"Tunggu di sini aku daftar dulu" Ujar Tora seraya memasang masker di wajahnya. Aku hanya melirik saja tanpa mengatakan apapun, kepalaku masih sangat pusing dan perutku mual. "Jendelanya di buka gak?". aku mengangguk lemah, detik berikutnya jendela di sampingku terbuka setengahnya, udara hangat menyeruak masuk.
"Kalau mau muntah jangan di dalan sini, oke" Tambahnya sebelum beringsut keluar. Aku hanya memutar bola mata, di balas cengiran yang identik sekali dengan Nel."Namanya mobil pinjeman, ya mesti tau diri"
Setelah menutup pintu Tora akhirnya berlalu memasuki klinik yang letaknya gak jauh dari Nail it. Aku terbiasa datang ke klinik ini karena sudah cukup kenal dengan beberapa dokter yang praktek di sini salah satunya dokter Rosa kerabat dekat Tora. Aku masih memandangi pintu klinik yang kini mengayun tertutup menghalagi pandanganku dari punggung Tora, aku belum yakin bahwa semua ini nyata. Maksudku, Tora yang buru-buru pulang dengan penerbangan pagi, membatalkan semua jadwalnya hingga besok hanya demi diriku. Terlebih semalam dia mengakhiri VC dengan ekspresi sulit ku artikan.
Sebelum bercerai dia memang pernah berjanji akan tetap menempatkanku dalam prioritas dan tanggung jawabnya. Selama ini aku pikir prioritas yang dia maksud hanya sebatas tetap menjalin hubungan baik, aku gak mengira akan sejauh ini.
Ya, aku tau. Kalian pasti bingung bila kami masih begitu terikat satu sama lain kenapa dulu bercerai?. Ada jenis manusia seperti diriku dan Tora yang memang gak bisa menjalani sebuah pernikahan. Aku gak ingin berpanjang-panjang menceritakan masa pernikahanku, mungkin nanti di cerita berikutnya. Intinya selama lima tahun menikah aku dan Tora gak bisa berinteraksi seperti sekarang ini atau sebelum kami menikah.
Aku dan Tora boleh di bilang beruntung, menyadari ketidak cocokan itu sebelum kami benar-benar saling membenci satu sama lain.
Aku mencoba memejamkan mataku, setelah menangis semalaman mataku jadi terasa berat dan sakit, lumayan sulit untuk bertahan terbuka cukup lama. Pintu mobil kembali terbuka, aku bisa merasakan gerakan di kursi pengemudi serta suara tarikan nafas yang sangat ku kenali.
"kenapa gak ke dokter Wenny? " Tanya Tora membuatku mesti membuka mata lalu melemparkan lirikan penuh tanya. Tora mengedikkan bahu lalu melanjutkan "kamu sakit gini kayaknya pengaruh dari mentalmu deh, coba ingat, dulu kamu pernah begini juga kan waktu kita.."
"Nanti, gak sekarang " potongku cepat, gak ingin mendengar lebih jauh lagi.
"Oke, baiklah" Gumam Tora dengan nada gak yakin, tangannya terulur mengusap kepalaku "Semuanya akan kembali terkendali, selama kamu janji gak akan ngulangi lagi"
"Gak akan terjadi lagi, aku kapok" sahutku serak.
"Memang mesti kapok, manusia mesti lebih pintar dari keledai".
Aku hanya menggumam tanpa kata, gak ingin terpancing. Bisa saja kan Tora membatalkan niatnya membantuku gara-gara perdebatan gak penting.
"Pakai Maskermu, kita masuk sekarang, kayaknya giliranmu sebentar lagi" ujar Tora mengedikkan kepala ke arah pintu masuk klinik.
****
"Tensinya rendah banget ini, Gi. Magnya juga kambuh lagi, stress apa kecapean nih? " ujar dokter Rosa setelah memeriksaku sesaat lalu.
"Dua-duanya kayaknya, " sahutku.
Dokter Rosa menatapku dan Tora bergantian dari atas bingkai kacamatanya. "Mau aku kasih rujukan ke dokter Wenny? "
"Boleh kak, semakin cepat semakin baik" sambar Tora cepat bahkan sebelum aku sempat mengeluarkan suara.
"Oke, untuk sekarang aku resepin vitamin sama pereda magnya, ya." Dokter Rosa mulai menulis di lembaran resep.
"itu aja dok, gak ada yang positif gitu? " celetuk Tora dengan muka serius.
Jangankan dokter Rosa, aku sendiri sampai menoleh menatapnya dengan alis terangkat, bingung.
Apa maksudnya dengan positif?, arus listrik?, covid? , kutub magnet?
Dokter Rosa kembali menatapku dan Tora bergantian, tapi sesaat kemudian ekspresinya berubah seperti memahami sesuatu. "Kalian rujuk? "
Aku langsung melongo, kenapa malah melompat kesana. Tapi, melihat kernyit samar di wajah dokter Rosa aku merasa sangat perlu memberi klarifikasi.
"Enggak kok," Kataku cepat sebelum keduluan Tora, sambil melemparkan tatapan sengit ke arah manusia yang kini malah cengar-cengir gak jelas di sebelahku.
"positif covid maksudnya, kak" ralat Tora tanpa dosa.
Ingin ku pukul kepalanya pakai tas tangan, tapi mengingat di keningnya masih tertera "limit anda Rp. 50.000.000,-" aku menahan diri. jangan sampai guncangan keras membuat limit itu turun sampai nol rupiah, bisa-bisa selesai hidupku.
"Kamu tuh, kalau ngomong yang jelas" tegur dokter Rosa seraya menyodorkan lembaran resep. "Ini resepnya, surat rujukan minta di depan kayak biasa."ujarnya. aku hanya mengangguk saja tanda paham seraya menyelipkan kertas itu ke dalam tas. "ke dokter Wenny nya juga gak boleh di tunda-tunda"
"Denger tuh," celetuk Tora dengan nada menyebalkan seraya beranjak lalu mengulurkan tangannya untuk membantu ku berdiri. "Kami pulang dulu nih kak, makasih ya"
"Hhmmm, sampai kapan kamu di jambi? " tanya Dokter Rosa menahan langkah kami.
"Besok sore udah balik bandung lagi, cuma mau mastiin nih orang gak mati sebelum lebaran. belum maap-maapan"
"Ada ya yang kayak kalian gini, heran" Dokter Rosa terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
****
Setelah mmendapatkan obat dan surat rujukan Tora melajukan mobil kembali ke rumah, sempat mampir ke warung tekwan favorit nya, kami gak banyak bicara selama menunggu pesanan Tora di buat, aku lebih memilih memejamkan mata, terlalu lelah untuk sekedar mengobrol.
Rumah kosong saat kami sampai, Tora memberi tahuku kalau Nel mengajak mama Nia belanja supaya kami bisa membicarakan masalahku tanpa perlu di dengar mama Nia. Aku mengikuti Tora ke dapur, duduk di salah satu kursi meja makan menunggu dia menyiapkan dua mangkuk tekwan untuk makan siang kami berdua.
Tora sudah hapal di luar kepala tata letak rumahku, dia pernah tinggal di sini dan setelahnya pun lebih banyak berada di sini ketimbang rumah orang tuanya. Gak lama dua porsi tekwan, sepiring pempek dan dua gelas jus jeruk terasaji di hadapan kami.
"Tunggu sebentar" ucap Tora seraya bergegas ke ruang tamu lalu kembali gak lama kemudian dengan sebuah map berwarna merah dengan logo kantornya di bagian depan. Dia menyodorkan map itu padaku. "surat perjanjian" katanya menjawab sorot penuh tanya di mataku.
Aku meletakan sendok, lalu mengambil map itu "sekarang banget? "
"Iya, ntar keburu mama pulang" Tora mengendikkan bahu memeras sepotong jeruk nipis di atas mangkuknya.
Ku geser mangkukku supaya bisa menaruh map itu di hadapanku. Isinya hanya dua lembar kertas HVS hasil print out dokumen perjanjian yang terdiri dari beberapa pasal. Pasal pertama berisi jumlah pinjamanku, membuatku sedikit bingung.
"Kok lebih dari lima puluh? " tanyaku.
"Ongkos PP Jambi-Bandung" Jawab Tora enteng lalu menyuap sesendok kuah tekwan.
"Kamu kan gak harus datang kesini, bang" Sanggahku. Lagian kenapa jadi di bebankan padaku coba?
"Ini lima puluh juta Nagita" Tora menekankan setiap kata sambil mengacungkan kelima jarinya."Aku bukan pinjol" Lanjutnya sengaja menyindir.
"Oke.. oke.. baiklah" sahutku. Kembali membaca.
Pasal berikutnya berisi jangka waktu pengembalian, Tora memberiku lima tahun untuk mencicil yang ku terima dengan suka cita. Pinjaman tanpa bunga dalam jangka waktu lama dimana lagi bisa aku dapat. Pasal-pasal berikutnya berisi hal-hal yang wajib aku lakukan, seperti memperbaiki caraku mengatur keuangan, melaporkan setiap perkembangan yang terjadi pada Tora, dan Gak akan pernah lagi menggunakan aplikasi pinjol dengan cara apapun.
Pasal terakhir adalah bagian paling horor, berisi sangsi bila aku melanggar pasal-pasal sebelumnya, aku sampai mebacanya berulang kali, setelah akhirnya yakin aku gak salah baca, aku menaruh map itu dengan sedikit kasar. Jantungku kembali berdetak cepat, tubuhku gemetar dan nafasku berat.
"Apa maksudnya? " Tanyaku tercekat. Tora mengangkat alis menungguku meneruskan, "Pasal terakhir? " kataku. merasakan air mata seperti menusuk-nusuk bola mata, mencari jalan keluar.
Tora menusuk sepotong pempek lenjer, mencelupkannya kedalam cuka, menyuapnya sekaligus lalu mengunyah dengan tenang. Seakan gak tepengaruh dengan reaksiku.
"Bang?"
Tora menghembuskan nafas menatapku lurus "Itu yang paling kamu takuti kan?, kita rujuk kembali? " ujarnya datar. Aku menelan ludah gugup. "Kalau kamu gak mau terjebak lagi dalam mimpi buruk, cukup lakulan sesuai aturan yang tertulis di situ" Menatap kedalam matanya, aku bisa melihat kilat terluka yang sama seperti lima tahun lalu.
Aku menunduk sambil menggigit bibirku gak sanggup menahan nyeri yang ku rasakan di ulu hati setiap kali melihatnya. "Oke" gumamku nyaris tanpa suara.
Tora mengembuskan nafas lagi, " Masih ada lagi yang belum jelas? ", aku menggeleng pelan, "tinggal tanda tangan kalai gitu" lanjutnya menyodorkan sebuah bolpoin.
Aku membubuhkan tanda tangan di kedua lembar kertas, setelah membubuhkan tanda tangannya, Tora menyerahkan salah satu berkas itu padaku untuk ku simpan. Lalu dia meraih HPnya, mengetik sesuatu sebelum berguman "Done, coba kamu cek rekeningmu! "
Sedikit gugup oleh antusiasme aku meronggoh tas, mengeluarkan HP lalu membuka aplikasi e-banking. "Makasih bang" ucapku mewek mendapati lima puluh juta sudah berpindah ke rekening ku.
"Janji ya jangan di ulangi lagi" ujar Tora dengan suara lebih lembut.
"Iya aku janji" Aku mulai terisak, lega kali ini.
Tora mengitari meja lalu memeluk ku, "Lain kali cerita kalau ada apa-apa, jangan nunggu masalah sudah parah begini" ujarnya sambil menepuk-nepuk punggungku.
"Iya" Gumamku mengeratkan pelukanku sekaligus menyamankan posisiku di dadanya.
"Modus kamu ya" Gerutu Tora tapi tetap memelukku.
"Sebentar aja, pelukan Nel gak senyaman ini" ujarku jujur, sampai saat ini hanya pelukan hangat Tora yang bisa memberiku rasa aman dan nyaman.
"Cari pacar makanya"
Aku cuma berdecak sebal gak ingin membalas.