Xena tiada henti mengagumi pekerjaan shaman. Padahal sedari dulu, Xena selalu menganggap shaman adalah sekumpulan manusia kurang kerjaan yang dibayar dengan upah seadanya. Namun, siapa yang menyangka bahwa pemikirannya itu salah besar.
Pendapatan Zenon bahkan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan para selebritis pendatang baru yang kurang terkenal.
“Master Dominic! Akhirnya kamu pulang!” teriakan lengking dari seorang wanita membuat pikiran Xena menjadi buyar dan segera menoleh ke sumber suara.
Dari luar mobil, terlihat seorang gadis yang masih lumayan muda dengan rambut yang dikepang dua tengah melambai cepat ke arah Zenon dari halaman rumahnya.
“Mia! Bagaimana kabarmu? Apakah masih suka salah menuliskan rune?” balas Zenon dengan teriakan pula.
“Jangan meremehkanku! Sekarang aku sudah pandai melakukan ritual pengusiran hantu. Aku bahkan bisa menghancurkan hantu tingkat 4 jika memang ingin!”
“Jangan kebanyakan bermimpi! Bocah kecil sepertimu mungkin akan merengek apabila melihat roh tingkat 4!” seru Zenon seraya tertawa renyah. Dari penglihatan Xena, sepertinya hubungan Zenon dengan gadis bernama Mia ini cukup bagus sehingga mereka saling berteriak satu sama lain.
“Ngomong – ngomong, siapa wanita yang ada di sampingmu itu?” tanya Mia penasaran.
“Rahasia! Aku akan memberitahumu dan yang lainnya nanti.”
Mia sontak berdecak sebal, “Apa mungkin dia adalah calon istrimu?! Master Dominic, kupikir kamu hanya tertarik kepada hantu, siapa yang mengira akhirnya kamu tertarik dengan manusia.”
Mendengar kata ‘Calon istri’ langsung membuat Xena memalingkan wajahnya karena malu. Seumur hidupnya, belum pernah ada satu orang pun yang memanggilnya sebagai ‘Calon Istri’ dari seseorang, bahkan para penggemar Dion Nixon pun hanya memasangkan Xena sebagai kekasih tapi bukan sebagai calon istri.
“Memangnya kalau dia adalah calon istriku kenapa? Apakah kamu cemburu?” tanya Zenon dengan nada bercanda.
“Hih … siapa juga yang ingin menikah dengan maniak hantu sepertimu. Nona itu juga mungkin hanya ingin memanfaatkan kekayaanmu saja, berhati – hatilah Master Dominic karena tidak ada satu pun wanita yang tahan berada di dekatmu!”
Zenon berdecak, kemudian melempar permen ke arah Mia. “Anak ini benar – benar ingin di pukul, ya. Kemari kau Mia Andez!!”
Mia menangkap permen yang dilemparkan oleh Zenon lalu menjulurkan lidahnya. “Terima kasih permennya, selamat tinggal Master Dominic.”
Dalam kecepatan kilat, gadis itu segera masuk ke dalam rumahnya dan bersembunyi karena takut Zenon akan menghampirinya dan memukul mulutmya yang kurang ajar.
Beruntung Zenon sedang tidak mau ribut dan langsung menjalankan mobilnya lagi. Beberapa saat kemudian, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah berpagar hitam yang tampak paling besar daripada rumah – rumah yang lainnya.
Xena segera turun dari mobil dan memandangi rumah yang didominnasi oleh warna putih di hadapannya. Walaupun besar, rumah itu terlihat begitu sepi dan tak berpenghuni. Taman yang ada di bagian depan rumah pun tidak terawat sehingga banyak tanaman yang mati dan layu.
Alih – alih sebagai rumah tinggal, bangunan di hadapannya lebih terlihat seperti wahana rumah hantu. Bahkan Xena merasa ragu untuk melangkahkan kaki di atas rumah tersebut, terutama karena langit masih gelap sehingga aura yang terpancar dari rumah itu terlihat semakin suram.
Zenon yang baru saja memarkirkan mobilnya langsung menghampiri Xena dan berkata, “Ya, rumah ini agak kotor karena aku sedang jarang pulang akhir – akhir ini. Tapi, tenang saja, aku bisa meminta beberapa orang untuk membersihkannya nanti.”
“Ini rumah Master Dominic? Aku juga akan tinggal di sini?” tanya Xena dengan ragu.
Zenon mengambil kunci dari kantungnya, lalu membuka pintu kayu yang mempunyai ukiran – ukiran tidak jelas di hadapannya. “Tentu saja kamu tinggal di sini, memangnya mau di mana lagi? Kamu hanya asistenku, bukan pekerja tetap sehingga tidak akan mendapatkan rumah baru.”
“Tapi, bukankah Master Dominic tinggal sendirian?”
Begitu Zenon membuka pintu, debu yang lumayan tebal langsung berhamburan keluar sehingga membuat mereka berdua batuk – batuk sebentar. “Ya, memang kenapa jika sendiri?”
Jika penduduk desa melihat ada sepasang pria dan wanita tinggal di bawah atap yang sama, bukankah mereka akan langsung salah paham dan menganggap Xena benar – benar pasangan dari Zenon?
“Itu … agak tidak etis.” Kata Xena.
“Aku tidak tahu bila Nona Archer merupakan orang yang tradisional.” Kata Zenon dengan nada yang sedikit mengejek.
Bagi orang – orang eropa, tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan mungkin adalah hal yang biasa. Sesungguhnya Xena juga tidak masalah melakukan hal itu. Akan tetapi, sekarang konteksnya berbeda. Dia dan Zenon tidak mempunyai hubungan apa pun sehingga Xena tidak mau menimbulkan kesalah pahaman.
“Bukan begitu. Aku hanya merasa tidak nyaman tinggal berdua dengan pria asing.”
“Aku orang asing? Nona Archer, kamu sungguh jahat.” Zenon memasang ekspresi yang menyedihkan, seolah menjadi orang yang paling tersakiti di dunia.
Xena berdengus malas, akting murahan seperti ini mana bisa membuat hati Xena luluh. “Master Dominic, aku serius. Bagaimana bila penduduk desa benar – benar berpikir aku adalah calon istrimu?”
“Yah biarkan saja, memangnya kenapa?” tanya Zenon.
“Kamu benar – benar …” Xena menghela napas sekali lagi, merasa lelah setelah berdebat dengan Zenon. “Terserah sajalah.”
Zenon membuka lemari es serta laci di dapur, berusaha mencari air minum tapi hanya bisa menemukan berbagai jenis alkohol di dapurnya. Karena sudah merasa haus, akhirnya Zenon mengambil bir dingin dari kulkas dan menenggaknya sekali.
“Jika memang Nona Archer benar – benar tidak ingin melihatku. Nona Archer bisa menempati kamar di lantai dua, sedangkan aku akan tinggal di lantai satu.” Saran Zenon.
Rumah ini terlampau luas, jarak antara lantai satu dan dua pun cukup jauh sehingga Xena tidak perlu melihat Zenon setiap saat selama dia tinggal di lantai dua. Tapi, hati Xena merasa agak tidak tenang saat melihat Zenon menyunggingkan senyuman penuh arti.
“Baiklah, kalau begitu aku akan menempati kamar di lantai dua.” Ujar Xena, berusaha mengabaikan ekspresi Zenon yang terlihat aneh.
Karena ingin cepat – cepat beristirahat, Xena langsung meminta Zenon untuk mengantarkannya ke kamar. Begitu dia membuka pintu kamar, terlihat permukaan lantainya sangat berdebu dan bahkan jaring laba – laba turut hinggap di beberapa furnitur. Beruntung kasurnya ditutup menggunakan kain sehingga permukaannya terlindungi dan masih bisa ditiduri.
“Master Dominic, sebenarnya sudah berapa lama kamu tidak pulang?”
“Entahlah, mungkin satu atau dua bulan yang lalu. Sebenarnya, walaupun aku pulang, rumah ini tetap saja akan berdebu karena aku tidak sempat membersihkannya dan terlalu malas untuk memanggil orang lain.”
“Setidaknya sewa lah beberapa asisten rumah tangga! Apa gunanya mempunyai banyak uang tapi tidak bisa merawat rumah dengan baik?! Kamu bahkan tidak mempunyai makanan yang layak dimakan di rumah ini selain alkohol. Master Dominic, jika kamu terus mengkonsumsi alkohol dan menghisap nikotin tanpa henti, kamu pasti benar – benar akan menjadi roh dalam beberapa tahun ke depan.” seru Xena yang tidak tahan melihat gaya hidup Zenon yang cenderung sembrono dan tidak tahu aturan.
Zenon meringis, “Aduh, kamu sama cerewetnya seperti Xie Jia. Mau mengkonsumsi alkohol atau tidak, pada akhirnya kita semua memang akan mati.”
Karena merasa kesal dengan sifat bebal Zenon, Xena akhirnya masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Namun, kembali membukanya lagi setelah beberapa saat, “Di mana alat untuk bersih – bersih?”
“Akan kuambilkan.” Jawab Zenon seraya melangkah pergi.
Saat melihat punggung Zenon yang berangsur – angsur menghilang, Xena mulai merasa lega. Baru satu hari bersama pria itu saja sudah cukup melelahkan, apalagi bila bersamanya selama satu tahun. Bisa – bisa Xena yang akan segera mati muda karena terkena darah tinggi.
• • •
Teng! Teng!
Lonceng pada jam berbunyi beberapa kali saat jarum pendek menunjukkan angka satu malam. Sebelum ini, Xena sudah menghabiskan waktu selama berjam – jam untuk membersihkan kamar dan memasangkan seprai.
Bagi Xena yang selalu menyerahkan tugas membersihkan rumah kepada asisten rumah tangga, membersihkan sebuah kamar tidur saja sudah cukup menguras tenaganya sampai ia merasa tulangnya hampir remuk.
Karena sudah tidak bisa lagi menahan kantuk. Xena akhirnya berhenti membersihkan kamar dan segera berganti pakaian menjadi piama bergambar Mickey Mouse.
Suhu di Desa Amynthas pada dasarnya memang sudah dingin sehingga Xena tidak perlu menyalakan pendingin ruangan dan mengambil selimut tebal yang diberikan oleh Zenon. Sesaat kemudian, dia pun berbaring di atas tempat tidur seraya menarik selimutnya hingga ke batas leher.
Rasa kantuk segera menyerang Xena, membuatnya masuk ke alam mimpi dalam waktu hitungan detik.
Selama satu jam awal Xena tertidur, segalanya tampak baik – baik saja. Satu – satunya hal yang dapat ia dengar di dalam ruangan adalah suara deru napasnya sendiri.
Sampai akhirnya suara asing mulai berdatangan di samping telinganya, terdengar saling bersahutan dan membuat Xena merasa gelisah.
“Zenon membawa manusia lain.”
“Sangat aneh, mungkinkah dunia akan segera kiamat?”
“Kiamat atau pun tidak juga tidak akan berpengaruh untuk kita!”
“Namanya manusia ini siapa?”
“Xena.”
“Xena Archer.”
“Tapi, wajahnya terlihat agak familier.”
“Tentu saja! Dia ini kan aktris yang sedang terkenal di hollywood. Aku sangat mengetahuinya karena aku baru mati dua tahun yang lalu.”
“Kamu senang karena sudah mati?”
“Yah, senang – senang saja. Lagipula jadi manusia juga merepotkan. Kita harus membayar listrik, makan, air, serta pajak. Sedangkan menjadi hantu tidak perlu melakukan apapun.”
Semakin lama, bisikan – bisikan itu terdengar semakin jelas dan membuat Xena bergerak gelisah di dalam tidurnya.
“Lihatlah! Ini semua gara – gara kalian yang selalu saja berisik sehingga manusia ini terganggu.”
“Memangnya kenapa?! Bukankah dia harus terbiasa mendengar ocehan kita apabila tinggal bersama Zenon.”
Setelah menahan suara bisikan – bisikan itu, Xena akhirnya membuka kedua matanya. Lampu di dalam kamar masih padam sehingga Xena tidak bisa melihat dengan leluasan di dalam gelap. Namun, Xena bisa melihat ada banyak bayangan yang terus lewat di balik kegelapan.
Dengan takut – takut, Xena menyalakan lampu di kamar tidur agar tahu siapa yang sedang berbicara di sebelah telinganya. Namun, alangkah terkejutnya Xena saat melihat bahwa dia bukanlah satu – satunya penghuni dari kamar ini.
“Dia bangun.”
“Semua itu pasti salahmu!”
“Tidakkah dia terlihat agak terkejut?”
Tubuh Xena seketika menjadi kaku dan bibirnya terasa keluh. Di dalam kamar ini, Xena mungkin bisa melihat ada tujuh hantu yang tengah berdiri di hadapannya seolah mereka menghakimi Xena.
Penampilan mereka memang tidak sebusuk hantu – hantu yang sebelumnya Xena lihat. Akan tetapi, hanya dengan memandang wajah mereka yang pucat saja sudah membuat Xena merinding hingga ke ubun – ubun.
“Nona Archer, kamu ingin bermain denganku?” tanya seorang hantu gadis kecil yang berwajah bulat.
“Arghhh pergi! Pergi! Pergi! Jangan ganggu aku.” Teriak Xena dengan histeris.
Dengan mengerahkan sisa – sisa tenaganya, Xena berusaha untuk berlari ke lantai dasar. Awalnya ia ingin pergi ke kamar Zenon tapi diurungkan saat melihat punggung seorang pria sedang duduk di atas sofa seraya memperhatikan televisi yang menyala.
“Master Dominic! Master Dominic! Kenapa anting ini tidak bekerja …”
Kedua manik kelabu Xena membulat sempurna saat melihat bahwa sosok yang tengah duduk bukanlah Zenon, melainkan hantu lain dengan wajah yang rusak sebelah.
Ketika Xena berbalik, dia langsung dihadapkan oleh wajah seorang hantu wanita berwajah pucat seperti kertas. Sontak Xena langsung berteriak sekencang – kencangnya dan berlari ke kamar Zenon. “MASTER DOMINIC! KENAPA ANTINGNYA TIDAK BEKERJA?! KENAPA RUMAHMU ADA BANYAK HANTUNYA?!!”
BRAK!
Xena membuka pintu kamar Zenon dengan kasar sampai menimbulkan kebisingan keras. Zenon yang baru saja memejamkan matanya langsung terduduk di atas tempat tidur begitu mendengar suara teriakan Xena yang histeris.
Tanpa memperdulikan harga dirinya dan rasa malu. Xena langsung melompat ke atas tempat tidur dan bersembunyi di balik punggung lebar Zenon.
“Lihatlah! Lihat! Kenapa di luar sana ada banyak hantunya?! Kenapa antingku juga tidak berfungsi? Katamu anting ini bisa membuatku tidak melihat hantu lagi. Tapi, kenapa sekarang bisa melihat mereka lagi? Kenapa? Kenapa, Master Dominic?!!” tanya Xena tanpa jeda sedikit pun. Dia bahkan mengguncangkan bahu Zenon beberapa kali karena merasa panik.
Belum sempat Zenon menjawab, sesosok hantu gadis kecil berwajah bulat yang sebelumnya Xena lihat tiba – tiba menembus pintu dan menghampiri Zenon.
“Master Dominic, kenapa kamu tiba – tiba membawa seorang wanita ke rumah ini? Padahal sudah lama tidak pulang, tapi sekalinya pulang malah membawa calon istri.” Kata hantu itu dengan nada suara anak – anak.
“Arghhhh!!! Kenapa dia malah datang ke sini?! Katanya kamu shaman yang hebat, tapi kenapa rumahmu malah seperti sarang hantu!” pekik Xena yang suaranya membuat telinga Zenon berdengung.
Zenon memijat keningnya yang terasa sakit akibat dibangunkan tiba – tiba, kemudian membalas Xena. “Tenanglah, Nona Archer. Mereka tidak akan memakanmu.”
“Bagaimana mungkin?! Mereka bahkan memperhatikanku saat aku sedang tidur.”
Karena merasa bila Xena tidak akan tenang selama ada hantu di depannya, akhirnya Zenon berkata, “Luna, pergilah terlebih dahulu. Nona Archer masih belum familier dengan kalian, nanti aku akan mengenalkannya kepada kalian.”
Hantu anak perempuan bernama Luna itu pun mengangguk patuh, “Baiklah, sampai jumpa nanti.”
Beberapa saat kemudian, sosok Luna pun berangsur – angsur menghilang, meninggalkan Xena dan Zenon sendirian di dalam kamar. Xena yang masih bersembunyi dibalik punggung Zenon mengintip sedikit dan segera bernapas lega saat melihat Luna telah pergi.
“Master Dominic, apa rumah ini memang sarang hantu? Atau jangan – jangan kamu juga hantu?” Xena sedikit menjauh dari Zenon saat spekulasi liarnya itu muncul.
“Tidak ada hantu yang mempunyai wajah setampan ini, Nona Archer.”
Xena semakin menjauh dari Zenon ketika mendengar ucapan narsistiknya itu.
Sebelum Xena bertanya lagi, Zenon sudah lebih dahulu menjawab pertanyaan Xena satu – persatu. “Para hantu yang ada di rumah ini bukanlah hantu yang jahat, kebanyakan dari mereka hanyalah hantu tingkat dua dan sisanya tingkat satu. Semua hantu itu pun juga tidak terbentuk dari energi marah, melainkan dari rasa penyesalan yang tertinggal sebelum mereka mati.”
“Jadi kamu tidak perlu takut. Lagi pula, mereka semua adalah temanku sehingga tidak mungkin akan menyakitiku atau pun kamu.”
Xena langsung merespon dengan teriakan, “Master Dominic kamu tidak waras! Kenapa harus berteman dengan hantu?! Memangnya kamu tidak punya teman manusia?!”
“Nona Archer, tolong berhenti teriak. Kupingku sudah sakit.” Protes Zenon.
Xena seketika menjadi malu karena sudah bersikap berlebihan, jadi dia mulai memelankan suaranya. “Lalu, bagaimana dengan antingku? Kenapa tidak lagi berfungsi?”
“Oh, itu karena antingmu hanyalah duplikat dari anting yang kupakai. Anting itu tetap bisa menyimpan Energi Yin-mu yang berlebih, tapi tidak akan bisa menutup mata batin lebih dari satu hari setelah berpisah dengan anting yang kukenakan.” Jelas Zenon.
“Apa? Kenapa hanya bisa menutup batin selama satu hari?”
“Berbeda dengan menyimpan Energi Yin yang tidak membutuhkan energi. Menutup mata batin harus mengeluarkan energi dan energi dari hanya bisa bertahan selama satu hari. Karena itu, anting tersebut wajib mengisi ulang energi selama satu kali sehari.”
Xena memandang Zenon dengan bingung, “Mengisi energi? Apa aku harus membiarkan kamu memakai anting ini lagi selama beberapa menit?”
Zenon lantas melambaikan tangannya di udara. “Tidak. Tidak perlu. Malah bahaya jika melepas anting itu dari Nona Archer. Energi Yin-mu akan melimpah ruah lagi dan bisa saja menyerap kesialan dari banyak orang yang melintasi rumah ini.”
“Lalu bagaimana caranya untuk mengisi energi? Aku tidak mau melihat hantu?!”
“Mudah saja.” Zenon secara tiba – tiba menggenggam tangan Xena dengan erat. “Kita hanya perlu berpegangan tangan selama satu jam dalam sehari.”
• • • • •
To Be Continued
16 September 2021
Theater Mini :
Mia : Master Dominic pulang bersama wanita. Wanita itu pasti calon istrinya.
Luna : Master Dominic tiba – tiba membawa pulang wanita. Dia pasti calon istrinya.
Xena : Berhenti menyebutku calon istrinya!!! Dia bahkan belum pernah datang melamar.
Zenon : Oh, jadi kamu ingin ku lamar?
Xena : Tidak!
Mia : Kata ‘Tidak’ yang diucapkan oleh wanita terkadang bisa bermakna ‘Iya’
Luna : *mengangguk*
Xena : Tidak artinya Tidak!