Cukup lama aku hanya menatap kosong layar laptop, belum pernah aku segugup ini bila berurusan dengan Tora, ku sentuh dadaku yang mulai berdebar gak tenang. Mungkin sebaiknya aku mematikan laptop dan tidur saja, anggap saja gak pernah melihat pop up itu. Aku yakin, sekali jika aku membalas chatnya, aku bakal mengungkapkan semuanya lalu dia akan memghakimiku dengan sangat kejam.
Panggilan skype membuatku tersentak kaget. Tora gak akan menyerah begitu saja, dia pasti menemukan cara untuk memaksaku bicara dengannya sekalipun ku matikan laptopku, kemungkinan dia akan menghubungi Nel.
Di panggilan ke empat aku baru bisa sedikit menenangkan diri lalu menerima panggilan video itu. Muka Tora mengiasi layar laptop, walau gak bisa di bilang menghiasi juga, sih. Karena muka Tora terlihat seperti sedang menahan emosi, apapun yang akan terjadi setelah ini, aku pastikan air mataku bakal tumpah lagi.
"Haii"sapaku hati-hati gagal menutupi suaraku yang bergetar.
"Kamu sakit? " Tanya Tora mengabaikan sapaanku. Dia mengamatiku dari balik kacamata berbingkai tebal, keningnya sedikit berkerut.
"Gitu deh" gumamku mengendikkan bahu, sebisa mungkin menghindari adu tatap dengan matanya yang seperti sedang meng x-ray isi kepalaku.
Tora membuat gerakan yang sangat tipikal, merenggut perhatianku. sebelah tangannya terangkat menuju mulut dengan sebatang rokok terselip di antara jari tangan. Dia menikmati asap bernikotin itu dalam satu tarikan nafas. Aku kira dia sudah berhenti.
"Abang ngerokok lagi? "tanyaku antara protes dan heran.
"Ini yang pertama sejak empat bulan lalu" jelasnya nampak tak terpengaruh dengan kernyit gak suka di mukaku. "seseorang bikin aku craving nikotin lagi" Tambahnya menatap lurus kemataku seakan mempertegas siapa yang dia maksud.
"Kok, aku... emang aku bikin apa lagi sih? "
"Ya, coba kamu cerita apa yang sudah kamu perbuat. Aku juga mau denger langsung" tantangnya dengan suara dingin, berbahaya.
"Ma.. maksud abang apa sih? "
"Please Gita, kalau kamu emang butuh bantuanku, gak ada untungnya menguras kesabaranku"
"Emang abang mau bantu? "
"Tergantung seperti apa cerita mu"
Aku menelan ludah yang terasa seperti menelan pasir, kalau dilihat dari sikapnya Tora jelas sudah tau apa yang terjadi, mungkin hanya garis besar atau bisa jadi juga sampai ke bagian terkecil. Aku gak tau apa saja yang sudah di laporkan Nel padanya di belakangku. Tapi, sudah kepalang basah, bukan?
Ceritaku mengalir begitu saja, aku gak menutupi bagian manapun dari tiap tahap yang membawaku ke titik dimana aku terjebak dengan 12 aplikasi pinjol. Tora berkali-kali memijit pelipisnya atau menekan puntung rokok dengan tenaga berlebihan seakan melampiaskan kekesalan yang menggelegak dalam dadanya.
"Aku udah gak tau lagi mesti gimana sekarang" aku terisak sesenggukan menyeka sudut mata dengan ujung lengan piyama.
"Sebenarnya gimana cara pikiran mu bekerja Gi? " ucap Tora mengembuskan nafas berasap membuat wajah menahan emosinya terlihat seperti naga sedang latihan pernafasan.
Aku tertunduk gak berani membalas tatapan menghujat itu. "Aku mesti gimana dong" rengekku.
"Masa gak ada rencana sama sekali sih gi?. makanya sebelum ngelakuin sesuatu
di pikir dulu yang bener, gak ada salahnya juga cerita ke aku atau Nel. Kalau masalahnya sudah sebesar ini kamu baru cerita sama aja ngerjain namanya." cecar Tora penuh emosi.
Aku cuma bisa menundukkan kepala gak punya nyali membela diri, karena memang aku gak dalam posisi pantas buat berargumen. Cukup lama kami hanya saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Jadi apa rencanamu? " tanya Tora akhirnya dengan nada yang lebih ramah di telinga.
Aku gak langsung menjawab, saran Nel siang tadi menari-nari dalam kepalaku, saat ini bukankah Tora sendiri yang datang padaku, menawarkan bantuan, dia pasti sudah mempersiapkan diri menghadapi apapun nanti yang ku minta dari nya.
"Gi? " panggil Tora menagih jawaban.
Aku menarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan cepat, apapun hasilnya, aku sudah terlanjur menceritakan semuanya pada Tora, kalau dia gak mau bantu. maka aku akan memaksa.
"Aku mau bayar semua hutang itu sekaligus, tapi aku butuh bantuan mu." kataku cepat. Alis Tora terangkat menanti kelanjutan ucapanku. "Tolong pinjami aku uang, Aku akan cicil tiap bulan sampai selesai. "
Rasanya seperti baru saja mencabut gigi graham busuk. Mati rasa.
Aku menunggu dengan gugup, sementara Tora menunjukkan ekspresi waspada seraya menegakkan kembali duduknya.
"kenapa harus aku? "
Meskipun sudah menduga akan mendapat pertanyaan semacam itu, hatiku tetap saja mencelos mendengarnya. Bukan pekerjaan mudah
melepaskan uang dari genggaman Tora walau sekedar buat membeli sebungkus masako. Mengingat jumlah uang yang aku butuhkan nyaliku langsung menciut.
"Memangnya aku punya siapa lagi? " cicitku nelangsa. Kalau di pikir aku memang gak punya siapa-siapa lagi selain Tora dan Nel, setelah ayah meninggal praktis aku sebatang kara, ibuku gak pernah mau tau tentang diriku sejak dia dan ayah bercerai. Aku anak tunggal sedangkan anggota keluarga dari kedua orang tuaku lebih gak bisa di andalkan lagi. Satu-satunya Tante yang peduli padaku pun sedang punya masalahnya sendiri, aku gak mungkin menambah bebannya.
"Berapa? "
"Hah? " Aku melongo sesaat, menyangka yang ku dengar barusan hanya halusinasi. Akibat stress berkepanjangan.
"Berapa yang kamu butuhkan? " ujar Tora, nadanya amat datar dan sama sekali gak terdengar defensif.
Masih gak mempercayai yang ku dengar aku mengusap wajahku, siapa tau aku ketiduran, atau hanya ilusi optik. Rasa-rasanya ajaib sekali Tora bisa bersikap sekalem ini, kalau kalian tau paman Gober atau Mr. Crab, Nah! dia setara dengan mereka.
"kamu ngapain? " Tanya Tora selagi aku mengusap-usap layar laptop dengan tissue, aku sendiri gak tau apa gunanya.
"uhmmm, gak papa" sahutku nyengir salah tingkah sambil menggaruk belakang kepala yang gak gatal sama sekali.
"jadi? "
"Sebentar" gumamku bergegas keluar kamar untuk mengambil lembaran kertas berisi rincian hutang dan jumlah yang ku butuhkan untuk melunasi semuanya, hasil diskusiku dengan Nel siang tadi.
"Uhmm" Aku berguman gugup, mengamati muka Tora sekilas hanya untuk memastikan dia bukan dalam mode waspada. "a.. aku butuh lima puluh juta" ucapku hati-hati, suaraku bergetar sangking gugupnya.
Keheningan seketika menggantung pekat, seperti menekan tubuhku hingga mengerut, sementara Tora membeku di tempatnya dengan kedua alis terangkat dan bibir terbuka shock. aku sempat mengira sambungan VC terputus atau laptop tuaku error, sampai akhirnya mata Tora mengerjap seperti baru tersadar dari trans.
"Coba kamu ulangi lagi, berapa tadi! " ujarnya mencondongkan tubuh ke depan, mukanya masih menyiratkan shock dan gak percaya dengan apa yang baru dia dengar.
"Aku butuh lima puluh juta" ulangku lemah. Sudah kehilangan harapan sepenuhnya. Aku gak akan menyalahkannya seandainya dia gak bersedia membantu, lima puluh juta bukan jumlah yang kecil, akupun akan sangat enggan meminjamkan uang sebanyak itu. Tapi, aku gak punya pilihan lain, Tora satu-satunya kesempatanku untuk menyelamatkan diri. Aku akan melakukan apa saja supaya dia mau membantuku.
Apa saja pokoknya.
"Lima puluh juta, Gi? " Tora nampak tercekat. "lima puluh juta itu gak sedikit, kamu gak lagi nge-prank, kan? " lanjutnya dengan suara semakin meninggi.
Aku mengembuskan nafas lemah, "Aku serius, aku gak tau lagi mau minta tolong sama siapa. aku janji bakal nyicilin selama tiga tahun kedepan. Aku gak akan lari" Kataku mantap. Bagaimanapun aku sudah memperhitungkan segalanya kali ini.
"Memang apa jaminannya?, bukannya sertifikat rumah mu pun udah kamu agunkan ke bank"
kepalaku serta merta tertunduk, aku juga sudah memperhitungkan hal ini. aku gak punya apapun lagi sebagai jaminan. Tapi tanpa dana segar aku benar-benar bakal kehilangan segala yang ku miliki.
Ku gigit bibirku berupaya meredan gugup yang ku rasakan dengan tangan terkepal erat di pa gkuan aku kembali menganggkat kepalaku membalas tatapan menunggu Tora di layar laptop.
"Tubuhku, jaminannya tubuhku"
Mata Tora seketila melebar mulutnya sedikit terbuka dalam shock dan tak percaya. "A.. apa kamu bilang tadi?, coba ulangi".