Mobil melaju dengan kecepatan konstan menelusuri jalanan Kota Chippenham. Zenon terus memakan permen sepanjang jalan sedangkan Xena berusaha untuk tidur. Namun, usaha Xena untuk kembali tidur gagal karena Zenon memutar suara radio dengan volume yang cukup keras.
Pada akhirnya, Xena hanya bisa memandang jalanan dan menyandarkan kepalanya pada jendela. Setelah beberapa saat tidak ada yang bersuara, secara mengejutkan ia mendengar suara anak kecil dari kursi bagian belakang mobil, “Zenon, bisakah kau membelikanku mainan saat kita pergi ke Kota Paris?”
Baik Xena mau pun Zenon sama – sama menoleh ke belakang dan mendapati sosok Luna tengah memandang mereka dengan wajah tanpa dosa. Di antara semua hantu yang ada di dalam rumah Zenon, Luna bisa terbilang sebagai hantu yang paling dekat dengan pria itu dan sudah menemaninya sedari Zenon masih kecil. Karena kedekatan mereka itu pula yang membuat Luna selalu ingin menempel kepada Zenon setiap saat dan mengajaknya untuk bermain. Hanya saja, ketika sudah beranjak dewasa, Zenon sudah jarang bermain dengan Luna sehingga membuat hantu itu selalu mencuri kesempatan agar bisa ikut.
“Kenapa kamu ada di sini?” kata Zenon seraya memberhentikan laju mobilnya di tepi jalan.
Luna menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri kemudian membalas, “Memangnya tidak boleh? Aku sangat bosan tinggal di rumah. Angeline dan Maria tidak akan mau bermain denganku.”
Xena menatap Zenon, “Siapa Angeline dan Maria?”
“Maria adalah hantu yang mengenakan pakaian biarawati sedangkan Angeline adalah gadis SMA. Luna biasanya bermain dengan mereka apabila aku tidak di rumah.”
“Mereka tidak bermain denganku?! Setiap kali aku mendekat, mereka pasti akan mengusirku hanya karena aku masih anak – anak.” Kesal Luna.
“Zenon! Biarkan aku pergi bersamamu! Biarkan aku ikut! Aku kesepian, tidak ada yang ingin bermain denganku selain kamu.” Luna berseru berulang kali dengan nada yang tinggi sehingga membuat telinga Zenon berdenging.
Di lain sisi, Xena hanya bisa terdiam seraya berusaha menjauh dari sosok Luna. Dia mungkin sudah pernah melihat wujud hantu Luna beberapa kali, tapi bukan berarti dia mampu terbiasa dengan cepat. Warna kulit gadis kecil itu sangat pucat dan Xena akan selalu merinding setiap kali melihat manik matanya yang didominnasi oleh warna putih.
“Tidak bisakah kamu mengusirnya?” bisik Xena.
Luna yang mendengar perkataan dari Xena langsung mengamuk. “Jahat! Jahat sekali! Kenapa kamu ingin mengusir Luna? Memangnya apa salah Luna?! Apa kamu ingin merebut Zenon dari Luna?”
Zenon meringis saat mendengar pertanyaan Luna yang terkesan memojokkan Xena. “Luna jangan berlebihan. Aku hanya pergi selama beberapa hari, setelah pulang aku berjanji akan bermain denganmu lebih sering.”
“Tidak mau! Zenon pasti hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Xena, makanya ingin mengusir Luna. Dibandingkan dengan Xena, Luna sudah menemani Zenon sedari kecil dan bahkan selalu menghiburmu saat kamu sendirian. Tapi, kenapa sekarang malah membuang Luna demi wanita baru ini?!” pekik Luna semakin tidak terkendali.
Mengikat hubungan dengan hantu seringkali merepotkan. Para hantu tidak akan terpengaruh oleh waktu dan tidak akan bertambah tua sehingga akan merasa kesal setiap kali manusia yang berteman dengan mereka malah menjauh saat bertumbuh dewasa. Karena itu jugalah, Luna akan menjadi cemburu saat Zenon memiliki teman baru dan mengabaikannya. Satu minggu yang lalu, Luna sengaja membongkar rahasia Zenon yang diam – diam sudah mengagumi Xena sedari lama agar wanita itu menjauh karena merasa risih. Namun, siapa yang menyangka bahwa perbuatan Luna malah membuat Xena dan Zenon menjadi teman.
“Baiklah! Baiklah! Kamu boleh ikut. Tapi, jangan mengganggu kami saat sedang menangani kasus.”
Luna langsung tertawa bahagia dan melompat – lompat di atas kursi. “Kita pergi ke Paris! Luna akan pergi ke Paris bersama Zenon!”
Xena menyumpal kedua telinganya dengan earphone karena tidak tahan mendengar teriakan Luna, sedangkan Zenon memperbesar volume radio di dalam mobil. Selama beberapa hari terakhir, Zenon memang sengaja tidak membiarkan Xena menutup mata batinnya dengan alasan supaya Xena dapat terbiasa melihat hantu. Sejujurnya, upaya Zenon cukup membuahkan hasil karena sekarang toleransi Xena dalam melihat hantu mulai meningkat. Dia tidak lagi berteriak saat melihat hantu di rumah Zenon dan mulai memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan mereka.
Seusai Luna menjadi lebih tenang. Zenon kembali melajukan mobil menuju bandara. karena mengingat Xena yang masih mempunyai trauma dengan mobil, Zenon tidak lagi mengebut supaya wanita itu tidak merasa takut.
Berselang dua jam kemudian, mereka sudah sampai di Bandara Heathrow London. Zenon membawa keluar dua tas milik mereka sedangkan Xena sibuk memasang masker dan kacamata hitam karena takut wajahnya akan tertangkap kamera paparazi di bandara.
Keduanya lantas berjalan menuju terminal penerbangan mereka. Awalnya tidak ada yang aneh, Zenon masih bersikap seperti biasanya yang sesekali mengganggu Xena dengan tawanya yang menyebalkan. Akan tetapi, suasana hati Zenon langsung berubah drastis tatkala mereka mulai keluar dari parkir dan memasuki area terminal. Mungkin karena hari ini adalah hari kerja, terminal penerbangan bagian kepergian sangat padat oleh pengunjung. Orang – orang bahkan harus memiringkan pundak mereka agar tidak bertabrakan dengan orang lain.
Keramaian yang menyesakkan ini sudah biasa bagi Xena yang telah mengarungi berbagai dunia untuk melakukan shooting, tapi Zenon sama sekali tidak terbiasa. Dia terlihat seperti orang linglung dan akan ketakutan apabil Xena melangkah terlalu jauh darinya. Bagi Zenon, tempat – tempat seperti terminal transportasi dan pusat perbelanjaan merupakan tempat yang harus ia hindari supaya tidak terjebak di antara keramaian manusia.
“Xena, Apa ruangan lounge nya masih jauh dari sini?” bisik Zenon pelan.
Xena memelankan langkahnya karena merasa Zenon kesulitan untuk menyamai langkah mereka. Ketika Xena menoleh, dia mendapati wajah Zenon sudah pucat dan tangannya mulai berkeringat seolah tengah terserang demam. “Setelah melewati pemeriksaan boarding pass kita akan sampai. Apa kamu baik – baik saja?”
Zenon mengangguk pelan walau pada kenyataannya dia tidak tampak baik – baik saja. Xena akhirnya memegang tangan Zenon agar pria itu tidak akan kehilangan jejaknya.
Pemeriksaan boarding pass untuk penumpang kelas satu untungnya berlangsung dengan cepat. Dari tempat pemeriksaan, Xena membawa Zenon menuju lounge khusus penumpang kelas satu yang untungnya sedang sepi dengan hanya ada satu atau dua orang yang tengah duduk di sana.
Zenon segera menghembuskan napas lega saat sudah keluar dari kerumunan manusia yang menyesakkan. Tapi, tampaknya batas toleransinya sudah mencapai batas sehingga rasa mual mulai menggerayangi perutnya. Zenon buru – buru melepaskan tangan Xena dan berlari menuju toilet yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Xena merasa terkejut saat melihat Zenon berlari ke toilet, dia pun turut mengikuti pria itu dan menunggu di pintu depan. Suara air yang mengalir di wastafel berusaha meredam suara Zenon yang tengah memuntahkan isi perutnya, beruntung dia baru meminum teh pagi ini sehingga cairan yang dikeluarkan tidak terlalu banyak.
Di luar toilet, Xena tampak khawatir dan bertanya, “Zenon, kamu baik – baik saja? Butuh sesuatu?”
Ada jeda beberapa saat sebelum Zenon membalas dengan suara berat, “Tidak apa – apa, kamu duduk saja di kursi tunggu.”
Xena tentu saja tidak akan tega meninggalkan Zenon sendirian sehingga tetap menunggu di depan toilet. Karena Zenon tidak membalas pertanyaannya dengan sungguh – sungguh, Xena berpikir bila bertanya kepada Luna adalah pilihan yang lebih baik.
“Apa yang terjadi kepadanya?” Xena bertanya pelan kepada Luna seraya menjauh beberapa inchi dari hantu itu.
Luna memalingkan wajahnya dari Xena dan berkata dengan ketus. “Hmp. Kamu bahkan tidak bisa mengertinya, bagaimana bisa Zenon lebih memilih untuk bermain denganmu daripada aku.”
Xena menghela napas karena sadar bila bertanya kepada Luna juga sia – sia. Namun, beberapa saat setelahnya Luna kembali membalas singkat. “Dia hanya lupa minum obat.”
“Obat? Obat apa?”
Luna akhirnya menatap Xena. “Namanya terdengar seperti sline, seline, stirlin, sterlin …”
“Sertraline?” duga Xena.
“Ya! Ya! Namanya Sertraline!”
“Zenon meminum obat itu? Benar – benar Sertraline?” tanya Xena sekali lagi untuk memastikan.
“Iya, benar – benar itu.”
Berselang beberapa menit kemudian, Zenon keluar dari toilet dengan wajah yang kurang baik. Segera saja Xena langsung bertanya. “Kamu minum obat Sertraline?”
Zenon seketika terdiam, kemudian membalas, “Luna yang memberitahu?”
“Itu tidak penting, jawab saja pertanyaanku.”
“Jika jawabannya iya, lantas mengapa? Kamu penasaran dengan alasan aku meminumnya?”
Zenon berjalan cepat meninggalkan Xena, tapi Xena segera menahan lengan pria itu agar tidak melangkah lebih jauh. “Aku tidak mempermasalahkan alasanmu, yang aku permasalahkan di sini adalah kamu meminum obat itu tapi juga sering mengkonsumsi alkohol dan memakai rokok. Zenon, Sertraline dan alkohol tidak dapat dipakai bersamaan.”
Tanpa diberitahu pun Xena sudah mengetahui dengan jelas kegunaan dari obat sertraline. Setahun yang lalu, ketika dia membintangi film Blood on Your Eyes, Xena mengambil peran sebagai seorang psikiater dan nama obat sertraline tidak lagi asing di telinganya.
Setahu Xena, obat sertraline merupakan salah satu obat antidepresan yang berfungsi untuk menangani depresi, gangguan panik, atau pun PTSD. Walaupun Xena penasaran dengan alasan yang membuat Zenon meminum obat itu, Xena lebih mengkhawatirkan pola hidup Zenon yang tidak sehat dan mampu memicu efek samping yang berbahaya hingga menuju kematian.
Zenon juga tampaknya terkejut saat Xena tidak bertanya tentang penyakitnya tapi malah menasihati pola hidupnya yang berantakan.
“Semua orang pada akhirnya juga akan mati.”
Perkataan Zenon tampaknya meningkatkan amarah Xena. “Meski semua orang akan mati, apa salahnya untuk berusaha hidup lebih lama?! Aku tahu mungkin masalahmu terlalu berat untuk ditanggung, tapi mempercepat kematianmu bukanlah solusi!”
Zenon terperangah saat mendengar Xena berteriak. Dia ingin mengucapkan beberapa kata sebagai balasan, tapi lidahnya terasa keluh sehingga hanya mampu diam.
“Zenon.” Xena memegang tangan Zenon dan berkata, “Tetaplah hidup. Karena jika kamu mati, siapa lagi orang yang bisa mengusir hantu yang menggangguku?”
Seolah tersihir oleh tatapan Xena. Tanpa sadar Zenon menganggukan kepalanya dan menyetujui ucapan Xena. “Ya.”
Xena tidak lagi bertanya dan Zenon juta tidak membuka obrolan sehingga mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing – masing. Ketika suara pengumuman tentang informasi penerbangan mereka terdengar, keduanya segera beranjak pergi dari lounge dan naik ke dalam pesawat.
Kabin kelas pertama yang mereka dapatkan berupa ruangan privat kecil yang mampu menampung dua orang penumpang, meski jarak dari kursi satu ke kursi lainnya agak berjauhan.
Saat tidak ada lagi orang asing di sekitarnya, Xena segera melepaskan masker serta kacamata hitamnya dan langsung bernapas dengan lega.
Tatkala Xena merenggangkan otot – otot tubuhnya yang kaku, dia mendengar suara dari orang di sampingnya. “Aku tidak menyangka akan separah ini. Padahal, kupikir akan baik – baik saja bila pergi denganmu. Tapi, ternyata masih separah dulu.”
Xena memalingkan wajahnya ke arah Zenon dan melihat pria itu tengah menatapnya. “Kamu harusnya bilang dari awal jika tidak bisa sehingga kita tidak perlu pergi ke Paris.”
“Aku tetap ingin pergi. Terus berada di lingkungan yang sama kadang membosankan dan aku selalu ingin pergi keluar dari zona nyamanku. Tapi, ternyata tidak semudah itu.”
“Menyembuhkan penyakit mental itu sulit, kamu tidak perlu memaksakannya.” Balas Xena.
Zenon mengalihkan padangannya sejenak sebelum berbicara lagi. “Kamu tidak bertanya?”
“Tentang apa?”
“Tentang penyakitku.”
“Jika kamu tidak mau bercerita untuk apa aku bertanya?”
Zenon mengetukkan jarinya di atas pegangan kursi. “Kata psikiaterku akan lebih baik bila aku membicarakan masalah ini dengan orang lain. Namun, aku tidak bisa membicarakan ini dengan orang – orang di Amynthas karena takut mereka akan menyalahkanku. Karena kamu adalah teman pertamaku, apakah aku bisa bercerita kepadamu?”
Xena sontak tersenyum lembut, “Tentu saja, kamu bisa menceritakan segalanya kepadaku dan aku janji akan merahasiakannya dari orang lain.”
• • • • •
To Be Continued
21 September 2021