Kupikir sudah waktunya untuk menceritakan seperti apa hubunganku dan Tora Afriandi. Mantan yang masih berkeliatan di orbitku. Untuk itu, cerita ini akan mundur sangat jauh kemasa aku masih kuliah dan tergila-gila pada bigbang. Sangking ngefansnya aku sampai putus pertemanan dengan sahabatku yang seorang blackjack, sebutan untuk fandom 2ne1, padahal sebenarnya kedua band itu masih satu perusahaan. Hanya gara-gara temanku itu merasa perlakuan YG ke 2ne1 gak adil dan terkesan terlalu mengistimewakan Bigbang, dia jadi memusuhi ku yang seorang VIP garis keras.
Kalian bisa bayangkan tentunya seperti apa masa remajaku. Percayalah kadang tubuhku bergidig jijik kalau ingat lelakuan absurd ku masa itu.
Tora dan aku kuliah di kampus yang sama, kami mengambil jurusan berbeda meski satu angkatan. Aku gak pernah ingat apakah kami pernah berinteraksi semasa ospek, tapi Tora bilang dia sering memperhatikan ku yang selalu di kelilingi cewek-cewek berisik. Karena itulah aku merasa sedikit terganggu sewaktu tiba-tiba menerima chat darinya, terlebih lagi dia memajang foto logo klub bola swbagai profile. Aku mengabaikan chat itu, begitu juga dengan chat berikutnya, yang berikutnya lagi, dan berikutnya labi. Begitu aja terus sampai akhirnya dia mendatangiku secara langsung di kantin jurusan untuk memperkenalkan diri dengan benar.
Di antara personel Bigbang, TOP adalah favorit ku, menurutku dia tampan, dengan garis ragang yang sempurna, sorot mata tajam, postur tinggi dengan otot terbentuk sempurna.
Kenapa aku jadi menggambarkan fisik TO?,, well, itu karena Tora memiliki tubuh tinggi dengan postur tegap walau waktu itu aku yakin ototnya gak sekeren TOP. Tapi untuk pria berusia 18 tahun dia jelas membuatku terpesona, aku jadi menyesali kesombonganku mengacuhkan lusinan chat yang dia kirim.
Bisa kalian tebak seperti apa cerita ini berkembang, bukan?.
Ya, mulai hari itu Aku dan Tora jadi tak terpisahkan, setiap ada kesempatan selalu kami habiskan bersama. Tapi butuh waktu empat bulan sampai akhirnya aku dan Tora resmi pacaran. Maksudku, masing-masing kami percaya diri mengakui hal itu, karena sebenarnya gak pernah ada kejadian Tora menembakku atau sebaliknya. kami menganggap
Walaupun hubungan kami gak berjalan semulus jalan tol tapi aku dan Tora gak pernah putus, kami sering bertengkar tapi selalu dengan mudah berbaikan lagi. sampai akhirnya kami di desak untuk menikah gak lama setelah aku wisuda karena keluarga kami gak mau terjadi hal-hal yang gak di inginkan atau timbul pergunjingan mengingat kami nyaris tak terpisahkan.
Dan di sinilah hubungan ku dan Tora mulai mengalami keretakan.
Aku maupun Tora sama-sama belum siap untuk hubungan se-serius pernikahan. Tora baru mulai bekerja dan aku pun baru lulus kuliah, ada begitu banyak hal yang masih ingin kami lakukan. Selama lima tahun Aku dan Tora berusaha untuk bertahan sampai akhirnya sudah gak ada lagi alasan buat di perjuangkan, dan kamipun sadar gak hanya belum siap saat memulai, tapi pernikahan sepertinya memang enggak cocok dengan gaya hidup dan karakter kami.
Perceraian terjadi dengan mudah, aman dan lancar, walau aku harus menulikan kuping dan menebalkan muka biar gak terpengaruh reaksi keluarga serta orang-orang di sekitar kami. Hubungan ku dan Tora pun jauh lebih baik ketimbang saat kami berstatus suami istri, aku gak tau seperti apa jenis hubungan kami yang jelas aku atau Tora sudah gak merasa terbebani lagi. Dia masih memiliki peran penting dalam hidupku begitu juga sebaliknya.
Walau sekarang kami berjauhan dan Tora sendiri sedang menjalin hubungan serius dengan perempuan lain, kami tetap saling kontak walau gak seintens awal-awal dia pindah ke bandung dulu.
Tapi, tetap saja, mau sedekat apapun, sebaik apapun, aku gak punya nyali buat meminta bantuan Tora. Seperti sudah ku bilang Tora gak akan sebaik itu kalau menyangkut uang, sejak jaman kuliah dia gak pernah membiarkanku gak ikut andil kalau kami makan di luar ataupun dekedar nonton, seenggaknua dia akan menyuruhku membayar tiket parkir atau membagi dua bill. Setelah menikah dia juga membagi rata setiap pengeluaran dan beban di antara kami.
Pernah suatu kali aku menabrak tiang listrij di depan rumah dan menghancurkan bagian depan mototrku sampai bannya gak lagi berbentuk lingkaran sempurna, alih-alih bersikap layaknya suami normal dengan membantuku mengantar motor itu ke bengkel, Tora hanya memberiku rekomendasi bengkel dan menolak mengeluarkan uangnya untuk menambahi biaya perbaikan. Menurut Tora aku mesti belajar menghargai barang-barang yang ku miliki. Padahal aku yakin dia cuma gak mau membantu.
bayangkan gimana mulut nyinyirnya itu mencecarku kalau tau aku secara suka rela menyerahkan diriku untuk menjadi mangsa empuk aplikasi-aplikasi pinjol. Memikirkannya saja sudah bikin perutku kembali mulas dan tubuhku gemetaran.
"Di makan, kak, di masukin mulut, di kunyah trus di telan" suara Nel menerabas masuk kedalam lamunan ku "kalau-kalau kamu lupa caranya makan"
Nel mengendikkan bahu menanggapi tatapan cemberutku.
"gak selera makan" dengusku, menusuk-nusuk mie kuah instan di mangkukku.
"ya udah pasti gak selera lah, mienya di aduk-aduk dari tadi sampe kayak muntahan gitu"
Aku mengerjap menatap isi mangkuk yang sekarang sudah gak jelas lagi bentukunya, telur setengah matang, sosis dan mie sudah tercampur sempurna di dalam kuah yang sudah mengental dan berwarna menjijikkan. Dengan gerakan cepat aku mendorong mangkuk itu menjauh supaya gak tertangkap oleh mataku lagi.
"untung cuma mie instan kak, coba kalau mie ayam seharga tiga bungkus nasi pandang, bisa meronta histeris dompetku" omel Nel memelotototiku dengan gaya mamak tiri jahat di sinetron azab. sayangnya, dengan muka berminyak, rambut acak-acakan dan piyama usang yang robek di beberapa bagian, Nel malah kelihatan kayak si Imah, perempuan stress yang suka nyelonong masuk salon cuma buat ngasih Bree bungkus rokok kosong.
"brisik" Dengusku seraya beranjak. Yang ku butuhkan sekarang hanya tidur nyenyak tanpa mimpi semalaman. sel otakku sudah menjerit minta di istirahatkan, setelah seharian di paksa bekerja keras memikirkan cara membayar utang-utangku yang tanggal jatuh temponya berdekatan.
"Mau kemana?"
"Tidur, otak ku udah ngebul"
"itu otak mending di tuker tambah aja deh, belakangan kinerjanya kayaknya perlu di pertanyakan"
Ya salam, ini anak orang kalau di jual ke pasar organ kira-kira bakal di cari emaknya gak, sih?
Mengentakkan langkah penuh kekesalan aku meninggalkan dapur masuk kekamar lalu meraih ponselku yang sejak pagi tergeletak tak tersentuh di atas meja rias. HP itu mati, kehabisan baterai. Aku menyambungkannya dengan kabel USB lalu mengempaskan tubuhku di atas tempat tidur yang terasa dingin karena seharian gak di sentuh.
Senyam apapun tempat tidur gak bisa bikin tubuhku relaks apalagi jatuh tertidur. Tubuhku terus bergerak gelisah mengikuti pikiranku yang gak mau beristirahat walau sebentar saja, gak bisa ku sangkal ketakutan yang membayang semakim terasa nyata dan begitu dekat. Aku gak siap menghadapi konsekwensi bila sampai gagal membayar tagihan hutang.
"AARRGHHT" erangku tertahan mengusap eajahku dengsn gemas lalu beranjak untuk mengambil HP di meja rias.
"Nagita t***l, otakmu emang mesti di upgrade" makiku mendapati HP malang itu gak terhubung dengan aliran listrik. Kepala charger nya masih menggantung manja di ujung meja. Dengan emosi menggumpal di pangkal tenggorokan aku memasang charger itu lalu mengeluarkan laptop dari laci paling bawah.
aku mau mencari pekerjaan gampang tapi menghasilkan banyak uang di lama google, siapa tau ketemu yang kerjanya cuma kedip trus di bayar ribuan dollar. pencarian membawaku kebeberapa channel youtube, aku mencoba beberapa trik penghasil uang yang terdengar menakjubkan banget, mulai dari yang cuma nonton video di bayar, membagikan link affiliasi sampai klik email di bayar crypto.
Yang terakhir itu bikin aku melongo, masa iya, sekali klik email aku cuma di bayar 0,00010 dollar. Butuh berapa juta email buat ngumpuin dua ribu dolar?. Demi cicak-cicak di dinding, keburu tua akunya.
Tapi, aku tetap regiatrasi ke website itu, lumayan kan buat nyombong sama geng arisan. keren banget kayaknya punya koin crypto gitu, ya walaupun gak nyampe satu dolar juga. Kan buka bohongan.
Sebuah pop up DM dari laman IG yang lupa ku tutup membuat jantungku mencelos. Isinya hanya dua kata.
Hii... mantan.
Seketika aku dilanda kepanikan, tercabik antara ingin membalas chat itu atau lari bersebunyi di pegunungan Alpen.