7 Pelayanan Istri

1346 Kata
Meski semalam sempat bertengkar kecil, meski apa yang Ahan inginkan gagal terlaksana, namun ... pagi ini mereka tetap terbangun di bawah satu selimut yang sama. Ahan Zhou, adalah seseorang yang misterius bagi Andara. Ahan seperti memilik banyak wajah dalam satu raga. Ahan memiliki kuasa yang tak tersentuh dan tak terbaca olehnya. Harum aroma shampo yang Ahan pakai semalam kini memanjakan Indera penciuman Andara. Kicau burung dan ikan yang berenang di kolam tepat di atas kepala menghiasi langit-langit kamar menambah syahdu suasana. Ahan, dia tetap berada dalam posisi nyamannya. Menggunakan d**a Andara sebagai bantal ternyaman. "Kak Ahan, bangun. Udah pagi ini," ucap Andara sembari memencet remot tirai, membuatnya terbuka lebar dan menampilkan taman belakang yang dibentuk seperti area hijau terbuka yang asri. "Bisa nggak kamu nggak usah berisik Dara. Ini waktuku bersantai, waktuku istirahat di rumah." Ahan menjawabnya tanpa membuka mata, tanpa mendongakkan kepala. Ahan, dia terus bertahan di atas d**a, mendengarkan suara detak jantung Andara seperti irama nada yang terindah di dunia. Tangannya, sudah bergerak lembut mengusap pinggang Andara. Jangan ditanya apakah tangan itu masih sopan atau sudah lancang. Jawabannya sudah lancang karena tangan itu menelusup masuk tanpa permisi ke area segi tiga. "Kamu mau apa?" sentak Andara kaget ketika jari itu mulai menyentuh miliknya. "Pegang aja, apa pegang juga nggak boleh? Ingat semalam kamu udah menyiksa suamimu ini. Aku terpaksa berenang di kolam demi menyingkirkan pikiran kotor itu," aku Ahan jujur bercampur kesal. "Siapa yang suruh," cicit Andara pelan namun terdengar jelas di telinga Ahan hingga membuatnya bergerak cepat membuka baju Andara. "Oke, pagi ini jangan coba untuk menghentikan aku." Ahan segera bangkit, menjilat sesuatu yang sintal. "Stop!" sergah Andara namun gagal. Andara sudah ketakutan, mengira Ahan akan melakukannya dengan kasar. Beberapa kali dia sempat memukul punggung Ahan namun sama sekali tidak ber-efek. Ahan tetap saja menyesap setiap bagian yang diinginkannya. "Kamu sebenarnya juga mau kan?" kata Ahan dengan nafas yang memburu. Kini tangannya mengunci kedua tangan Andara di atas kepala, menatap istrinya dengan tajam dan penuh gairah. "Tapi aku belum bisa, aku belum siap." Andara menolaknya lagi. Ahan memulai aksinya, memainkan bibir di atas kulit putih mulus Andara dan meninggalkan jejak kemerahan di sana seperti kelopak bunga mawar yang berguguran. Satu? tentu tidak, ada banyak karya yang Ahan tinggalkan dari leher sampai d**a semuanya ada. Hingga bibir Andara melenguh kecil barulah Ahan berhenti. Itupun karena sebuah panggilan dari Edy. "Kak Ahan, ponselmu. Ponselmu bunyi," kata Andara dengan gugup, tangannya menepuk-nepuk bahu Ahan. "Hais! Berisik siapa yang berani mengganggu?" sentaknya kesal dan melihat ponsel. Setelah itu, Ahan langsung bangkit dan memakai bajunya. Dia pergi dengan terburu-buru tanpa banyak bicara dan sejujurnya itu membuat Andara bingung. Kenapa? Ada apa? Dia membiarkan Andara seperti Awan yang menggantung di udara. Tanpa kejelasan sikap dan tanpa keterangan akan berbuat apa selanjutnya. *** Dan di luar, Edy sudah menunggu dengan cemas. Dia berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Sepertinya ada sesuatu yang genting terjadi. "Ada apa?" "Nenek, nenek drop Bos. Dia mau Bos menuruti keinginan terakhirnya" Ahan menjentikkan jarinya, menginginkan sebatang rokok untuk membuang stres. Pagi itu, masih dengan bertelanjang d**a dan rambut yang berantakan, Ahan kembali dibuat emosi dengan keinginan neneknya yang tidak lain adalah sebuah perjodohan. Dari balkok kamarnya, Andara melihat interaksi antara Ahan dan Edy dari balik tirai samar. "Dia sebenarnya tampan, hanya saja mukanya kelihatan premanable banget. Tapi ... kenapa aku mulai menyukainya?" gumam Andara sendirian. "Keinginan terakhir nenek? Aku bisa menebaknya Edy, itu pasti perjodohan. Oh Tuhan, apa dia tidak lelah terus memaksaku?" Edy dengan cemas menyampaikan, "Jalan satu-satunya untuk menghindari semua tekanan nenek adalah cicit. Dia mau cicit, kali ini tidak ada syarat harus laki-laki. Perempuan juga tidak apa-apa, aku sudah mendengar itu dari pembantu di rumah bukit." Ahan menghisap rokoknya, mengepulkan asap putih ke udara. "Apa harus secepatnya?" "Ya, kalau Bos mau dia diam. Bos tahu nenek seperti apa kan? Juga mamanua Bos pun sama. Kalau wanita itu bukan pilihan mereka kemungkinan besar mereka akan ...." "Ahan menyingkirkan dengan cara sadis?" tebak Ahan dan Edy menunduk sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Tapi kalau kita datang dengan membawa ibu Bos dalam keadaan hamil, mungkin akan lain ceritanya. Ibu Bos juga kaya, ya... walaupun nggak sekaya keluarga Zhou." Ahan langsung mendongak, dan melihat ke jendela kamarnya yang besar dan semuanya kaca anti peluru. Andara lupa, meski dia berdiri di balik tirai smokey, namun dari bagian samping Ahan masih bisa melihat kakinya yang jenjang, masih dengan memakai piyama tanpa memakai celana. "Dia, dia jalan keluarku. Ya," kata Ahan penuh dengan optimisme dan menuding ke arah Andara masih dengan batang rokok yang terapit jari. Di dalam kamar, Andara langsung merasa gugup ketika pandangannya bertemu dengan netra Ahan, pria bertubuh kekar dengan gaya potongan rambut under cut. Sorot matanya terlihat tajam meski memiliki jarak yang jauh. "Apa, apa ada masalah? Kenapa dia melihatku begitu?" Andara mendadak gugup, jantungnya berdegup kencang dan dia kebingungan sendiri di dalam kamar. Tidak lama Ahan masuk, dan tanpa bicara dia langsung menyergap tubuh Andara membuatnya yang gugup jatuh ke kasur. "Layani aku sekarang, aku membutuhkannya." "Tapi sakit," kata Andara. "Pelan, kali ini pelan. Pelan-pelan banget," janji Ahan yang terdengar seperti pemanis buatan. Kali ini Ahan benar-benar tidak terkendali. Meski Andara menangis dan meronta, tetap saja dia tidak terlepas dari cengkraman Ahan. Piyama yang dikenakannya pun sampai robek dan meski punggung Ahan memiliki banyak cakaran, bibir digigit oleh istrinya, Ahan tidak peduli dan tidak berhenti. Ahan terus menghentak merasakan tubuh Andara yang membuatnya semakin b*******h. "Serapat ini? Ini sangat hangat," kata hati Ahan yang mulai kecanduan dengan pelayanan istri. Desahan & decitan kaki ranjang sama sekali tidak membuat Ahan berhenti. Meski setengah dari yang dirasakan Andara adalah rasa sakit. Namun, mendekati waktu akhir permainan, tubuhnya mulai menggelinjang, bibirnya melenguh kecil dan cengkraman di leher Ahan semakin kuat. "Ahan Zhou...." Dia mendesah tanpa sengaja, tanpa bisa dikendalikan. Ahan tersenyum senang, dia masih sempat berbisik, "Suka?" Andara menggigit bibirnya sendiri, mengutuknya yang telah melenguh menyebut nama suami kontraknya itu. Lancang sekali bibirnya berbuat jujur tanpa persetujuan pemilik tubuh. "Giliranku," kata Ahan yang kembali memulai hentakan, semakin keras dan cepat hentakan hingga bibir tuan muda itu mengerang nikmat. Setelahnya, Ahan ambruk, lemas, dan menindih tubuh Andara yang polos tanpa sehelai benang. "Ini baru reward yang pertama. Aku rasa Kamu juga mulai menikmatinya." "Sialan, tapi sakit," keluh Andara memukul pelan lengan Ahan dan suaminya itu hanya tersenyum senang. *** Tiga puluh menit kemudian. Di dalam kamar mandi Andara kembali menangis ketika air hangat membasuh miliknya. "Ahan sialan, kenapa sebesar itu? Ini sakit." Ahan menunggu, berdiri di dekat pintu kamar mandi. "Cepatlah, aku takut kamu pingsan." "Apa kita harus ke dokter spesialis kulit dan kelamin?" celetuk Ahan bercanda dan Andara menatapnya sinis. "Ah sakit," rintihnya sambil berjalan tertatih dan kedua paha yang mengempit. "Ini bukan kesalahan milikku ya, ini salah milikmu yang kegedean." Ahan hanya tertawa secara cepat membopong Andara karena tidak sabar. Andara terlalu lama berjalannya. "Hahaha, ini warisan Andara Rusli, harusnya kamu senang dong. Nggak semua laki-laki punya yang sebesar milikku. Ini alami, tanpa operasi. Gimana sodokannya mantap kan?" candanya sambil cengengesan. Andara yang kesal sekaligus malu pun menjewer telinga Ahan. "Mulutmu itu asal banget." "Aku ngomong jujur Dara. Punyamu saja yang terlalu imut." Ahan mulai asal bicara. Tapi kali ini soal keimutan sebenarnya dia sangat suka. Andara malu, dia tersipu dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ahan. "Aku perawatan itu sebenarnya karena sebelumnya aku dan Max mau menikah. Aku pikir akan memberikan kejutan untuknya di malam pertama. Tapi ...." "Tapi aku yang memakainya, hahahaha!" Ahan tertawa senang dan bangga karena dia yang pertama. Ahan meletakkan Andara di ranjang, dia merapikan anak rambut Andara dan mengecup bibirnya sekilas. "Setelah ini nggak akan sakit. Aku harus bekerja, satu Minggu ini aku nggak pulang. Kamu jaga diri di rumah. Jangan bermimpi untuk keluar dari rumah ini tanpa aku." "Kamu ngurung aku?" Suara Andara meninggi. "Ini demi kebaikanmu. Aku yakin setelah aku membekukan semua rekeningmu, Max dan Runa akan mencari mu." Andara menatap sejenak Ahan, lalu entah mengapa dia merasa percaya sepenuhnya dengan pria yang telah menikmati keperawanannya itu. Andara memeluknya erat. "Dia benar-benar ingin melindungi ku. Aku cukup melayaninya dengan baik dan dia yang akan menjadi kaki tanganku untuk balas dendam."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN