Rinjani menunggu di ruang tunggu bandara yang penuh dengan orang yang sedang menunggu jadwal keberangkatan pesawat. Sebaliknya, Rinjani bahkan tidak ingin waktu berjalan maju. Papa duduk disampingnya, merangkul bahunya erat. Kepalanya sedikit pusing karena sebenarnya kondisinya masih belum stabil. Tapi, keadaan yang memaksa Rinjani untuk pergi. Sekalipun kesempatan yang waktu berikan untuk bersama orang-orang yang ia sayangi masih kurang, tapi Rinjani harus merasa cukup. Ia menatap satu persatu wajah dari setiap orang yang berlalu lalang didepannya. Dari sekian banyak orang, Rinjani hanya mengarapkan satu; hanya Juna. Perempuan itu menatap lembaran tiket pesawat yang mengingatkannya; kalau ia benar-benar akan pergi. Untuk waktu yang lama, mungkin? Panggilan yang ditujukan kepada seluru

