Keesokan harinya, Xena berkata kepada Lidia dan Adryan Archer bahwa dia ingin menenangkan pikirannya untuk sementara sehingga akan melakukan perjalanan berkeliling eropa selama satu tahun.
“Satu tahun? Bukankah itu terlalu lama?” tukas Lidia.
Xena, “Mama, sejak menjadi aktris aku tidak punya waktu untuk bersenang – senang. Karena itulah, aku ingin memanfaatkan cuti sebaik – baiknya. Akan sangat sayang bila aku hanya berdiam diri di rumah.”
Lidia terdiam, hal yang dikatakan oleh Xena ada benarnya tapi dia tidak rela putrinya itu berpergian jauh di saat baru saja sembuh. Lain hal nya dengan Lidia, Adryan malah tidak merasa khawatir sama sekali dan berpikir ide Xena tidaklah buruk.
“Xena benar, tidak baik apabila dia terus berada di rumah. Akhir – akhir ini hidupnya sudah cukup tertekan. Mungkin dengan berjalan – jalan, Xena mampu memulihkan pikirannya dan bekerja lebih baik.” Kata Adryan.
Beberapa waktu lalu, Adryan sempat khawatir akan masalah kesehatan mental Xena. Wanita itu telah lama mengurung diri di dalam kamarnya dan terus meracau tidak jelas tentang makhluk – makhluk menyeramkan yang tidak terlihat.
Lidia juga mempunyai pikiran yang sama dengan Adryan sehingga pada akhirnya dia memberikan izin. “Baiklah, pergilah sesukamu. Lagi pula, kamu pasti akan tetap pergi walau mama melarangmu.”
Xena tertawa saat mendengar ucapan Lidia. Sejak awal, Xena hanya ingin memberitahukan kepergiannya kepada Lidia dan Adryan tapi tidak meminta izin mereka. Lagi pula, usia Xena sudah sangat dewasa, tidak perlu lagi mendapatkan pengawasan dari orang tuanya. Akan tetapi, Lidia dan Adryan terlalu menjaga Xena dengan ketat sampai kadang lupa bahwa putri mereka bukan lagi anak kecil.
Bila seandainya Xena berkata akan pergi ke sebuah desa antah berantah, mungkin Lidia akan langsung mengomel dan melarangnya untuk keluar dari rumah. Sebab itulah, Xena memutuskan untuk berbohong.
“Mama tidak perlu khawatir, aku pasti akan sering menghubungi mama!” seru Xena, berusaha membuat Lidia tenang.
• • •
Di malam hari, tepatnya pada pukul 8 malam. Xena baru saja selesai memasukkan pakaian serta barang – barangnya ke dalam koper saat dia menerima panggilan telepon dari Zenon.
“Aku sudah di depan rumahmu.”
Xena melangkah ke arah jendela dan mengintip ke bawah, melihat sebuah mobil BMW dengan atap terbuka tengah berhenti di depan pintu pagarnya.
“Kamu mengganti mobil?” tanya Xena secara spontan.
“Kamu akan membawa barang, tentu saja aku tidak bisa menggunakan mobil yang tidak memiliki tempat penyimpanan.” Balas Zenon santai.
Mobil yang sekarang Zenon bawa memang tidak semahal McLaren Senna, tapi tentu saja tetap mahal di mata orang biasa. Lama – lama Xena penasaran akan jumlah kekayaan yang dimiliki oleh pria ini.
Apa mungkin dia meminta hantu untuk memprediksi angka lotre sehingga mempunyai kekayaan yang melimpah?
“Nona Archer?” panggil Zenon saat tak kunjung mendapatkan balasan.
“Ya, tunggu sebentar. Aku akan segera turun.” Kata Xena seraya menutup panggilan.
Berselang beberapa saat kemudian, Xena buru – buru menarik kopernya keluar dari rumah. Beruntung Adryan dan Lidia sedang pergi keluar untuk menghadiri makan malam bersama pebisnis lain sehingga mereka tidak akan melihat Zenon datang.
Ketika keluar dari pagar, Xena mendapati Zenon sedang bersandar di sisi mobilnya seraya memakan permen lolipop. Rambutnya yang sehitam jelaga diikat ke samping agar tidak tertiup oleh angin, tubuhnya yang tinggi dibalut oleh mantel berwarna cokelat tua yang tampak kontras dengan kaos hitam yang dipakai oleh Zenon.
Jika seandainya Xena berpapasan dengan pria seperti Zenon di jalan, dia mungkin berpikir pria itu sedang melakukan pemotretan untuk iklan mobil.
“Kemarikan kopermu.” Zenon mengulurkan tangannya dan mengambil koper hitam milik Xena. Dengan menggunakan satu tangan, Zenon menaruh koper tersebut di kursi bagian belakang kemudian membuka pintu bagian depan untuk Xena. “Masuklah, Nona Archer.”
Xena lantas masuk ke dalam mobil kemudian disusul oleh Zenon. Sebelum berangkat, Zenon menutup bagian atap mobil supaya mereka tidak terpapar oleh angin dingin saat berkendara di malam hari.
Beberapa saat kemudian, mesin mobil dinyalakan dan Zenon mulai menjalankan mobilnya, menembus Kota London yang tampak dipenuhi oleh gemerlap cahaya lampu.
Xena memperhatikan setiap sudut Kota London dengan seksama, melihat berbagai macam restoran, bar, serta pusat perbelanjaan yang seringkali ia datangi. Saat masih aktif di industri hiburan, Xena memang sering meninggalkan Kota London selama berbulan – bulan untuk melakukan shooting. Namun, kali ini berbeda, Xena meninggalkan London untuk melakukan pekerjaan yang lain.
Selama ini, Xena tidak pernah menekuni pekerjaan lain selain menjadi aktris sehingga bekerja sebagai asisten shaman adalah pengalaman kerja yang baru untuknya.
“Nona Archer, jangan diam saja. Hantu bahkan lebih sering mengobrol denganku daripada kamu.”
Xena akhirnya menoleh ke arah Zenon yang sedang memakan permen yang baru. “Kalau begitu, kenapa tidak bicara saja dengan hantu?”
Zenon tertawa ringan, “Jika mereka ada di sini, aku pasti sudah mengobrol dengan hantu.”
“Kamu benar – benar berteman dengan hantu?” kaget Xena tidak percaya.
“Memangnya salah? Selama mereka menyenangkan untuk diaajak mengobrol kenapa tidak?”
“Master Dominic, mereka itu hantu. Mempunyai penampilan yang buruk dan juga bau yang busuk. Apakah kamu waras saat ingin berteman dengan mereka?”
“Tidak.” Zenon membalas, “Memangnya penampilan itu penting? Daripada berteman dengan manusia yang dipenuhi kepalsuan bukannya lebih baik berteman dengan hantu?”
Xena terdiam sejenak, tidak mengerti kemana arah pikiran Zenon melayang. Walaupun manusia memang dipenuhi kepalsuan, tetap saja akan terasa lebih nyaman untuk berteman dengan manusia dibandingkan hantu.
Pria ini memang tidak waras.
“Kamu benar – benar aneh, Master Dominic.” Lirih Xena.
Beruntung Zenon tidak tersinggung dan menanggapinya dengan lelucon. “Aku memang sering mendengar kalimat itu. Tapi, bukankah Nona Archer juga akan menjadi orang aneh saat bergaul denganku?”
Xena menghela napas, “Ya, sifat anehmu bisa menular.”
Xena bertekad dalam hatinya agar tidak ada satu pun anggota keluarga, rekan kerja, mau pun penggemarnya yang tahu bahwa Xena akan berpergian bersama seorang shaman.
Setelah lama memperhatikan jalan, Xena baru sadar bila mobil yang mereka tumpangi telah lama keluar dari Kota London dan memasuki jalan tol. Jika dipikir – pikir, Xena belum pernah menanyakan letak Desa Amynthas.
“Master Dominic, Desa Amynthas ini letaknya ada di daerah mana?”
Sedari kemarin, Xena terus berusaha mencari informasi mengenai Desa Amynthas dari internet. Akan tetapi, dia tidak bisa menemukan informasi yang berguna. Nama desa itu seolah tenggelam dan tidak memperbolehkan orang asing untuk mengakses lokasi mereka.
Wajar saja bila Xena berpikir Desa Amynthas terletak di wilayah terpencil atau mungkin seperti suku pedalaman.
“Desa Amynthas letaknya dekat dengan Desa Castle Combe di Kota Chippenham. Hanya saja, Desa Amynthas berada di dataran tinggi sehingga letaknya agak jauh dari pemukiman kota.”
“Dekat dengan Desa Castle Combe? Tapi, kenapa tidak aku tidak bisa mendapatkan informasi apa pun tentang Desa Amynthas di internet? Padahal letaknya sedekat itu.” Heran Xena.
“Demi menjaga privasi dari para shaman, Desa Amynthas tidak memperbolehkan orang asing yang tak mempunyai kepentingan masuk ke dalam desa. Selain itu, di dalam desa juga terdapat banyak barang keramat bernilai tinggi dan berbahaya.”
Deskripsi Zenon tentang Desa Amynthas ini semakin membuat Xena yakin bahwa dia telah membuat keputusannya yang salah. Sudah letaknya terpencil, isinya berbahaya pula.
Xena takut dirinya tidak akan mampu bertahan hingga satu tahun ke depan.
Perjalanan mereka setidaknya memakan waktu sekitar tiga jam. Xena bahkan sudah jatuh tertidur akibat tidak bisa menahan rasa kantuk sampai akhirnya terbangun akibat merasakan guncangan pelan pada bahunya.
Tepat ketika dia membuka mata, Xena melihat mobil tengah melaju masuk ke dalam sebuah gerbang besi raksasa yang terletak di tengah dinding beton yang tingginya mencapai 10 meter.
Xena mengernyitkan kening keheranan. Pasalnya, dia belum pernah melihat ada tembok ini setiap kali pergi ke Kota Chippenham. Akan tetapi, keterkejutannya bertambah saat dia memasuki gerbang tersebut.
Punggung Xena sontak menegak dan kedua matanya membulat akibat tidak percaya dengan pemandangan yang ia lihat. Alih – alih melihat sebuah desa terpencil dengan rumah – rumah seperti gubuk, Xena malah melihat sederetan rumah – rumah bertingkat yang berbaris di sepanjang jalan.
“Selamat datang di Desa Amynthas, Nona Archer.” Sambut Zenon.
Bagi Xena, dibandingkan menyandang kata Desa, lebih baik menyebut tempat ini sebagai kawasan mewah Amynthas karena rumah – rumahnya saja bisa setara dengan perumahan mewah Kensington yang ada di Kota London.
“Master Dominic, apakah pendapatan dari seorang shaman sungguh besar?”
Zenon terkekeh pelan, “Menjadi seorang shaman bukanlah perkara mudah, Nona Archer. Mengusir hantu tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang karena itulah kami memasang tarif tinggi untuk orang – orang kaya tapi bisa gratis apabila klien kita adalah orang yang tidak mampu.”
“Berapa … berapa upah yang kau kenakan saat kita mengusir hantu Diane?”
“Hmm … mungkin sekitar 5.000 £. Oh, karena kamu banyak membantuku, kamu boleh mengambil jatah 50 %.”
Xena merasa seluruh tubuhnya gemetar saat mendengar nominal itu. Walaupun pendapatannya sebagai artis terbilang jauh lebih besar, tapi dia tidak menyangka menjadi seorang shaman bisa menghasilkan sebanyak itu.
“Setiap klienmu memberikan harga segitu?”
“Tidak juga. Kadang ada yang memberiku 10.000 £.”
“Berapa banyak klien yang biasanya kamu ambil perbulan?”
Zenon berpikir sebentar, berusaha menghitung jumlah klien yang ia ambil biasanya. “Ketika aku masih berusia dua puluh tahun awal, aku biasanya bisa mengambil 50 klien dalam satu bulan. Tapi, sekarang hanya bisa 10 klien karena Fransisco melarangku bekerja terlalu keras.”
Dengan pendapatan yang sudah bisa mencapai milyaran itu, wajar saja bila Zenon bisa berganti – ganti mobil mewah!
• • • • •
To Be Continued
15 September 2021