Keheningan kembali menggantung pekat, kupingku berdenging memekakkan sementara tenggorokanku terasa kering. Apa yang sudah ku lakukan, apa yang barusan ku katakan. Aku berharap lantai di bawah kakiku terbelah lalu menelanku hingga ke perut bumi. Aku gak sanggup menghadapi Tora.
"Kita lanjutin lagi besok, otakmu udah butuh istirahat" ujar Tora memutuskan sambungan begitu saja.
Aku masih bengong mematung di depan meja rias menatap pantulan diriku di cermin. Aku gak terlihat seperti seorang Nagita yang biasanya, rambutku gak lagi tertata rapi, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali menyisir rambut. Mukaku kusam, sembab dan pucat. Aku juga kehilangan banyak berat badan sepertinya, dilihat dari tulang pipiku yang semakin menonjol. Aku sudah benar-benar tenggelam sangat dalam oleh lubang yang ku gali sendiri, hanya tinggal menunggu langit runtuh menimpaku. Aku sudah tamat.
Sialnya, satu-satunya kesempatan yang ku punya baru saja ku gagalkan dengan keputusan serampangan yang kembali aku buat. Tora pasti kesal saat ini, entah seperti apa diriku di matanya, setelah ini. Coba kalian bayangkan berada di posisinya, seorang perempuan menawarkan tubuhnya sebagai jaminan, parahnya lagi perempuan itu mantan istrimu.
Tubuhku bergidik jijik sekaligus muak, muak pada keadaan yang membuatku bertindak senekat tadi. Selama ini aku gak punya niat buruk sama sekali, keputusan-keputusan bodoh yang kubuat murni demi mempertahankan salon ku tetap berjalan dan karyawanku tetap mendapat penghasilan di masa sulit ini. Aku gak memperhitungkan masa pandemi akan berlangsung begitu lama, aku selalu punya keyakinan begitu kehidupan kembali normal Nail it akan beroperasi seperti semula, customer akan kembali berdatangan, karyawanku kembali sibuk. Dengan keuntungan yang ku dapat setiap bulan sebelum covid menghantam aku yakin bisa membayar pinjaman, tapi, lockdown yang ku kira hanya akan berlangsung beberapa minggu berubah menjadi bulan hingga nyaris satu tahun sebelum akhirnya Nail it mendapat ijin beroperasi lagi. selama berbulan-bulan itu aku tetap harus membayar cicilan bank, gaji karyawan yang masih bertahan, biaya operasional termasuk tagihan listrik salon, dan jangan lupa kebutuhan hidupku sendiri.
Pertama kalinya aku mendownload aplikasi pinjol adalah bulan ke tiga Nail it tutup, aku menghabiskan semua tabunganku untuk membayar perpanjangan sewa ruko, waktu itu, ku pikir jika salonku mendapat ijin beroperasi lagi maka aku tinggal membuka saja, tanpa perlu mencari ruko baru lalu mengulang proses renovasi interior dan sebangsanya, yang pastinya akan membebaniku dengan tambahan biaya lebih besar lagi. Kehabisan dana segar akupun gak punya pilihan.
Dan di mulai lah siklus itu, yang awalnya hanya satu aplikasi pinjol, bulan berikutnya bertambah satu aplikasi lagi untuk membayar tagihan di aplikasi pertama sekaligus untuk menambahi cicilan bank. Aku mengulangi hal yang sama bulan berikutnya, menambah aplikasi yang berarti menambah pinjaman untuk membayar pinjaman sebelumnya lalu mengajukan lagi di aplikasi yang sudah ku bayar tagihannya untuk melunasi tagihan di aplikasi lain.
Ya, hingga akhirnya aku memiliki pinjaman di dua belas aplikasi pinjol. Dan aku menyadari semua ini gak bisa di teruskan, aku harus berhenti menambah hutang, karena untuk sekarang saja aku gak punya kemampuan untuk melunasi. Buktinya kemaren aku menilap uang salon dan beberapa menit lalu aku nekat membuang harga diriku di hadapan Tora.
Ku usap lelehan air mata di pipiku, kembali ku tatap wajah pucat yang di pantulkan cermin di hadapanku. Sepertinya aku memang harus melepaskan rumah ini, lebih baik gak punya tempat tinggal ketimbang hancur di tangan pinjol. Ku tatap langit-langit kamar sambil menangis sesegukan, tulang-tulangku serasa berubah jadi jelly. Ayah memberiku rumah ini karena dia tau jika dia meninggal aku akan sendirian, hanya rumah ini yang akan menjadi tempatku berlindung.
Apa yang akan di lakukan ayah kalau tau kebodohan seperti apa yang sudah ku perbuat.
Sambil membekap mulutku supaya isakanku gak terdengar sampai ke kamar Nel, aku menyeret langkah menghampiri tempat tidur lalu kembali meringkuk di balik selimut, menutup kepala dengan bantal dan menangis sejadinya hingga kelelahan.
****
Aku gak tau kapan aku jatuh tertidur, sepertinya aku terus terisak hingga subuh, yang aku yakin tidurku gak cukup lama sewaktu aku di paksa terjaga oleh suara melengking Nel serta selimut yang di sentakkan dari tubuhku. Aku mengerjap berusaha membiasakan diri dengan cahaya menyilaukan yang masuk melalui jendela setelah Nel menyibak tirainya hingga terbuka lebar.
Ku tekan kedua sisi kepalaku yang bersenyut menyakitkan sambil mengerang tertahan.
"Buruan mandi kak, ada tamu tuh, nunggu di depan" ujar Nel menyodorkan handuk ke depan mukaku.
Ku lirik jam di nakas, ternyata sudah jam sepuluh pagi, berarti aku tidur cukup lama juga. "ini Hari apa? " tanyaku dengan suara serak.
"Sabtu, sampai hari aja kamu udah lupa" omel Nel sambil menggoyang handuk di tangannya. "Ayo kak, buruan mandi, kamu bakal nyesel kalau dia sampai pulang gara-gara kelamaan nunggu."
"Aku gak kuat bangun kayaknya" Keluhku, lebih memilih kembali memejamkan mata alih-alih menuruti perkataanya.
Nel berdecak gak sabar, lalu berteriak lantang "Gak mau bangun nih dia bang, udah kamu pulang lagi aja ke bandung sana"
Mataku sontak terbuka lebar, kebingungan menatap Nel, gadis itu menyeringai jahil. Sambil mendengus masam aku menutup wajahku dengan bantal, mana mungkin Tora tiba-tiba berada di sini, sepagi ini, padahal semalam kami bicara hingga larut. Mengingat pembicaraan semalam membuat perutku mual.
"seriusan ini kak, ada bang Tora di depan nungguin. Atau kamu mau dia kemari trus mandiin kamu, gitu? "
"Gak lucu becandamu"
"Bukan becandaan, haduhh kesel ya!"
"Udah, biarin aja kalau dia masih mau tidur kamu temani abang sarapan dulu, gih"
DEMI APA!!!
Spontan aku menyingkirkan bantal yang menutupi wajahku seraya duduk tegak. Hasilnya sudah pasti gak baik, pemandangan di sekelilingku berputar cepat seakan aku sedang berada di tengah pusaran tornado. Aku terhunyung , kembali terbaring dengan tubuh menggigil hebat, perut mual dan kepala pusing.
Aku merasakan selimut kembali di tarik menutupi tubuhku. "Kenapa gak ngasih kabar kalau lagi sakit gini? " suara lembut mama Nia, aku menggumamkan permintaan maaf dengan suara serak, entah terdengar olehnya atau tidak.
"Istirahat lagi aja, mama bikinin teh hangat dulu ya" bahuku di tepuk lembut, gak lama kemudian terdengar suara pintu di tutup.
Kembali sendirian di kamar, aku tercenung. Tora dan mantan mertuaku ada di sini sekarang, apa artinya coba?. Semalam Tora memutuskan sambungan begitu saja setelah aku mengajukan jaminanku. Dia gak mengadukanku ke orang tuanya kan? , mama Nia mungkin gak akan menganggapku anaknya lagi kalau itu terjadi. Apalagi kalau beliau mendengar perkataan terakhirku semalam.
Ku remas kepalaku dengan gemas, bukannya menyelesaikan masalah aku malah menambah rumit hidupku. Sekarang apa yang mesti kulakukan?.
Pintu kamar kembali terbuka, Nel masuk dengan membawa nampan yang lalu dia taruh di atas nakas, "Ancur banget kamu kak" komentarnya dengan nada prihatin."HP mu mana?, abang bilang gak aktif dari semalam" Nel celingukan sampai matanya menemukan HP ku di atas meja rias di samping laptop yang masih terbuka. Dia mengambil benda pipih itu, tanpa meminta ijin menganktifkannya. Makian pelan meluncur dari mulut Nel saat HP ku berdering tanpa henti menerima puluhan notifikasi.
"Kabur aja kamu kak, ganti identitas, ganti nomer HP, kalau perlu ganti muka sekalian" Celetuk Nel menyodorkan HP ke mukaku."Bales chat si abang ,gih. dia gak bisa nyelonong ke sini, bisa di paksa kawin lagi kalian, entar".Bibir Nel berkedut menahan tawa.
Aku mengambil HP itu, mengabaikan notifikasi lain, ku ketuk notifikasi chat dari Tora. Ada banyak chat yang dia kirim sejak semalam, aku gak membaca semuanya, hanya chat terakhir saja.
Makan dulu, Gi. Aku antar ke klinik, habis itu kita selesaikan masalah mu.
Mataku melebar, gak percaya dengan apa yang k*****a, aku mengulang membacanya hinga beberapa kali, jantungku berdegup cepat penuh antusias. Sementara otakku menyiarakan syukur, ingin rasanya aku berlari keluar, memeluk Tora lalu meneriakkan rasa terimakasih ku.
"Makan kak, habis itu mandi" ujar Nel, memecah ketertegunanku.
Aku melompat dan memerangkapnya dalam dekapan erat. "Makasih Nel, makasih" ucapku lirih.
"iya, lepasin deh buruan, kamu bau banget tau"