Bab 2 : April

1879 Kata
"Not Bad," komentar April setelah semua pekerjaan hari itu selesai. "Hei, bersihkan BSC sesuai prosedur." "Eum, nama saya Mada." "Apa?" "Mada, nama saya Mada, Bu." Aku sedikit mengeraskan suaraku agar terdengar karena mulutku tertutup masker dan suara alat yang menyala berdengung nyaring. April mengerutkan dahi menatapku. Lagi, apakah aku melakukan kesalahan? Padahal aku sudah bekerja dengan baik hingga barusan tadi April mengomentari pekerjaanku tidak terlalu buruk. April berpaling pergi meninggalkanku di ruang steril tanpa berkomentar. Sementara aku segera membersihkan alat sesuai prosedur. Setelah semua selesai, aku menyusul April yang sedang duduk di sofa ruang istirahat. Aku berdiri kikuk, ragu apakah langsung duduk di sofa atau menunggu disuruh. Entah mengapa aku memperhitungkan sikapku ketika berada di dekat April. Aku tidak tahu pikiran wanita itu sebab selalu memasang tampang dingin dan galak, mungkin karena April adalah analis senior sehingga membuatku sangat berhati-hati dalam bertindak ketika di depannya. "Hei," April memanggilku tanpa memandang wajahku. "Mada, nama saya Mada, Bu." Reflek, aku kembali berkata. April menolehkan wajah, akhirnya menatapku dengan pasang mata hitam membulat. "Ya, aku dengar," ujar April dengan wajah dingin. "Dan nggak usah panggil aku dengan 'ibu'. Panggil nama saja." "Ba-baik." Panggil nama? Bukankah itu lebih tidak sopan? Aku menjadi sangat bingung sejenak. "Duduk." Aku segera duduk di seberangnya. "Memangnya kamu pikir usiaku berapa?" "Eh?" Aku mengerjapkan mata. "Coba tebak, usiaku berapa?" "Eum... maaf, saya tidak tahu." Yang benar saja, aku tidak mungkin sembarang menebak usia seseorang. Apalagi biasanya wanita sangat sensitif terhadap persoalan umur. "Nggak masalah. Tebak aja." April tampak menunggu jawabanku. Aku tidak yakin apakah jawabanku akan membuatnya marah atau tidak. Jika jawabanku tepat, maka tidak akan ada masalah, kan? "Mungkin... 30 tahun..." April menyeringai. "Oh," komentarnya pendek. Aku tidak dapat membaca ekspresi wajahnya, jadi tidak tahu apakah jawabanku tepat atau tidak. Melihat dari pengalamannya bekerja dan sebagai seorang analis senior, aku sangat yakin usia April paling tidak sekitar 30 tahun, lebih tua dariku. "Apa saya salah?" tanyaku sedikit cemas. "Nggak," jawab April. "Oh, begitu." Aku sedikit lega. Jadi jawabanku tepat, iya kan? Namun entah mengapa aku merasa kurang yakin. Akan kucek nanti. "Bagaimana saya memanggil Anda?" "April," jawab April. "Di sini tidak perlu panggilan sopan. Dimas usianya 35 tahun, Keyla 31 tahun, dan Kiki 25 tahun. Kami semua lebih senang memanggil nama." "Oh, ya.... Baik." Aku mengangguk mengerti. Sepertinya jawabanku tepat karena usia Dimas dan Keyla juga berada di rentang 30. Aku juga tidak terlalu terkejut mendengar usia Kiki yang jauh lebih muda dariku, penampilan Kiki memang lebih santai dibandingkan April dan Keyla. "Kamu dulu pernah magang di perusahaan SR, ya?" tanya April. "Ya, benar. Saat itu saya bekerja di bagian sampling." "Oh, kenapa nggak pilih divisi sampling?" tanya April. "Eum, yah... saat pemilihan saya ditempatkan di sini..." Aku tidak berniat menceritakan bagaimana aku bisa berakhir di sini. "Well, Kiki satu-satunya petugas sampling di lab mikro inti. Kamu bisa banyak belajar dari dia nanti." "Baik, terima kasih." Aku tersenyum kecil. "Kenapa kamu tersenyum?" April tiba-tiba bertanya. Aku terkejut. Apakah seharusnya aku tidak boleh tersenyum? "Oh, ma-maaf... saya hanya... saya hanya tidak mengira Anda sangat baik..." "Hah?" "Ah, maksudnya... Anda menerangkan dengan sangat jelas sehingga saya tidak kesulitan saat bekerja tadi." "Oh, Dengan Kiki kamu pasti lebih nyaman lagi." "Ya. Terima kasih." -- Satu bulan berlalu tanpa terasa dan berjalan dengan amat baik dari yang kubayangkan sebelumnya. Masalah alarm di hari pertama dan tabung reaksi pecah di minggu pertama seperti sudah menjadi masa lalu yang hampir terlupakan. April membimbingku dengan sangat baik, tak pernah sekalipun membentak. Hingga akhirnya April benar-benar melepasku bekerja secara mandiri. Tentu saja aku merasa bangga. Aku belajar dengan cepat. Bekerja dengan cepat. Aku bisa mandiri dalam waktu singkat. Salah satu keahlianku memang dapat belajar dengan cepat seperti di tempat kerjaku sebelumnya. Bedanya bekerja di laboratorium bukanlah pekerjaan yang hanya mengandalkan otot saja. Aku seperti kembali menjadi mahasiswa yang membuatku banyak membaca hingga menemukan pengetahuan baru. "Maaf, terlambat." Aku sedikit kikuk ketika April memilih duduk di sebelahku. Padahal ada banyak kursi kosong lainnya di meja rapat ini. "Selamat pagi, semua sudah berkumpul?" Seseorang yang tampak asing menyusul masuk ke dalam ruang rapat. "Sudah, Noval. Ayo selesaikan rapat yang membosankan ini." Dimas menuntut jengkel. "Ada ribuan sampel menunggu kami." "Haha, santai dong, Dimas. Kamu mau bekerja sampai mati, ya?" "Yah, itu kan yang diharapkan oleh perusahaan ini? Membayar kami bekerja sampai mati?" dengus Dimas sarkas. "Haha, Dimas. Apa kamu perlu layanan konseling? Aku punya kenalan yang bagus loh." Laki-laki itu tertawa menanggapi dengusan Dimas. "Oh, ada orang baru ya?" Pandangan laki-laki itu terhenti padaku. Aku segera menganggukkan kepala, terpesona pada penampilan laki-laki asing itu yang tampan dan juga sangat rapi dengan mengenakan jas dan dasi yang terasa mewah. Karena kami sehari-hari bekerja dengan jas lab, kami tidak pernah memedulikan pakaian, tentu saja kecuali Keyla yang bertugas sebagai administrasi sehingga harus memperhatikan penampilan. "Namanya Mada, karyawan pelatihan." Keyla segera menjelaskan. "Mada, ini Noval. Penyelia Lab Mikro. Oh ya, funfact, dulu mantannya April." Aku mengerjapkan mata, terkejut mendengar informasi yang keluar dari mulut Keyla. Aku reflek menoleh pada April yang duduk di sebelahku, menemukan ekspresi dingin dan kaku di wajah April. "Hei, sudah, jangan bahas masa lalu. Ayo, kita rapat dulu." Noval segera menengahi suasana yang mendadak terasa canggung. Aku juga tidak mengerti mengapa Keyla harus menyampaikan informasi yang begitu sensitif di ruang rapat. Meski Keyla hanya bermaksud memberitahuku, aku menjadi merasa bersalah pada April dan Noval. Suasana sepanjang rapat berlangsung sama sekali tidak mencair, membuatku merasa terjebak karena April duduk di sebelahku. --- "Hai, Key," aku menghampiri Keyla di meja admin. "Aku duduk sebentar di sini, ya?" "Ya, ya. Silakan. Ambil minuman dari kulkas, tuh." Keyla menawarkan. "Makasih." Aku mengambil air mineral dingin dari kulkas. Rasa dingin yang menyegarkan menjalar ke seluruh tubuhku setelah minum seteguk. "April belum balik?" "Belum," jawab Keyla. "Kamu bilang tadi di rapat... Noval itu mantan April?" Aku sedikit merendahkan suaraku. "Ya," jawab Keyla, seketika tersenyum dengan bersemangat. "Mereka sudah pacaran sebelum bekerja di sini, loh. Sejak kuliah. Tapi akhirnya mereka pisah. Lalu Noval menikah lebih dulu." Aku tak tahu harus berkomentar bagaimana. Informasi itu begitu padat keluar hanya dalam satu tarikan napas Keyla. "Kenapa mereka berpisah?" Aku teringat kembali pada penampilan Noval yang begitu menarik dan santai, rasanya sangat cocok dengan April yang dingin dan kaku. Mereka pasti bisa saling melengkapi. Sayang sekali hubungan mereka berdua telah berakhir. "Nggak ada yang tahu alasannya, soalnya April dan Noval gak pernah cerita. Tapi semua mengira mereka berpisah karena nggak ada yang mau keluar dari perusahaan. Di sini aturannya kalau menikah, salah satunya harus keluar." "Oh, benarkah?" Aku kembali terkejut mendengar informasi yang keluar dari mulut Keyla. "Haha, kamu pasti nggak baca aturan perusahaan sampai habis. Pokoknya di perusahaan ini nggak boleh ada pasangan suami istri. Dilarang." "Kenapa?" tanyaku tidak mengerti. Aturan itu sangat konyol. "Yah, nggak tahu, itu aturan yang sudah dibuat." Keyla mengangkat bahu. "Ngobrol apa kalian?" Aku dan Keyla terlonjak kaget mendengar suara April. "Kayak hantu aja kamu. Nggak naik lift?" Keyla mengusap dadanya yang masih syok, menatap April seperti melihat hantu. "Nggak, aku naik tangga, sekalian olahraga," jawab April. "Ayo, Mada. kita selesaikan sampel hari ini." "Ba-baik." --- Demi menyelesaikan sampel, pertama kalinya aku mengambil jam lembur. Ketika pekerjaanku sudah selesai, aku keluar dari ruang steril, sedikit terkejut menemukan betapa sunyinya laboratorium. Meski memang biasanya sepi, suasana pada saat malam hari sungguh berbeda apalagi tanpa ada para karyawan. Aku memandang sekeliling, tidak menemukan April di mana-mana yang meninggalkanku untuk mengerjakan sampel terakhir. Mungkin April sudah pulang duluan, aku menebak. Aku segera mematikan semua lampu-lampu yang tidak digunakan, mengecek kembali inkubator lalu menaruh jas lab kembali ke ruang ganti. Aku mengunci lab sebelum benar-benar beranjak pergi. Langkahku mendadak terhenti ketika melihat pintu balkon masih terbuka. Aku segera melongokkan kepala dari pintu balkon, menemukan April sedang duduk di kursi balkon. "Oh, sudah selesai?" April menyadari kehadiranku. "Kukira kamu sudah pulang," aku cukup terkejut menemukan April di sini. "Sebagai senior aku harus pastikan kamu selesai," April berpaling ke langit. "Silakan pulang." "Bagaimana dengan kamu?" "Aku masih mau di sini." Aku terdiam. Aku merasakan aura itu. Apakah April sedang sedih karena harus berinteraksi dengan mantan pacarnya yang sudah menikah saat rapat tadi pagi? Tentu rasanya sangat canggung harus berhadapan dengan mantan di tempat kerja yang mengharuskan sikap profesional. Selain itu... aku juga tahu bagaimana rasanya telah ditinggalkan seseorang saat menikah. Aku duduk di kursi balkon. "Ada apa?" tanya April, melihat aku malah duduk di sebelahnya. "Pulang sana." "Bagaimana dengan kamu?" "Aku akan pulang sebentar lagi." "Tapi ini sudah malam." "Kamu khawatir karena aku seorang wanita? Aku naik mobil sendiri dan rumahku gak terlalu jauh." Seketika aku kehilangan kata-kata. "Bagaimana denganmu? Ini pertama kalinya kamu pulang malam, kan? Mau kuantar?" Aku masih kehilangan kata-kata setelah mendengar tawarannya. Entah mengapa aku merasa April terlalu baik dalam memperlakukanku. Aku yang seharusnya bersikap khawatir dalam situasi ini. Tetapi sikap dominan April membuatku menjadi posisi lemah yang mengkhawatirkan. "Oh, jangan khawatir. Aku sudah terbiasa pulang malam di tempat kerjaku yang dulu," aku mengibaskan kedua tanganku, tertawa canggung. "Oh ya? Apa pekerjaanmu sebelum ini?" tanya April. Mulutku menutup seketika, merasa tidak pantas menceritakan pekerjaan yang pernah kulakukan di masa lalu. Ada beberapa pekerjaan yang sengaja tidak aku tulis di CV. "Jaman sekarang bahaya bisa menyerang siapa saja, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Anak kecil ataupun orang dewasa. Nasib buruk itu nggak punya tanggal." Aku tersenyum mendengarnya. Selain memiliki sikap tegas, April sama sekali tidak menggolongkan laki-laki dan perempuan seperti budaya masyarakat. "Apalagi laki-laki seperti kamu. Apa kamu bisa melawan dengan tubuh kurus itu? Kalau aku, aku sabuk hitam taekwondo." Aku terdiam, merasa malu mendengar April mengomentari fisikku. Aku memang bukan laki-laki yang jago berkelahi. Aku malah lebih sering bergantungan pada orang lain hingga membuatku terjebak di jalan yang salah. Namun sekarang, sebagai manusia baru, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk mengandalkan diri sendiri apa pun yang terjadi. "Terima kasih, aku bisa menjaga diri sendiri." Aku berusaha meyakinkan April. Aku membayangkan, hanya dengan sorot mata dingin April, preman sekalipun akan berpikir dua kali saat ingin mengganggunya. "Eum... aku... sudah dengar dari Keyla... soal mantan pacar kamu..." April memutar bola matanya. "Keyla memang nggak bisa menutup mulut. Hati-hati menyampaikan rahasia hidupmu kepadanya. Dia akan menceritakannya kepada semua orang." "Aku juga pernah merasakannya." Entah mengapa aku ingin terus berbicara, seolah aku memiliki kewajiban sebagai seorang junior untuk menghibur sang senior. "Oh ya?" Aku sedikit canggung merasakan sorot tajam mata April yang terarah padaku. Sikap dominan itu membuatnya sedikit tertekan. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan seorang wanita dengan karakter yang begitu kuat. Hal ini sedikit membuatku merasa rendah diri sebagai laki-laki. Tak kusangka seorang perempuan bisa bersikap seperti seorang alpha, seperti tidak memiliki kelemahan sedikit pun. "Ya, ditinggal menikah..." aku melanjutkan. Entah mengapa aku menceritakan pengalaman burukku itu. "Rasanya sungguh menyakitkan. Tidak... rasanya lebih sakit dari semua kejadian buruk dalam hidupku. Tidak hanya rasa sakitnya, tapi juga bagaimana kepercayaan berakhir, pengkhianatan... semuanya bertumpuk menjadi satu. Seolah hidup sudah berakhir begitu saja. Tapi..." Untuk apa aku menceritakan ini? "Setelah diterima di perusahaan ini... membuatku sadar untuk memulai hidupku dari awal lagi." Astaga, kenapa malah aku yang curhat? "Ah, maaf..." "Mada," sela April, terkikik. "Perasaan kita berbeda." "A-apa?" aku mengerjapkan mata. "Ini pertama kalinya aku bertemu manusia bodoh yang berpikir... hidup ini berakhir hanya karena perpisahan konyol semacam itu." Jantungku seperti mencelos melihat April tersenyum menyeringai, mengejek perasaan yang sudah kuobati dengan sangat baik hingga hari ini.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN