2 Dua Minggu Sebelumnya

1092 Kata
Bab 2. Dua Minggu Sebelumnya Menguar aroma karbol, tetes demi tetes infus pun mengisi pendengaran. Andara, dia masih berbaring merasakan sakit yang bertubi-tubi, menyerang secara bersamaan setiap kali efek obat pereda nyeri menghilang. Tubuhnya terus saja berusaha keras melawan rasa sakit, menunjukkan bahwa dia adalah wanita yang kuat yang tidak akan tinggal diam dengan penindasan. “Kamu udah bisa banyak ngomong, makan pun udah bisa, berarti sekarang bisa dong cerita sama aku apa yang sebenarnya terjadi,” kata Ahan sembari menikmati gigitan apel dalam mulutnya. Andara kembali meneteskan air mata setiap kali mengingat kejadian itu. Dua Minggu yang lalu .... Dua Minggu yang lalu, bermula dari pagi hari jam 8. Andara. Runa, dan Max baru saja bersarapan bersama di meja makan kediaman Andara. Rumah mewah bergaya mediterania itu berhiaskan lantai marmer, lampu kristal, dan juga atap dengan ukiran kisah-kisah klasik jaman romawi. Andara dengan senang hati membuatkan menu sarapan untuk sahabat dan kekasihnya. Di rumah itu meski hanya menumpang, namun Andara memperlakukan Runa dengan baik. Tidak pernah ada kata iri meskipun Runa adalah tipe manusia yang ngelunjak, yang tidak tahu diri. Walaupun benar Runa di sana karena menemani Andara, tapi dia juga bisa dikatakan menumpang. Satu hal yang tidak pernah Andara dengarkan adalah aduan para pembantu yang sering mengatakan Runa berlagak seperti majikan. Beberapa pembantu pernah melaporkan Runa yang masuk ke kamar Andara, tapi Andara memilih tidak percaya dan mengabaikan. Hingga pagi itu setelah sarapan, Max berpamitan untuk pergi bekerja terlebih dahulu. Layaknya kekasih yang mesra yang sebentar lagi menuju ke janji suci, Max dan Dara pun mesra sekali. Tidak ada yang aneh saat di meja makan bahkan sampai saat berangkat. Akan tetapi, 20 menit setelah Max pergi dan Dara pun pergi ke kantor, mobil Max kembali. Max kembali masuk ke rumah Andara. Para pembantu sudah sering melihatnya tapi untuk mengadukan mereka takut dengan ancaman dan ketidak percayaan Andara sendiri. Jadi para pembantu memilih untuk bungkam. Max kembali, Runa menyambutnya dengan lemah gemulai dan suara manja. Tidak di kamarnya melainkan di kamar Andara, di atas ranjang Andara mereka memadu kasih, pagi hari pukul 8.30. Mungkin Tuhan telah menentukan hari itu kebusukan sahabat dan pacar akan terbongkar. Ponsel Andara tertinggal di kamar, dia pun memutuskan untuk putar balik sebab ponsel tidak diberi nada atau pun getaran sehingga kemungkinan klien penting menelpon tidak akan ketahuan oleh pembantu. Andara melihat kejanggalan, mobil Max terparkir di garasi, gerbang penghubung kamar pembantu dan rumah utama terkunci. Ini semakin aneh sampai Andara masuk tanpa mengenakan heels, dia melepasnya demi meminimkan suara. Desahan terdengar, sayup-sayup dia juga mendengar erangan pria. “Max, dia... dan Runa?” Andara nyaris tidak bisa menjaga keseimbangan ketika menapaki tangga. Satu persatu kakinya menapak dan dia membuka pintu perlahan tanpa suara. Matanya terbelalak, hawa panas seketika mengepung membuat wajah, mata, dan telingaya memerah. Kesabaran sudah terkikis. Kedua tangan mengepal dan meraih hiasan meja berupa guci tua dari China. “Baj**gan kalian!” pekik Andara penuh kemarahan, dadanya bergemuruh. Heels yang berada di jinjingan kini menjadi senjata andalan. Dihantamkannya heels yang runcing itu ke punggang dan kepala Runa yang kebetulan sedang menunggangi Max. Rambut dijambak dan ya, Andara menang telak meski Max mencoba melerai dan memberikan penjelasan tapi hari itu, detik itu juga Andara melempar Runa keluar dengan babak belur. “Keluar! Aku nggak butuh penjelasan kalian. Keluar dari rumah ku sekarang juga!” mata Andara menatap nyalang Runa yang berdiri memegangi kepalanya yang bocor. “Sayang, aku bisa jelasin,” sergah Max yang berupaya meredam amarah Andara. “Nggak ada yang perlu dijelasin lagi. Kalian sama-sama b******k! Kurang baik apa aku sama kamu Runa, sampai kamu tega nyakitin aku kayak gini hah?” sentak Andara dengan tangis yang semakin pecah. Para pembantu pun datang dan mereka semua berada di pihak Andara, membela majikannya yang tidak bersalah. Sementara Max, dia berlutut di hadapan calon istrinya. “Maafin aku Dara, aku khilaf.” “Pergi, aku nggak mau berurusan sama kalian. Max, pernikahan kita batal, perjanjian kerja kita batal! Soal keributan ini aku udah ngasih tau om dan tante.” Max terperanjat. Andara adalah sumber dana bagi bisnis keluarga Maxim yang sedang tumbang jika semua dibatalkan maka sudah terlihat akan seperti apa kemarahan orang tuanya bukan? Hari itu semuanya meledak. Bom waktu yang selama ini tertanam pun telah menghancurkan semuanya. Andara mengusir Runa pergi tanpa membuat kehebohan atu menyiarkan ke akun sosial media miliknya. Aib ini ditutup rapat olehnya. Namun, setelah kejadian itu. Tanpa tahu malu Runa masih sempat datang untuk memohon kesempatan kedua. Tapi Andara menolaknya, dan kembali mengusirnya. Hingga kecelakaan tunggal ini terjadi. Mau tidak menuduh namun motifnya sudah jelas kalau kecelakaan adalah hasil dari sabotase. *** “Keren ih, menarik juga ceritamu. Apa aku boleh ikut main Dara?” Ahan bertanya dengan mata berbinar setelah mendengarkan cerita panjang Andara. “Nggak, nggak gila. Aku ini pintar tahu. Aku rasa kecelakaanmu ini ada kaitannya dengan mereka. Mau aku bantu selidiki?” Ahan memainkan kedua ujung jari telunjuknya seperti anak kecil yang penasaran. Andara menghela nafasnya berat. Dia tahu jika ekspresi Ahan Zhou seperti itu maka akan ada sesuatu yang dituntutnya. “Jika kamu menawarkan sesuatu pasti ada yang kamu minta. Kali ini apa? aku sangat berterima kasih kamu mau mengurusku dan juga membantuku membekukan semua rekening atas namaku. Aku sedikit lega, kali ini apa yang kamu minta Kak Ahan?” Ahan menarik kursi dan semakin mendekat hingga mereka hanya berjarak beberapa jengkal saja. “Jadi begini Nona Andara Rusli, aku Ahan Zhou, sudah memasuki usia matang 34 tahun, keluargaku sudah menuntut dengan adanya cucu. Jadi untuk semua bantuan yang kuberikan ini aku ingin kamu menikah denganku.” Andara tertawa meski tawanya sampai membuat batuk dan menyesakkan d**a. “Kak Ahan, nggak usah melucu di sini, kita sedang bicara serius.” “Aku serius, kalau iya hari ini juga kita menikah. Kita secepatnya menikah. Aku tidak mau membiarkanmu lepas begitu saja setelah banyaknya bantuan yang aku terima. Jika kamu menjadi istriku maka tenanglah, nggak akan ada satu orang pun yang berani mengusikmu.” “Bercandamu nggak lucu Kak,” sela Andara sembari bergerak untuk kembali berbaring. “Aku nggak melucu, ini serius. Kamu mau menikah di sini atau di gereja?” Andara yang berbaring pun menjawab dengan santai. “Ya di gereja lah, apa-apaan menikah di rumah sakit. Pernikahan itu kan hal yang sakral, sekali seumur hidup kalau bisa. Masa iya di rumah sakit. Gila.” “Aku anggap kaliat tadi adalah persetujuan,” kata Ahan sambil berdiri dan tersenyum cerah. “Terserah,” jawab Andara memberikan respon asal-asalan. Andara tidak mengenal siapa Ahan yang susah diajak bercanda, bahkan jawaban terserah pun diartikan iya olehnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN