Vania merasakan matanya begitu berat untuk dibuka. Ditambah lagi dengan posisi yang begitu nyaman, membuatnya semakin betah memejamkan mata. Tiba-tiba, banyangan yang tampak sangat nyata itu kembali muncul ke otak Vania. "Saya bisa makan itu. Rasanya tidak seburuk yang kamu bilang." "Loh..kenapa? Anda harus makan banyak!" Vania. "Saya sudah kenyang. Nanti kalau dipaksain bisa muntah, Vania." Andrea. "Nggak enak ya? Bikin enek banget? Maaf ya, Dok!" Vania. Andrea tersenyum tipis sembari menggeleng. "Bisa bantu saya ambilkan obat di kotak P3K?" Andrea. Vania mengangguk. Ia membawa nampan berisi mangkuk bubur yang belum kosong itu ke dapur sekalian mengambil obat yang Andrea perintahkan. Setelah itu, Vania membantu Andrea meminum obat. "Anda istirahat saja, Dok biar cepat sembuh!" suru

