Andara, wanita yang telah gagal menikah dan baru saja akan dilenyapkan dari dunia ini berdiri mengamati tubuhnya di depan cermin. Pantulan dirinya membuat hatinya tercubit sakit mengingat malam kejadian dimana dirinya mengalami kecelakaan. Dia pikir sebelumnya, jika meredam batalnya pernikahan dengan Max dan tidak mempublikasikan penyebab batalnya pernikahan, dirinya bisa menyelamatkan nama baik berbagai pihak.
Namun, ternyata kebaikan Andara justru menjadi Boomerang. Kebaikan itu berbuah kejahatan. Sahabatnya sendiri yang sudah lama tinggal bersamanya ternyata menusuk dari belakang. Bukan hanya ingin memiliki rumah dan segala isinya, tapi juga ingin memiliki Maxim secara utuh.
"Aku salah, aku udah terlalu baik sama Runa. b******k! Mulai sekarang kamu akan merasakan pembalasanku Runa. Ah tapi Ahan lagi nggak ada. Apa aku harus merengek dan memintanya melakukan sesuatu?" Andara bermonolog di depan cermin.
Baru saja dia memikirkan rencana balas dendam, ponselnya sudah bergetar. Panggilan masuk dari Ahan membuatnya berbinar.
"Oh, dia. Kayaknya kita udah punya ikatan batin deh, secepat ini? padahal aku baru berencana dan dia udah menghubungi aku duluan," gumam Andara.
"Iya halo," sapanya pelan.
"Halo istriku, bagaimana harimu tanpa aku?" tanya Ahan yang sedari tadi wajahnya selalu sumringah sampai-sampai Edy terheran. Tidak pernah sebelumnya Ahan secerah ini.
"Kak Ahan, kita baru berpisah dua jam. Masih kurang 6 hari lagi. Apa, kamu udah kangen?" cicit Andara yang sengaja berbicara dengan nada mendayu untuk menggoda Ahan.
"Kamu mulai pintar bicara ya Dara. Katakan kamu mau bermain apa? Dari caramu bicara kamu lagi bosan," tebak Ahan yang membuat Andara sampai menutup mulutnya heran.
"Wah, dia ini apa cenayang? Apa dukun? Kok bisa tahu kalau aku ingin sesuatu?" batin Andara.
"Em... aku tahu Runa suka banget belanja, kamu bisa melakukan sesuatu dengan tabungan pribadinya? Mungkin sedikit membuatnya malu di publik akan menghiburku," kata Andara yang terdengar sangat provokatif.
Ahan, dia mengangguk senang. Dia memang sangat menyukai permainan yang melibatkan kesialan seseorang. Melihat air mata orang lain memberikan kepuasan tersendiri baginya. Ini adalah satu sisi misterius yang belum Andara pahami apa penyebabnya.
"Baiklah, apa sih yang nggak buat istriku?" balasnya santai namun Andara tersenyum senang di ujung panggilan.
"Terima kasih banyak sebelumnya Kak Ahan," jawab Andara senang.
"Enam hari lagi, saat aku pulang, kamu harus udah punya panggilan sayang buatku. Kita ini suami istri, panggilanku saja selalu istimewa buat kamu Istriku," ucapnya penuh dengan tuntutan.
Andara hanya mengangguk, kedua pipinya merona. "Em, akan aku pikirkan."
"Hari ini Dokter spesialis kulit dan kelamin akan datang ke rumah. Aku sengaja pergi biar kamu leluasa melakukan pemeriksaan dan konsultasi. Oh ya, satu lagi. Aku sudah merekrut satu orang untuk menjadi asisten pribadi, atau apalah sebagai pembantumu."
Meski Andara merasa berlebihan. Namun dia tahu dia tidak akan bisa menolak keinginan Ahan. Dari bekas luka yang menghilang tanpa jejak saja dia tahu kalau Ahan bukan orang sembarangan. Tidak mungkin bila hanya kalangan biasa akan sanggup membelikan sebuah salep, herbal asli dari tanah dataran Cina Selatan?
Andara sampai mengeceknya, mencari tahu informasi tentang salep ajaib dari tanah Cina itu. Matanya dibuat terbelalak ketika melihat harganya. Lima puluh lima juta untuk satu salep, Dan selama dia terluka entah sudah berapa tube salep yang dihabiskan.
Siang hari Dokter SpKK datang bersama seorang wanita yang memakai seragam pelayan berwarna coklat muda.
"Selamat siang Bu, saya Adel, saya adalah orang yang ditugaskan oleh Pak Ahan untuk menemani Ibu," kata Adek dengan sopan.
"Iya, suami saya udah nelpon kok tadi barusan." Andara menjawabnya dengan canggung. Dia memang kaya, tapi soal asisten pribadi seperti ini, ini adalah pertama kalinya.
"Saya, adalah Dokter Kalista, saya yang akan memeriksa Ibu. Pak Ahan sudah menceritakan semuanya tentang kegiatan malam kalian, jadi Ibu tidak perlu sungkan. Katakan saja semua yang Ibu rasakan," kata Dokter Kalista.
Andara hanya bisa menunduk dan mengepalkan tangan menahan malu. Ini adalah peristiwa memalukan yang dialaminya pertama kali.
"Suami Ibu minta saya untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Karena beliau bilang Ibu malu jika harus ke Rumah sakit, maka dengan spesial saya akan memeriksa di sini," ujar Dokter Kalista dan Andara sampai tidak bisa berkata-kata.
"Ahan... sekaya apa kamu sampai bisa mengundang Dokter spesialis datang ke rumah dan membawa banyak peralatan seperti ini?"
Andara menahan malu ketika Dokter Kalista melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada tubuh dan organ vitalnya. Wajahnya sampai memerah. Nafasnya yang memburu pun ditahannya.
Setelah semua pemeriksaan selesai, Adel membantu memakaikan bajunya.
"Aku bisa pakai sendiri Adel," sergah Andara yang merasa risih jika memakai baju saja harus di bantu sementara di sekujur tubuhnya masih terlihat jelas jejak kemerahan sisa perbuatan Ahan Zhou semalam.
"Maaf, tapi ini perintah Bapak Bu, saya haru cekatan dan peka untuk melyani Ibu," papar Adel yang mencoba untuk bekerja secara profesional.
Andara hanya bisa pasrah, dia mendesah pasrah dan membiarkan Adek melayaninya bahkan untuk sandal pun disiapkannya. "Ini Bu sandalnya."
Hari itu Andara merasa dirinya dilayani seperti seorang ratu. Sebelumnya dia hanya tahu sibuk bekerja, membanting tulang meneruskan bisnis keluarga, menabung sebanyak mungkin untuk pernikahan yang diimpikan. Namun semua itu hilang setelah direnggut oleh pengkhianatan.
***
Sementara itu di sebuah tempat perbelanjaan. Runa sedang sibuk menghubungi Maxim namun tidak diangkat. Runa sedang melakukan transaksi pembayaran, namun pelayan toko mengatakn saldo Runa adalah nol rupiah.
"Mana mungkin bisa sampai nol rupiah? Saya bulan ini belum belanja ya," ucapnya bersungut-sungut.
"Lah, mana saya tahu Mbak. Tapi dicoba dari tadi pun saldonya kosong." Pelayan masih menjawab dengan sopan.
Raut wajah Rina terlihat merah padam, campuran antara malu dan marah. Dia ingat benar kalau dia belum berbelanja banyak bulan ini, lantas mengapa saldonya bisa kosong? Padahal sehari setelah Andara mengusirnya, Maxim memberikan uang sebesar 200 juta kepadanya.
"Ah, paling kamu pindah ke rekening pribadimu ya!" tuduhnya pada pelayan toko yang menjual pakaian bermerek.
"Loh, Mbak kok nuduh saya begitu? Saya ini jujur Mbak. Nggak ada cara seperti itu? Mbak bisa cek mutasi M-banking saya," sahut pelayan toko yang tak mau disalahkan.
Mereka ribut slaing tuding dan baru berhenti setelah menejer datang menengahi dan membela karyawannya, memang dari mutasi pun terlihat kartu Runa belum berhasil melakukan pembayaran ke rekening manapun. Itu artinya sama sekali tidak ada transaksi dari outlet tersebut.
"Maaf begini saja, di sini karyawan saya nggak salah. Mbak bisa keluar dan membatalkan pembelian, tidak apa-apa, kami yang urus. Dan sebaiknya Mbak segera urus ini ke Bank," ujar Sang Menejer yang membela karyawannya.
"Huh sialan!" umpat Runa yang malu setengah mati. Ada banyak orang yang mencibirnya.
"Maxim, kenapa kamu nggak bisa dihubungi sih?" Runa mendengus kesal, keluar meninggalkan mall.
Malam harinya di kediaman Maxim yang belum selesai diperbaiki, di sebuah rumah bergaya minimalis. Maxim rupanya tengah sakit karena memikirkan dunianya yang justru runtuh setelah kematian Andara.
Runa dia datang, ingin merengek seperti biasa dan berharap Maxim akan belaku lembut dan memanjakannya, menuruti semua keinginannya. Namun tidak kali ini.
Lima belas menit sebelum Rina datang.
"Mama udah bilang, udahlah sama Andara aja, udah jelas siapa dia, udah jelas kaya. Kenapa kamu malah selingkuh sama Runa? Akhirnya Andara membatalkan pernikahan, membatalkan kerja sama dengan perusahaan papamu. Sekarang kita jadi begini kan Max, kita jadi gembel!" Mama Mariana mulai mengomeli putranya yang dinilai dungu.
"Ma, aku begini juga karena hasutan Runa. Aku kemakan omongannya Ma." Maxim menyalahkan Runa seolah semua kesalahan hanya berporos pada Runa.
Mama Mariana tidak sebodoh itu dalam mengenali putranya. "Max, ini semua karena kebodohanmu yang nggak bisa menahan nafsu, sama seperti papamu! Otak kalian isinya hanya s**********n aja. Apa nggak bisa lebih jernih sedikit mikirnya? Kalau udah kayak gini mau gimana? Nggak ada yang mau bantu perusahaan kita!"
"Runa, apa lebihnya anak itu selain dia mau ngangkang buat kamu hah? Apa lebihnya? Nggak ada Max, dia bisanya cuman minta duit terus!" ujar mama Mariana dengan sarkastik.
Tak lama Runa datang, suasanya tegang masih melingkupi ruang tengah yang berantakan. Maxim, dia duduk dengan plester penurun panas yang melekat di dahinya. Runa langsung menunjukkan kecemasan pada awalnya.
"Sayang kamu sakit? Kenapa nggak ngabarin?"
Maxim yang baru saja berdebat dengan mamanya semakin bertambah pusing dengan kehadiran Runa. Mama Mariana yang masih berdiri di dekta putranya itu hanya bisa menahan amarah.
"Max sakit apa Tante?" tanya Runa.
Mama Mariana tidak menjawab dan langsung pergi begitu saja dengan rahang yang mengeras.
"Sayang, kamu tahu aku tadi belanja dan nggak bisa bayar. Mau urus ini tapi Bank tutup, ini hari Minggu. Masa kata mereka saldoku nol, nggak mungkin banget kan?"
"Mama bener, Runa ini selain urusan uang Dia nggak peduli sama aku. Dia mau sama aku juga karena uang, dia menghasutku untuk membuat Andara mati juga karena uang, karena dia mau memiliki semua harta Andara. Kenapa aku baru sadar?" pikir Maxim.