Ariekhsa menggenggam tangan wanita itu dengan erat. Keinginan untuk mengutarakan perasaannya semakin kuat. Dia mengecup punggung tangan wanita itu dengan gerakan yang sangat ringan. Dia memberikan senyuman kecil pada wanita itu. Sementara, wanita yang sedang ia genggam tangannya hanya bisa tersenyum malu-malu. "Ada apa?" tanyanya pelan dan lembut. "Kamu cantik." Ini kali pertama Ariekhsa dengan berani dan lantang memuji lawan jenisnya 'cantik'. Sama seperti wanita yang ada di hadapannya, Ariekhsa juga merasakan pipinya memerah malu. "Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kamu." "Apa?" "Aku mencintai kamu." Ariekhsa menatap wanita itu dengan intens. "Bagaimana?" Tolong, dia sangat buruk saat mengajak wanita ini berkencan, dan dia kembali memalukan dirinya sendiri ketika mengajak w

