bc

Accept Me

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
opposites attract
blue collar
drama
bxg
office/work place
illness
like
intro-logo
Uraian

Dari sekian kisah rusak di masa lalu... akankah aku terlepas dari takdir buruk yang menghantuiku?Akankah ada tangan penyelamat yang meraihku keluar dari lumpur penuh dosa ini?Dan mampukah tubuh yang sudah kotor ini dibersihkan? Siapa? Siapa yang akan sanggup menerimaku?@RubyOksaProject 2026

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 : New Life
Hari ini adalah titik awal baru dalam hidupku. Aku melangkah maju, melupakan segala hal buruk yang pernah terjadi di belakangku. Seolah Tuhan memberikan kesempatan baru ini agar aku kembali menjadi manusia baru. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di sebuah perusahaan. Bisa dibilang, setelah bekerja serabutan selama bertahun-tahun, akhirnya aku dapat menggunakan ijazahku. Persaingan di ibukota sungguh luar biasa. Apalagi untuk laki-laki yang sudah tidak lagi berusia 25 tahun. Entah keberuntungan dari mana. Nilai IPK-ku memang tidak buruk, hanya saja masa kuliahku cukup lama, yaitu 6 tahun. Jadi ini adalah keberuntungan besar bagiku. Dulu aku memang pernah magang di salah satu anak cabang perusahaan ini, mungkin karena itulah CV-ku dipertimbangkan. Ada lima orang baru yang diterima sebagai karyawan. Mereka berempat tampak lebih muda dariku. Mereka duduk dengan ekspresi gugup dan gelisah karena sudah sejak pagi menunggu di dalam ruangan tanpa kejelasan apapun. Aku tidak terlalu gugup, mungkin karena sudah memiliki pengalaman 3 tahun bekerja serabutan di mana-mana. Aku sudah terbiasa menenangkan diri dalam keadaan yang menyesakkan sekalipun. Seorang wanita dengan ID Card bertuliskan HRD datang sambil membawa clipboard. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai perwakilan HRD, lalu membaca nama kami satu-persatu sambil mencentang kertas di clipboard. "Selamat bergabung di Perusahaan SR. Semoga Anda sekalian dapat beradaptasi dan menunjukkan kinerja yang baik. Kalian berlima akan mendapat pelatihan selama 3 bulan sebelum diterima sebagai karyawan kontrak. Ada lima divisi yang bisa kalian pilih masing-masing. Silakan berdiskusi satu sama lain. Oh, sayangnya kalian tidak bisa memilih divisi yang sama." Mereka berlima diberikan kertas masing-masing. Tidak ada diskusi, yang ada sistem siapa cepat dia yang dapat. Aku terlalu santai membaca isi kertas, sementara keempat karyawan baru sudah mengumpulkan kertas mereka kepada si wanita HRD. "Tinggal satu divisi tersedia. Laboratorium Mikrobiologi bagian inti." ujar HRD itu sambil menatap sinis ke arahku yang belum mengisi kertas. Aku menelan ludah. Aku memang lulusan teknik biologi dan tahu divisi laboratorium mikrobiologi bukan tempat yang mudah. Dengan sangat terpaksa, aku mencentang divisi itu di kertas. --- Aku berhasil menemukan laboratorium mikrobiologi yang berada di lantai tiga gedung. Berbeda dari lantai satu dan dua, lantai tiga begitu sepi seolah tidak berpenghuni. Aku melangkah ragu setelah keluar dari lift, kemudian menyusuri lorong yang sepi. Entah mengapa udara begitu dingin dan tidak bersahabat merasuk ke dalam tulang-tulangku. "Permisi? Halo?" Aku sampai di depan meja administrasi. Tidak ada siapa-siapa di sini. Tertera tulisan sedang istirahat di meja administrasi. Bodoh sekali, sudah tahu jam istirahat, bukannya ke kantin aku malah langsung mampir ke divisi. Aku menarik napas lalu mengembuskannya dengan keras, merasa sial untuk kedua kali. Apa yang harus aku lakukan? Waktu istirahat tinggal 15 menit lagi, tidak akan sempat pula untuk pergi dan makan di kantin yang berada di lantai dasar. Tentu tidak sopan jika terlambat hadir di jam pertama kerja. Perwakilan HRD tadi sudah bilang agar segera datang ke divisi masing-masing untuk memperkenalkan diri. Hanya Lab Mikro saja yang letaknya jauh dari divisi yang lain. Aku menghempaskan diri di kursi tunggu, memutuskan menunggu kehadiran para penghuni divisi. Pastinya 15 menit akan berlalu begitu saja. Namun perutku yang keroncongan membuat waktu terasa berjalan sangat lambat. Tiba-tiba terdengar suara deringan. Aku memandang ke sekeliling. Dalam keheningan, suara deringan itu sangat jelas berasal dari balik pintu. Aku menatap pintu dengan papan bertuliskan Laboratorium Mikrobiologi. Dibawahnya tertera peringatan: hanya untuk petugas yang berwenang. Meski telah menjadi karyawan dalam masa pelatihan, rasanya tidak sopan jika masuk ke ruangan sebelum diizinkan. Namun raungan dering dalam kesunyian itu terdengar begitu menggelisahkan. Bagaimana jika itu adalah dering ponsel yang amat sangat penting? Bagaimana jika ada orang yang tidak sadarkan diri di dalam sana? Deringan itu terlalu nyaring sehingga mustahil tidak sampai terdengar oleh orang di dalam sana, jika pun ada. Aku segera berdiri, tanpa memedulikan perasaan ragu, aku masuk ke dalam ruangan. Benar saja, dering ponsel meraung memekakkan gendang telinga di dalam ruangan. Aku sedikit terpana ketika melihat isi dalam ruangan. Ada pintu-pintu dan jendela-jendela lagi yang menghubungkan setiap sekat ruangan. Dari jendela-jendela setiap ruangan, terlihat berbagai macam peralatan laboratorium. Di dalam ruang sampel, terdapat Kulkas sampel yang amat besar, di dalamnya dipenuhi berbotol-botol sampel steril. Di ruangan lainnya terlihat beberapa oven pemanas sedang menyala. Ruangan berikutnya, tiga inkubator juga sedang menyala. Dan masih ada banyak lagi peralatan yang sedang menyala tanda ruangan itu sedang dipergunakan. Akhirnya aku menemukan ponsel yang berdering memekakkan telinga itu, beserta dengan pemiliknya yang sedang berbaring di sofa. "Per-permisi..." panggilku pelan. Jika suara deringan saja tidak terdengar, apa lagi suaraku? Wanita itu tidur terbungkus dalam jas lab putih. Apakah wanita itu sakit? Kenapa tidak bangun-bangun juga? Perlahan aku menjulurkan sebelah tangan ke dekat tubuh si wanita, berniat sedikit menepuk tubuh si wanita. Siapa tahu wanita itu akan terbangun. Sebelum jariku menyentuh permukaan jas laboratorium milik si wanita, tiba-tiba saja wanita itu membuka mata lalu menangkap tanganku. Seketika tubuhku membeku sementara wanita itu bangkit duduk sambil melotot kepadaku, masih mencengkram pergelangan tanganku dengan tangannya yang sedingin es, seolah menangkap basah diriku akan berbuat sesuatu yang buruk. "Kamu siapa?" tanya wanita itu dengan nada penuh curiga. Pasang matanya besar dengan bola hitam yang menyorot dingin seolah dapat melakukan sesuatu yang sangat mengerikan. Namun perhatianku teralihkan pada rambut hitam panjangnya sedikit berantakan serta bibirnya yang dipoles warna coral. Aku segera tersadar. "Ma-maaf. Ponsel Anda berdering nyaring... saya hanya ingin membangunkan Anda..." Aku tergagap kemudian berusaha menarik tanganku, tetapi wanita itu masih menahannya dengan sangat kuat. Jelas, wanita itu belum mempercayaiku. "Maaf, saya karyawan baru. Dikirim ke sini untuk pelatihan tiga bulan." Akhirnya tanganku dilepaskan. "Oh," komentar wanita itu pendek. Wanita itu berpaling lalu menyambar ponsel yang masih berdering memekakkan telinga, mematikannya dengan gerakan kasar. "Sial." Wanita itu berdesis kemudian bangkit dari sofa. Seolah melupakan keberadaanku, wanita itu berjalan dengan langkah cepat, membiarkan ujung belakang jas laboratorium putih-nya berkibar mengikuti langkahnya. Aku masih membeku di tempatku sambil mengusap pergelangan tanganku yang sedikit nyeri bekas cengkraman kuat tangan dingin si wanita. Aku menonton wanita itu mengeluarkan rak-rak sampel dari dalam inkubator kemudian mulai bekerja di Biosafety Cabinet --BSC di ruang steril. Aku mengamati wanita itu yang begitu fokus dan cekatan saat bekerja. Seolah memiliki tangan amat banyak dan amat panjang. Semua pekerjaan itu dilahap seorang diri. "Wah, halo!" Aku tersentak, menoleh pada seorang wanita yang baru masuk ke dalam ruangan. "Kamu karyawan pelatihan itu, kan? HRD sudah memberitahuku!" wanita berambut ikal sebahu itu berseru dengan wajah amat ramah. "Ya, benar, Bu. Perkenalkan, nama saya Mada." "Halo, Mada. Namaku Keyla, aku bagian admin lab mikro. Nggak usah manggil Ibu. Aku masih terlalu muda, panggil aja Keyla, oke? Oh, kamu sudah ketemu April, ya?" Keyla bertubuh mungil dengan bentuk wajah bulat itu berbicara dengan sangat cepat seperti hanya dalam satu tarikan napas. "April?" ulangku. "April, analis senior di lab mikro." Jelas Keyla sambil mengangguk pada wanita yang bekerja di dalam Ruang Steril. "Jadi kalian belum berkenalan? Kok kamu sudah di dalam sini?" "Ah, maaf. Tadi saya menunggu di luar. Tapi tadi saya dengar suara alarm. Jadi saya masuk untuk mengecek. Maaf jika saya lancang." "Ah, nggak apa-apa. Toh kamu sudah resmi jadi karyawan pelatihan di sini kok!" Keyla tertawa riang sambil menepuk bahuku, tampak tidak tertarik untuk bertanya lebih jauh lagi. "Semoga betah ya di sini!" Aku mengangguk sambil tersenyum. "Kali ini HRD cuma memberikan satu anak anak pelatihan ke sini." Keyla berdecak. Aku mengerjapkan mata, entah mengapa ekspresi wajah Keyla terlihat kesal. "Yah, semoga kamu kuat, ya." Keyla menepuk bahuku lagi beberapa kali. "Bulan ini sedang banyak penerimaan sampel sementara analis di lab ini cuma sedikit. Oh, mereka datang di waktu yang tepat." Seorang laki-laki dan wanita masuk ke dalam ruangan. "Siapa dia?" tanya si wanita dengan rambut pendek di atas bahu yang dicat merah. "Anak pelatihan baru." Tanpa basa-basi Keyla segera memperkenalkan kedua orang itu kepadaku. "Kenalkan, yang rambut merah ini Analis merangkap petugas sampling, jarang di lab, namanya Kiki. Dan si brewok dengan muka judes ini namanya Dimas." "Halo, Anak baru!" sapa Kiki ceria sambil melambai dengan gaya kasual. Aku tersenyum sambil mengangguk."Halo, nama saya Mada. Mohon bantuannya untuk kedepannya." "Cih, aku nggak mau mengurus anak baru!" dengus Dimas terang-terangan. "Oi, April! Giliran tanggung jawab kamu, ya!" Dimas berteriak sambil membuka pintu ruang steril. "Enak aja!" terdengar seruan balasan wanita yang bernama April. Senyumku pun luntur seketika. Hal yang paling sulit beradaptasi di tempat kerja baru adalah saat para senior menolak meluangkan waktu untuk mengajari. -- Satu minggu berlalu dan pekerjaanku hanyalah membantu membersihkan peralatan laboratorium. Aku menjadi akrab dengan petugas cuci bernama Doni yang senang menceritakan peliharaan kucingnya di rumah. Aku dengan senang hati mendengarkan sampai-sampai hafal nama kesepuluh kucing yang ada di rumah Doni. "Hei." Aku terperanjat mendengar panggilan itu hingga satu tabung reaksi terlepas dari tanganku. Bunyi pecahan tabung itu ketika menyentuh lantai seperti suara bom yang meledak di dalam ruangan. "Oh... astaga..." Doni tercengang dengan wajah kaget sekaligus bingung. Sementara aku terbelalak pada April yang sedang berdiri di ambang pintu ruang cuci peralatan, menyaksikan kesalahan pertamaku. Ataukah kesalahan kedua setelah aku mencoba membangunkannya di hari pertamaku? "Ma-maaf, Bu," aku tergagap dengan jantung berdetak keras. "Don, bersihkan pecahannya. Lalu setelah menyuci, lapor ke Keyla ada alat pecah," perintah April. "Ba-baik, Bu." Doni segera menyahut. "Kamu, ikut aku." April pergi begitu saja dari ambang pintu sebelum aku menyahut. "Sial..." gumamku, mengira akan dimarahi. Doni hanya melemparkan tatapan khawatir kepadaku yang beranjak mengikuti. -- "Duduk." April memerintahkan sambil menatap kertas di clipboard. Aku segera duduk di sofa, di seberang April. "Dimas gak mau mengurus kamu," kata April tanpa mengalihkan tatapan dari kertas di clipboard. "Padahal dia masih junior tapi bersikap seenaknya," gumamannya terdengar sangat jelas di telingaku. Aku diam saja sambil menundukkan kepala, masih gelisah dengan insiden memecahkan tabung reaksi di hadapan April. "Sebenarnya aku nggak punya waktu untuk mengajari kamu. Tapi Dimas dan Kiki nggak ada niat mengajari kamu. Dan kamu kayaknya lebih suka menyuci alat lab. Sebenarnya kamu tertarik kerja nggak sih di sini?" "Sa-saya tertarik!" Seruku segera. "Bohong gak ngaruh." Aku menelan kembali kata-kataku, tertangkap basah karena memilih cari aman dengan melakukan pekerjaan sederhana. "Ngomong-ngomong, itu jas lab-ku. Malah kamu pakai buat nyuci alat." Pasang mataku membelalak. Aku segera melepaskan jas lab. "Ma-maaf. Saya nggak tahu karena nggak ada namanya. Apa saya cuci dulu?" Kesalahan ketiga. Sial. April menyambar jas lab itu dari tanganku. "Nggak usah. Ambil jas lab kamu di Keyla. Setelah itu ke ruang persiapan. Baca buku ini sambil bikin media." April berdiri lalu melempar buku panduan ke atas pangkuanku. Aku menerima buku itu meski sudah selesai membacanya saat di hari pertama bekerja.[] -- Hai! Hai! Ini proyek 2026 yang agak berani~ Please leave vote and comment yaaa~ thank you ^^

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
37.5K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
43.8K
bc

Ranjang Panas Ayah Kekasihku

read
9.8K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
23.5K
bc

DARI LUKA MENUJU KAMU

read
1.4K
bc

Menikah dengan Mantan

read
7.4K
bc

Pengantin Pengganti sang Pewaris Dingin

read
8.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook