RELIEF

1697 Kata
"Dih, muter bigbang lagi nih ceritanya" celetuk Nel memasuki kamarku tanpa mengetuk lebih dulu. Dengan semena-mena juga dia mengempaskan diri ke atas tempat tidurku yang baru di ganti sprei dan bedcover nya. Bawa sebungkus keripik kentang pula. "Masa kegelapan sudah berakhir, matahari bersinar, and i'm happy" gumamku tanpa mengalihkan fokusku pada layar laptop. Ya, aku gak akan memutar lagu-lagu bigbang yang manapun kalau hidupku sedang gak bahagia. Aku gak mau meng asosiasi kan karya mereka dengan kenangan yang gak ingin ku ingat. Saat ini Crayon sedang mengalun meriah dari speaker USB yang tersambung dengan HP ku. "Ngutip quote dari mana tuh? " Tanya Nel dengan mulut penuh keripik. "Nel, please remahannya nyembur kemana-mana" tegurku. Nel memutar bola matanya tapi dengan patuh beringsut turun ke karpet bulu berwarna pink fuschia di samping tempat tidur. "Gimana, jadi dong dapet pinjamannya? " Tanya nya lagi sambil nyengir penuh antusiasme. Aku mengangguk sambil memutar tubuhku menghadap kearahnya "pakai surat perjanjian tapinya" kataku. "Gimana, coba liat" Aku menarik terbuka laci kedua meja rias mengambil amplop coklat berisi surat perjanjian yang baru ku tanda tangani siang tadi lalu menyerahkannya pada Nel. Ekspresinya berubah-ubah seiring dengan semakin banyak yang ia baca. Seperti juga diriku Nel di buat shock oleh pasal terakhir. "Ini seriusan?, dia kasih sangsi gak masuk akal gini? " Serunya emosional. Beruntung hanya tinggal kami berdua di rumah, mama Nia dan Tora sudah pulang sore tadi. Masalah pinjol ini hanya akan jadi rahasia kami bertiga saja. Aku mengendikkan bahu, "Itu yang paling aku takuti kan? " "Dan abang manfaatin itu buat nekan dirimu. " Nel menampakkan ekspresi gak suka. "kok dia jadi kayak gini, sih?! " "Aku cuma perlu ngikutin semua pasal itu kan?, gak susah kok" sanggahku kembali menghadap laptop. Aku sedang mempelajari lagi software yang tadi di pasang Tora supaya aku bisa mulai membuat pembukuan sederhana untuk salon dan diriku sendiri. Pembukuan ini nantinya yang akan menjadi bahan laporanku tiap bulan, persis seperti salah satu pasal perjanjian. "Kamu yakin gak ada apa-apa di balik semua ini? " Aku terdiam, menelengkan kepala berusaha mencerna pertanyaan Nel, Aku gak melihat apapun di balik surat perjanjian itu. Lagi pula apa memangnya yang di inginkan Tora dariku?. sekalipun ada sesuatu yang dia harapkan, aku akan pikirkan lain waktu, yang terpenting sekarang adalah menyelesaikan masalah pinjol sialan ini lalu melaksanakan setiap pasal perjanjian itu, maka hidupku akan baik-baik saja. "entah deh, pikirin entar aja" gumamku. "Kamu mending cari orang lain kalau mau mulai hubungan yang baru, jangan bang Tora pokoknya" "Kenapa emang? " "Kalau sama dia CLBK namanya, kakak. Bukan hubungan yang baru" "Jayus" **** Tora akan pulang hari ini, dengan penerbangan siang, dan pagi-pagi dia sudah ada di dapurku menyiapkan tiga mangkuk bubur ayam untuk dirinya sendiri, aku dan Nel. wajah segarnya di hiasi senyum hampir tanpa jeda kayak orang habis menang undian satu milyar dolar. "Bahagian banget bang, abis ngapain kamu kemaren? " Tanya Nel dengan gaya keponya yang menjurus rese. "Menurut mu? " sahut Tora dengan nada bosan. "Kalian sudah ziarah? " tanyanya sambil mengaduk isi mangkuknya. Aku dan Nel sama-sama menggeleng dan mengalihkan pandangan kami ketempat lain, kemana saja asal bukan bubur di mangkuk Tora. "Kita ziarah habis ini kalau gitu, habis itu cari mesin ATM" "Aku juga? " Tanya Nel dengan nada enggan. Salah satu tempat yang paling di hindarinya adalah pemakaman. Nel takut pemakaman. "Iya Nel, kamu juga. Lusa sudah mulai puasa" sahut Tora. "Kalian aja deh, aku bareng mama aja" Elak Nel. "Mama sudah kemaren sama Tiana" "Mau pinjam kalung pembalik waktu gak Nel? " celetukku. "Gak usah kak, kamu lebih butuh" balasnya dengan nada sarkas. "Duit bubur jangan lupa, sepuluh ribu" sela Tora dengan gaya ademnya membatalkan niatku membalas Nel. Aku dan Nel gak shock tentu aja, kami sudah terbiasa seperti juga semua orang yang mengenal Tora. Dengan enggan aku dan Nel mengeluarkan lembaran sepuluh ribuan lalu menaruhnya di tengah meja yang langsung di ambil Tora dan di masukkan ke dalam saku seakan takut kami berubah pikiran. Aku sempat ke makam ayah dua minggu lalu, saat aku sudah gak sanggup lagi menyimpan sendiri masalahku. Aku menangis di sana selama hampir satu jam sambil membersihkan permukaan makam dari rumput liar yang mulai tumbuh di beberapa bagian. Aku menceritakan semuanya sampai gak ada lagi yang tersisa, walau aku tau batu nisan serta gundukan tanah gak bisa mendengar apalagi memberi solusi paling tidak saat sampai di rumah aku jadi punya keberanian untuk menceritakan apa yang ku alami pada Nel. Hari ini aku kembali datang dengan tujuan berbeda dan di temani Tora juga Nel. Setelahnya kami menuju makam ayah Tora dan Nel, yang letaknya di komplek pemakaman berbeda. Ayah Tora atau biasa aku panggil papa Tony meninggal di tahun kedua aku dan Tora menikah, seperti anggota keluarga tora yang lain papa Tony pemperlakukanku dengan sangat baik. Aku gak bisa menutupi antusiasme yang kurasakan selagi Tora mengemudikan mobil menuju Jamtos, salah satu Mall di jambi, aku gak sabar menguras isi rekeningku untuk membayar semua pinjaman lalu menghapus aplikasi-aplikasi itu dari HP ku. Kami sepakat memilih mall supaya lebih praktis, hampir semua bank menyediakan mesin ATM di sana, Tora juga ingin membeli kopi AAA untuk menambah stok. "Sayang banget sih duit segitu abis buat bayar utang sama bunga yang gak masuk akal" ujar Nel dari bangku penumpang di belakang. Aku memberinya tatapan sengit melalui kaca spion. "Bisa buat DP motor baru, itu bunga nya aja, Hanjiir" tambahnya malah makin menjadi. "Itu kenapa ada yang bilang kebodohan itu sangat berbahaya" dan Tora dengan kecepatan menyaingi jumbo jet menyambar umpan. Aku gak ingin terpengaruh, mood ku terlalu baik untuk membalas omongan mereka. Lagi pula semua itu benar, aku merasakan sendiri gimana berbahayanya sebuah kebodohan. "Habis ini langsung ke bandara ya, bang? " tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan. "Hmm" gumam Tora menganggukkan kepala tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depan. "Gak mampir makan dulu, nasi padang Maulana jadi deh" usul Nel menyebutkan rumah makan padang di kawasan palmerah lama. Ikan bakar di tempat itu rasanya berbeda dan luar biasa enak. "Gak sempat, antar aku ke bandara dulu habis itu terserah deh kalian mau ngapain" Tora membelokkan mobil memasuki pintu masuk mall, menurunkan ku dan Nel di depan deretan mesin ATM di dekat pintu masuk lalu mengantri menuju tempat parkir. Aku dan Nel menghabiskan hampir lima belas menit berpindah dari satu mesin ATM ke mesin ATM yang lain. satu persatu pinjaman berhasil ku kembalikan, hingga tertinggal satu aplikasi lagi yang mengharuskan ku membayar melalui Alf****t. Kami memutuskan menunggu Tora di pintu belakang mall alih-alih menyusul Tora ke bagian supermarket di lantai dasar. Ada banyak bangku dan stand minuman, aku membeli es teh dan pop corn ukuran medium lalu memilih bangku di bagian luar teras. Memanfaatkan waktu dengan menghapus setiap aplikasi pinjol yang sudah mengirimiku notifikasi pelunasan. "Kamu pernah kepengen punya anak gak, kak? "tanya Nel tiba-tiba setelah sedari tadi kami sibuk sendiri-sendiri. Aku sampai mengalihakan fokusku dari layar ponsel ke mukanya, bingung gimana bisa muncul topik serandom itu. Tapi lalu aku mengikuti arah tatapannya, di dekat pintu masuk ada seorang ibu muda dengan perut menyembul sangat besar sampai dia terlihat kesulitan memegangi troli berisi belanjaan dan balita perempuan yang tengah merengek mengentak-entakkan tubuhnya. "uhmmm, ngak. Gak pernah" sahutku jujur. Aku gak tau kenapa, sejak sadar salah satu fungsi organ dalamku adalah memproduksi manusia, aku gak pernah bercita-cita memproduksi manusia untuk alasan apapun. Tapi, aku juga gak anti pada ide bahwa bereproduksi itu kodrat, aku hanya gak berpegang pada ide itu. "Kenapa?, kamu pengen punya bayi? " aku balik bertanya. Nel menelengkan kepala "uhmm, pengen" Angguknya pasti "tapi gak dengan melahirkan juga" Aku mengangkat alis tertarik dengan apapun yang mau dia katakan selanjutnya. "Oke? " gumamku menyelipkan HP kedalam tas lalu bersiap mendengarkan sambil menyesap es teh. "Aku gak mau membawa manusia baru ke dunia yang udah parah gini. "ujarnya memulai dengan kening berkerut serius."aku mau adopsi satu atau dua anak. Kenapa mesti melahirkan kalau anak-anak yang sudah ada saja banyak yang butuh rumah dan keluarga. Aku yakin aku dan anak-anakku bisa saling menopang satu-sama lain layaknya keluarga , kayak kita sekarang ink kak, gak punya hubungan darah tapi tetap bisa berfungsi sebagai keluarga kan? " Aku tercenung, otakku yang masih dalam euforia lepas dari hutang sedikit kesulitan memproses rentetan kata yang di ucapkan Nel. Untungnya Tora datang tepat pada waktunya untuk menyelamatkanku dari kewajiban memberikan komentar cerdas, Nel pun gak menyinggung topik itu lagi hingga kami sampai di bandara. "fotoin semua bukti transaksi tadi, ntar email ke aku, catet juga di pembukuan, kalau ada apa-apa hubungi aku dulu sebelum ambil keputusan, sampai di sini paham?" cerocos Tora setelah tadi memaksa kami bertahan di mobil di parkiran hanya supaya dia bisa mengulangi lagi intruksi serupa dengan yang dia sebutkan sepanjang perjalanan . Aku mengangguk khidmat biar cepat selesai. "Besok jangan lupa, ke dokter Wenny, obat juga di minum" "Ya salam, kapan selesainya sih, ketinggalan pesawat ntar" potong Nel antara geli dan jengkel. "Ninggalin mantan aja udah kayak mamak-mamak ninggalin anak perwan berangkat haji" "Berisik" dengus Tora. Dia memberiku pelukan singkat dan kecupan di kening, membuatku tertegun shock. "Aku pergi dulu" lanjutnya meyungingkan senyum. Aku masih bengong mengikuti gerakannya beringsut keluar, menyandang ransel yang di sodorkan Nel kemudian berlalu dengan langkah terukur. Tora bukan tipe yang terbiasa dengan spontanitas, dia gak akan bertindak tanpa perhitungan dan rencana. Jadi, setelah sekian lama dia dia kembali mendaratkan bibirnya di mukaku, wajarkan kalau aku curiga? "Langsung pulang apa gimana ni? " Nel membuyarkan lamunanku. Dia sudah duduk di balik kemudi. "Langsung pulang aja, aku udah capek banget, tapi ke Alfa dulu" kataku sambil memasang sabuk pengaman. Transaksi pembayaran pinjaman terakhir itu gak membutuhkan waktu lama karena untungnya gak ada antrian di depan meja kasir. Aku menyimpan struk pembayaran dengan hati-hati di dalam tas, lalu meninggalkan minimarket itu dengan dua kaleng soda dan dua batang coklat untuk merayakan lembaran baru dalam hiduku. Aku gak bisa mentraktir Nel dengan yang lebih mahal lagi, aku harus berhemat, mengatur keuanganku dengan baik. "Gimana, udah lega gak? " tanya Nel mengigit coklatnya dalam potongan besar. Aku menganggu seraya tersenyun selebar yang aku bisa. Yang aku rasakan gak hanya lega tapi seperti beban berat baru saja terlepas dari tubuhku. Aku gak bisa berhenti tersenyum sepanjang sisa perjalanan, aku sudah seperti anak kecil yang akan mengunjungi disneyland untuk pertama kalinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN