Lima

2375 Kata
*** Naila sedang asik bertelfonan dengan ayahnya di tepi ranjang. Naila telah menargetkan, kalau ia harus sering berkomunikasi dengan ayahnya minimal satu hari satu kali. Bibirnya tersenyum-senyum ketika di seberang sana sang Ayah menggoda. Naila terlihat sedang senang sekali. Hatinya berbunga-bunga. "Iya Naila seneng, kok. Pokoknya Ayah nggak usah khawatir. Ayah tenang aja, kalau Aksa sampai selingkuhin aku, aku bakal langsung ngehubungin Ayah, dan Ayah adalah orang pertama yang harus gebukin Aksa." Aksa yang mendengar namanya disebut-sebut, segera menghampiri Naila, menghentikan aktifitasnya yang sedang memasukkan baju-baju ke dalam koper. Pandangan Naila beralih kepada koper yang tergeletak di dekat lemari, untuk apakah koper itu? Dan di dalamnya, ada satu-dua buah pakaian Aksa. Apa jangan-jangan Aksa akan meninggalkannya pergi? Apa jangan-jangan Aksa sudah bosan? Kedua alis Naila menyatu, lupa kalau ia sedang berbicara dengan ayahnya. Aksa yang telah duduk di sebelah, melemparkan raut pertanyaan. Mengapa ekspresi perempuan itu berubah? Padahal tadi dia sangat bahagia. "Kamu mau kemana?" tanya Naila, masih menatap koper itu lamat. Nada suaranya penuh dengan ketakutan bercampur kekhawatiran. Di telfon genggamnya, terdengar suara ayah Naila yang terus memanggil nama Naila, ber-halau-halau kebingungan. "Nanti aku jelasin." "Nggak kamu harus jelasin sekarang." "Kan kamu lagi telfonan sama Ayah." "Halo iya, Ayah. Udah dulu, ya. Nanti aku telfon lagi. Assalamu'alaikum." Naila memutuskan sambungan telefon, melepaskan benda itu dari telinganya. Lalu matanya terfokus kepada Aksa, meminta penjelasan tentang koper itu. "Kamu mau kemana?" "Kok kamu kayak polisi yang ngeintrogerasi aku, sih?" balik tanya Aksa, bergurau. "Kamu mau kemana pakek bawa koper segala?" Naila mengulangi pertanyaannya lagi. Untuk kali ini ia ingin serius. "Astagfirullah Naila. Kamu kayak orang yang ketakutan gitu. Kayak lagi ngeliat pemandangan aneh. Misalkan, abis liat motor terbang ke angkasa." "Jawab aku apa susahnya sih. Cepetan jawab." Aksa menelan ludah. Naila masih sensitif, apa dia sedang datang bulan? "Iaaaaaaaan...." "Aku ada urusan ke luar kota." Naila membulatkan bola matanya. Kenapa Naila baru tahu? Kenapa Aksa tidak mengatakan hal itu sejak tadi pagi? Mengapa tiba-tiba? "Iya." "Dalam rangka?" "Kerjaan dari kantor. Aku nggak mungkin nolak, ini tugas aku yang pertama sebagai karyawan di sana." Aksa menolak untuk bekerja di perusahaan papanya. Memilih untuk mencari pekerjaan sendiri, tak ingin sukses di bawah naungan sang Papa. Ingin tahu bagaimana caranya mencari pekerjaan dan melamar. Setelah satu bulan lamanya mencari pekerjaan yang cocok, akhirnya Aksa menemukannya. Seperti mendapat kesempatan brilian, Aksa senang. Di samping itu pula, Naila selalu berada di sampingnya. Menemani Aksa ketika sibuk menyelesaikan tugas kuliah sampai larut malam. Rela tidur di bahu Aksa ketika Aksa masih berkutik dengan laptopnya. Rela ikut begadang di tengah malam sambil ditemani minuman hangat. Rela menjadi bahan ejekan Aksa, lalu tertawa bersama-sama, saling memukul gemas dan mencubit. Menjadi penyemangatnya, menjadi pembimbing. Di mata Aksa, Naila adalah sosok istri yang sempurna. Ia tak salah memilih pendamping hidup. "Berapa lama?" tanya Naila lagi. "Seminggu." "Harus, ya?" "Wajib." Naila mengembuskan napas pelan, melepaskan pandangannya dari Aksa. Menatap ke samping. Mengundang garis kernyit di kening Aksa. Padahal baru saja Naila mendapatkan kabar gembira, kabar kurang menyenangkan datang menyusul. Naila takut di rumah sendirian. "Kamu kenapa, sih? Ya ampun Naila Nora. Aku cuma pergi ke Bandung. Bukan ke Singapura ataupun Hong Kong, apalagi Jerman. Bukan setahun ataupun dua tahun, cuma se..." Naila meletakkan sesuatu di tangan Aksa. Aksa lekas menurunkan pandangannya ke bawah, melihat benda apakah yang baru saja diberikan Naila. Benda putih berbentuk panjang tipis. Begitulah Aksa memprediksinya. "Aku butuh kamu," kata Naila. Itu adalah testpack. Aksa mengangkat benda itu, agar lebih mendekati mata. Melihatnya lebih jeli dan teliti. Ada dua garis merah yang tertera dalam alat tes itu. Sedikit Aksa membuka mulutnya, baru menyadari sesuatu. Tatapannya berpindah kepada Naila. "Naila kamu serius?" Naila mengangguk. "Asli?" "Nggak percaya?" "Kamu nggak nyuri alat ini dari lokasi syuting sinetron, kan?" "Ya ampun Aksa. Kalau ngomong ngelantur mulu, deh. Itu asli punya aku. Barusan aku tes. Soalnya aku bingung kenapa aku nggak dateng bulan juga, padahal udah lewat dua bulan. Dan bawaannya aku tuh stres mulu, makannya sensitif. Kamu juga selalu mancing-mancing." Aksa masih belum memercayainya, tidak menyangka kalau sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah. Itu artinya, sekarang Naila sedang mengandung anaknya. Mama dan Papa Aksa akan segera mendapatkan cucu pertama. Impian mamanya akan segera terwujud. Detik berikutnya, Aksa menyeringai, wajahnya berseri. Mendapat tatapan terus menerus dari Aksa, membuat Naila ingin melekukkan senyum dan tawa. Seperti biasa, tatapan Aksa sungguh menghipnotis. Yang tadinya kesal, bisa menjadi luluh dalam jangka waktu sedetik. "Berarti, 10 dari anak kita baru muncul satu. Tinggal sembilan lagi yang masih ngumpet. Tapi siapa tau yang keluar anak kembar, jadi kamu nggak perlu repot-repot ngelahirin 10 kali." "Yang satu aja belum lahir kamu udah mikirin yang sembilan?" Aksa nyengir. "Aku nggak lagi mimpi, kan Naila?" Aksa masih meminta kepastian. Cowok itu terlalu senang sampai menganggap ini hanya mimpi. Mimpi indah dalam tidurnya, tidur dengan posisi memeluk Naila. "Ini beneran sayang. Bukan mimpi. Aku, lagi hamil beby kitaa. Sebentar lagi kita bakal punya anak. Sebentar lagi kita bakal jadi orangtua." Naila tersenyum bangga. Menaik- turunkan kedua alisnya. "Perfect Naila. Ini kabar bahagia." Aksa langsung memeluk Naila. "Selamat buat kita. Aku sayang kamu." Naila balas memeluk. Di balik punggung Naila, Aksa menciumi rambut harum Naila, juga mencium tengkungnya secara berkali-kali. "Aku cinta kamu aku cinta kamu aku cinta kamu, ini kejutan terindah buat aku." Naila kian memepererat rengkuhannya. Bahagia dengan anugerah yang telah Tuhan turunkan. Ketika pertama kali Naila memeriksa, sekujur tubuhnya gemetar. Awalnya ia hanya iseng, tapi nyatanya, dugaan itu benar. Ketika garis merah itu muncul, Naila belum siap. Tapi demi membahagiakan Aksa, semuanya terasa mudah. Euforia datang membungkus sanubarinya. Hingga akhirnya Naila tersenyum. Tak sabar memberikan kabar gembira ini kepada Aksa. *** "Selamat Naila. Ternyata sebentar lagi aku bakalan jadi Paman, nih." Angga memberikan selamat dengan celotehannya. Mengulurkan tangan kepada Naila. Naila balas menerima ulurannya antusias. Keduanya saling tersenyum. "Iya kak makasih ya, kak." Namun dengan cepat Aksa menebas tangan mereka hingga acara salaman itu  berakhir dalam sekejap. "Eh bang, nggak usah lama-lama banget kali pegang tangan istri gue yang halus," protes Aksa. "Ya elah lo parnoan banget, sih. Gue kangen sama adik ipar. Udah lama nggak ketemu semenjak kalian pindah rumah. Lo kan tau sendiri, gue sama Naila itu akrabnya nggak ketulungan. Ya nggak adik ipar?" tanya Angga pada Naila. Lebih kepada menggoda. "Hmmm iya betul, kak. Maklum kak, Aksa akhir-akhir ini cemburuan. Hehe." "Bukannya kamu yang kayak gitu?" Naila tersenyum sampai matanya mengecil. Menyadari adanya kesalahan dalam ucapannya barusan. "Ish ish ish.." Aksa menggeleng seraya mencolek hidung Naila. "Kamu tuh, ya." "Et daah malam manis-manisan," ucap Angga. "Kakak mau yang manis? Nanti aku bikinin kue, deh." Naila beralih kepada Angga---kakak iparnya--- sembari tertawa. "Naila bikinin yang paling manis. Khusus buat kak Angga. Aksa nggak usah dikasih." "Serius?" "Buat aku nggak ada? Kok aku nggak boleh dikasih?" tanya Aksa tak ingin kalah. "Kamu kan mau berangkat sayaang." "Kan bisa nanti waktu pulang." "Pokoknya jangan deh anak kamu nanti ngewarisin papanya. Wajahnya harus kayak kamu, biar bagus hasilnya," canda Angga tanpa memikirkan perasaan adiknya. Aksa melemparkan tatapan antipati kepada kakaknya. Belinda dan Satria sangat bahagia dengan kabar ini. Aksa benar-benar menepati janjinya, ingin dan bisa memberikan mamanya cucu. Untuk sementara Belinda tidak menekan Angga untuk segera menikah. Putra bungsunya berhasil mewujudkan impian sederhananya itu. Akhirnya Angga terlepas dari ocehan Belinda. Jika belum menemukan yang cocok, Angga tak akan pernah mau menikah. "Naila," panggil Belinda. "Pokoknya kamu harus dengerin apa kata Mama. Di sini kamu harus jadi anak yang nurut. Mama punya pengalaman banyak untuk perempuan yang baru pertama kali ngidam. Selama satu minggu, kamu ikutin peraturan Mama." "Tapi jangan bentakin Naila ya, Ma. Kasian, dia itu selalu takut sama Mama yang selalu bersikap galak. Nggak, Aksa salah ngomong, iya Mama galak tapi di dalem hati Mama itu baik hati." Buru-buru Aksa menginterupsi pelototan yang diluncurkan mamanya. "Aksa titip Naila. Perlakukan dia seperti seorang putri, putri dari khayangan yang jatuh ke bumi. Yang menyebabkan seorang Aksa jatuh hati." Naila melongo mendengar kata-kata Aksa yang terkesan lebay alias terlalu berlebihan. Kalau disandingkan dengan pantun, itu pantun paling tidak berbobot, atau lebihnya, tidak pantas untuk dikatakan pantun. "Ya elaah bahasa lo Aksa, dangdut banget," komentar kakaknya pedas. "Adek gue alay juga ya ternyata." "Sirik aja lo, bang." "Kamu tenang aja Aksa. Naila ini menantu kita. Tanpa kamu suruh, Papa sama Mama bakal perlakuin Naila dengan sangat baik. Kamu ini, kayak nganggap kita orang lain." Papanya menjelaskan sembari terkekeh. Aksa adalah putra kesayangannya, yang selalu membuat suasana di rumah terasa sangat hangat. Jujur, dia bangga kepada Aksa, anaknya yang satu itu selalu ingin hidup mandiri. Hidup mandiri yang nanti akan menjadi bekal di masa depan. Mengenyampingkan harta warisan. Aksa tidak mau menjadi orang kaya, tapi dia ingin menjadi orang sukses. Satria setuju dengan kata-kata itu. Dia anak paling sempurna. "Hehe Papa. Cucunya mau cewek atau cowok, Pah? Atau mau bencong?" tanya Aksa sekenanya. Angga dan Naila melotot secara bersamaan. Belinda menahan tawa, ia terlalu jaim untuk tertawa terbahak-bahak. Menurutnya, tak bagus tertawa sambil terkikih-kikih, hal yang tidak sopan. "Aah kamu ini. Ngelantur mulu." "Nggak tau tuh, Pah. Aksa kalau ngomong suka ngaler-ngidul gitu. Yaa kadang, bikin Naila kesel. Dulu, pernah ngajak aku ke rumah hantu di pasar malam. Dia malah ngetawain aku waktu aku ketakutan diganggu sama tuyul. Aku jewer telinganya sampai merah. Kesel banget." "Liat aja kakaknya kayak gimana." Aksa melirik Angga yang duduk di depannya. "Jadi lo nyalahin gue?" "Iyalah. Prilaku adik, mewarisi perilaku kakaknya." "Ih kamu. Yang ada, perilaku anak mewarisi orangtuanya," kata Naila menoleh ke Aksa. Mencoba meralat kata-kata Aksa yang keluar dari fakta. "Kebiasaan kalian, berantem terus. Akur cuma kalau lagi ngejek mamanya," timpal Belinda melerai. Namun dalam hatinya ia bahagia, kalau tak ada pertengkaran atau ocehan mereka, rumah ini akan lengang, tak akan ramai. Ruang tamu itu seketika dipenuhi gelak tawa. *** "Kamu jaga diri baik-baik, ya." Aksa mengelus kepala Naila sayang. Naila yang kurang menyetujui kepergian Aksa sulit sekali rasanya untuk tersenyum. Tak ada gairah apa-apa. Sehari tanpa Aksa itu rasanya hampa, apalagi satu minggu. Aksa yang bisa menangkap sorot kecewa dari Naila mencoba mencari cara agar Naila bisa tersenyum. "Aku janji, bakal beliin kamu sesuatu di sana. Hadiah buat istri aku tercinta," kata Aksa. "Kamu mau kan nunggu aku? Kalau aku pulang, kamu harus udah berdiri di sini nungguin aku." Lelaki itu memegaing kedua pipi Naila, lalu mengecup kening Naila beberapa kali--- terdiri dari lima kecupan berturut-turut. Namun tetap, wajah Naila masih ditekuk. Belum rela. "Oke kalau kamu masih ngambek. Aku gak jadi pergi," kata Aksa pada akhirnya. Naila membeliak. "Daripada ninggalin kamu dalam keadaan marah, ya udah lebih baik aku nggak usah pergi." "Eh jangan. Iya-iya, aku nggak marah, kok. Maafin aku." Naila berusaha mengeluarkan senyumannya. Agar Aksa mengurungkan niat untuk membatalkan kepergiannya. Bagaimana pun itu adalah pekerjaan yang harus Aksa lakukan, Naila tidak mau mengganggu. "Naah gitu, dong." Aksa tersenyum. Kedua jemarinya disimpan di ujung bibir Naila, menariknya agar terbentuk senyuman. Dengan amat terpaksa, Naila tersenyum. "Eh tapi kamu harus janji, ya. Jangan kegatelan sama cewek lain di sana. Kalau sampai gitu, aku susul kamu ke sana," ancam Naila. "Masa sih aku selingkuhin perempuan sempurna kayak kamu?" Naila menaikkan alisnya, "Emm bisa aja." "Nggak. Aku janji, aku tetep setia sama kamu." Aksa mengangkat tangannya, juga mengangkat tangan Naila, lalu ia kaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Naila. Kedua kelingking itu bertautan penuh makna. Mereka tersenyum berbarengan, mata berbinar. Untuk kesekian kalinya, Aksa mengecup kening Naila lagi penuh penghayatan selama beberapa detik hingga mata Naila terpejam nyaman. Kecupan Aksa mampu membuat Naila damai, hangat, dan menyentuh. Tangannya merengkuh erat jaket Aksa, seperti tak ingin melepasnya. Begitu kecupan itu terlepas, Naila memeluk tubuh Aksa. Aksa lebih mengeratkan pagutannya. "Ketemu kamu adalah anugerah terindah Tuhan, aku bersyukur. Dulu, kamu itu junior-nya aku di kampus. Dan aku senior kamu yang selalu ngatur ini dan ngatur itu. Awalnya kita sering berantem, karena kamu selalu nggak mau nurutin perintah senior. Kayak cerita dalam novel. Dari benci jadi cinta. Dari berantem jadi saling sayang. Terkesan klise, namun maknanya sangat indah. Itu adalah kita. Kita yang pada akhirnya saling mencintai, mengikrarkan janji, untuk saling setia. Kita yang berbalutkan canda dan tawa. Kita yang saling menyempurnakan. Tak pernah mengenal air mata. Susah, sedih, seneng, kita lewatin sama-sama. Aku cinta kamu Naila, bahkan lebih dari sekadar kata cinta. Kamu adalah perempuan yang bikin aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, setelah mamaku. Terima kasih, kamu udah pilih aku sebagai lelaki berarti dalam hidup kamu. Karena kamu, aku ngerasa sempurna. Kamu bagaikan air, yang mengguyur jiwa aku, mengubah bagian kotor, menjadi bersih, bahkan lebih bersih dari sebelumnya. Menimbulkan sinar terang, yang akan menerangi kamu sebagai gantinya. Kamu yang cemburuan, aku suka. Kamu yang selalu ngingetin aku supaya jangan kepincut sama cewek lain, aku suka. Semua yang ada dalam diri kamu yang apa adanya, aku suka." Aksa menghirup wangi rambut Naila. Dari dulu sampai sekarang, Naila tak pernah mengganti merk shampo. Dari zaman pacaran, hingga sekarang. Hingga Aksa tahu, wangi ini adalah wangi favorit Naila. Wanginya telah melekat dalam. Ketika hidungnya tak sengaja mencium harum aloe vera, Aksa akan langsung teringat dengan Naila. Lelaki itu sangat senang menghirup dan membelai halus rambut panjang kesayangan Naila. Dalam pelukan Aksa, Naila terenyuh. Tidak biasanya Aksa mengatakan kata-kata indah bak puisi yang ditulis para pujangga itu. Tak pernah tebersit dalam benaknya, bahwa Aksa bisa seromantis ini. Mata Naila sedikit berair. "Karena aku cinta sama kamu, dan hati ini cuma buat kamu, aku nggak akan pernah ngelupain perintah kamu. Meski aku sering ledek kamu, kamu pasti percaya, cinta aku cuma buat kamu." Untuk yang terakhir, Aksa mencium rambut Naila, melepas pelukannya dan beralih memandang wajah Naila yang tampak sudah lebih baik. "Apalagi, sebentar lagi kita bakalan punya anak. Jaga janin kamu baik-baik. Kasih dia asupan makanan yang bergizi, yang berkualitas, yang sehat. Supaya jadi Aksa junior yang kuat, yang ganteng dan nurut sama orangtua." "Kamu mau kalau anak yang lahir perempuan punya wajah ganteng?" Naila bertanya polos. Aksa tertawa menyadari kebodohannya. "Kok ngomongnya kayak orang yang pergi dan nggak akan kembali lagi?" mata Naila menyipit. Merasa ada yang janggal. "Itu kan kata-kata spesial. Senin depan, aku di sini lagi, kok. Jemput kamu." "Janji?" "Janji." "Oke aku pegang janji kamu." Naila berjinjit, giliran dia yang mencium kening, juga pipi Aksa. Menimbulkan suara kecupan yang romantis. "Ininya nggak?" Aksa menyimpan telunjuknya di bibir. Berharap Naila mau mencium bibirnya. "Kalau kamu udah balik lagi, aku bakal lakuin itu. Terserah kamu mau berapa lama." "Asiiiiik." Aksa tertawa gemas. Menarik sebelah pipi Naila. "Ya udah aku berangkat dulu ya sayangku, cintakuu..." "Lebaaay." "Berapa kali kamu bilang aku lebay?" "Hehe nggak kok, nggak." Naila memeluk Aksa lagi. Bagaimana rasanya jika dalam waktu seminggu Naila tidak mendapatkan kecupan, gombalan, pelukan, ejekan dari Aksa? Pasti sepi, sunyi, senyap. Come on Naila. Aksa cuma pergi sebentar, ke Bandung doang, tapi kenapa kamu kayak yang nggak rela gini? Kenapa kamu takut terjadi apa-apa sama Aksa? Kenapa perasaan kamu nggak enak? Takut kalau Aksa nggak akan balik lagi. Firasat apa ini? Apa kamu terlalu takut?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN