Tiga

2553 Kata
Pagi menyapa, matahari membentangkan sinar keemasannya. Dalam sebuah rumah, terdengar suara musik berbahasa asing yang menggema ---berasal dari DVD yang disambungkan lewat kabel USB. Setelah selesai menyiapkan sarapan pagi, Naila berlekas membersihkan rumah. Menyapu, mengepel lantai dengan riang, sambil bejoged, mengikuti kemana arah lagu. Karena dengan lagu, bisa membuat Naila semangat dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya. Semangat paginya berkobar. Kalau siang, waktunya untuk malas-malasan. Aksa belum bisa menghilangkan kebiasaan bangun siangnya. Kalau sedang di rumah pun, dia hanya akan bangun jika dibangunkan oleh mamanya. Begitu keluar dari kamar, Aksa bisa mencium bebauan pewangi lantai. Juga wangi lainnya yang menyerebak. Ia mengucek-ngucek matanya yang masih ada belek. Telinganya terasa panas, ini benar-benar berisik. Seperti sedang berada di diskotik. Naila mengepel dengan gerakan mundur, bibirnya terus bernyanyi sesuai dengan lagu, ya walaupun liriknya beda jauh, hingga ia tak melihat ada Aksa yang sudah berdiri di belakang. Kepala Naila pun mengenai dagu Aksa. Perempuan itu segera berbalik, menyadari ada sesuatu yang tidak beres. “Lagu apaan sih ini?” tanya Aksa sedikit kesal, bahkan suaranya nyaris tenggelam. Bukannya menyapa, dia malah bertanya demikian. “Kamu udah bangun, sayang?” Naila malah balik bertanya. Aksa yang sudah tidak tahan lagi dengan lagu entah dari negara mana itu segera melangkah menuju TV. Mengambil remote DVD dan mematikan DVD. Seketika ruangan menjadi senyap, lagu The Boys yang dinyanyikan girlband Korea paling nge-hitz itu hilang dalam sekejap. Tentu saja, tindakan Aksa membuat Nailadongkol. Lekas ia menghampiri Aksa, siap menyemburka api amarah. “Kamu kenapa sih bangun-bangun malah matiin lagunya? Jahat, ih. Padahal susah banget buat ngehubungin kabel USB-nya. Cuma sama lagu-lagu itu yang bikin aku semangat beres-beres. Iiiih kamu nyebelin!” protes Nailamelengking. Padahal baru saja Aksa merasa hening. Lagi-lagi telinganya harus dijejali amukan cempreng. “Nyetel musik ya nyetel musik, tapi nggak usah kenceng-kenceng amat. Lagian barusan lagu apaan sih, gaje banget. Selera kamu emang rendah.” Naila mengepalkan tangan, cukup tersinggung dengan perkataan Aksa. Sama saja dia sudah menghina seleranya. “Apa kamu bilaaang? Selera aku rendah?” “Nggak aku nggak bilang gitu.” Aksa menyadari kesalahannya. Untuk menutupi, ia memilih tidak tahu apa-apa. “Kamu pikir aku budek? Aku denger dengan jelas, kamu bilang selera aku rendahan. Emang ada ya suami yang hina-hina istrinya? Aksa kamu bener-bener nyebelin. Aku udah masakin sarapan buat kamu, udah beres-beres, tapi kamu nggak ngehargain itu. Kamu malah ngatain aku. Aku punya salah apa sih sama kamu? Aku udah kasih kamu cinta, masih kurang?” Aksa mengernyit. Ia tidak bermaksud seperti itu. Itu hanya sebatas candaan semata. Seharusnya Nailatidak perlu berlebihan seperti ini dan seharusnya dia balas mengejek. “Kamu mau rumah kita berantakan? Kamu mau aku biarin kamu kelaperan? Kamu mau aku dikatain tetangga gara-gara aku gak bisa ngurus rumah tangga dengan baik? Ya udah terima aja aku apa adanya. Aku emang suka lagu-lagu Korea. Aku ini K-Popers sejati. Kamu harusnya ngerti. Kamu inget janji kamu saat sebelum kita nikah, kalau kamu bakal terus bahagiain aku, kamu gak bakal bikin aku nangis. Kamu nggak bakal marahin aku, kamu harus tepatin janji kamu...” Aksa menggeleng. Hanya ada satu cara yang dapat dilakukan sekarang, yaitu meminta ‘maaf’. Kalau tidak, Naila tak akan mau berhenti mengoceh. Ia akan nyerocos sampai ke akar-akarnya, sampai keluar dari inti masalah ---curhat lebih tepatnya. Terus saja seperti itu sampai lebaran monyet tiba. “Ya udah iya-iya aku minta maaf. Aku salah iya aku salah.” Naila yang nyaris menangis dibawa Aksa ke dalam pelukannya. Naila menenggelamkan kepalanya di d**a Aksa dengan wajah yang masih masam. Aksa tidak mengerti, akhir-akhir ini Nailalebih sensitif dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya. Tingkat bawelnya naik lima level. Naila yang butuh pelukan pagi, terus memeluk Aksa rapat. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. “Setel lagi aja lagunya. Tapi aku yang pilih, ya.” Aksa melepaskan pelukannya. Beralih untuk menyalakan kembali DVD. Memilih lagu yang lebih tepat. Begitu menemukan lagu yang tepat, jemarinya menekan tombol play. Aksa mengecilkan volumenya dahulu, lalu keluarlah suara lagu yang barusan dipilih. Lagu milik Armada dengan judul Wanita Paling Berharga. “Sini biar aku yang ngepel. Emangnya kamu pembantu, ngepel segala.” Aksa merebut alat pel yang berada di tangan Naila. Sementara Nailamulau asik dengan lagu yang membungkus ruangan ini. Nailamengerti mengapa Aksa memilih lagu romantis ini. Liriknya membuat Nailatersenyum-senyum, mungkin untuk mewakili perasaan Aksa. Pandangan Nailaberalih kepada Aksa yang sedang mengepel. Perempuan itu mengedip-ngedipkan mata. Masa harus Aksa yang mengepel? Tidak bisa dibiarkan. Naila bergegas pergi ke belakang. Lalu setelah beberapa detik kemudian, ia kembali dengan membawa lap pel yang lain. Ikut mengepel di sebelah Aksa. Begitu Aksa menoleh, Naila melemparkan senyumnya. “Nah, gitu dong senyum,” komentar Aksa. Dasar labil. Aksa membatin seraya menggeleng. Mereka pun mengepel lantai bersama-sama. Hingga lagu berganti ke lagu yang lain. Kalau dilihat-lihat, mereka bukan seperti sedang mengepel, tapi sedang bermain dengan lap dan air. Aksa dan Nailamendorong lap pel bersamaan di jalur berbeda. Lalu mundur secara bersamaan. Saat bersebelahan secara pas, Aksa mengecup pipi Naila, begitu pun dengan Nailayang juga mencium pipi Aksa. Keduanya sama-sama menerima kecupan manis di pagi buta, lalu tertawa. Keduanya kembali mendorong lap pel dengan riang, kadang berputar. Sempat-sempatnya juga menari. Bukannya bersih, lantai itu malah becek. Aksa dan Nailasaling melirik, mungkin ada kesalahan teknis. Seharusnya lantai ini bersih, kinclong, tapi malah berbanding terbalik. “Gimana mau kering, orang kita nggak peres dulu lapnya,” ucap Nailablo'on. Aksa hampir tersedak. ‘Tok tok tok’ Pembicaraan mereka teralih kepada suara pintu yang diketuk. Mengira, pasti sudah sejak tadi pintu itu berbunyi. Nailamemberikan lap pelnya kepada Aksa. "Pegangin, aku mau bukain pintu dulu. Kayaknya ada tamu." Ia bergegas mendekati pintu. Aksa menerka tentang siapakah orang yang sekarang berdiri di luar. Jangan sampai orang penting, nanti kalau dia melihat rumahnya yang kacau-balau, itu bisa memalukan. Ia pun berinisiatif untuk segera mematikan lagu. Cekrek. Pintu terbuka. “Yaaaa?” Nailamembesarkan bola matanya, wajahnya yang riang berubah kaku, ternyata bukan tamu biasa, bukan tetangga sebelah. Sosok perempuan berbadan tinggi, memakai celana bahan abu, baju yang memakai blazer berwarna hijau, rambut digelung, berada di depan mata sambil tersenyum. Entah senyuman yang bermakna apa, yang jelas, Nailaharus balas tersenyum lebih lebar. Harus terlihat sesopan mungkin. “Lama banget buka pintunya. Kamu lagi ngapain?” Nada suaranya memang lembut, tapi justru itulah yang membuat Nailagemang. Nailatahu persis bagaimana sikap mama Aksa. “Eeh Mama.” Nailacengengesan. Jantungnya berdebar jika harus bertemu dengan mertua. Ia lantas mengangkat tangan, menyalami Belinda, membawa telapak tangannya ke kening. Lalu memberikan senyum. “Maaf, Ma. Aku lagi beres-beres sambil dengerin lagu, jadi gak kedenger, deh.” Tanpa menyahut, Belinda langsung melangkah masuk. Baru satu langkah, Nailasudah lebih dulu mencegah, melarang mertuanya untuk masuk. "Eeh jangan dulu masuk, Ma. Aku belum selesai ngepel lantai soalnya.” Nailaberusaha sesopan mungkin, memegang kedua lengan Belinda. Belinda memandang Nailatak masuk akal. “Emmm... Emmmm mending Mama tunggu dulu di luar. Biar aku selesain dulu. Nanti kalau udah bersih, aku bakal nyuruh Mama masuk. Sebentar ya, Ma.” Dengan penuh kekikukan, Nailaberbalik, masuk ke dalam, waswas. Perempuan itu tidak mampu melihat langsung bagaimana ekspresi mertuanya sekarang. Sudah pasti kesal. Ia harus cepat-cepat membersihkan semuanya, berharap bisa selesai dalam jangka waktu 10 menit. Belinda menggeleng-gelengkan kepala. Gadis itu selalu saja membuat ulah. Ada saja hal yang membuat darahnya naik. Dulu, saat Aksa dan Nailamasih tinggal di rumah keluarga, Nailapernah melakukan kesalahan. Menumpahkan s**u putih yang sangat panas ke baju mertuanya. Walaupun tidak sengaja, tapi tetap saja, Belinda marah besar. Dan yang lebih parahnya lagi, Aksa malah membela istrinya. “Mending sekarang kamu mandi dulu, Mama kamu dateng. Biar aku yang beresin semuanya. Jadi waktu Mama masuk, kamu udah siap.” “Mama dateng di waktu yang nggak tepat, nih.” Aksa menyeloteh. Belok arah. Nailamulai mengepel lagi, menata kursi dan lain sebagainya. Nailalakukan semuanya dengan gesit. Untunglah ia sudah menyiapkan sarapan. Di luar, Belinda duduk di kursi sembari mengetuk-ngetukan hak sepatu ke atas teras, sudah lewat 10 menit tapi Nailabelum juga memanggilnya. Kalau dua menit lagi dia belum keluar, Belinda akan masuk secara paksa. Dia datang ke sini bukan untuk menunggu di luar, dibengkalaikan begini. “Ma, silahkan masuk, Ma,” kata Nailasukaria. Belinda berdiri sembari mendelik. Terlalu bosan dan sebenarnya sedang menahan amarah. “Sekarang rumahnya udah rapi, udah seger, udah wangi. Pokoknya Mama bakal nyaman, deh. Hehe.” Nailamengajak mertuanya tertawa, tapi Belinda tidak menggubris, melangkah masuk dan duduk di atas sofa. Nailamenarik napas dan mengangkat kedua alisnya. Nailamasuk kembali, ia harus bersabar menghadapi mertuanya yang judes, tegas dan pemarah. Aksa muncul di pintu kamar, sudah berpakaian rapi, berpapasan dengan Nailayang hendak pergi ke dapur. “Kok wajah kamu ditekuk?” “Jangan protes. Izinin aku kayak gini di sela waktu di belakang Mama kamu. Aku harus siapin wajah paling ramah di depan tante Belinda alias Mama kamu yang selalu ngeliat aku sinis,” bisik Nailalugas. Aksa terkekeh, mengusap puncak kepala Nailasampai rambut perempuan itu acak-acakan. “Dia Mama kamu juga. Aku percaya, kamu cuma kesel doang, tapi sebenernya kamu sayang kan sama dia? Kalau kamu nggak sayang, mana mungkin kamu sayang sama anaknya yang paling ganteng.” “Hmmm.” Nailatak minat dengan gurauan Aksa. Dia terlalu percaya diri. Selalu bilang kalau dia ganteng dan istrinya itu jelek. “Dia loh yang udah ngelahirin aku. Itu sebabnya sekarang aku ada di dunia, dan ketemu kamu, jadi orang yang ngebahagiain kamu.” “Lebaaay.” Aksa membesarkan bola matanya. “Sekali lagi kamu bilang aku lebay, aku gigit.” Aksa menggertakan gigi, hampir menggigit pipi Nailayang tembem. Tapi Nailalebih dulu menghindar. “Wleeee nggak kena.” Nailamenjulurkan lidah, meledek Aksa abis-abisan, lalu berlalu, meneruskan niat untuk pergi ke dapur menyiapkan minum dan cemilan. Sementara Aksa tersenyum menjangkau kepergian Naila. Aksa harus segera menemui mamanya di ruang tamu. Nailamengambil tiga gelas dari rak piring. Ia ingat percakapan dengan almarhum ibunya dulu, sewaktu Naila masih duduk di kelas 9 SMP. Sebelum ibunya meninggalkan Nailauntuk selama-lamanya. Mungkin, itu adalah pesan terakhir almarhum. “Naila. Kamu itu harus belajar cuci piring, cuci baju sendiri, beres-beres yang rajin. Karena nanti, kamu bakalan tinggal di rumah suami kamu.” Ibunya menyisir rambut Nailayang tergerai panjang di teras rumah, memandang langit yang mulai keorenan. Udara sejuk menggoyangkan daun, menyapu debu-debu. “Tapi kan Naila masih SMP, masa Ibu udah nyuruh Naila kayak gituan. Kan ada Ibu.” “Itu kan sekarang, kalau nanti? Kamu harus belajar mulai dari kecil, dari sekarang, supaya nanti kamu nggak akan terlalu kaget. Kamu itu gak bakal selamanya hidup sama Ibu. Suatu saat nanti, saat kamu tumbuh besar, tumbuh dewasa, kamu bakal ketemu sama jodoh kamu. Seorang laki-laki yang nantinya bakal jadi suami kamu. Kita kan nggak tau, kamu bakal dapetin jodoh orang dari kalangan mana. Entah dari keluarga kaya, sederhana, atau susah.” Sambil memandang langit dan burung-burung yang hinggap ke ranting-ranting pohon, Nailamendengarkan amanah ibunya dengan cermat. Sadar, kalau dia jarang sekali mencuci piring, semua pekerjaan rumah, dikerjakan oleh ibunya. Sesekali Nailamengedipkan mata. Ketika orangtua sedang berbicara, kita tidak boleh sedikit pun membantah, atau memotong. “Nah kalau di depan mertua, kita harus sopan. Gak semuanya mertua itu baik loh Naila. Ada yang begini, begitu. Pokoknya bervariasi, deh. Ada yang rewel, nyuruh menantu harus ginilah, gitulah. Ada juga yang judes dan bawelnya kebangetan. Kamu jangan protes, tetep hormatin mereka aja. Cari aman Naila. Dulu juga, almarhum nenek kamu itu terkenal bawel. Nyuruh Ibu harus pakai kerudung lah, harus setiap hari masak lah, aaah pokoknya bener-bener galak,” ibu Nailaterkekeh. Naila ikut tertawa, membayangkan betapa sulitnya hidup ibunya dulu. “Tau gak, Nak? Ibu pernah kesiangan nggak bangun shubuh, nenek kamu terus ngomelin Ibu sampai maghrib.” “Serem juga ya, Bu,” tanggap Naila ikut takut. “Pokoknya Naila nanti pengen punya mertua yang baik, yang mau ngajarin Nailamasak. Jangan marah-marah kayak Nenek.” “Aamiin sayang aamiin.” Ibunya mulai mengikat rambut hitam panjang Naila, rambut yang satu tahun lebih ini tidak dipotong. Ibunya senang melihat rambut anaknya panjang, biar bisa lebih terlihat cantik dan feminim. Sayang jika rambut hitam halusnya dibuang. “Ibu do’ain, yah. Semoga kamu dapet jodoh yang baik, yang bisa terima kamu apa adanya. Yang sayang sama kamu tulus.” “Aaah ibu ngomongon jodoh. Orang Naila baru aja mau pakai seragam putih abu-abu,” gurau Naila aneh. Masa depannya masih jauh, mana mungkin dia berpikir soal menikah. “Ibu cuma mau ngingetin. Ini tips rahasia, lho. Harus kamu pegang sampai nanti. Jangan sampai nanti kamu malu-maluin di depan keluarga jodoh kamu. Kalau ada cucian, cuci. Murah senyum, jangan cemberut. Mau diomelin mertua? Jangan mau, sakit hati.” “Ciyeee sakit hati diomelin ibu dari Ayah.” Nailaberbalik, menggoda ibunya yang baru menyelesaikan ikatan di rambut Naila. “Kasian banget sih Ibu. Untung cinta sama anaknya, kalau nggak mungkin Ibu udah kabur.” “Eeeh itu kok kamu ada kutunya?” Ibunya memegang kepala Naila, melotot. Mengatakan adanya binatang yang paling Nailabenci, putrinya itu tidak mau kalau rambutnya ditumbuhi kutu. Itu hal yang sangat menjijikan. “Ah masa sih, bu?” Naila gentar. “Becandaaaa.” “Ih Ibu ngeselin.” “Abisnya kamu nyebelin.” Nailamengeluarkan jurusnya, menggelitiki pinggang sang Ibu gemas. Matahari turun dari peraduan, menyisakan langit yang menggelap, suara-suara adzan Magrhib mulai terdengar di penjuru komplek, berasal dari masjid-masjid yang berbeda. Dari yang jauh, hingga yang dekat. Ibunya tertawa terkikih-kikih, merasa lucu saat mengingat wajah anaknya yang takut, juga gara-gara gelitikan Nailayang geli. Teras itu terasa hangat untuk beberapa menit. Nailamenyadari, betapa pentingnya amanah yang disampaikan ibunya pada saat itu. Itu adalah pesan terakhir sekaligus pesan yang akan terus terpatri dalam jiwa Naila. Nyaris saja air matanya turun, tapi Nailasegera menyekanya. Naila menyimpan nampan berisi tiga gelas air putih di atas meja, memindahkan gelas-gelas dari dalam nampam. Aksa dan mamanya terdengar sedang bercakap-cakap tentang Angga yang belum juga membawa calonnya. Setelah itu, Naila berdiri kembali untuk menyimpan nampan. “Nggak usah, Na. Simpen aja di atas meja. Dan kamu duduk di sebelah aku,” kata Aksa tak ingin merepotkan Naila. Naila mengurungkan niat dan duduk di sebelah Aksa. “Silakan diminum, Ma airnya,” ucap Naila. “Maaf mejanya nggak penuh sama makanan. Soalnya Nailamales buat pergi ke luar,” lanjutnya, memaksa bibir untui tetap tertawa. “Kenapa Papa sama kak Angga nggak ikut?” “Kamu nggak mau nanya tentang kondisi Mama? Malah nanyain yang nggak ada.” Nailamenelan ludah. Salah lagi. “Biasaa mereka lagi sibuk,” lanjut Belinda pada akhirnya. Meraih segelas air putih dan menyeruputnya pelan. “Oooh gitu, yah.” Naila manggut-manggut. Tidak terlalu menanggapi ucapan-ucapan pedas mertuanya. Di sebelahnya, Aksa terus menepuk-nepuk bahu Naila. Setidaknya, dia cukup mengerti dengan perasaan Naila. “Kenapa sih kalian nggak tinggal di rumah Mama sama Papa aja? Biar Mama bisa leluasa mantau kalian. Apa kalian nggak sumpek gitu tinggal di rumah sekecil ini?” tanya Belinda dengan nada tak mengenakan, memandangi bangunan sederhana ini serba tidak tertarik. Merasa kalau Aksa tidak pantas tinggal di rumah yang tidak mewah dan serbaada. “Kecil dari mananya sih, Ma? Aku kan udah pernah bilang. Mama nggak usah khawatir. Aku pengin hidup mandiri sama Naila, aku nggak mau nyusahin Mama sama Papa. Lagipula, ini tempat yang pas buat aku sama Nailatinggalin. Kamar ada dua, dapur sama kamar mandi ada, tuang TV ada, ruang tamu ada. Apa kurangnya? Cuma nggak pakek tangga doang? Aku nggak butuh rumah tingkat.” Belinda tercengang. Nailamemejamkan mata, setuju dengan jawaban Aksa. Berarti dia tipe laki-laki jantan, bukan keturunan anak Mama. Mau memulai semuanya dari awal. Jatuh, bangun lagi. Jatuh, bangun lagi. “Makasih buat tawaran Mama supaya aku bisa tinggal di rumah Aksa yang dulu. Tapi izinin Aksa buat mandiri. Aksa mau cari kerja sendiri. Aksa cuma mau Mama selalu buka pintu rumah saat Aksa pengin pulang, ketemu sama Mama Papa. Kasih kalian kabar gembira. Aku janji sama Mama, aku bakal hidup bahagia sama Naila. Aksa pengin jadi orang dewasa.” Nailatersenyum-senyum memandang Aksa dari samping. Ia kagum, Aksa mau hidup sederhana dengannya. Asal Aksa bisa setia, Nailayakin, mereka bisa melewati semuanya. Belinda mati kutu. Sambil terus merutuk dalam hati, mengapa anaknya bisa jadi seperti ini. “Iya-iya Mama ngerti. Ya udah Naila, kamu udah siapin sarapan.” “Udah dong, Ma. Udah selesai semuanya. Masak makanan kesukaan Aksa, ayam krispi sama sayuran ya, kan sayang?” Naila melirik Aksa, mengedipkan sebelah matanya. Aksa mencubit pipi Naila. “Nailabangun shubuh, shalat shubuh bareng Aksa terus nggak tidur lagi, biar ngerjain kerjaan rumahnya nggak terlalu siang. Ya tapi Ad...” “Euuh Mama nggak nanya itu, buktinya pas Mama dateng rumahnya masih berantakan!” Belinda malas mendengar menantunya yang terlalu banyak curhat, nggak penting. “Perut Mama laper, butuh makan, bukan denger curhatan kamu.” Nailaberusaha untuk tetap tertawa. Iya, ini kesalahannya. Aksa mengusap-ngusap d**a Naila. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN