Xena menghela napas lega begitu dia masuk ke dalam rumah tepat sebelum hujan disertai angin kencang datang. Zenon lantas meletakkan dokumen – dokumennya di atas meja kemudian menyalakan seluruh penerangan di rumah, membuat suasana rumah yang suram menjadi lebih bercahaya.
“Apa rumah ini terlalu mengerikan untukmu sampai tidak ingin masuk?”
Xena menanggapi dengan sangkalan karena merasa malu jika ketahuan takut, “Tidak juga. Aku menunggu di luar hanya karena tidak terbiasa dengan rumah yang sepi.”
Meskipun sudah berkata demikian, Zenon tetap tahu bila Xena sangat takut dengan hantu di rumahnya.
“Nona Archer, buka mata batinmu sebentar.” Pinta Zenon.
Xena sontak menggeleng cepat, “Tidak mau! Rumah ini ada banyak hantunya, sekarang juga mereka pasti tengah menatapku.”
“Apa kamu tidak ingat bila kontrak kita hanya bertahan satu tahun?” Zenon mulai berbicara serius, “Anting yang kamu pakai hanya bisa menekan Energi Yin, tapi tidak mampu menutup mata batin jika kamu berada jauh dariku. Karena itu, jika kamu tidak terbiasa melihat mereka, bagaimana kamu bisa hidup normal tanpa aku?”
Perkataan Zenon menyentuh satu titik di hati Xena yang membuatnya sadar bahwa dia terlalu bergantung kepada Zenon. Seandainya mereka sudah berpisah, bukankah artinya Xena tidak bisa lagi mengandalkan Zenon dan harus menjalani kehidupan dengan melihat hantu – hantu buruk rupa setiap hari.
Apakah dia akan baik – baik saja jika sendirian?
“Tapi, tetap saja melihat mereka tidak mudah untukku. Mata batinku baru terbuka saat aku berusia 25 tahun, sedangkan kamu sudah bisa melihat hantu sedari lahir. Secara logika, bukankah kamu lebih beruntung karena dapat terbiasa?”
Senyuman Zenon berangsur – angsur menghilang dan dia membalas dengan setengah hati. “Tidak ada keberuntungan yang bisa kamu dapatkan jika memiliki kemampuan seperti ini.”
Suasana di antara mereka tiba – tiba menjadi buruk dan ekspresi Zenon juga terlihat gelap. Merasa bila ucapannya telah menyinggung Zenon, Xena buru – buru berkata, “Maksudku bukan seperti itu. Aku hanya ingin bilang jika aku butuh waktu untuk terbiasa.”
Ekspresi Zenon yang sebelumnya masam kembali berubah menjadi seperti biasanya, seolah pria itu memang sudah terbiasa mengubah suasana hati dalam waktu singkat. “Tidak apa – apa, mungkin memang aku yang terlalu memaksa.”
“Kamu sudah makan malam?” tanya Zenon untuk mengalihkan topik.
“Belum.” Balas Xena singkat.
“Kamu punya alergi makanan?”
“Tidak ada.” Xena bertanya, “Kamu ingin memesan makanan dari luar? Tapi, cuacanya sedang buruk.”
Zenon melangkah ke dapur, kemudian membuka kulkas yang sudah berisikan berbagai macam bahan – bahan makanan mulai dari sayuran hingga daging. “Tadi siang aku meminta Fransisco untuk menyediakan bahan makanan di rumah, tapi sepertinya dia menyediakan terlalu banyak. Kamu ingin makan daging ayam?”
Xena duduk di atas kursi pantry seraya memperhatikan Zenon yang tengah mengeluarkan bahan – bahan makanan dari dalam kulkas dan menata peralatan masak di atas meja pantry. “Memangnya kamu bisa memasak?”
Zenon tertawa dan berkata dengan bangga, “Jika tidak memasak saat tinggal sendiri, aku pasti sudah lama mati.”
Suara pisau yang beradu dengan papan kayu terdengar memenuhi dapur, menjadi satu – satunya suara yang memecahkan keheningan. Xena mengetukkan jarinya ke atas meja, masih berpikir haruskah dia coba membuka mata batinnya sebentar agar terbiasa dengan hantu di rumah ini.
“Jika aku membuka mata batinku, bisakah kamu meminta hantu – hantu di rumah ini agar berdiri jauh dariku?” Kata Xena memecah keheningan.
Zenon berhenti memotong daging dan menatap Xena. “Kamu ingin melihat mereka?”
Xena mengangguk ragu. “Kamu berkata mereka adalah temanmu, maka artinya mereka tidak berbahaya, kan?”
“Tidak. Tidak. Mereka sama sekali tidak berbahaya, aku bisa memastikannya.” Jawab Zenon dengan antusias.
Pria itu kemudian menoleh ke bagian kosong di samping Xena. “Luna, tidakkah kamu mendengarnya? Nona Archer ingin kamu menjauh.”
Xena terkejut saat mendengar ucapan Zenon. “Dari tadi ia ada di dekatku?”
“Ah, maklumkan saja. Luna masih anak – anak. Karena itulah, dia selalu ingin menempel dengan orang lain.”
Itu sama sekali tidak wajar!
Walau Luna adalah hantu anak – anak, tetap saja dia adalah hantu di mata Xena. Sosoknya yang pucat pasti akan membuat Xena kaget apabila berdiri di dekatnya.
Xena menghela napas sejenak, berusaha meyakinkan hatinya bahwa dia akan baik – baik saja selama di bawah perlindungan Zenon. Lagi pula, para hantu di rumah ini memang tidak pernah berusaha mengganggu Xena sejak awal.
Xena lantas memejamkan mata seraya berkata di dalam hati, “Aku ingin melihat mereka.”
Cahaya kemerahan berpendar dari anting yang di pakai oleh Xena, menjadi tanda mata batinnya telah terbuka sehingga dia mampu melihat hantu lagi.
Setelah berulang kali menenangkan diri di dalam hati. Xena akhirnya membuka kedua mata dan langsung mencengkram lututnya sendiri tatkala melihat sesosok hantu anak kecil berdiri tepat di hadapannya. Wajah anak itu pucat pasih seperti kertas, rambutnya pendek sebahu, dan kedua matanya tampak didominnasi oleh warna putih.
Hal yang lebih mengejutkan lagi, ada banyak sosok – sosok hantu berwajah pucat dan rusak tengah berdiri di belakang hantu anak kecil. Belasan pasang bola mata itu menatap Xena dengan seksama, seolah tengah mengadili wanita itu.
Xena segera bangkit dari kursi dan berlari kecil ke belakang punggung Zenon yang berdiri di belakang pantry. “Kamu bilang akan memastikan mereka tidak berdiri di dekatku?”
“Kapan aku bilang? Aku hanya menyuruh mereka untuk mendengarkanmu, jika tidak mau menjauh, maka aku tidak memaksa.”
Balasan Zenon tentu saja membuat Xena merasa kesal. “Dasar licik!”
Zenon menarik tangan Xena yang masih bersembunyi dan menahan punggung wanita itu agar Xena bisa melihat hantu – hantu di hadapannya dengan jelas. Jika di total, sepertinya ada 15 hantu yang menghuni rumah Zenon. Wujud mereka tidaklah sama, ada yang terlihat seperti pekerja kantoran, ada yang mempunyai luka bakar di sekujur wajahnya, dan ada pula yang tampak seperti gelandangan kotor.
“Meskipun kalian sudah mengetahui nama Nona Archer. Tetap saja biarkan dia memperkenalkan nama lengkapnya secara langsung. Nah, Nona Archer silahlan perkenalkan diri.”
Xena masih berusaha untuk berjalan mundur, tapi kedua pundaknya ditahan kuat – kuat oleh Zenon sehingga hanya bisa mematung di tempatnya.
“Xe.. Xena. Namaku Xena Archer.” Ujar Xena dengan kaku.
“Sudah kubilang dia memang Xena Archer! Kamu saja yang tidak percaya.” Hantu wanita yang memakai seragam SMA menyikut lengan hantu berpakaian biarawati di sampingnya.
“Aku tidak pernah melihat televisi, wajar saja tidak mengetahui eksistensinya.”
“Aduh, jaga ucapanmu. Hati Nona Archer bisa terluka bila kamu bilang tidak mengenalnya.” Sahut hantu pria yang wajahnya rusak setengah.
“Nona Archer!” hantu wanita SMA berteriak dengan antusias. “Selama aku hidup, aku tidak pernah melewatkan film – film yang kamu mainkan. Bahkan aku juga menonton variety show mu di televisi. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan idolaku saat aku sudah mati!”
“Oh! Oh! Film seriesmu yang berjudul Blood on Your Eyes juga sangat bagus. Aku bahkan merasa ingin menangis darah saat menontonnya!” timpal hantu yang lain.
“Iya benar, seandainya masih hidup, aku pasti sudah menghabiskan banyak tisu.”
Xena menatap semua hantu itu dengan bingung, “Tapi .. Blood on Your Eyes baru tayang tahun lalu …” Xena menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan dengan nada ragu. “Memangnya kalian semua baru meninggal tahun lalu?”
Luna sontak menjawab, “Tentu saja tidak! Kami semua bisa menontonnya karena Zenon terus memut—”
“AHH! Bagaimana bisa kalian mengobrol saat belum memperkenalkan nama kalian.” Seru Zenon secara tiba – tiba.
Luna yang tahu bila Zenon hanya mengalihkan topik tetap melanjutkan perkataannya, kali ini lebih keras, “ZENON SELALU MENONTON FILM MU SETIAP HARI!”
Hantu lain ikut menambahkan, “Dia bahkan menangis jika karaktermu mati!”
Zenon menggebrak meja dan berteriak. “BOHONG! AKU TIDAK PERNAH MENANGIS!”
Luna menunjuk Zenon, “Dengarlah, dia secara tidak langsung membenarkan jika menonton film Xena.”
Xena menoleh ke arah Zenon yang kini tengah menyembunyikkan wajahnya dari Xena, semburat merah bahkan mulai terlihat di ujung telinga Zenon. Xena melangkah mundur karena melihat Zenon yang tiba – tiba merasa malu. “Tapi, dia bahkan tidak mengenaliku saat bertemu di acara penghargaan.”
“Dia hanya bersandiwara!! Dia bahkan menerima pekerjaan untuk menetralkan energi di acara penghargaan setiap tahunnya sejak kamu mulai datang ke acar—”
“Diam! Diam! Diam! Kalian diamlah!”
Zenon secara tiba – tiba menepuk kening Xena sekali sehingga wanita itu tidak bisa lagi melihat hantu di hadapannya. Xena jelas terkejut dengan perilaku Zenon, padahal tadi pria itu yang bersikeras memintanya untuk melihat para hantu, tapi sekarang malah menutup penglihatan Xena dengan paksa.
“Kenapa kamu menutupnya? Mereka masih ingin bicara.” Tanya Xena.
“Tidak ada yang perlu kamu dengarkan lagi! Ucapan hantu hanyalah omong kosong! Tidak perlu mendengar mereka lagi!”
Mereka berdua lantas terdiam. Xena masih berusaha mencerna ucapan dari para hantu, sedangkan Zenon kembali melanjutkan masakannya yang tertunda.
Xena tidak mengerti, jika memang Zenon sudah menyukai filmnya sedari lama. Mengapa tidak datang saja ke acara fan meeting filmnya dan meminta tanda tangan? Kenapa dia malah pura – pura tidak mengenal Xena dan bahkan memberikannya jimat keberuntungan?
“Kamu benar – benar pernah menonton semua film ku?”
Pertanyaan Xena sontak membuat Zenon bersembunyi di bawah pantry. Dia bahkan merasa enggan untuk melihat wajah Xena yang sedang memperhatikannya dengan heran.
“Memangnya tidak boleh?” tanya Zenon dari balik pantry.
Xena berdiri dari kursi, lalu menumpukkan tubuhnya di meja pantry seraya melihat ke bawah. “Di dunia ini ada banyak penggemar tidak waras yang akan melakukan segala cara untuk mendekati idola mereka, apakah kamu salah satunya? Mungkinkah perkataanmu tentang aku yang akan mati jika melepas anting ini hanya akal – akalanmu saja agar aku bisa tinggal di sini?”
“Tentu saja tidak! Aku tidak pernah berbohong saat menyangkut nyawa seseorang!” balas Zenon seraya mendongak ke atas.
Xena tersenyum seolah tengah mengejek, “Jadi, kamu benar – benar penggemarku?”
Pertanyaan berulang itu semakin membuat Zenon enggan menampakan wajahnya. “Aku tidak mau menjadi penggemarmu!”
“Kenapa?”
“Karena, penggemar hanya bisa melihat kamu dari jauh dan bahkan tidak bisa berbincang lama – lama.”
“Jadi kamu ingin menjadi apa?”
Zenon terdiam selama beberapa saat sebelum berkata pelan. “Teman. Bisakah kita menjadi teman? Kata orang – orang di sosial media, kita bisa dekat dengan seseorang apabila menjadi temannya.”
Seketika Xena tertawa lepas saat mendengar permintaan Zenon. Padahal Xena sudah bersiap untuk memukulnya jika Zenon menginginkan hal yang lebih dari teman.
“Baiklah, mari berteman.” Kata Xena.
Zenon segera berdiri lagi dan memperlihatkan wajah antusias, “Benarkah?”
“Ya, mengapa masih bertanya? Apa kamu ingin aku menolaknya?”
“Tidak! Tidak!” Zenon bertanya sekali lagi, “Hari ini kita menjadi teman?”
“Iya, teman.”
Bagi Zenon, ini adalah pertemanannya yang pertama dengan manusia. Wajar saja bila dia tidak tahu harus melakukan apa untuk menjalin pertemanan dengan seseorang.
“Karena kita adalah teman. Bisakah aku memanggilmu dengan nama?”
Xena merasa panggilan tidak terlalu penting. Maka, dia menyetujuinya, “Terserah saja.”
Senyuman terpatri jelas di wajah Zenon, “Aku bisa memanggilmu Xena?”
Xena mengangguk, “Mhm.”
“Bagaimana dengan Nana?”
“Kamu ingin kupukul?” balas Xena. Dia hanya tidak suka dipanggil dengan panggilan lucu seperti itu.
Zenon lantas membalasnya dengan tawa. Suasana hati dari pria itu tampaknya mudah berubah. Padahal tadi dia begitu malu tapi sekarang malah berlagak tidak tahu malu.
Di sisa malam, keduanya menghabiskan waktu dengan makan malam seraya membicarakan kasus yang diberikan oleh Xie Jia.
“Kata Master Xie, kamu belum pernah pergi ke bandara. Apakah kali ini tidak apa – apa?”
Zenon memotong daging dipiringnya secara perlahan. Begitu Xena berkata Xie Jia memberikan pekerjaan di Paris, Zenon mulai tampak gelisah meski tidak begitu ketara. “Kita bisa menggunakan kelas pertama untuk menghindari kerumunan.”
“Apa kerumunan manusia membuat kamu tidak nyaman?”
“Aku hanya tidak suka keramaian.”
Merasa bila Zenon tidak akan memberitahu lebih lanjut menganai kecemasannya itu, Xena berhenti bertanya dan mengalihkan pembicaraan. “Klien yang meminta tolong kepada Master Xie berkata bila hantu di rumahnya hampir pernah membuatnya celaka. Mungkinkah itu adalah hantu tingkat 4?”
“Tidak juga.” Zenon membuka bungkus permen setelah makanannya habis. “Bisa saja dia hampir celaka karena terus ditakut – takuti sehingga bisa saja itu hanyalah hantu tingkat 3. Tapi, tetap saja kita harus cepat menangani hantu itu sebelum mencelakai orang.”
“Minggu depan, kita harus berangkat ke Paris.”
• • •
Seminggu kemudian saat matahari belum terbit sepenuhnya, Xena dan Zenon telah memasukkan tas berisikan pakaian untuk beberapa hari ke dalam bagasi mobil. Mereka harus pergi di pagi buta karena takut Fransisco akan mengamuk saat tahu Zenon telah mengambil pekerjaan lagi di bulan ini.
Malam tadi, Xie Jia telah memesankan dua tiket pesawat kelas pertama untuk Zenon dan Xena sebagai tanda terima kasih karena telah menangani kasus miliknya.
Sebelum berangkat, Zenon menatap layar ponselnya untuk membaca pesan Xie Jia. “Dia bilang nama kliennya adalah Peter Rodriguez. Namanya terdengar tidak asing.”
Xena yang baru saja masuk ke dalam mobil langsung terkejut. “Peter Rodriguez? Bukankah dia adalah direktur dari agensi model yang terkenal di Paris? Mengapa orang seperti dia bisa berurusan dengan hantu?”
Zenon, “Semua orang bisa saja berhadapan dengan hantu. Bahkan kamu sendiri juga tiba – tiba saja bisa melihat hantu.”
“Tapi, jika memang hantu yang mengganggunya adalah penghuni rumah Tuan Rodriguez. Mengapa baru mengganggu sekarang? Bukankah seharusnya dia diganggu sedari awal rumahnya berdiri?”
Zenon juga mempertanyakan hal yang sama di dalam kepalanya. “Entahlah, lebih baik kita menyimpulkan setelah bertemu dengannya.”
• • • • •
To Be Continued
20 September 2021