3 Mendadak Menikah

970 Kata
Bab 3. Mendadak Menikah Alunan musik pengiring pengantin terdengar pelan, lirih derap langkah kaki pun mengisi rungu membuat Andara yang semula tertidur mulai terusik. Wanita cantik yang wajahnya saja masih terbalut perban itu sangat terkejut ketika mendapati dirinya masih mengenakan pakaian pasien, duduk di kursi roda, namun di pangkuannya ada buket bunga mawar putih. Matanya seketika membulat ketika mendapati Ahan Zhou, sudah berdiri rapi mengenakan jas dan memegang kotak cincin. Kursi jemaat pun diisi oleh anak buah Ahan yang Andara sendiri tidak mengenalinya. Ini seperti di dalam mimpi dan mungkinkah ini sambungan dari kara terserah tadi? “Kak Ahan, kita di mana?” tanya Andara dengan gugup, pelan, sekaligus gemetar. “Di Gereja, kamu bilang tadi menyukai pernikahan yang diadakan di Gereja. Aku mengabulkannya,” jawab Ahan dengan santai. “Tapi tidak begini juga maksudku. Aku menikah dengan wajah yang masih di perban begini? Ini sama sekali nggak lucu! Lagian aku belum jawab iya,” elaknya. Ahan berlutut dan memegang kedua tangan Andara. “Oh ya? Sayang sekali, padahal aku udah tahu siapa Max itu, aku dengan mudah bisa menghancurkan dia. Tapi... jika kamu nggak mau jadi istriku, aku rasa untuk sekedar hubungan pertemanan tindakan ekstrim begitu nggak dibutuhkan. Hanya istriku yang bisa memerintahku, bisa mendapatkan hak spesial itu.” Sebenarnya siapa Ahan itulah yang membuat Andara enggan untuk menerima kerja sama ini. Andara hanya tidak mau dia lepas dari kandang buaya tapi masuk ke kandang singa. Andara hanya ingin apa yang menjadi miliknya kembali dan membalaskan kejahatan Max dan Runa. “Memangnya kamu itu siapa, sampai aku harus gampang banget nurut sama kamu. Aku bisa bayar kok untuk ganti rugi biaya rumah sakit, kamu pikir aku nggak bisa bayar. Bisa Kak, bisa,” kata Andara terdengar congkak. “Nona, sebaiknya Anda melihat ini dulu sebelum banyak bicara merendahkan Tuan Muda Ahan kami.” Edy, tangan kanan Ahan memberikan tabletnya dan memperlihatkan silsilah keluarga Ahan yang berpengaruh di dataran China Selatan. Membulat mata Andara setelah membaca biografi keluarga Ahan Zhou. “Oh, begini. Oke, kita menikah sekarang!” “Aku nggak boleh membuang kesempatan ini. Aku harus bisa memanfaatkan dia, kekayaannya sudah menyentuh angka trilyun, ini jauh banget sama Maxim yang baru ratus Milyar. Oh, aku tahu aku harus bisa mendapatkan hati Ahan, membuatnya bertekuk lutut dan menuruti semua keinginanku. Tapi jika begitu dia juga pasti akan meminta sesuatu. Ah terserah, pikir nanti saja. Yang terpenting sekarang Maxim dan Runa harus menderita!” Dua puluh menit kemudian. “Mempelai pria silahkan mencium mempelai wanita,” kata pendeta. Ahan tersenyum sumringah sementara Andara seperti manekin yang hanya bisa duduk tegak di kursi roda dengan kepala yang dibalut perban. Untuk momen mencium saja Ahan hanya berani mencium kening Andara yang terbalut perban. Pernikahan yang serba mendadak itu selesai, keduanya keluar dengan membawa buku nikah dan setelah status berubah sikap Ahan pun berubah. Dia tidak se-cuek sebelumnya. Untuk Andara, pintu dibukakan, digendong dibantu naik ke kursinya dan semua tindakan itu membuat Andara merasakan debaran yang tak menentu. “Edy, aku sudah menikahinya. Itu artinya kita leluasa untuk bermain. Kita mainkan permainan pertama bagaimana?” Ahan berbicara dengan Edy yang duduk di depan sementara dirinya dan Andara duduk di belakang. “Kamu mau melakukan apa?” Andara bertanya tanpa bisa menoleh. Lehernya masih kaku dan sesekali merasa sakit. “Tenanglah, cuma main-main. Kamu hanya harus istirahat dan cepat sembuh.” Ahan menepuk punggung tangan Andara dengan lembut. Senyum hangat dan tenang menghiasi bibirnya ketika bicara sama sekali tidak mengindikasikan kalau Ahan adalah seorang pentolan mafia berdarah dingin. Andara menyandarkan kepalanya ke kursi. “Hhh... terserahlah, yang terpenting kamu nggak salah sasaran.” “Nggak mungkin salah sasaran, orang foto dan video kalian yang mesra itu selalu aku lihat. Kamu bucin banget orangnya ya, pantes ditipu aja nggak ngerti, nggak kerasa.” Andara hanya bisa menghela nafas jengah. Kalau dirinya tidak sedang dalam keadaan sakit mungkin dia sudah meremas mulut Ahan. *** Malam pukul 22. [Terjadi sebuah ledakan besar dari kediaman seorang pebisnis ternama Maxim Black. Dilaporkan ada dua korban jiwa, saru art, dan satu lagi nenek usia 65 tahun. Ledakan dilaporkan dipicu karena adanya konsleting listrik yang memicu kebakaran di dapur hingga menyambar tabung gas dan membuat adanya ledakan besar. Night News melaporkan]. Suara tepuk tangan riuh terdengar di ruang tengah tempat di mana Ahan menyesap americano miliknya. “Woah! Hebat Edy, kerjamu bagus, rapi banget. Ini pantas jadi kado pernikahanku dengan Dara.” Dara, dia mendegar sorak sorai dan senang Ahan dari kamar, lalu menyalakan TV dengan remot. Berita kebakaran sebuah rumah mewah yang sama sekali tidak asing di matanya. Bahkan tangis seorang wanita yang nyaris menjadi ibu mertuanya pun mulai mengisi pendengaran. “Istriku Sayang,” kata Ahan yang sebenarnya meledek. “Gimana, hadiah pernikahan dariku bagus nggak?” Ahan duduk di samping Dara, wajahnya sangat senang dan antusias. Dia menunggu datangnya pujian. “Ini ulahmu?” tanya Dara. Ahan berbaring, menyangga kepalanya dengan satu tangan dan menghadap Dara. “Aih, ini bukan ulah. Ini hanya permainan kecil Dara. Santai sajalah.” “Tapi kamu dengar tadi, ada dua korban. Ada yang mati Kak,” ucap Dara yang masih syok dengan permaianan yang Ahan maksud. “Tenang, manusia hidup itu memang untuk mati. Kapan lagi bersenang-senang begini? ART dan nenek tua yang dimaksud juga sudah diurus sama keluarga Maxim. Biar mereka yang bertanggung jawab. Santai, ini sama kan? Kamu juga ada di sini hampir mati memangnya Maxim peduli, nggak kan?” Ahan masih berbaring senang dan tersenyum. “Oke, nggak akan aku ulangi. Bisa diatur,” ucapnya remeh. “Ini permainan yang dia maksud? Sebenarnya dia ini benar-benar sangat berkuasa? Kejadian seperti ini terjadi dalam waktu singkat tidak bisa dilakukan oleh amatiran. Pastinya dia membayar mahal ahli yang melakukan pekerjaan tadi. Ahan, sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu sangat suka melihat penderitaan orang lain?” pikir Dara yang merasa senang tapi cemas juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN