BAB 23 : Berpegangan Tangan

516 Kata
“Mudah saja.” Zenon secara tiba – tiba menggenggam tangan Xena dengan erat. “Kita hanya perlu berpegangan tangan selama satu jam dalam sehari.” Tindakan Zenon yang tidak pernah diprediksi Xena, membuat wanita itu langsung menghempaskan tangan Zenon dan memelototinya dengan tajam. “Apa – apaan?! Jangan bercanda!” Zenon akhirnya ikut merasa kesal, “Aku tidak bercanda! Caranya memang seperti itu!” “Pasti ada cara lain.” Tukas Xena. “Jika tidak mau melakukan cara mudah, kemarikan saja anting yang kamu kenakan. Tapi, jika seandainya ada banyak hantu yang tiba – tiba datang ke rumah ini dan ingin memakanmu, aku tidak mau tanggung jawab!” Hari sudah sangat larut dan Zenon merasa sangat lelah setelah berkendara jauh selama dua jam. Bila seandainya ada banyak hantu yang datang, maka dia juga yang akan kerepotan karena harus mengusir mereka. Xena tidak mendengar ada nada bercanda dalam ucapan Zenon. Dan dia takut bila pria itu benar – benar tidak akan membantunya bila ada masalah. Merasa bahwa kekeras kepalaannya tidak akan membuahkan hasil yang baik, Xena akhirnya menyetujui perkataan Zenon. “Hanya satu jam?” Zenon membaringkan tubuhnya lagi di atas tempat tidur dan memberikan tangannya kepada Xena. “Hanya satu jam.” Sebelum memegang tangan Zenon, Xena memalingkan wajahnya karena merasa malu. Sesungguhnya tidak ada hal yang spesial dari sekadar memegang tangan pria karena dia bahkan sudah sering berpelukan dan berciuman dengan aktor yang menjadi lawan mainnya di film. Namun, sekarang keadaannya berbeda. Tidak ada kamera di sekitar mereka, tidak ada pula sutradara yang akan memaksa Xena untuk melakukan kontak fisik dengan lawan mainnya, sehingga kali ini dia memegang tangan Zenon atas dasar keinginannya sendiri. Dan sesuatu yang didasari oleh keinginan hati selalu membuat Xena gugup. ‘Kita hanya berpegangan tangan karena tuntutan.” Kalimat itu terus berputar di dalam kepala Xena bagaikan kaset rusak. Berusaha meyakinkan diri bahwa mereka hanya berpegangan tangan karena masalah pekerjaan, bukan dari keinginan Xena sendiri. “Aku ingin tidur, jika sudah selesai, kamu bisa kembali ke kamarmu. Tapi, kalau tetap ingin di sini juga tidak masalah.” Kata Zenon seraya tertawa kecil. Xena, “Aku pasti akan keluar, tidur bersama orang lain adalah hal yang paling kuhindari.” Menurut Xena, tidur di satu tempat tidur yang sama dengan orang lain adalah mimpi buruk. Dia tidak bisa berbaring dengan leluasa dan selalu risih saat mendengar deru napas halus dari orang di sebelahnya. Karena itu, Xena yakin dia tidak akan bisa tidur di sebelah Zenon. Berselang lima menit kemudian, deru napas Zenon menjadi konstan dan pria itu menutup mata seutuhnya. Xena melirik sedikit, memperhatikan fitur wajah Zenon dari samping. Jika dilihat secara sekilas, Zenon akan terlihat jauh lebih rupawan saat tertidur. Pria itu selalu terlihat bermain – main saat bangun, tapi teelihat sangat damai ketika tertidur. Pada akhirnya, Xena tanpa sadar turut tertidur di samping Zenon karena tidak tahan menahan kantuk. Ucapannya tentang dia pasti akan bermimpi buruk jika tidur bersama orang lain ternyata salah besar. Karena untuk pertama kalinya Xena bisa tidur begitu nyenyak tanpa sedikit pun bermimpi buruk. • • • • • To Be Continued 17 September 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN