BAB 20 : Tingkatan Hantu

1673 Kata
Kemampuan Xena dalam melihat hantu tidak akan bisa dihilangkan. Seumur hidup, Xena akan selalu melihat mereka dan mendengar suara mereka. Apabila Xena tidak menguasai pengetahuan dasar tentang dunia roh, suatu saat mungkin dia akan dalam masalah karena tidak selamanya Xena bisa bersama Zenon. Pada akhirnya, Xena memang tidak mempunyai pilihan selain mengikuti perkataan Zenon. Lagi pula, Xena hanyalah seorang asisten sehingga tidak pantas untuk menolak permintaan atasannya. “Master Dominic, jika kamu ingin aku tinggal di Desa Amynthas, maka aku akan mengajukan syarat untukmu sebelum tinggal di sana.” Zenon memajukkan tubuhnya, merasa bila ucapan Xena menarik. “Oh, katakan saja.” Xena hanya menatap wajah Zenon selama beberapa detik sebelum akhirnya mengambil batang rokok yang sedang pria itu hisap. “Aku tidak mau kamu merokok di hadapanku.” Sedari awal mereka bertemu, setidaknya Zenon sudah merokok di hadapan Xena sebanyak tiga kali. Namun, Xena tidak tahu sudah berapa kali pria itu merokok di belakang Xena. Sebenarnya, Xena tidak perduli bila Zenon mati akibat terlalu banyak menghisap nikotin, tapi Xena tidak mau paru – parunya ikut membusuk akibat menghirup asap rokok. Zenon tampak terkejut saat mendengar perkataan Xena. Dia menggigit ujung ibu jarinya sebentar sebelum membalas, “Kalau di belakangmu artinya tidak apa?” Xena berdecak dalam hati, “Terserah. Memangnya berapa banyak rokok yang bisa kamu habiskan dalam satu hari?” Zenon berpikir sejenak, “Mungkin dua, kadang tiga.” “Tiga batang?” “Tiga bungkus.” “Master Dominic, apa kamu ingin cepat – cepat menjadi roh?!” pekik Xena tanpa sadar. “Semua orang pasti akan menjadi roh, Nona Archer.” Balas Zenon tak acuh. Xena menghela napas, tahu betul bahwa nasihat tidak akan berguna di telinga orang yang sudah kecanduan. Lebih baik memang tidak perlu memperdulikannya. “Jadi, apakah Nona Archer mau tinggal di Desa Amynthas?” tanya Zenon satu kali lagi. Xena mengangguk pasrah, “Memangnya aku punya pilihan lain?” Zenon tersenyum, “Kamu pasti tidak akan menyesal tinggal di sana!” Menyesal atau tidak, Xena sudah tidak perduli lagi. Selama dia bisa mendapatkan benda keramat ini dari Zenon, maka semuanya tidak penting. Hanya satu tahun, setelah itu Xena bertekad tidak akan pernah berurusan lagi dengan Zenon atau pun para shaman. • • • Malam sudah semakin larut sehingga Zenon mengantarkan Xena pulang ke rumah. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara karena Xena berpura – pura tidur agar tidak mendengar  ocehan berisik dari Zenon. Namun, tetap saja Xena tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang saat Zenon terus bersenandung tanpa henti. Tiga puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan mewah. Rumah – rumah besar berjajar di sepanjang jalan, terlihat memancarkan cahaya lampu yang terang hingga mengalahkan gelapnya malam. Xena akhirnya membuka mata, “Belok kanan saat sampai di tikungan, lalu lurus saja sampai menemukan rumah berpagar putih.” “Rumah – rumah di sini sangat besar. Apakah Nona Archer tinggal seorang diri?” “Tidak, rumah di sini adalah milik orang tuaku. Aku hanya tinggal sementara setelah kecelakaan.” Balas Xena. “Sudah kuduga. Kamu pasti sudah di makan oleh hantu sedari lama apabila tinggal sendirian.” Ujar Zenon seraya tertawa. Sayangnya Xena tidak menganggap itu sebagai lelucon. Dia hanya diam selama beberapa saat sampai akhirnya mengingat sesuatu. “Apa ada hantu yang tidak ingin mengganggu manusia?” “Ada.” Zenon melanjutkan, “Hantu selalu mempunyai alasan untuk mengganggu manusia. Entah itu untuk mengusir kita dari tempatnya atau sekadar jahil saja. Tapi, ada juga hantu yang tidak ingin mengganggu manusia karena merasa manusia tidak menarik. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” “Itu karena aku melihat seorang hantu wanita di kamarku, dia tidak berwajah rusak dan mengganggu. Hantu itu malah terlihat sedang melaksanakan aktifitas selayaknya manusia dengan pura – pura merias diri atau berkaca di cermin.” Zenon mengetukkan jarinya beberapa kali pada setir dan membalas, “Tampaknya dia tidak tahu jika dirinya sudah menjadi hantu. Kadang sering ada hantu tingkat satu yang seperti itu. Dan mereka juga cenderung mengabaikan manusia karena dia terjebak akan kenangan masa lalunya sehingga tidak tahu bila ada penghuni baru.” “Hanya hantu tingkat satu yang seperti itu?” “Tidak juga, tapi kebanyakan iya. Hal ini karena hantu tingkat satu tidak bisa menampakkan diri serta menyentuh manusia sehingga mereka jarang mengganggu manusia dan selalu berkeliaran tanpa arah tujuan yang jelas.” Saat mendengar hantu mempunyai tingkatan, Xena merasa tertarik dan bertanya, “Kenapa hantu bisa mempunyai tingkatan?” Zenon memutar setir ke kanan saat melihat ada persimpangan jalan. “Itu karena penyesalan dan dendam yang mereka miliki berbeda. Semakin besar kemarahan yang mereka miliki, maka akan semakin tinggi pula tingkatannya.” “Memangnya ada berapa tingkatan?” Zenon tersenyum kecil saat mendengar Xena terus bertanya kepadanya. “Ada empat tingkatan. Hantu tingkat 1 tidak bisa menampakkan diri di hadapan manusia biasa karena Energi Yin mereka terlalu lemah, hantu tingkat 2 mempunyai kemampuan untuk menampakkan diri tapi tidak bisa menyentuh manusia biasa. Karena itulah hantu Diane hanya bisa menakuti saja tapi tidak dapat mencelakai manusia. Kemudian, ada hantu tingkat 3 yang mempunyai kemampuan untuk menampakkan diri, mengganggu, serta menyentuh manusia. Mereka bisa melakukan sentuhan ringan seperti mencolek atau menepuk, biasanya sentuhan ringan seperti itu sudah bisa membuat manusia celaka karena kaget.” “Dan yang terakhir adalah hantu tingkat 4, ini adalah jenis yang paling berbahaya karena mampu membunuh manusia biasa. Umumnya hantu tingkat ini dapat tercipta akibat mempunyai kemarahan dan dendam yang sangat besar sehingga bisa menyerap Energi Yin di sekitarnya dengan mudah.” Xena terkejut, “Membunuh? Itu sangat berbahaya, bagaimana bila kita suatu saat bertemu dengan hantu seperti itu?” “Tenang saja, keberadaan mereka sangat jarang. Tapi, jika bertemu dengan hantu tingkat 4, maka kita harus melaporkan situasi darurat kepada shaman lain kemudian menyegel hantu itu bersama – sama.” Setelah lama berbincang, akhirnya mobil Zenon berhenti di depan sebuah rumah berpagar putih. “Kita sudah sampai, Nona Archer.” Jika sebelumnya Xena merasa ingin cepat – cepat sampai karena tidak tahan dengan ocehan Zenon, kini dia malah tidak ingin pulang karena masih mempunyai banyak pertanyaan yang berputar di dalam otaknya. Namun, tentu saja dia terlalu malu untuk mengungkapkan hal itu. Xena lantas turun dari mobil dan berkata, “Terima kasih, Master Dominic karena sudah mengantarkanku.” “Bukan masalah. Besok sepertinya aku baru bisa menjemputmu saat malam karena ada urusan lain. Kamu tidak masalah, kan?” “Tidak apa. Oh, berikan aku nomormu agar bisa menghubungimu.” Kata Xena seraya mengambil ponsel dari tasnya. Bukannya memberikan nomor, Zenon malah tertawa, “Nona Archer, kamu adalah wanita kesepuluh yang meminta nomor teleponku hari ini.” Mendengar ucapan Zenon membuat kekesalan di hati Xena muncul kembali, kali ini jauh lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya. “Jika tidak mau memberikan, maka tidak perlu.” Saat melihat Xena berjalan pergi, Zenon buru - buru menahan tangannya dari dalam mobil. “Tunggu. Tunggu. Kenapa kamu begitu serius? Tentu saja aku akan memberikan nomorku. Sebutkan saja nomormu, setelah itu aku akan menghubungi Nona Archer.” Xena melirik Zenon dengan ekspresi ketus, tapi tetap menyebutkan sederetan angka dengan cepat. Beruntung Zenon mempunyai ingatan yang bagus sehingga bisa mencatat nomor itu dengan mudah. Beberapa saat kemudian, bunyi dering terdengar dari ponsel Xena. Terlihat sederetan nomor asing muncul di layar ponsel. Zenon berkata, “Aku akan menghubungimu besok saat datang menjemput.” “Mhm.” Jawab Xena singkat, kemudian langsung berbalik untuk masuk ke dalam rumah. Merasa diabaikan, Zenon kembali berseru. “Aku juga bisa menghubungimu saat aku pulang!” Xena berdecak dan berbalik sebelum menutup pintu. “Tidak perlu, Master Dominic. Sampai jumpa.” Zenon terkekeh pelan karena merasa tingkat Xena lucu saat dia tengah kesal. “Hmm, ketus sekali.” • • • Berselang satu jam semenjak Xena pulang, Zenon benar – benar mengirimkan pesan kepada wanita itu. Awalnya Xena berniat untuk mengabaikan pesan Zenon yang tampak seperti spam. Namun, akhirnya dia membaca pesan itu dengan malas. [Nona Archer, aku sudah sampai rumah.] Beberapa saat kemudian, pria itu mengirimkan foto dirinya sendiri yang tengah berdiri di balkon. Xena mengernyitkan keningnya saat melihat foto itu, padahal Zenon bilang dia tinggal di Desa Amynthas, tapi mengapa malah berfoto dengan latar belakang Kota London. [Kamu mempunyai rumah di London?] Tidak butuh waktu yang lama bagi Zenon untuk membalas. [Tidak, ini rumah milik pamanku. Aku hanya menumpang karena tidak ada yang menempati rumah ini.] Paman yang dimaksud Zenon ini sepertinya mempunyai kekayaan yang tidak diragukan lagi. Pasalnya, saat pertama kali bertemu di acara penghargaan oscar pun Zenon berkata bahwa pamannya yang menyuruh dia duduk di deretan kursi produser dan aktor. Mungkinkah pamannya orang terkenal? Xena ingin bertanya, tapi takut pertanyaan yang menyangkut ranah pribadi akan tidak sopan. Akhirnya Xena mengalihkan pembicaraan mereka. [Apakah aku perlu memberitahu hantu di kamarku jika dia sudah mati?] [Tidak perlu, nanti dia malah mengganggumu saat tahu dia sudah mati] [Baiklah] Lagi pula, Xena sedang menghilangkan kemampuan mata batinnya sehingga tidak bisa melihat kehadiran hantu itu. Xena lantas menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur seraya memikirkan alasan apa yang akan ia katakan kepada orang tuanya untuk pergi selama satu tahun. Dia tidak mungkin bilang jika dia pergi ke sebuah desa yang tidak jelas letaknya di mana, dia juga tidak bisa berkata dirinya akan menjadi asisten seorang shaman. Kedua orang tuanya mungkin akan langsung memasukkan Xena ke rumah sakit jiwa apabila tahu putrinya menggeluti bidang perhantuan. Saat tengah berpikir, suara notifikasi pesan terdengar. [Nona Archer, kamu sudah tidur?] Xena baru sadar dia belum memberikan nama untuk nomor Zenon. Jadi, dia memutuskan untuk memberikannya nama ‘Pria Tidak Waras’ di kontak Zenon. Setelah itu, Xena tidak membalas pesan Zenon dan memejamkan matanya akibat merasa lelah setelah seharian berkutat dengan hantu. Ketika Xena sudah tidur, sebuah pesan dari ‘Pria Tidak Waras’ kembali muncul. [Selamat tidur, Nona Archer] Berkat anting yang diberikan oleh Zenon. Malam itu, Xena tidak lagi melihat mimpi buruk yang berhubungan dengan hantu. Untuk pertama kalinya selama dua minggu, Xena bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus terbangun di tengah malam akibat mendengar suara ketukan hantu di luar jendela. • • • • • To Be Continued 14 September 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN