Mobil McLaren Senna itu melaju cepat, membelah jalanan Kota London yang sedang lenggang. Ketika duduk di dalam mobil, diam – diam Xena mencengkram tangannya sendiri setiap kali Zenon menginjak pedal gas.
Xena tahu jika orang – orang yang senang mengoleksi mobil sport selalu mempunyai kecenderungan untuk mengebut di jalan. Hal itu Xena ketahui karena Helios juga mengoleksi mobil sport di rumah pribadinya, saudaranya itu seringkali pergi ke sirkuit hanya agar bisa menyalurkan keinginan untuk melaju secepat cahaya. Namun, karena terlalu sering berkendara di atas sirkuit, Helios seringkali lupa untuk tidak mengebut di jalan umum. Sebab itulah, manajer Helios melarangnya menggunakan mobil sport di jalan umum agar dia tidak membuat skandal buruk.
Dan tampaknya Zenon juga mempunyai kebiasaan yang sama dengan Helios. Sesekali Xena akan melirik ke arah speedometer dan melihat Zenon tidak pernah melaju dibawah kecepatan 70 km/jam.
“Master Dominic.” Xena akhirnya membuka suara. “Bisakah kamu tidak mengebut? Aku ... merasa agak tidak nyaman berkendara dengan kecepatan tinggi.”
Perkataan Xena sontak membuat Zenon sadar bahwa dia tidak berkendara sendirian sehingga dia langsung memelankan laju mobilnya. “Maaf, Nona Archer. Saya terbiasa berkendara sendirian, jadi tidak pernah memperhatikan kecepatan.”
“Tidak perlu meminta maaf. Aku juga dulu sebenarnya sering ikut Helios berkendara di sirkuit. Namun, setelah kecelakaan aku selalu tidak nyaman saat mobil yang kutumpangi ngebut.”
“Setelah pulang dari acara Oscar, apakah kamu membuang jimat yang kuberikan?” tanya Zenon serius.
Xena tertawa pelan, seolah tengah mengejek dirinya sendiri. “Saat itu aku belum bisa mempercayai Master Dominic. Jadi, aku menganggap ucapanmu sebagai omong kosong.”
Lagipula, di mata orang awam, tingkah Zenon memang tampak tidak waras. Dia selalu berbicara sendirian dan tiba – tiba berkata bila Xena diikuti oleh hantu yang membawa kesialan.
“Maaf, bila kamu merasa tersinggung.” Tambah Xena, tidak ingin membuat suasana menjadi canggung.
Zenon tergelak, “Tidak apa. Aku juga tidak dirugikan bila orang lain tidak mempercayai perkataanku.”
Ucapan yang dilontarkan oleh Zenon seolah tengah memperolok Xena. Bila diartikan secara kasar, Zenon merasa sudah memberitahu hal buruk, jadi apabila orang itu memang tidak percaya dan kecelakaan. Maka Zenon tidak akan perduli.
Jika pada saat kecelakaan Xena meninggal, mungkin Zenon hanya akan menertawakan kebodohan Xena dan bertingkah tidak perduli.
Sepanjang sisa perjalanan, Xena memutuskan untuk tidak berbicara lagi. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di restoran pasta yang ingin mereka tuju. Setelah memarkirkan mobil, Xena memilih tempat duduk di bagian luar restoran supaya bisa leluasa berbicara tanpa harus takut mengganggu orang lain.
Seusai keduanya memesan makanan, Zenon langsung membuka pembicaraan mereka. “Nona Archer, kapan kamu ingin mulai bekerja?”
“Aku sudah mengajukan cuti kepada agensi, jadi kurasa aku akan bekerja dengan Master Dominic sesuai dengan tanggalku cuti.”
“Kamu ingin bekerja mulai besok?”
Xena, “Tidak masalah.”
Semakin cepat bekerja, maka semakin cepat pula kontrak mereka selesai.
“Sesungguhnya ada satu hal penting yang harus kamu lakukan saat bekerja denganku.”
“Apa itu?”
Zenon memantik sebatang rokok dengan korek gas, kemudian dia membalas, “Di dunia ini, shaman selalu bekerja di bawa sebuah komunitas tertentu agar tidak melakukan praktik yang berbahaya. Aku berada di bawah naungan komunitas Amynthas, sebuah komunitas shaman tertua di dunia ini.”
“Ketika seseorang menjadi shaman di Amynthas, mereka akan mendapatkan rumah di Desa Amynthas. Walaupun sebenarnya tidak ada keharusan untuk para shaman tinggal di Desa Amynthas, kebanyakan shaman akan memilih tinggal di sana karena merasa lebih nyaman. Nah, karena Nona Archer akan menjadi asistenku, maka kamu juga harus tinggal di Desa Amynthas selama satu tahun.”
Xena terkejut, “Apa?! Kenapa aku juga harus tinggal di desa? Bukankah kamu hanya perlu menghubungiku bila ingin memeriksa kasus?”
Sejak kecil Xena sudah terbiasa hidup di kota besar, mendapatkan berbagai macam fasilitas bintang lima yang bisa di akses dengan mudah. Xena juga memiliki kebiasaan untuk pergi ke pusat perbelanjaan setiap minggu atau menghilangkan stress dengan cara menginap di hotel mewah.
Berbeda dengan kota, kebanyakan desa cenderung tidak mempunyai tempat hiburan yang gemerlap seperti kota. Di tambah lagi, Xena tidak mungkin meninggalkan keluarganya tiba – tiba. Dia tidak yakin orang tuanya akan memperbolehkan Xena tinggal di sebuah desa yang bahkan namanya tidak pernah ia dengar.
“Nona Archer, pengetahuanmu dalam bidang shaman masih sangat minim. Suatu saat kamu mungkin bisa mengacaukan kasus yang akan kita tangani. Sebab itu, aku ingin mengajakmu tinggal di Desa Amynthas agar kamu terbiasa dengan dunia roh. Lagipula, bukannya kamu juga diuntungkan apabila mendapatkan ilmu tentang dunia roh?”
• • • • •
To Be Continued
13 September 2021