BAB 24 : Kesalahpahaman

1075 Kata
Bulu mata Xena bergetar tatkala cahaya matahari berusaha menembus kelopak matanya dan membangunkan Xena. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya mampu menyesuaikan penglihatannya. Dan hal pertama yang Xena lihat adalah wajah Zenon yang berada sangat dekat di hadapannya sampai Xena mampu merasakan deru napasnya. Sesuatu yang lebih mengejutkan lagi adalah Zenon tengah memeluk Xena dengan erat seperti bantal. “ASTAGA!” BUK! Secara spontan Xena langsung menendang tubuh Zenon dengan keras sampai pria itu terjatuh dari atas tempat tidur dan menghantam lantai. “Aduh! Siapa yang menendangku?!” Teriak Zenon seraya  memegangi pinggangnya yang terasa sakit. Xena menunjuk wajah Zenon dengan jarinya dan beringsut mundur. “Apa yang kamu lakukan?! Mengapa sampai memelukku padahal tadi malam kita hanya berpegangan tangan! Tindakanmu itu pelecehan!” “Bagian mananya yang pelecehan?!!” teriak Zenon tidak terima. “Tadi malam kamu terus bergerak, berguling kesana – kemari dan bahkan hampir menyikut wajahku. Karena itulah, aku memegangmu agar kamu tidak bergerak – gerak lagi!!” “Bohong! Aku tidak pernah tidur seperti itu!” “Memangnya kamu tahu?! Saat mata terpejam, bagaimana mungkin manusia bisa tahu tindakan apa yang mereka lakukan saat tidur?” Keduanya saling memandang dengan ekspresi kesal, tidak ada yang ingin mengalah dan menganggap tindakan mereka sudah benar. Xena berpikir sejenak, dia belum pernah tidur bersama orang lain saat dewasa sehingga tidak tahu apakah dia banyak bergerak atau tidak. Namun, terkadang Xena memang terbangun dengan keadaan seprai yang sudah acak – acakan. Mungkinkah Zenon berkata jujur? Walaupun memang jujur, tetap saja Xena tidak mau mengalah. “Kamu selalu berbohong kepada orang lain. Bagaimana aku bisa yakin kamu tidak berbohong kepadaku?!” teriak Xena. “Aku tidak berbohong!” balas Zenon. “Apa mengisi energi dengan memegang tangan juga hanya akal – akalanmu saja?!” “Ya ampun, apa kamu sebegitu meragukanku? Berapa kali lagi harus ku katakan bahwa aku tidak berbohong?!” seru Zenon frustasi. Tok..Tok..Tok..Tok..Tok.. Merenka ingin kembali berdebat tapi diurungkan saat mendengar suara ketokan pintu kasar dari luar rumah. Seseorang di luar sana pasti sedang terburu – buru atau merasa marah dengan penghuni rumah. “Master Dominic! Master Dominic! Kata Mia kamu ada di dalam rumah. Bisa kamu keluar sebentar? Ada beberapa dokumen yang harus kamu tanda tangani.” Zenon bisa memastikan bahwa yang sedang berdiri di luar adalah Fransisco Chevalier. Mengetahui Fransisco mendatangi rumahnya, wajah Zenon berubah menjadi pucat dan berusaha mencari jalan untuk kabur. “Nona Archer, jika Frans datang, katakan saja kepadanya bila aku sedang pergi.” Xena menatap Zenon dengan bingung. “Hah? Kenapa?” “Dia pasti hanya ingin menyeretku untuk menanda tangani dokumen.” Kata Zenon dengan ekspresi gusar. “Jika memang begitu, kamu hanya perlu menanda tanganinya, kan?” “Tidak! Tidak! Kamu tidak mengerti. Dokumen yang harus di tanda tangani tidak pernah satu atau dua, pasti ada ratusan.” Balas Zenon cepat. Zenon berjalan menuju jendela, kemudian membukanya untuk mencari jalan keluar. Beruntung dia selalu tidur di lantai satu sehingga bisa kabur kapan pun ia mau. Namun, tatkala Zenon menyibakkan gorden, dia terkejut saat melihat tralis besi sudah terpasang kuat di depan jendela sehingga mencegahnya untuk melarikan diri. Suara ketukan pintu di luar sana berubah menjadi suara dentingan kunci, pertanda bahwa Fransisco memiliki kunci cadangan ke rumah Zenon. Zenon semakin panik dan berusaha untuk mencari persembunyian di kamar, tapi tidak menemukannya. Di saat terdesak, sebuah ide muncul di dalam otaknya. Zenon mendorong Xena ke atas tempat tidur sedangkan dia berada di atas wanita itu. Karena itu, ketika pintu kamar di buka paksa oleh Fransisco, dia langsung terkejut saat menemukan Zenon sedang berada di kamar tidur dengan seorang wanita. Zenon menoleh ke belakang dan menatap Fransisco dengan marah. “Apa kamu tidak melihat aku sedang apa? Tutup pintunya.” “AHHH! APA LAGI YANG MAU KAMU LAKUKAN?” Bahkan sebelum Fransisco bereaksi, Xena sudah lebih dahulu menendang Zenon dan membuatnya kembali terlempar ke atas permukaan lantai. Xena lantas berlari menuju Fransisco dan menunjuk Zenon dengan tatapan marah. “Pria itu ingin melecehkanku!” Ekspresi Fransisco pun langsung berubah hitam, membuatnya tampak sangat menyeramkan. “Master Dominic, kesalahan ringan mungkin masih bisa ku ampuni. Tapi, kesalahan seperti ini adalah hal yang tidak bisa kutoleransi.” “Kamu salah paham! Kamu salah paham! Aku hanya ingin mengusirmu saja, tidak ada maksud untuk melecehkan siapa pun.” Kata Zenon dengan cepat seraya beringsut mundur. Namun, setelah mundur beberapa kali, punggungnya sudah menghantam permukaan dinding sehingga tidak lagi bisa kabur. “Bohong! Dia pasti bohong!” teriak Xena. BUK! Kedua mata Zenon membulat tatkala Fransisco memukul permukaan dinding tepat di samping kepala Zenon. Pukulannya sangat kuat sampai bisa membuat tembok retak sedikit. “Zenon Dominic, apa statusmu di sini?” Melihat wajah Fransisco yang menghitam membuat Zenon berhenti bermain – main dan menjawab dengan cicitan kecil. “Ketua Amynthas.” “Sebagai ketua, tugas apa yang harus kamu lakukan?” “Mengawasi jalannya komunitas Amynthas, memberikan persetujuan terhadap kasus – kasus yang akan di telurusi oleh shaman, dan menjaga nama baik Amynthas.” Sekali lagi Fransisco bertanya dengan intonasi rendah, “Apa kamu sudah melakukan tugas – tugas itu dengan baik?” Zenon semakin merapatkan punggungnya ke tembok dan menjawab dengan takut. “Belum.” “Jawaban yang tepat adalah tidak sama sekali.” Fransisco berkata, “Kamu selalu berada di luar Desa Amynthas selama berbulan – bulan dan hanya akan bermain ketika pulang. Apa kamu tidak tahu sudah ada berapa banyak dokumen yang menumpuk di dalam gudang?! Ada sebanyak 500 dokumen!! Semua itu adalah kasus – kasus yang ditangani oleh Desa Amynthas selama ini. Apa kamu tahu seberapa berantakannya administasi komunitas ini selama kamu belum menandatangani persetujuan kasus? Sangat berantakan! Keuangan kita jadi tidak terurus, pendataan menjadi buruk, dan para shaman akan menangani kasus tanpa meminta persetujuanmu lagi.” “Dan sekarang kamu malah melecehkan seorang wanita hanya untuk melarikan diri?” “Aku benar – benar tidak melakukannya!” Dalam situasi hidup dan mati seperti ini. Tiba – tiba saja Zenon mendengar ada langkah kaki yang memasuki rumahnya. Seketika seorang pemuda berwajah oriental muncul di ambang pintu dan berseru. “Master Dominic! Aku menemukan kasus yang bagus untukmu. Tempatnya ada di paris, mari pergi ber—” Ucapan Xie Jia langsung terpotong oleh teriakan Fransisco. “Tidak ada satu pun kasus yang boleh ditangani oleh para shaman sampai anak ini menanda tangani seluruh dokumen di ruang penyimpanan!!” “Ahhh!!! Tanganku bisa patah karena tanda tangan!!” • • • • • To Be Continued 18 September 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN