Empat

1724 Kata
Berjalan memasuki area pasar malam, Naila memeluk lengan Aksa, untuk sekadar mengurangi rasa dingin yang diakibatkan angin malam. Selama perjalanan terjalin obrolan dan candaan kecil, yang membuat kedua bibir mereka melekukkan senyum, dan tawa. Aksa menertawakan tentang Naila yang tak pandai memakai hak sepatu yang tinggi. Naila menertawakan tentang kue buatan Aksa yang rasanya terlalu asin. Dan di hari ulang tahun itu, Naila malah memaki Aksa, bisa saja Aksa mau kawin lagi. “Kalau nggak bisa bikin kue, ya nggak usah maksain, lah.” “Iiih gak tau terima kasih banget. Tapi sayang kaan?” “Biasanya kalau orang masak sesuatu, terus rasanya asin, artinya dia pengin nikah lagi.” Naila kembali mengejeknya. “Silakan kalau kamu mau nikah lagi, tuh banyak cewek-cewek yang cantik, tuuuh.” Naila menunjuk-nunjuk kumpulan cewek remaja yang memakai celana pendek, rambut diwarna, listik merah tebal di bibir. Aksa malah bergidik ngeri. Ada saatnya mereka berhenti untuk membeli permen harum manis, jajanan yang paling sering dijumpai di kawasan pasar malam. Bisa disebut sebacemberut, lan khas di pasar malam, sesuatu yang sangat lumrah. Jajanan kegemaran anak kecil. Ada warna pink, ungu, hijau, dan kuning. Pasar malam selalu terlihat warna-warni. Aksa dan Naila suap-suapan manja. Aksa menempelkan secuil harum manis itu di hidung pesek Naila, dengan cepat Naila membuangnya dan melototi Aksa. Musim sedang bersahabat, tak ada hujan yang bisa mengakibatkan pasar malam becek. Banyak sekali wahana-wahana yang dapat dijumpai. Ada komedi putar dengan berbagai jenis bentuk tempat duduk; kuda, bebek, jerapah dan lain sebagainya. Yang ditumpaki oleh para anak kecil menggemaskan. Tak lupa dengan lampu kerlap-kerlip yang membuat peremainan itu terlihat asik. Wahana bianglala tampak mendominasi pasar malam, itu adalah wahana paling menonjol, lampu-lampu kerlipnya tampak menyinari langit hitam di atas, berputar santai. Ada pedagang makanan, aksesoris, baju, dan lain-lain. Suara-suara orang berseru, musik dari permainan, musik dari penjual es krim, semakin membuat suasana ramai. Tempat yang cocok untuk mereka yang ingin berpacaran, juga untuk keluarga yang ingin refreshing. Aksa dan Naila asik berdua di antara orang-orang yang berseliweran di tempat permainan lempar gelang. Aksa berusaha melempar gelang ke gelas bernomor 5, maka mereka akan mendapatkan hadiah sebuah boneka besar. Di sebelahnya, Naila terus memberi support, dia gregetan, ingin melihat Aksa memasukkan gelang-gelang itu secara mulus. Di tengah kefokusannya, Aksa tertawa mendengar teriakan semangat dari Naila, itu artinya dia bahagia. Bahagia itu sesederhana ini. Tersisa satu gelang lagi, dan... Plus. Gelang terakhir berhasil masuk ke dalam gelas. Aksa menyeringai puas, menjentikkan jari jempolnya. Naila memekik senang. “Yeee kamu berhasil sayaang, kamu berhasiil.” Ia  bertepuk tangan gembira, heboh.  Hadiahnya memang tidak seberapa, tapi Naila sangat senang. Karena itu berasal dari ketelitian Aksa dalam melempar gelang yang konon sangat sulit ditaklukan. Aksa dan Naila saling menyatukan kening sambil menggeleng-geleng mesra. Pemuda pemilik permainan itu memberikan boneka beruang besar berwarna krem kepada Naila. Naila segera memeluknya sukacita. Mereka beralih ke permainan lain, menaiki  permainan bianglala yang sudah dipenuhi penumpang lain. Untung, masih ada satu tempat yang tersisa, jadi Aksa dan Naila tidak perlu berlama-lama menunggu. Saat menaiki wahana ini, kita bisa berada di ketinggian 30 meter dalam sekali putaran, melihat pemandangan pasar malam dari atas. Melihat kerlap-kerlip lampu, penjual, pembeli, pengungjung dan balon-balon sabun. Juga anak kecil yang meronta ingin dibelikan balon berbentuk tokoh kartun Upin dan Ipin. Dengan membawa boneka beruang itu, Aksa dan Naila duduk berhadapan di dalam kabin berukuran kecil. “Kamu nggak perlu ngajak aku ke tempat yang mewah, yang mahal, yang terkenal. Gak usah jauh-jauh ke luar negri, di tempat kaya gini juga..., aku bahagia.” Aksa tidak menjawab perkataan Naila, pandangannya berada di samping, menatap ke bawah ketika mereka telah berada di atas. Naila memerhatikan Aksa penuh selidik, tampak jakunnya yang berulang kali dialiri air liur. Hening menyelimuti. Oooh, Naila baru mengerti. Aksa kan takut ketinggian. Nyaris Naila tergelak. Ia pun membawa pipi Aksa, agar dia melihat ke arahnya, berhenti memandang ketinggian. Untuk apa terus memandang hal yang membuat kita takut? Lagipula, itu hanya sementara, sebentar lagi mereka akan berada di bawah. Mata Aksa dan Naila saling beradu, Aksa masih memasang wajah datar. "Kalau kita lagi di atas, lebih baik kamu liat wajah aku. Kamu boleh ngumpet, seenggaknya kalaupun aku jelek, wajah aku nggak seserem ketinggian." Naila tersenyum manis, lesung pipinya terlihat, matanya berbinar. Refleks Aksa ikut tersenyum, degupan jantungnya kembali normal. Hanya Naila yang mampu mengusir kegelisahannya. Embusan angin menerbangkan anak-anak rambut Naila, kadar kecantikannya semakin terlihat. Meski Aksa sering mengatai Naila jelek, tapi dalam lubuk hatinya, Naila adalah perempuan tercantik. Kedua senyuman mereka penuh cinta dan makna. Aksa menaiki wahana ini karena ingin menemani Naila, ia tidak bisa menolak keinginannya. Naila sendiri tidak sadar kalau sebenarnya Aksa takut ketinggian. Kalaupun ia tau, Naila tak akan memaksa. Naila menyimpan kepalanya di hahu Aksa, menikmati momen berdua ini dengan tenang. Naila ingin terus seperti ini dengan Aksa. "Nanti suatu saat, bukan boneka ini yang bakal nemenin kita. Tapi sama kesepuluh anak kita," kata Naila. Mengangkat kepala, melihat wajah Aksa lamat. "Emang muat?" tanya Aksa polos. "Ya muat, lah." Kening Aksa berlipat. Penuturan Naila memang tidak masuk akal. Bagaimana bisa tempat sekecil ini bisa menampung sebanyak 12 orang? "Kata siapa aku mau bikin 10? Aku cuma mau dua. Dua anak lebih baik," katanya dengan logat seperti di iklan-iklan. Mencolek hidung Aksa. "Jadi kamu nggak mau nurutin keinginan aku?" "Nggak mau." Naila mengeluarkan lidahnya. "Kamu kira, ngelahirin anak itu gampang? Nggak segampang ngebalikin telapak tangan." "Serius? Kamu nggak mau nurutin permintaan aku?" ulang Aksa lagi. Naila mengangguk pasti. Aksa mencubit kedua pipi Naila gemas. "Mau aku cium beratus-ratus kali? Emmm?? Atau mau aku tarik hidung kamu yang pesek? Atau mau aku selingkuhin?" Ia masih menarik-narik pipi Naila gemas. Tidak peduli dengan suara desisan Naila. "Aaaaa ampuuun." "Pokoknya aku pengin kita punya anak 10. Jangan dikurangin jangan dilebihin. Kalau nanti kita ke sini, bianglala ini isinya cuma keluarga kita doang," lanjut Aksa lagi, akhirnya dia melepaskan cubitannya. Menatap Naila gemas sekaligus lucu. Pipi Naila menjadi merah. "Sakiiiit Aksaaa," pekik Naila kesal. "Makannya jangan mancing-mancing aku." "Padahal kan maksud aku baiik. Supaya kamu lupa kalau giliran kita yang ada di atas." Naila mencibir. Aksa tidak mengerti dengan tujuannya. "Oh iya, ya." Segera Aksa mengangkup pipi Naila, wajah mereka saling berdekatan, menyisakan jarak 3 cm. Naila yang masih marah, hanya cemberut, memandang sinis Aksa. Tanpa aba-aba, tanpa izin, tanpa perintah, Aksa mengecup bibir Naila sedetik, gadis yang dikecupnya melotot. "Oke jangan marah." Aksa mendaratkan kecupan yang kedua, satu detik, Naila masih melotot. "Kamu makin jelek kalau marah." 'Cup' dan itu adalah kecupan yang terakhir. "And thank you so much my wife." Aksa memeluk Naila yang masih terkejut. Takut kalau misalkan tadi ada orang yang lihat. Naila mengerjap-ngerjapkan mata. Pelukan itu berlangsung lama, kira-kira dalam satu putaran kincir. "Owalaaah. Mas, mbak malah asik pacaran," suara seseorang kontan membuat Aksa dan Naila melepaskan pelukan mereka, terperanjat. Boneka yang dipegang Naila jatuh ke bawah. Cepat-cepat Naila membawanya dengan gerakan super kaku. Memaki dalam hati. "Hehe, udah selesai ya, mas?" tanya Aksa jengah. "Iya. Kasian, nenek sama kakek ini udah nungguin katanya pengin naik kincir angin." *** Rumah hantu adalah tujuan selanjutnya. Setelah membeli tiket, Aksa dan Naila masuk ke dalam. Suasana horor menyambut, tembok lusuh, dan banyak sekali sosok-sosok menyeramkan yang sengaja menampakkan diri untuk menakut-nakuti para pengunjung. Kini, bukan Aksa yang ketakutan, melainkan Naila. Di sepanjang perjalanan, Naila terus saja menggenggam erat lengan Aksa tanpa ingin lepas sedikit saja. Romannya penuh ketegangan, seperti sedang berada di gedung tua yang banyak makhluk halusnya. Oke, ini rumah hantu pasar malam, tapi tetap saja, Naila paranoid. Ada pocong yang sedang loncat-loncat, kain putihnya kotor oleh tanah merah, wajahnya pucat, bibir dan alisnya hitam. Naila bergidik, bulu kuduknya meremang. Sosok genderuwo muncul, rambutnya yang gonrong dan tubuhnya yang besar hitam membuat Naila memekik dan menutup mata. Aksa nyengir. "Mereka itu manusia kaya kita, jadi kenapa harus takut?" "Ya abis wajah mereka serem-serem. Aku takut lah." Ada pula kuntilanak yang sedang tertawa, suaranya melengking, memantul di ruangan. Kadang dia menangis meratap nasib. "Hihihihihihiiii..." Dengan terus menelan ludah, Naila melewati sosok berbaju putih berambut panjang itu. Ketika tertawa, gigi-giginya ompong, hitam. Tak ingin melihat, Naila mengalanginya dengan telapak tangan. Cengkeramannya pada lengan Aksa semakin kuat. Karena terlalu fokus pada kuntilanak barusan, Naila tidak menyadari di depannya ada sundelbolong yang berlari ke arahnya. "Aaaaa!!" Naila menjerit histeris. Pegangannya terlepas karena terlalu kaget. Aksa juga ikut kaget, bukan karena sundelbolong barusan, tapi gara-gara suara teriakan Naila yang melebihi suara bayi ketika menangis kelaparan. Di depan Naila, masih ada sundelbolong lainnya, perutnya yang bolong dan berlumuran darah membuat Naila semakin ngeri. Perempuan itu terus melirik-lirik di sekitarnya, takut ada sosok yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan. "Ciee yang takut cieee yang takut," goda Aksa. Naila yang tak lagi memegang tangan Aksa, membuat Aksa memulai aksi jailnya. Naila masih sibuk jaga diri, waswas. Tidak mendengar godaan Aksa, fokus menengok ke sana-kemari. Suasana menjadi hening. Merasa ada yang tidak beres, Naila segera menoleh ke arah Aksa. "Waaaaaaaaaaaaaaah." "Aaaaaaa!" Naila kembali memekik, mundur. Wajahnya merah padam. Jantungnya hampir melorot ke perut. Berdetak 10 kali lipat lebih cepat. "Hahahahahaha." Aksa tertawa ngakak melihat eskpresi Naila yang takutnya luar biasa. Seperti orang yang baru saja melihat kecoak terbang. Apa wajahnya seburuk itu sampai membuat istrinya berteriak ketakutan? Apa memang Naila parnoan? "Iiiih Iaaaan!" Naila lekas memukuli punggung Aksa geram. Namun beberapa tuyul botak datang, mengelilingi Naila yang di detik itu juga mati kutu, menatap tuyul-tuyul jail yang tertawa dan menyanyi memutarinya. Aksa menjauh, menertawakan mimik Naila yang hampir menangis melihat tuyul botak dan hanya bercelanakan celana dalam itu. Mereka seolah ingin mengajak Naila bermain. "Upin-Ipiin," kata Naila menahan takut, napasnya tersengal. "Aaaaaa....." Naila nekad menerobos, berlari mencari jalan keluar. Tidak mau tahu, pokoknya dia harus cepat keluar dari rumah hantu menyebalkan ini. Naila berlari terpontang-panting. Bahkan ia tidak sadar, kalau Aksa masih di dalam. Aksa yang sibuk menertawakan Naila, sampai membuat dadanya sakit, dihampiri kuntilanak. Cowok itu tercengang, si kunti bukan sedang menakut-nakuti, tapi ternyata sedang menggoda, mengedip-ngedipkan mata memamerkan gigi hitamnya. Darah merah mengucur di wajahnya yang rusak. Aksa bergidik. Daripada terus diganggu, lebih baik ia ikut keluar seperti Naila. Tiba di luar, Naila berusaha mengontrol detakan jantungnya, mengatur napas yang tersendat-sendat. Disusul Aksa dari belakang, ia masih tergelak, tertawa ngakak sengakak- ngakaknya. Naila berbalik, merapatkan bibir. "Seneng banget ya liat aku takut! Euuuuh!!" Naila menjewer kuping Aksa hingga lelaki itu merintih kesakitan, tapi Aksa masih belum bisa menghentikan tawanya yang menggelitik, orang-orang yang lewat memerhatikan mereka penuh tanda tanya.  "Kamu mau aku jantungan terus meninggal? Kamu mau jadi duda muda? Kamu nggak butuh aku lagi Aksa Wijaya? Kamu mau aku meninggal terus kamu bisa cari cewek lain? Hmmmm???" Naila mendecakkan lidah, melepas jewerannya. Aksa mengusap-usap telinganya yang memerah. Terlihat nelangsa. "Sakit ih."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN