BAB 25 : Maniak Hantu

2344 Kata
Keributan di dalam rumah berakhir setelah Fransisco menyeret paksa Zenon untuk keluar dari rumah, meninggalkan Xena bersama Xie Jia seorang diri. Xena terlalu terkejut untuk bereaksi setelah mendengar fakta bahwa Zenon merupakan ketua dari Amynthas, sedangkan Xie Jia juga terkejut saat mendengar bentakan Fransisco yang tiba – tiba. Beberapa saat setelah pikiran keduanya tenang, mereka saling menoleh dan menatap satu sama lain. Awalnya Xie Jia merasa bingung, mengapa bisa ada wanita di rumah Zenon. Akan tetapi, setelah melihat Xena secara seksama, wajahnya langsung terkejut dan dia menutup mulut akibat tidak percaya dengan apa yang ia lihat. “Nona Archer?! Anda benar – benar Nona Archer?” pekik Xie Jia. Setelah mendengar suara Xie Jia dengan lebih jelas, Xena baru sadar bahwa yang berdiri di depannya adalah shaman yang pernah dia hubungi. “Master Xie?” “Ya! Saya Xie Jia. Dua hari yang lalu saya pernah menghubungi Nona Archer. Saya tidak menyangka bisa bertemu Anda di Desa Amynthas. Apakah masalah Anda terlalu besar sampai Master Zenon ingin membuat ritual di sini?” Xena, “Ah, tentang masalah itu. Master Dominic berkata bahwa Energi Yin saya terlalu melimpah dan tidak bisa dihilangkan karena terikat dengan jiwa. Karena Energi Yin yang besar pula, saya mampu melihat dan berkomunikasi dengan para hantu.” Xie Jia menganggukan kepalanya tanda mengerti, kemudian bertanya lagi, “Jika memang tidak bisa dihilangkan, lalu kenapa Anda kemari?” Xena lantas menceritakan secara singkat tentang perjanjiannya dengan Zenon. Setelah mendengar cerita dari Xena, ekspresi Xie Jia terlihat sangat terkejut seolah tidak mempercayai ucapan Xena. “Master Dominic meminta Anda menjadi asistennya?!” Xena mengangguk, “Apakah ada masalah?” Xie Jia mundur beberapa langkah kemudian memalingkan wajah dari Xena dan bergumam seorang diri. “Tidak. Tidak. Tidak. Dia bahkan selalu menolak tawaran Fransisco untuk bekerja dengan shaman lain. Master Dominic juga tidak mungkin mengundang manusia lain untuk tinggal bersamanya. Maniak hantu seperti dia, bagaimana bisa berhubungan dengan manusia di luar Desa Amynthas.” Xena berkata dengan bingung, “Shaman bernama Mia mengatai Master Dominic sebagai maniak hantu, Anda pun juga begitu. Apakah dia semaniak itu?” “Bukankah sudah terlihat dengan jelas? Master Dominic hanya membiarkan hantu untuk masuk ke dalam rumahnya. Saya dan Fransisco bahkan harus mendobrak paksa ke dalam rumah Master Dominic bila ingin bertemu dengannya. Dia sama sekali tidak mempunyai minat untuk berhubungan dengan manusia.” Setelah dipikir – pikir lagi, Xena memang belum pernah melihat Zenon berbicara secara langsung dengan manusia selama di Kota London. Paling – paling dia hanya berbicara melalui telepon atau membicarakan masalah pekerjaan dengan para polisi. Zenon baru terlihat lebih nyaman ketika berada di dalam Desa Amynthas dan berbincang dengan shaman lain. “Lalu, kenapa dia ingin menjadikan saya asistennya?” tanya Xena heran. Xie Jia menggendikan bahunya tanpa bahwa dia tidak mengerti, “Jika Anda saja tidak tahu. Bagaimana dengan saya?” Xena menghela napas di dalam hati. Bertanya kepada orang lain mengenai perasaan Zenon memang tidak akan ada gunanya. Lebih baik bertanya langsung kepada pria itu saat dia sudah pulang. Daripada memikirkan alasan Zenon, Xena masih mempunyai satu hal lain yang ingin ia tanyakan, “Master Dominic benar – benar ketua Amynthas?” Xie Jia sontak tertawa, “Ya, Anda pasti tidak percaya?” “Memang. Lagi pula, kenapa dia bisa menjadi ketua bila tidak becus dalam bekerja?” Xie Jia berhenti bicara sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya ke area kosong di belakang Xena. Perlahan senyumannya luntur dan tergantikan oleh ekspresi ngeri. “Bagaimana bila kita mengobrol di luar saja? Sepertinya hantu – hantu di rumah ini tidak mau membiarkan saya berdua saja dengan Nona Archer di rumah ini.” “Hantu?” Xena bergidik ngeri saat mengingat bahwa rumah Zenon di huni oleh banyak hantu. “Ya! Ya! Ayo kita mengobrol di luar saja.” Pantas saja sedari tadi Xena merasa punggungnya dingin. Ternyata ada belasan hantu yang tengah menatapnya dari belakang dengan wajah muram. • • • Xie Jia membawa Xena untuk mengitari Desa Amynthas. Xena mengalihkan matanya ke segala arah, memperhatikan setiap sisi dari Desa Amynthas. Jika dilihat dari atas langit, Layout dari Desa Amynthas berbentuk seperti dua lingkaran. Satu lingkaran yang lebih kecil merupakan wilayah tempat tinggal, sementara lingkaran yang lebih besar adalah hamparan padang rumput hijau yang membentang luas. Pada wilayah tempat tinggal, terdapat puluhan atau mungkin ratusan rumah tipikal berwarna hitam dan putih, rumah – rumah itu berjajar menjadi beberapa barisan. Sedangkan di wilayah terbuka hijau terdapat pohon – pohon yang berdiri saling berdampingan, membuat udara di dalam desa terasa sangat sejuk. “Jadi, mengapa Master Dominic bisa menjadi ketua di sini?” tanya Xena lagi seraya menundukan kepalanya sedikit untuk melihat wajah Xie Jia yang lebih pendek darinya. Xie Jia mulai berbicara lebih santai saat keluar dari lingkungan rumah Zenon. “Sebenarnya dia menjadi ketua bukan karena ingin, tapi hanya karena dia adalah satu – satunya kerabat dari ketua shaman sebelumnya. Saat Master Dominic baru berusia empat belas tahun, Tuan Arsen Dominic selaku pamannya meninggal dunia sehingga Master Dominic terpaksa harus menanggung beban sebagai ketua.” “Menurut Fransisco, kondisi Master Dominic sangat buruk saat pamannya itu meninggal. Dia terus menjadi histeris dan berakhir dengan mengurung diri di dalam rumah selama dua tahun. Karena itulah, pada masa – masa itu, Fransisco mengurus Desa Amynthas untuk menggantikan Master Dominic. Namun, tampaknya Fransisco telah membuat kesalahan, karena tahun – tahun berikutnya Master Dominic benar – benar mengabaikan statusnya sebagai ketua dan terus bermain dengan hantu atau mengusut kasus di luar Desa Amynthas.” Xena menghentikan langkahnya saat dia membalas, “Jika memang dia tidak becus, kenapa tidak diberhentikan saja?” “Ah, itu tidak mudah. Karena status ketua hanya bisa di dapatkan melalui warisan dari ketua sebelumnya. Jadi, sangat tidak mungkin untuk menurunkan Master Dominic. Sesungguhnya, dia hanya tidak becus dalam mengurus dokumen, tapi selalu mampu melindungi desa dengan baik.” Jika dibandingkan dengan shaman yang lain, Zenon merupakan shaman yang paling kompeten. Terbukti dari dirinya yang mampu menjinakkan banyak hantu dan membiarkan mereka tinggal di dalam rumah. Hal seperti itu, mungkin hanya bisa dilakukan oleh Zenon. Tidak ingin lagi menggali urusan pribadi dari Zenon, akhirnya Xena bertanya tentang hal lain. “Sebelum ini, Master Xie bilang ada kasus baru. Apa saya boleh tahu?” Saat Xena membawa topik tersebut, Xie Jia langsung berubah semangat. “Sebelum menjawabnya, bisakah saya berbicara santai dengan Anda?” Xena tidak pernah mempermasalahkan panggilan sopan selama orang itu ia kenal baik. Jadi, dia langsung menyetujuinya. “Silahkan.” Semangat Xie Jia semakin meninggi saat mendapatkan persetujuan dari Xena. Saat menjelaskan kasus, dia cenderung terlalu bersemangat dan mengabaikan sopan santun sehingga lebih baik memastikan Xena tidak akan marah jika dia berbicara santai sedari awal. “Beberapa hari yang lalu saat aku sedang menemui klienku di Paris. Ada seorang pria mendatangiku secara tiba – tiba. Wajahnya sangat pucat dan dia tampak begitu lelah seolah tidak bisa tidur selama berhari – hari. Pria itu berkata bahwa ada hantu yang bersemayam di dalam rumahnya sekarang. Hantu itu terus mengganggu dia dan seluruh keluarganya, bahkan sesekali hampir melukainya. Dia memohon kepadaku untuk melakukan pengusiran di rumahnya. Namun, saat itu aku sudah mengerahkan banyak energi selama beberapa hari terakhir sehingga tidak akan sanggup apabila melakukan pengusiran lagi. Karena itulah, aku memutuskan untuk pulang ke Desa Amynthas untuk memberikan kasus ini kepada Master Dominic. Dia selalu bilang ingin menangani kasus di luar negeri dan aku berpikir mungkin Paris akan cocok untuk destinasi pertamanya.” Xena, “Master Dominic belum pernah ke luar negeri?” Padahal Xie Jia saja sudah sering mengudara ke berbagai negara untuk menangani kasus. “Dia selalu bilang bandara terlalu ramai sehingga tidak nyaman. Makanya belum pernah pergi menggunakan pesawat.” Semakin dipikirkan, Xena merasa bahwa Zenon terlalu aneh. Dia bukanlah orang yang pemalu atau pendiam, dari tingkahnya saja sudah terlihat bila Zenon merupakan orang yang sangat aktif secara sosial. Namun, mengapa dia malah lebih senang bersosialisasi dengan hantu daripada manusia? “Mengapa dia selalu tidak nyaman dengan kerumunan manusia?” Xie Jia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tertawa pelan untuk mengalihkan fokus. “Entahlah, mungkin kamu bisa bertanya sendiri.” Karena pertanyaan Xena tidak mendapatkan titik terang, maka dia memutuskan untuk meminta Xie Jia mengajaknya berkeliling desa. Dari kegiatan berjalan bersama ini lah Xena dan Xie Jia mulai menjadi santai satu sama lain. Mereka juga tampaknya mempunyai kegemaran yang sama dalam hal tontonan film sehingga pembahasan mereka tidak kunjung habis. Selain berbincang, Xie Jia juga membawa Xena ke area kedai – kedai makanan yang terletak di pusat desa. Wanita itu belum makan dari semalam sehingga dia sangat gembira saat Xie Jia membawanya ke tempat makan. “Sampai hari ini aku merasa kesal karena lupa meminta tanda tangan dari Tuan Archer.” Sesal Xie Jia, nadanya terdengar seperti seorang anak yang sedang merengek kepada ibunya. Xie Jia tertawa renyah, “Tidak perlu kesal, aku bisa meminta tanda tangan Helios untukmu nanti.” Kedua mata Xie Jia berbinar terang, “Benarkah? Kamu benar – benar janji akan memberikannya?” Mungkin karena Xie Jia berusia lebih muda dari Xena, dia sudah menganggap Xie Jia sebagai adiknya sendiri. “Mhm. Meminta tanda tangan dia bukan masalah. Apakah kamu ingin meminta foto selfie nya juga? Aku bisa mengirimkannya untukmu malam ini.” Mendengar ucapan Xena semakin membuat Xie Jia gembira sampai hampir menjatuhkan roti di tangannya. Sedari ia sekolah, Xie Jia sudah sangat menggemari Helios. Dia selalu merasa bila Helios mempunyai aura positif yang murni dan wajah yang memikat sehingga dia tidak bisa berhenti memandangi Helios dari layar televisi. Karena itulah, Xie Jia tidak menyangka bila dia bisa bertemu dengan Helios karena masalah hantu. Kadang kala, Xie Jia bersyukur Helios diganggu oleh hantu waktu itu sehingga mereka bisa bertemu. Dan sekarang dia seolah mendapatkan berkah dari langit karena mampu berteman dengan adik Helios. “Bolehkah aku meminta tiga foto?” tanya Xie Jia dengan tatapan penuh harap. Xena mengangguk. “Tentu saja.” Seusai berbincang cukup lama, mereka baru sadar bahwa langit sudah mulai gelap sehingga Xie Jia mengantarkan Xena kembali ke rumah Zenon. Pemuda itu tidak bisa menemani Xena di rumah Zenon karena dia harus menulis laporan mengenai kasus yang ia tangani belakangan ini. Setelah kepergian Xie Jia, Xena berdiri tepat di hadapan pagar rumah, hanya diam tanpa mempunyai keinginan untuk masuk ke dalam rumah yang gelap itu. Sepertinya Zenon belum pulang sehingga tidak ada yang menyalakan lampu luar. Jika diperhatikan sekilas, rumah itu memang terlihat biasa saja dan cenderung nyaman. Akan tetapi, saat Xena ingat bahwa di dalamnya ada banyak hantu yang tinggal, seluruh bulu halus di tubuhnya langsung berdiri akibat takut. Xena memutuskan untuk menunggu Zenon di luar rumah dan mengirimkan pesan singkat. [Kapan kamu pulang?] Berselang beberapa menit, Zenon mengirimkan balasan berupa sebuah foto yang memperlihatkan setumpukan kertas yang masih menggunung di atas meja. [Fransisco tidak membiarkan aku pulang jika kertas – kertas ini belum selesai di tanda tangani] Xena mengetuk – ngetukkan jarinya di atas layar ponsel sebelum membalas. [Baiklah] Zenon kembali meletakkan ponselnya ke atas meja setelah melihat balasan Xena. Walaupun dia sudah menanda tangani banyak dokumen sedari pagi, tetap saja dokumen – dokumen itu masih menumpuk seperti gunung. Perlahan dia mulai menyesal kenapa tidak menyicil sedari awal. Karena merasa punggungnya sakit setelah menunduk dalam kurun waktu yang lama, Zenon memutuskan untuk berhenti sebentar dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua manik biru nya lantas melirik ke arah langit gelap dari balik jendela dan melihat arakan awan mendung mulai bergumul di atas langit. Jika dilihat dari awannya, mungkin hujan deras akan segera turun sebentar lagi. Ting! Ting! Ting! Notifikasi beruntun tiba – tiba saja bermunculan di layar ponselnya dan semua pesan itu bertuliskan nama Xena. [Sebentar lagi akan hujan, kamu benar – benar tidak akan segera pulang?] [Tidak bisakah pulang sekarang?] [Berapa lama lagi kamu akan pulang?] Zenon bersiul kecil saat melihat banyaknya pesan dari Xena. Padahal wanita itu selalu kesal setiap kali melihat kehadirannya, tapi sekarang malah terus menanyakan kepulangannya. Mungkinkah Xena terlalu takut untuk tinggal di rumah sendirian sehingga menunggu di luar rumah? Seketika Zenon langsung berdiri saat sadar bahwa hal itu mungkin saja terjadi. Xena mungkin masih bisa mengatasi ketakutannya apabila hanya ada satu atau dua hantu, tapi terdapat belasan hantu di dalam rumah Zenon sehingga wanita itu pasti tidak akan sanggup. Dengan cepat Zenon membereskan kertas – kertas yang berserakan dan membawa setumpukan kertas yang belum ia tanda tangani. Dia dengan susah payah membuka pintu dan berseru kepada Fransisco. “Aku akan membawa kertas ini ke rumah!” Fransisco membalas Zenon dengan cepat. “Jangan membuat masalah, kerjakan saja di sini.” “Aku tidak bisa! Aku harus segera pulang!” “Kenapa? Tidak biasanya ingin cepat – cepat pulang.” Tanya Fransisco seraya mengerutkan keningnya. Tanpa mengindahkan Fransisco, Zenon segera berlari meninggalkan kantor seraya berseru. “Calon istriku tidak bisa ditinggal!” Sontak Fransisco turut bangkit dari kursinya. “Siapa yang calon istrimu?! Kamu bahkan belum memperkenalkannya kepadaku. Aku ini walimu, Zenon!” Teriakan Fransisco tidak lagi terdengar di telinga Zenon karena pria itu sudah lebih dahulu berlari keluar. Jarak dari kantor menuju rumahnya tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Namun, rintik hujan kecil sudah lebih dahulu turun sebelum Zenon sampai. Dan sialnya, Zenon meninggalkan payungnya di dalam rumah karena diseret tiba – tiba oleh Fransisco pagi ini. Beberapa saat sebelum hujan deras turun, Zenon berhasil sampai di depan rumah dengan napas tersengal – sengal. Dia melihat sosok Xena tengah berjongkok di depan pagar seraya menghalangi melindungi.kepalanya dari air hujan menggunakan tangan. “Aku pulang, kamu menunggu lama?” Xena mendongakkan kepalanya saat mendengar suara Zenon. “Katamu tidak akan pulang sebelum dokumennya selesai.” “Jika dokumennya ku bawa pulang ke rumah, maka aku juga bisa pulang.” Balas Zenon seraya tertawa. Untuk pertama kalinya Xena merasa senang saat melihat kedatangan Zenon. Dia sudah bersiap untuk diguyur oleh hujan beberapa saat yang lalu, tapi siapa yang menyangka bila pria ini akan pulang sebelum hujan deras datang. “Masuklah, aku tidak mau dokumennya sampai basah. Fransisco bisa membunuhku.” Keduanya lantas berlari masuk begitu hujan mulai mengguyur permukaan tanah dengan deras sehingga membuat pakaian mereka basah sedikit. • • • • • To Be Continued 19 September 2021  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN