"Kenapa aku ini? Kenapa aku, ah... dia, Ahan kenapa dia kelihatan seksi?"
"Apa ini karena dia baru mandi?"
Dara memandang teduh Ahan dengan kabut gairah di matanya yang begitu kentara.
Ahan mulai memainkan perannya sebagai suami yang baik. Ahan, tersenyum miring, sengaja memainkan jemarinya di atas pipi Andara, membelainya dengan lembut, dan penuh hasrat.
Ahan mendaratkan kecupan kecil dan singkat di pipi Andara. "Kamu kelihatan cantik sekali istriku."
"Kak, apa nggak sebaiknya kamu pakai baju dulu?" Andara menahan nafas ketika hangat hembusan nafas Ahan membelai lehernya.
Ahan mengulum senyumnya merasakan ledakan kegembiraan dalam dadanya. Ekspresi gugup Andara seperti camilan yang membuatnya ketagihan. Sorot mata Andara yang berlarian membuatnya ingin sekali berburu dan menyergapnya, mengungkung, dan membuatnya mendesah tak berkutik.
"Baju?" Ahan menaikkan sebelah alisnya. "Buat apa memakai baju? Apa fungsinya baju di saat seperti ini Dara?"
Ahan tersenyum miring sebelum jarinya membuka kancing piyama Andara. Satu persatu, pelan-pelan, lalu menggigit tali bra dan menurunkannya dengan sengaja menyentuh pundak Andara dengan bibirnya.
"Gila, Ahan Zhou ini sudah gila. Tapi kenapa aku suka? Aku inginkan lebih? Dia atau aku yang sebenarnya gila?" pikir Andara yang semakin kacau. Tubuh dan otaknya sudah tidak bisa bekerja sama lagi.
"Ahan...." Andara menahan nafasnya, menahan debaran jantung yang semakin tidak beraturan, menahan gelanyar aneh yang semakin liar.
"Apa ... jangan bohong, aku tahu kamu juga suka dan ingin." Ahan menggigit lembut daun telinga Andara. Dia senang sekali menguji dan membangkitkan gairah wanitanya.
"Andara Rusli, sudah ada tiga hal yang aku lakukan untuk membalaskan dendammu. Jadi malam ini aku ingin meminta pembayarannya darimu," bisik Ahan dengan suara rendahnya. Tangannya kini beralih, menelusup masuk melalui ujung piyama.
Andara langsung menarik jarak sepanjang lengan dan menatap penuh telisik kepada suaminya. "Tiga hal apa Ahan? Baru dua. Membakar dan hilangnya satu anggota keluarga Max. Apa lagi yang satunya?"
"Satunya? Tadi, barusan aku menggagalkan penanaman modal pada MB Grup. Itu cukup untuk membuat Tuan Joe tidak akan bisa tidur satu Minggu ini dan Maxim, mantan tunanganmu itu tidak akan mendapatkan uang jajan. Bukankah itu sebuah prestasi? Seharusnya aku mendapatkan reward bukan?"
Andara baru saja akan menjawabnya, tapi Ahan sudah mengambil tindakan cepat. Ahan meraup bibir Andara dengan lahap. Dia menghisap dan melumatnya, nafas yang memburu pun tidak menjadi kendala.
Awalnya Andara sempat ingin menghindar. Namun Ahan sudah terlalu pintar untuk membaca situasi dan mengendalikan. Ahan justru menekan semakin dalam pagutan mereka.
Hingga, pada akhirnya karena pengaruh aromaterapi, Andara pun menerimanya. Membalasnya dan bertukar saliva.
"Ahan...." sela Andara diantara pagutan mereka.
"Kenapa? Nggak tahan?" ejeknya nakal.
"Memangnya keliatan banget di mukaku kalau aku ingin? Tapi ini yang pertama kalinya. Aku sama sekali nggak ada pengalaman. Apa aku bisa?" batin Andara gugup.
Andara menggeleng cepat, wajahnya sudah memerah dan demi menutupi gengsinya, dia justru kembali mencium Ahan dengan penuh semangat.
Permainan di mulai, Ahan benar-benar memanjakan Andara, membuat gadis itu merasa terbang ke angkasa. Entah sudah berapa kali bibir ranum Andara mendesah kecil yang jelas Ahan sangat menyukainya.
Kulit yang putih mulus itu memanjakan mata, seolah tak pernah memiliki luka. Bekas luka di sekujur tubuh Andara menghilang, lenyap seperti bukti sejarah yang dibelokkan, sama sekali tak berjejak.
Gelora semakin membara membuat Ahan tidak tahan lagi untuk menunjukan keperkasaannya. Dihempaskan tubuh Andara di atas kasur yang empuk. Kungkungan Ahan begitu kokoh, dan baru saja miliknya memasuki sesuatu yang hangat, Andara menjerit kesakitan.
"Aduh! Nggak nggak usah, ampun sakit Ahan!" Andara menggeleng, menangis, merintih di bawah kungkungan suaminya.
"Nggak bisa berhenti, kamu udah mendesah dan aku belum," protes Ahan dengan alis yang meliuk tak terima. Dia belum melakukan pelepasan.
Andara terus menangis sambil menggeleng. "Udah cukup, lain kali aja. Ini sakit banget. Tolong jangan begini," rengeknya memohon.
Ahan tidak menyerah, dia justru merasakan ledakan gairah setelah tahu dia yang pertama untuk Andara. "Aku tamu istimewanya, aku yang pertama dan dia ingin aku berhenti di tengah jalan? Oh ayolah Sayang, mari kita lanjutkan."
"Pelan-pelan," kata Ahan.
Ahan memang menghentak pelan, maju mundur dengan sangat perlahan. Namun setiap hentakan terasa seperti sayatan yang pedih dan panas bagi Andara.
"Ahan stop! Kamu mau aku mati?" sentak Andara pada Tuan muda mafia tersebut.
Agan pun langsung kehilangan selera. Dia bergegas bangun, memakai bathrobe dan membawa rokoknya keluar kamar. Suara gebrakan pintu yang ditutup kasar menjadi penutup malam pertama mereka.
Andara masih menangis ketika Ahan keluar dari kamar. "Apanya yang enak? Kenapa Max dan Runa bisa melakukannya di kamarku dan kelihatan menikmati? Tapi aku? Oh Tuhan rasanya seperti mau mati."
Andara berdiri dan melihat bercak darah di selimut. "Darah? Astaga, pantas saja sakit banget. Apa aku normal? atau ada kelainan?"
Sementara itu Edy yang tengah bersantai malam, menelpon kekasihnya dibuat terkejut dengan deburan air yang besar. Agan dengan gilanya melompat dari balkon lantai dua.
Byurr!!
Sontak Edy yang duduk di kursi berjemur pun jadi basah kuyup.
"Haish sialan! Siapa yang berani-be...." Edy belum selesai dan dia mendelik melihat bosnya yang berenang di jam 22 malam.
"Bos, kenapa berenang? Bukannya seharusnya ic-lik di kamar sama istri?" tanya Edy yang segera mengikuti Ahan berenang ke tepian.
"Diam! nggak usah ngomong atau aku potong gajimu!" sentak Ahan kesal.
"Tapi Bos, apa aromaterapi itu nggak manjur atau apa? Apa ada masalah?" Edy khawatir.
Ahan masih berendam mendinginkan dirinya sendiri. Dia sangat marah dengan penolakan Andara tadi. Tapi, hati kecilnya sangat senang mengetahui fakta bahwa dirinya adalah yang pertama.
Sejauh ini Ahan tidak pernah merasakan memecahkan selaput dara. Ahan memang memiliki mantan kekasih, tetapi bersama Ahan pun miliknya sudah pecah berantakan entah dengan siapa dan Ahan tidak mau mempertanyakan itu.
"Apa kamu melakukan itu dengan pacarmu?" Agan bertanya serius.
"I... iya. Kenapa Bos?"
"Apa pertama kali bagi wanita sangat sakit?"
Edy lalu tertawa terbahak-bahak. "Oh itu? Pertama kali dengan calon istriku ini aku kena tampar. Aku dimaki. Hahaha, tapi aku senang, aku yang pertama."
"Oh." Ahan kembali berenang.
Sementara di kamarnya, Andara juga mandi air dingin untuk mengusir sisa gelora. Lalu setengah jam dari kejadian itu Ahan kembali ke kamar. Dia hanya berdiri mematung ketika berhadapan dengan Andara.
Andara juga disergap perasaan gugup dan bersalah karena gagal memuaskan suaminya. Mereka lalu duduk bersama di ranjang tanpa sepatah kata.
Hingga ....
"Lain kali kita coba lagi ya?" Andara mulai memberanikan diri untuk bicara.
Ahan hanya diam, sama sekali tidak berucap dan ekspresi wajahnya tidak terbaca. Situasinya kaku dan menegangkan. Andara sejujurnya merasa tidak enak hati.
"Aku... ini yang pertama Kak Ahan dan tadi itu sakit banget. Kenapa milikmu sebesar itu? Apa itu normal? Ah, aku besok mau pergi ke Dokter kulit dan kelamin. Aku mau periksa, aku takut infeksi." Andara mengatakannya dengan polos.
Ahan yang semula diam mendadak ingin tertawa terbahak-bahak. "Hei! Kenapa harus ke Dokter kelamin karena takut infeksi, kamu pikir ini pasak bumi? Ini bukan besi ya Dara, aman. Kamu nggak akan kena tetanus!"
"Heh! Tapi tadi keras dan sakit banget. Gimana bisa sesuatu yang nggak bertulang jadi sekeras itu?"
"Heh, namanya juga pusat otot pria. Kalau terangsang ya akan bangkit dan tegak dengan sendirinya! Memangnya kamu nggak pernah mencari tahu atau mencobanya?" tanya Ahan penasaran.
Andara menggeleng pelan. "Aku selalu takut melakukannya. Max dulu pernah merengek tapi aku menolak."
"Dan dia pindah ke ranjang sahabatmu? Tapi itu lebih baik, setidaknya dengan begitu jadi aku yang pertama melakukannya sama kamu." Ahan mulai berbaring.
"Sudahlah, sekarang tidur." Ahan mematikan lampu kamar.
"Dia sebenarnya senang apa marah? kenapa ambigu begini?
Bersambung ....