“Aku akan memberimu waktu untuk berpikir selama tiga hari. Sampai hari itu, aku akan meminjamkanmu benda ini sebagai pelindung.”
Ucapan yang dilontarkan oleh Zenon sama sekali tidak membuat Xena tenang. Pria itu hanya memberikannya waktu tiga hari dan setelah itu Zenon benar – benar akan melepaskan tanggung jawabnya kepada Xena.
Setelah memperhatikan tingkah laku Zenon sedari awal, Xena menyadari bahwa pria itu dipenuhi oleh tipu daya licik sehingga bisa mengeruk keuntungan dari orang lain sebanyak – banyaknya.
“Bagaimana bila aku tetap tidak mau menjadi shaman?”
Zenon membalas ringan, “Maka kamu akan mati.”
Xena memang percaya bila hantu dapat memakan jiwanya. Tapi, Xena meragukan ucapan Zenon yang berkata jimat penangkal tidak akan cukup untuk melindunginya. Pasalnya Xena masih bisa bertahan selama dua minggu di bawah perlindungan jimat dari Xie Jia.
“Kamu harus buktikan terlebih dahulu bila jimat penangkal memang tidak bisa membantuku.” Kata Xena.
Zenon lantas mengambil selembar jimat berwarna kuning dari dalam saku celananya, kemudian menyerahkan jimat itu kepada Xena. “Coba pegang jimat ini seperti halnya kamu menggenggam jimat yang diberikan oleh Master Xie.”
Tanpa banyak bertanya, Xena memegang jimat itu seperti saat dia memegang jimat yang diberikan oleh Xie Jia. Biasanya, Xena akan meremas jimat menjadi bola kertas kecil dan menggenggamnya dengan erat karena takut hantu bisa langsung menyentuhnya jika dia menaruh jimat tersebut sembarangan.
Walau begitu, tidak ada sesuatu yang terjadi sehingga Xena mulai merasa bila Zenon telah menipunya.
Namun, sebelum Xena bisa mengutarakan protesannya, Zenon sudah berbicara terlebih dahulu. “Kemarikan jimatnya.”
Xena lekas mengembalikan jimat yang sudah kusut itu kembali ke tangan Zenon. Tidak sampai menunggu lima detik, jimat kusut itu telah dibuka oleh Zenon. Memperlihatkan sisi bagian dalam jimat yang kini mempunyai bercak – bercak kehitaman yang ketara.
“Jimat penangkal kesialan akan selalu menyerap energi negatif dari penggunanya. Begitu pun saat dipakai olehmu, jimat ini akan berusaha keras menyerap Energi Yin milikmu.”
Zenon melanjutkan seraya menunjuk ke arah bercak hitam. “Bercak hitam ini adalah Energi Yin-mu yang terperangkap.”
“Jika jimat ini mampu menyerap Energi Yin-ku yang melimpah ruah, bukankah artinya hanya menggunakan jimat saja sudah cukup?”
Zenon menggeleng, senyuman kecil terpatri di wajahnya saat ia berkata, “Coba saja kamu lepas anting yang kuberikan.”
Anting yang dipasangkan oleh Zenon di telinga kiri Xena merupakan sebuah benda keramat tingkat tinggi yang tidak bisa disandingkan dengan secarik kertas mantra. Xena tiba – tiba saja menjadi khawatir dan takut perkataan Zenon adalah suatu kenyataan.
Xena menghela napas beberapa kali sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melepaskan anting yang tersemat di telinganya.
“Dia pasti bisa melihat kita lagi!!”
Bisikan suara yang tidak menyenangkan langsung menyerbu indra pendengaran Xena. Energi Yin di dalam tubub Xena perlahan merambat di sekitar Xena, menguarkan daya tarik yang kuat bagi para hantu.
Zenon membiarkan Xena memegang jimat sekali lagi dan hal yang mengejutkan pun terjadi. Tatkala jari Xena menyentuh permukaan jimat, kertas jimat yang berwarna kuning itu langsung berubah warna menjadi hitam seluruhnya.
Kedua bola mata Xena membulat, tidak mempercayai apa yang ia lihat sekarang. “Tidak mungkin bisa seburuk itu, aku bahkan bisa menggunakan jimat Master Xie selama dua minggu.”
“Kamu menggulung jimat itu menjadi bola, bagaimana bisa yakin bila warnanya tidak berubah?”
Kata – kata Zenon telah membuka pikiran Xena. Dia sekarang mulai meragukan ingatannya sendiri karena tidak pernah memperhatikan warna jimat secara seksama. “Aku akan memastikannya saat pulang.”
Zenon, “Apa yang mau kamu pastikan? Jimat itu bahkan sudah hancur.”
“Hah?”
“Di dalam kantung celanamu terdapat residual energi dari jimat itu, pertanda bahwa jimat itu masih bersamamu sebelum datang kemari dan hancur di perjalanan. Jimat itu tampaknya sudah mencapai batas.”
Zenon melanjutkan, “Nah, Nona Archer. Apakah sekarang kamu mempercayaiku?”
Xena hendak membalas ucapan Zenon, tetapi terhenti saat suara teriakan terdengar dari dalam ruang latihan. “Ketemu! Kita berhasil menemukan sisa – sisa tulang dari Nona White.”
Baik Zenon mau pun Xena langsung berlari masuk ke dalam ruang latihan dan mendapati sudah ada lubang galian yang cukup besar di area yang ditunjukkan oleh Zenon.
Di dalam lubang tersebut, mereka bisa melihat sebuah tengkorak kepala manusia yang mencuat di antara tanah kotor. Para polisi tidak langsung menarik tengkorak itu keliar, mereka mulai menggali tanah menggunakan sekop kecil supaya tidak merusak bagian tengkorak yang belum terlihat.
Xena buru – buru memasang anting milik Zenon di telinganya lagi, tapi memutuskan untuk tidak menutup mata batinnya agar bisa melihat Diane.
Setelah hampir seratus tahun terlewati akhirnya Diane White dapat melihat sisa – sisa kerangka tubuhnya. Seperti keadaan Diane, leher dari kerangka itu pun juga tampak patah dan lunglai ke samping. Pada bagian tengkorak kepala terdapat retakan yang diakibatkan oleh pukulan sekop tanah.
“Nona White, setelah ini kita akan menguburkanmu dengan layak. Kira – kira, di mana kamu ingin dikuburkan?” Tanya Zenon tanpa mengindahkan tatapan orang lain saat dia berbicara sendiri.
Diane tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab, “Di mana..pun ti..dak masalah. A..sal bu..kan di Lon..don.”
Tampaknya Kota London telah mengukir kenangan buruk di benak Diane. Bagaimana pun juga, kematiannya bisa terjadi akibat namanya di kenal oleh seluruh masyarakat London di tahun 1920-an. Seandainya saja dia tidak pergi ke kota ini dan menjadi aktris teater, mungkin Diane bisa meninggal di usia tua dan memperoleh kehidupan bahagia dengan memiliki anak serta cucu.
“Bagaimana bila kamu dikuburkan di desa tempatku tinggal.” Zenon berkata, “Namanya Desa Amynthas, tempat para shaman berkumpul. Udaranya sangat bersih dan terdapat hamparan padang rumput yang luas. Tempat ini sangat cocok bila kamu muak dengan Kota London yang selalu dipadati oleh manusia.”
Penampilan rusak Diane lambat laun mulai berubah. Darah serta belatung yang mengotori permukaan kulitnya menghilang, meninggalkan permukaan kulit sehalus batu pualam. Kepalanya yang patah telah kembali ke posisi semula sehingga Diane bisa berdiri tegak di hadapan Zenon.
Hantu itu tersenyum cerah, menampakkan wajah cantik yang dahulu di puja oleh banyak pria. Pada akhirnya, wajah itu jugalah yang menumbuhkan kedengkian di hati wanita lain sehingga membuat mereka nekat melakukan segala hal demi menjatuhkan Diane.
Sarah mungkin tidak membunuh Diane secara langsung tapi dia tanpa sadar telah msngambil andil atas kematian Diane yang sia – sia.
“Kalau begitu, bisakah Master menguburkan saya dengan layak di Desa Amynthas nanti?” Ujar Diane dengan kosa kata yang jelas.
Zenon mengangguk seraya tersenyum, “Tentu. Nona White tidak perlu khawatir, aku pasti akan mempersiapkan makam terbaik untukmu.”
“Terima kasih, Master.” Diane lalu melirik ke arah Xena, “Terima kasih juga, Nona. Tanpa kalian berdua, saya mungkin akan terjebak di dunia ini sampai ada yang menghancurkan jiwa saya. Sungguh, saya sangat berterima kasih.”
Ketika seorang hantu menampakkan wujud manusia mereka, maka itu menjadi tanda bahwa pintu akhirat telah terbuka untuk mereka. Cahaya menyilaukan terlihat dari atas langit – langit ruangan, dari cahaya itu muncul sebuah tangga berwarna emas yang tampak begitu indah. Para polisi dan detektif mungkin tidak bisa melihat, tapi Xena dan Zenon mampu melihatnya dengan jelas.
“Selamat tinggal, berusahalah menjalani kehidupan yang kalian inginlan selagi masih hidup.”
Diane berbalik, mulai melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga emas satu – persatu. Namun, ketika baru mencapai setengah jalan, kakinya terhenti saat mendengar suara Xena. “Nona White, sebagai seorang aktris terkenal. Apakah mendapatkan gelar aktris terbaik membuatmu bahagia?”
Diane berbalik, menatap wajah Xena yang berdiri di bawah tangga. Keduanya sama – sama menggeluti bidang sandiwara dan juga memiliki popularitas yang tinggi. Hanya saja, Diane selalu dikenal sebagai aktris teater terbaik sedangkan Xena tidak pernah mendapatkan gelar tersebut.
“Sebagai seorang aktris, bukankah menjadi yang terbaik adalah sebuah pencapaian besar? Tapi, bukan itu yang membuat kita bahagia. Gelar hanyalah sebuah nama, bisa di rebut oleh orang suatu saat nanti. Alih – alih mengejar gelar terbaik, bukankah lebih baik untuk menikmati proses dalam bermain seni peran?
Bagiku dunia seni peran adalah segalanya. Sebuah bidang yang sangat kugemati sedari kecil sehingga gelar tidak begitu penting bagiku. Selama aku bisa bermain sandiwara, maka itu sudah cukup. Bagaimana denganmu, Nona Archer? Apakah menjadi aktris merupakan hal yang kamu gemari?”
Xena terdiam, tidak mampu menjawab dengan lantang. Selama ini dia menjadi aktris hanya karena keluarganya menggeluti bidang entertainment sehingga dia berpikir harus menapaki jalur yang sama dengan mereka.
Jika seseorang bertanya kepadanya apakah bermain peran merupakan hal yang membahagiakan untuknya?
Maka Xena tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Pintu akhirat tidak akan terbuka lama sehingga Diane harus segera pergi. “Nona Archer, semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri nanti. Baik sebagai seorang aktris mau pun menjadi hal lain.”
Jiwa Diane kemudian menghilang bersamaan dengan menghilangnya cahaya yang menyilaukan.
Melihat kepergian seorang jiwa yang terlantar di dunia merupakan hal yang baru bagi Xena Archer. Awalnya dia merasa bahwa membantu hantu adalah hal yang konyol dan membuang – buang waktu. Akan tetapi, saat mendengar Diane mengucapkan terima kasih, Xena mulai menyadari sesuatu.
Para hantu itu juga sebenarnya tidak ingin terjebak di dunia yang busuk ini. Mereka juga mau langsung menuju akhirat tapi malah tertahan oleh keinginan mereka yang belum selesai di dunia.
Kebanyakan shaman selalu melupakan fakta itu dan hanya berfokus untuk mengusir roh penasaran itu untuk selamanya tanpa harus mengambil cara yang sulit seperti yang dilakukan oleh Zenon selama ini.
“Sebelum menjadi hantu, mereka dulunya juga adalah seorang manusia seperti kita. Kemudian mereka mati dengan penyesalan dan berakhir menjadi hantu.”
Kata – kata dari Zenon beberapa waktu lalu terus berputar di dalam benak Xena. Semua hantu yang ada di dunia ini adalah manusia, mereka pernah hidup, bernapas, dan menjalani kehidupan selayaknya manusia yang masih hidup.
Penyesalan yang tertanam kuat di dalam hati malah menjadi rantai yang mengikat mereka di dunia. Penyesalan dan kemarahan juga lah yang membuat mereka menjadi hantu penasaran dan mengusik hidup manusia yang masih hidup.
Seandainya boleh memilih, mungkin para hantu penasaran itu juga tidak mau menjadi hantu. Mereka sudah mati, tapi masih harus berjalan di dunia yang fana dan terus menderita dalam waktu puluhan hingga ratusan tahun.
Bila saja Zenon atau beberapa shaman yang lain tidak mau membantu para hantu untuk mewujudkan keinginan terakhir mereka, maka para hantu itu tidak akan mempunyai harapan untuk menjalani reinkarnasi setelah mati.
“Master Dominic, tampaknya aku sudah membuat keputusan.”
Zenon lantas menatap Xena dengan antusias. “Apa keputusanmu?”
“Aku juga ingin membantu para hantu.”
Setidaknya sampai Xena memantapkan hatinya untuk kembali menggeluti industri hiburan.
• • • • •
To Be Continued
11 September 2021