Bab 5. Malam Pertama
Tiga bulan telah berlalu semenjak kecelakaan itu. Perban yang membungkus wajah Andara pagi ini telah dibuka, gadis yang gagal menikah itu terkejut melihat wajahnya yang justru semakin cantik setelah mendapatkan perawatan dari Dokter yang rutin mengoleskan salep di wajahnya. Bahkan sedikit saja bekas luka di wajahnya tidak ada.
“Wah ... ini beneran mukaku? Berapa bulan nggak pakai skin care, tapi bisa mulus begini, sama sekali nggak ada bekasnya. Edy, salep seperti apa yang Dokter olesin?” tanya Andara dengan antusias.
“Em... salep ini Bos yang belikan. Di kirim langsung dari China sana. Nyonya harus bersyukur meski kalian menikah tanpa saling mengenal tapi Bos selalu memberikan yang terbaik buat Nyonya.” Edy menjelaskan.
“Lalu ke mana dia sekarang? Apa pekerjaannya di China belum selesai? Edy, kalau boleh tahu sebenarnya apa pekerjaan dia? Kenapa dalam biografi yang kamu kasih total kekayaannya sangat besar?”
Edy melonggarkan sedikit dasinya, dia sudah berjanji pada Ahan untuk tidak menceritakan sebenarnya tentang siapa Ahan dan keluarganya. Andara hanya perlu tahu jika Ahan kaya raya.
“Ya bisnis, dagang dan tani. Tapi tanahnya luas, kakek dan neneknya kaya, menikah dengan yang sama-sama kaya, lalu ayah dan ibunya juga, menikah dengan yang setara, jadi sekarang Bos Ahan juga terlahir kaya raya.”
Andara langsung lesu. “Kalau gitu dia juga diharuskan menikah dengan yang kaya raya? Aku nggak sekaya itu Edy. Apa... aku ini hanya dijadikan mainan?”
Edy diam sesaat dan tidak bisa menjawab. Alih-alih menjawabnya, Edy memilih untuk pergi menyeduh teh bunga telang. “Ini untuk Nyonya, kandungan antioksidan-nya bagus buat kesehatan mata dan kulit.”
Andara hanya berdiri menatap ke jendela luar. Kini dia berada di dalam kamar yang bernuansa abu-abu, kamar yang pada bagian atapnya mempunyai kaca akrilik tebal dan dijadikan kolam ikan, sebuah desain yang akan membuat penghuni kamar merasa seperti di alam liar.
Meski sekeliling ruangan tersebut hanyalah kaca, namun Andara bisa mengenalinya, itu adalah kaca anti peluru terbaik. Dari suara yang dihasilkan ketika diketuk saja Andara bisa mengenalinya. “Apa pekerjaannya sampai memasang kaca anti peluru di semua bagian kamar?”
“Rumah ini baru, semua furnitur-nya juga baru. Apa Ahan baru datang ke negara ini? kalau melihat dari caranya bicara dia tidak terlalu fasih bahasa indonesia.” Andara kembali mengingat bagaimana Ahan yang terdengar kaku ketika bicara dengannya.
***
Sementara itu di tempat lain, Ahan sedang menghadiri rapat dengan MB Group, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang makanan olahan dan sedang gencar mencari investor. Ahan datang sebagai investor pada siang hari itu.
Tampilan Ahan begitu memukau, dia tidak terlihat sama dengan usianya. Ahan terlihat seperti bujang berusia 28 tahun daripada terlihat seperti pria matang 34 tahun. Ahan mengenakan setelan jas serba hitam lengkap dengan jam tangan dan kaca mata hitamnya. Dia duduk dengan santai dan menyilangkan kaki. Mulutnya tidak berhenti mengunyah permen karet.
“Oh Tuan Zhou? Sudah lama kita tidak bertemu dan Anda masih saja kelihatan muda,” kata papa Max yaitu Joe.
“Kapan? Kita nggak pernah ketemu sebelumnya. Dulu itu ayah saya yang datang ke pertemuan ini. Sudahlah, jangan terlalu banyak basa-basi, langsung saja ke intinya. Kalian mau saya tanamkan modal lagi? Tapi dari apa yang saya lihat belum lama perusahaan kalian juga mendapatkan suntikan dana dari keluarga Rusli, tapi dari grafik penjualan dan pendapatan tetap saja, tidak ada kenaikan. Saya terus terang ragu untuk melakukan penanaman modal di sini.”
Deg!
Papa Joe langsung menutup mulutnya memicingkan mata dan menilai Ahan Zhou sebagai seseorang yang arogan. Seorang pemuda berlidah tajam dan tidak tahu sopan santun. Tapi apakah Ahan Zhou peduli? Tidak sama sekali, Ahan tetap tenang dan santai.
“Saya tidak mau menambahkan, sementara biarkan modal dari keluarga saya ada di dalam, saya tunggu perkembangan perusahaan kalian dan baru saya akan mempertimbangkan lagi. Oh ya, Tuan Joe, Anda sudah tua, sebaiknya biarkan anak Anda yang bekerja keras.”
Ahan berdiri dari duduknya dan melenggang santai dengan dua pengawal yang membawakan berkasnya. Papa Joe menatap punggung lebar itu berlalu dan dia mengepalkan tangannya geram.
“Anak muda sialan, mentang-mentang berasal dari keluarga kaya jadi begitu sikapnya.”
Asisten Papa Joe pun memberikan nasehat. “Tapi dia benar Pak, ini waktunya bagi Max untuk mengenal bisnis dan bekerja, bukan hanya terus main seperti itu di luar.”
“Aku sudah berusaha, kamu tahu itu tapi Max tidak bisa diandalkan. Dia selalu membuat kerugian dalam bisnis. Jika perusahaan dia yang pegang, maka aku akan gulung tikar.” Papa Joe menggerutu dan pergi membawa kemarahan dan pusing yang tidak terkira.
Istrinya baru saja meninggal, uang perusahaan beberapa sudah digunakan untuk menutup kerugian setelah rumahnya hangus terbakar. Asuransi yang diandalkan masih menuggu waktu untuk keluar dan semuanya melenceng dari perencanaan, karena itu dia sibuk mencari investor lagi untuk bisa menyuntik dana supaya perusahaan tetap bisa beroprasi.
***
Ahan datang dengan langkah lebar dan bersemangat. Di depam pintu ada Edy yang menyambut.
“Bos, perban di wajah Nyonya sudah dilepas. Dia sangat cantik Bos, dokter kecantikan yang Bos panggil itu sangat kompeten.”
“Hem, di mana dia sekarang?”
“Ada di kamar. Dia bertanya kenapa Bos tidak pulang-pulang.”
Ahan langsung tersenyum cerah. “Dia mencemaskan aku berarti? Ah, aku sudah melakukan banyak hal untuknya malam ini nggak salah kan jika aku menuntut sesuatu?”
Edy menggeleng dan berbisik. “Aroma theraphy yang Bos minta sudah saya tata di kamar tinggal nyalakan saja. Pengaruhnya akan terasa setelah 10 menit terhisap. Efeknya alami, tidak membuat demam.”
“Bagus,” kata Ahan mengangguk dan mengangkat sebelah alisnya.
Ahan membuka pintu perlahan dan melihat langsung wajah cantik Andara. Namun di dalam hati dia mengumpat pada sosok Max yang sudah tega menelantarkan dan menyakiti wanita secantik dan sebaik Andara.
“Kak Ahan, udah pulang?” sapa Andara yang malu, ini adalah kali pertama mereka saling bertatap mata dan ya, cara Ahan memandang menunjukkan betapa dia mengagumi wanita itu.
Ahan menggulung lengan baju dan menyalakan aromaterapi. “Iya, udah pulang. Aku mau mandi dulu ya.”
“Em!” Andara hanya mengangguk malu.
Di dalam kamar mandi Ahan mandi dan menghitung mundur efek Aromatherapy khusus yang telah Edy siapkan. Aromatherapy pembangkit gairah itu bahkan didatangkan langsung dari negara tirai bambu.
Andara mengusap tengkuknya, merasakan sesuatu yang menjalar semakin liar dalam diri. “Ah, kenapa rasanya aneh banget?”
Ahan keluar dari kamar mandi, rambutnya setengah basah, bulir air masih menghiasi bak permata yang indah di tubuhnya yang kekar. Enam kotak perut menambah gagah dan visual Ahan memang tergolong indah.
“Kak Ahan, aku pusing. Panas banget, ah gerah,” ucap Andara pelan dan tubuhnya berkata jujur seperti menginginkan sentuhan.
Ahan tersenyum miring. “Kita sudah menikah selama tiga bulan, dan aku belum mendapatkan hakku sebagai suami. Apa, malam ini kamu akan berbaik hati?”
“Ahan,” lirih Andara bersuara namun tangannya sudah bergerak lincah melingkar di leher Ahan.
“Kamu yang mengizinkan dan memulai Dara, aku akan menikmatinya,” kata Ahan yang memulai sesuatu yang memang sudah dinantikan dari semenjak mereka menikah tiga bulan lalu. Kalau Andara sudah sadar dan tahu dia begitu karena pengaruh sesuatu gimana ya?