianat adalah hal yang salah.
“Eh, udah udah. Ngapain nangis sih, udah diem. Kamu tangisin juga mereka nggak akan tahu kamu di sini, udahlah, mending pikirin yang lain. Misalnya cara balas dendam?” celetuk Ahan dengan acuh.
“Balas dendam? Ya, aku memang akan melakukannya,” gumam Andara sangat pelan dengan tangan yang mengepal hingga buku tangannya memutih.
Bersambung ....